Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Bukan Kencan
Rapat PMR telah usai. Raza dengan setia menunggu Vanya di depan ruangan yang di gunakan untuk rapat.
"Mau kemana?" tanya Vanya to the point. Vanya berdiri di depan pintu sambil menatap Raza yang duduk bersila di lantai.
"Udah selesai Van?" Raza lansung berdiri dengan wajah berbinar.
"Mau kemana?" ulang Vanya.
"Katanya ada Cafe baru deket sekolah kita. Disana ada macam-macam makanan sama minuman dari rasa matcha"
Mendengar kata matcha, Vanya langsung kesenangan. Namun sebisa mungkin ia tetap menampilkan raut datarnya di depan Raza.
Vanya berdeham singkat. Tanpa kata-kata, Vanya langsung berjalan meninggalkan Raza di tempatnya.
"Ayo" ucap Vanya tanpa menoleh. Raza pun menyusul langkah kaki Vanya dengan senyum manisnya.
Sesampainya di parkiran, Vanya menoleh ke arah Raza yang tetap setia di belakangnya.
"Gw mau naik ini. Lo mau ikut atau kita pergi sendiri-sendiri?" putus Vanya. Tanpa menunggu jawaban Raza, ia langsung naik ke motor lalu mengenakan helm nya.
"E-eh gw ikut" dengan cepat Raza naik ke jok belakang Vanya sambil mengambil asal helm entah milik siapa.
Setelah berhasil memundurkan motor nya, Vanya langsung tancap gas keluar sekolah. Saat sampai di gerbang sekolah, Vanya memulai percakapan.
"Dimana tempatnya?" tanya Vanya.
"Deket Warteg Mbak Yeni" Raza menyebutkan warung makan dekat sekolah yang biasa di jadikan tempat untuk bolos.
"Ini tempatnya?" tanya Vanya lagi saat sampai di parkiran Cafe 2 lantai dengan dekorasi aesthetic cocok untuk anak-anak gen Z nongkrong.
"Boleh juga" ucap Vanya sambil melepas helm nya.
"Di lantai dua aja yuk. Pasti bagus view nya" ajak Raza.
"Ide bagus" celetuk Vanya.
Mereka berdua pun menuju ke lantai 2 langsung hingga beberapa saat kemudian seorang pelayan datang sambil membawa buku menu.
"Saya mau Es Matcha Latte satu, Matcha Roll Cake satu, Matcha Crepe Cake satu, terus es krim Matcha nya satu. Sama terakhir saya mau Ayam Bakar Sambel Ijo nya satu" pelayan pria itu diam-diam terheran dengan banyak nya pesanan Vanya. Meski begitu ia tetap profesional dan mencatat semua pesanan Vanya tanpa terlewat satupun.
Raza tersenyum melihat Vanya yang biasanya cuek menjadi sedikit exited hanya karena makanan.
"Saya Ayam Bakar Sambel Bawang satu sama minum nya Lemon Tea aja mas" ucap Raza setelah melihat pelayan pria di samping nya selesai mencatat pesanan Vanya.
"Baik mas, mbak, ditunggu ya pesanan nya"
Setelah pelayan itu pergi, Vanya mengeluarkan ponselnya untuk berfoto-foto.
"Fotoin gw. Awas kalo jelek!" sentak Vanya dengan kedua mata melotot sambil menyodorkan ponselnya ke arah Raza yang mulai berdiri.
Glek. Raza menelan saliva nya dengan kasar. Ia ambil ponsel android Vanya yang menurut Raza itu harga nya murah. Sekitar 5 jutaan.
Vanya memang lebih suka kemana-mana membawa ponsel murahnya di banding Iphone keluaran terbaru yang memang hanya ia gunakan saat di rumah saja.
"Hem lumayan" puji Vanya. Terdapat 3 foto dengan view dan angle berbeda yang berhasil Raza potret dengan baik.
Pesanan mereka pun ahirnya datang, Vanya memotret lagi semua pesanan yang sudah ia tata sedemikian rupa agar terlihat aesthetic di kamera ponselnya.
"Fotonya gw upload tanpa muka lo gapapa kan? Gw crop biar nggak jadi gosip di sekolah"
Sebenarnya Raza senang-senang saja di gosip kan dekat dengan Vanya. Namun jika itu membuat Vanya tak nyaman Raza hanya bisa mengalah sambil menunjukkan senyum palsunya.
"Iya gapapa crop aja. Ayo makan dulu" ajak Raza.
"Emhh enyak banget" dengan mulut penuh Vanya memuji rasa Matcha Roll Cake di Cafe ini sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali tanda jika rasa makanan itu cocok sekali di lidahnya.
