Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Pulau Karang dan Bayang-Bayang yang Pulang
Matahari terbenam di ufuk Pasifik, menyisakan jejak warna ungu dan emas yang memantul di permukaan laut yang tenang. Di sebuah beranda rumah kayu bergaya kolonial yang berdiri di atas tebing, Aruna duduk di kursi goyangnya. Angin laut yang hangat memainkan rambut hitamnya yang kini dibiarkan terurai panjang. Setahun telah berlalu sejak malam berdarah di Jenewa, dan pulau ini—sebuah titik kecil di peta yang hanya dikenal sebagai Isola della Pace—telah menjadi surga sekaligus penjaranya yang paling indah.
Di pangkuannya, Leonardo yang kini berusia empat belas bulan sudah jauh lebih besar. Ia bukan lagi bayi merah yang rapuh. Kakinya sudah kuat untuk menendang-nendang kecil, dan tangannya yang mungil kini sedang menggenggam erat jari telunjuk Aruna. Leonardo sedang dalam fase transisi ke makanan padat, namun bagi Aruna, ritual menyusui di sore hari tetap menjadi momen suci yang tak bisa digantikan.
"Kau lapar lagi, Jagoan?" bisik Aruna lembut.
Ia membuka kancing blus linennya yang ringan. Begitu Leonardo mulai menyusu, Aruna merasakan kedamaian yang asing merayap di dadanya. Tanda melati di pergelangan tangannya kini berwarna perak pucat, tidak lagi berdenyut merah seperti dulu, namun tetap menjadi saksi bisu atas beban yang pernah ia pikul.
"Nona Aruna, makan malam sudah siap."
Suara itu berasal dari pintu geser di belakangnya. Marco berdiri di sana. Selama setahun ini, Marco adalah satu-satunya jembatan Aruna dengan dunia luar. Ia bertindak sebagai kepala pelayan, pelindung, sekaligus teman bicara.
Aruna menoleh sedikit, tidak melepaskan dekapannya pada Leonardo. "Terima kasih, Marco. Apa ada kabar dari... utara?"
'Utara' adalah kode mereka untuk daratan Eropa. Selama dua belas bulan, Aruna tidak pernah mendengar satu patah kata pun dari Dante Valerius. Dante menghilang seperti asap setelah helikopter mereka lepas landas dari Jenewa.
Marco terdiam sejenak, matanya menatap riak air di kejauhan. "Pembersihan besar-besaran masih berlangsung, Nona. Data yang Anda bawa telah menghancurkan faksi-faksi besar. Luciano dikabarkan tewas di penjara sebulan yang lalu. Enzo... dia menghilang. Ada yang bilang dia lari ke Amerika Selatan, ada yang bilang dia sudah dihabisi."
"Dan Dante?" tanya Aruna, suaranya hampir tak terdengar.
"Tidak ada catatan kematian, Nona. Tapi juga tidak ada catatan kehidupan. Tuan Dante sangat ahli dalam menghapus jejaknya sendiri."
Aruna menghela napas panjang. Ia menatap Leonardo yang kini tertidur pulas setelah kenyang. "Kadang aku merasa dia sengaja membiarkan kita di sini agar kita bisa melupakannya. Dia ingin Leonardo tumbuh tanpa bayang-bayang ayahnya."
"Atau mungkin dia menunggu sampai dunia cukup aman bagi kalian untuk melihatnya kembali," sahut Marco pelan. "Sekarang, istirahatlah. Saya akan menjaga pos di dermaga."
Malam semakin larut. Aruna membaringkan Leonardo di boks bayi yang terletak tepat di samping tempat tidurnya. Suara deburan ombak di bawah tebing biasanya menjadi musik pengantar tidur yang paling ampuh, namun malam ini, ada sesuatu yang terasa berbeda. Angin terasa lebih dingin, dan burung-burung laut terdengar gelisah.
Aruna baru saja akan memejamkan mata saat ia mendengar suara mesin motor laut yang dimatikan di kejauhan. Jantungnya seketika berdegup kencang. Di pulau ini, tidak ada tamu. Setiap kapal yang mendekat harus melewati protokol keamanan Marco yang sangat ketat.
Ia meraih pistol Glock kecil yang selalu ia simpan di bawah bantal—sebuah kebiasaan yang diajarkan Dante dan tidak pernah bisa ia tinggalkan. Dengan langkah tanpa suara, ia berjalan menuju jendela yang menghadap ke dermaga kecil di bawah tebing.
Di bawah cahaya bulan purnama, ia melihat sesosok pria melangkah turun dari sebuah perahu nelayan kecil. Pria itu bergerak dengan pincang, bahu kirinya tampak kaku. Ia mengenakan mantel panjang yang compang-camping, namun postur tubuhnya... Aruna mengenalinya bahkan dalam kegelapan total.
"Dante?" bisik Aruna, suaranya tertahan di tenggorokan.
Ia tidak menunggu instruksi Marco. Aruna berlari keluar rumah, menuruni tangga kayu yang curam menuju pantai. Napasnya tersengal, dadanya sesak oleh perpaduan antara ketakutan dan kerinduan yang meledak-ledak.
Saat ia sampai di pasir pantai yang putih, pria itu berhenti. Ia berdiri di batas air laut, menatap Aruna yang sedang berlari ke arahnya.
Aruna berhenti beberapa meter di depan pria itu. Cahaya bulan menyinari wajahnya. Itu benar-benar Dante. Namun, ia tampak seperti bayangan dari pria yang dulu dikenalnya. Wajahnya dipenuhi bekas luka baru, rambutnya sedikit lebih panjang dan tidak rapi, dan matanya... matanya tampak sangat lelah, seolah-olah ia telah melihat neraka dan kembali lagi.
"Kau datang," ujar Aruna, air mata mulai mengalir di pipinya.
Dante tidak segera menjawab. Ia menatap Aruna dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah memastikan bahwa wanita di depannya ini nyata dan bukan sekadar halusinasi dari luka-lukanya.
"Aku berjanji akan kembali, bukan?" suara Dante jauh lebih serak, hampir seperti bisikan angin.
"Setahun, Dante! Setahun tanpa satu pun surat! Aku mengira kau sudah mati di tangan Enzo!" Aruna melangkah maju dan memukul dada Dante dengan tangan gemetar. "Kau membiarkanku di sini sendirian dengan anakmu! Kau bajingan!"
Dante tidak menghindar. Ia membiarkan Aruna memukulnya, sampai akhirnya ia menangkap kedua tangan Aruna dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. Aruna terisak di dada Dante, menghirup aroma yang sangat ia rindukan—aroma laut, asap, dan aroma khas Dante yang maskulin.
"Maafkan aku," gumam Dante di rambut Aruna. "Aku harus memastikan setiap tikus yang mengejarmu sudah mati. Aku tidak bisa membawamu kembali ke hidupku jika masih ada satu peluru yang mengarah padamu."
Aruna menarik diri sedikit, menatap wajah Dante. "Apakah sudah selesai? Semuanya?"
Dante mengangguk pelan. "Data itu menghancurkan sistem mereka. Valerius kini hanyalah sebuah nama di buku sejarah kriminal. Aku sudah menyerahkan sisa asetku kepada yayasan ibumu secara anonim. Aku bukan lagi penguasa mafia, Aruna. Aku hanya pria yang tidak punya tempat tinggal."
"Kau punya rumah di sini," sahut Aruna tegas.
Dante tersenyum tipis—senyuman tulus pertama yang pernah dilihat Aruna selama mengenal pria itu. "Di mana dia?"
"Dia sedang tidur di atas. Dia sangat mirip dengamu, Dante. Keras kepala dan suka mengatur."
Dante tertawa kecil, suara tawa yang akhirnya terasa ringan. "Bawa aku padanya."
Mereka berjalan perlahan menuju rumah. Marco berdiri di depan pintu, menatap Dante dengan pandangan hormat yang dalam. Tanpa kata-kata, Marco membungkuk dan menyingkir, membiarkan sang raja yang telah turun takhta masuk ke dalam istananya yang baru.
Di dalam kamar yang temaram, Dante berdiri di samping boks bayi. Tangannya yang besar dan kasar gemetar saat ia menyentuh tangan mungil Leonardo yang sedang tertidur. Air mata jatuh dari mata sang pria yang tak pernah menangis itu.
"Dia sangat cantik," bisik Dante.
"Dia putra yang hebat," Aruna berdiri di samping Dante, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Dia menyelamatkanku, Dante. Saat aku merasa ingin menyerah, dia selalu mengingatkanku bahwa aku punya alasan untuk tetap hidup."
Leonardo tiba-tiba terbangun. Ia tidak menangis. Bayi itu membuka matanya yang besar dan bulat—mata yang sama persis dengan mata Dante. Leonardo menatap pria asing di depannya dengan rasa ingin tahu yang murni. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Dante yang kasar karena brewok tipis.
"Papa?" gumam Leonardo kecil. Itu adalah kata pertama yang baru saja ia pelajari minggu lalu.
Dante terisak. Ia mengangkat Leonardo dari boksnya, mendekap bayi itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah bayi itu terbuat dari kaca yang paling rapuh. Leonardo tidak takut. Ia justru bersandar pada dada Dante, merasakan detak jantung yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita ibunya.
"Ya, Jagoan. Ini Papa," bisik Dante.
Aruna memperhatikan pemandangan itu dengan hati yang penuh. Segala penderitaan, penculikan, pelarian, dan rasa takut selama setahun terakhir seolah menguap begitu saja. Di ruangan kecil ini, tidak ada lagi "Kunci Valerius", tidak ada lagi "Ibu Susu Mafia", dan tidak ada lagi "Bos Besar". Yang ada hanyalah sebuah keluarga yang baru saja lahir dari puing-puing kehancuran.
"Aruna," panggil Dante tanpa mengalihkan pandangan dari Leonardo.
"Ya?"
"Terima kasih. Terima kasih telah menjaga bagian terbaik dariku tetap hidup saat aku sedang berada di kegelapan."
Aruna mendekati Dante, memeluk pria itu dari belakang sementara ia masih menggendong Leonardo. "Kita menjaganya bersama sekarang, Dante. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi kode. Hanya kita."
Dante berbalik, menatap Aruna dengan penuh cinta. "Hanya kita."
Malam itu, di pulau kecil di tengah Pasifik, legenda Valerius berakhir, dan kisah baru tentang Aruna dan Dante dimulai. Sebuah kisah yang ditulis bukan dengan darah, melainkan dengan air susu, air mata kebahagiaan, dan janji untuk tidak pernah saling melepaskan lagi.