Dengan reflek Raza mengacak rambut di puncak kepala Vanya dengan gemas 'Lucu banget sih. Andai aja lo itu pacar gw Van' ucap Raza dalam hati.
Vanya cuek-cuek saja dengan perlakuan Raza. Jika sudah dihadapkan dengan makanan enak, Vanya tak akan peduli dengan sekitar.
"Nanti bayarnya split bill ya. Pesenan gw banyak soalnya" ucap Vanya sambil menyuap es krim nya.
"Ngga usah Van. Gw aja yang bayar, kan gw yang ngajakin lo kesini" tolak Raza dengan nada lembut.
"Mau bungkus juga nggak buat di rumah?" lanjutnya.
"Ngga deh, Ini aja udah banyak banget" Vanya yang masih tau malu itupun menolak tawaran Raza.
'Semoga aja lo ilfeel liat gw makan nya banyak begini' doa Vanya dalam hati.
"Heuukgghhh" Vanya dengan sengaja bersendawa kencang di depan Raza. Bukan nya jijik, Raza malah tersenyum gemas dengan tingkah Vanya.
'Anjir lah woiiii nih orang bukan nya jijik malah senyum-senyum gajelas. Apa gw nya yang kurang total kali ya?' jerit batin Vanya.
"Lo nanti pulang sendiri ya, gw males nganterin nya"
"Iya ngga papa Vanya, lagian gw mau balikin helm dulu sama sekalian ambil mobil gw di sekolah" ucap Raza dengan lembut. Tak lupa juga senyum manis tersungging di bibir manisnya. Kalau kata anak gen Z mah soft spoken deh Raza ini.
'Kalo hati gw masih kosong, mungkin lo bisa gw pertimbangin kali ya daripada Surya si Playboy cap kadal itu' dalam hati Vanya menilai sikap Raza yang menurutnya lumayan oke untuk di jadikan pacar.
"Eh gw ke toilet dulu bentar ya" pamit Vanya. Semua makanan dan minuman yang tadi ia pesan sudah tandas tanpa sisa.
Di lorong sekat antara toilet pria dan toilet wanita, Vanya tak sengaja menyenggol bahu seseorang dengan keras. Memang salahnya berjalan tanpa melihat depan karena ia sedang fokus dengan ponsel yang menampilkan chat dari kakaknya.
Brukkk
"Aduh! Woi! Sakit anjing!!!" umpat orang itu. Vanya pun mendongak kan wajahnya guna melihat siapa gerangan orang yang ia senggol barusan.
"Elo? Sial banget gw ketemu cowo guy ini lagi" sinis Vanya tanpa takut.
"Guy? Maksut lo apa anjing ngatain gw Guy hah?!" Laki-laki itu tak ingin kalah.
"Emang guy kan? Minggir lo gw mau lewat!!!" sentak Vanya. Laki-laki itu langsung mendengus keras tanpa mau menggeser posisinya yang berada di depan Vanya.
"Vanya? Ada apa ini? Pantes udah sepuluh menit lo nggak balik-balik" Raza menghampiri kedua orang yang sedang berseteru itu. Raza juga membawa tas Vanya dan tas miliknya yang di sampirkan di bahu sebelah kanan nya.
"Ini cowok lo?" Laki-laki itu menatap Raza dari atas sampai bawah seolah menilai. Tatapan remeh pun ia layangkan sambil bersedekap dada dengan dagu terangkat.
"Udah Za, biarin aja cowo guy ini. Gw mau pulang" tanpa Vanya sadari, tangan kanan nya menggenggam tangan kiri Raza lalu membawanya menjauh dari laki-laki tadi.
"Woiii urusan kita belum selesai!!!" teriak laki-laki itu dengan kesal. Namun ia malas untuk menyusul langkah kaki Vanya.
Toilet di Cafe itu sangat sepi hingga tak ada seorangpun selain mereka yang melihat kejadian barusan. Dan toilet nya pun letaknya jauh ke belakang Cafe dan berada di lantai 1. Mayoritas orang lebih memilih lantai 2 untuk makan dan bersantai.
Setelah sampai di parkiran, dengan kasar Vanya menghempaskan tangan Raza yang tadi ia genggam. Raza malah mengulum senyumnya karena hari ini tangan nya bisa di gandeng Vanya meski hanya beberapa menit saja.
"Siniin tas gw!" Vanya merebut dengan kasar tas yang ada di bahu Raza.
"Bye gw duluan" tanpa peduli Vanya meninggalkan Raza sendirian di parkiran Cafe.
"Meski nggak bisa dianggap sebagai kencan, tapi gw seneng bisa lo gandeng selama dua menit enam detik" ucap Raza sambil geleng-geleng kepala.