Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan yang Disepakati
Sejak malam konflik di halaman itu, semuanya berjalan di dua jalur.Di luar, situasi belum benar-benar tenang.Di dalam, perusahaan tetap harus berdiri.Dan hanya dua orang yang tahu seluruh pergerakan Aroel ke Saung Langit malam itu.Rahman dan Bintang.
Mereka sepakat tidak memberi tahu siapa pun. Tidak pada direksi. Tidak pada manajer senior. Tidak pada siapa pun di kantor.
Bintang tetap menjalankan perannya seperti biasa. Masuk pagi. Memimpin koordinasi. Menyaring dokumen. Menjawab pertanyaan dengan jawaban netral.
“Pak Aroel sedang menangani urusan eksternal.”
Kalimat aman. Tidak bohong. Tapi juga tidak lengkap.
Pagi itu, suasana kantor mulai terasa berat.
Rapat direksi besar dijadwalkan siang hari. Agenda investasi dan restrukturisasi cabang tidak bisa diputuskan tanpa pimpinan utama.
Beberapa direksi mulai mempertanyakan.
“Sudah ada konfirmasi dari beliau?”
Bintang menjawab tenang, “Belum, Pak. Saya masih menunggu kabar.”
Ia tidak terlihat gugup. Tapi ia tahu, waktu tidak bisa terus ditahan.Sementara itu, Rahman berdiri di teras rumah yang menjadi titik aman sementara. Ia memandangi halaman yang kini sudah bersih dari bekas konflik.Ia tahu waktunya hampir habis.
Perusahaan tidak bisa dibiarkan tanpa kendali terlalu lama.Rahman mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bintang lebih dulu.
Telepon diangkat cepat.
“Ya, Man.”
“Situasi kantor?”
Bintang tidak perlu banyak menjelaskan. “Direksi sudah mulai bertanya.”
“Seberapa jauh?”
“Belum sampai curiga. Tapi kalau hari ini beliau tidak muncul, itu akan berubah.”
Rahman terdiam sebentar.
“Kita tidak bisa terus sembunyikan alasan beliau pergi ke Saung Langit,” lanjut Bintang pelan.
“Kita tidak menyembunyikan. Kita menjaga,” jawab Rahman.
Nada mereka tidak tegang. Hanya realistis.
“Rapat hari ini penting?” tanya Rahman.
“Penting. Keputusan besar.”
Rahman mengangguk sendiri.
“Aku akan bicara dengan beliau.”
“Pastikan beliau tahu ini bukan sekadar formalitas,” ujar Bintang.
“Aku tahu.”
Telepon ditutup.
Beberapa menit kemudian, Rahman menghubungi Aroel.
“Ya.”
Suara Aroel tenang seperti biasa.
“Kantor mulai menekan,” kata Rahman langsung.
“Direksi?”
“Lengkap.”
“Bintang?”
“Menahan situasi.”
Aroel berjalan perlahan di dalam ruangan. Tidak terlihat tergesa.
“Kita sepakat tidak memberi tahu siapa pun tentang Saung Langit,” katanya pelan.
“Dan itu masih aman.”
“Tapi perusahaan tidak bisa dibiarkan menggantung.”
Rahman menunggu keputusan.
Aroel berhenti melangkah.
“Kalau aku muncul sekarang, apa itu memancing perhatian?”
Rahman menjawab jujur. “Mungkin. Tapi kalau tidak muncul, perusahaan terlihat lemah.”
Sunyi beberapa detik.
Aroel menghela napas tipis. “Siapkan mobil. Aku ke kantor siang ini.”
Rahman mengangguk meski tidak terlihat. “Baik.”
“Dan, Man.”
“Ya.”
“Pastikan tidak ada yang menghubungkan pergerakanku dengan konflik kemarin.”
“Sudah diatur.”
Telepon ditutup.
Di kantor, suasana ruang direksi makin padat.
Beberapa investor sudah duduk dengan wajah serius.
Bintang berdiri di sisi meja, menjaga ritme percakapan tetap terkendali.
Lalu pintu ruang rapat terbuka.
Langkah Aroel masuk tanpa suara keras. Tapi kehadirannya langsung mengubah udara ruangan.
Beberapa orang spontan berdiri.
Tidak ada pengumuman. Tidak ada drama.
Ia duduk di kursi utama.
“Kita mulai.”
Nada datar. Tegas.
Diskusi yang tadi berputar-putar menjadi tajam. Angka dibedah. Risiko dihitung. Proyeksi dikoreksi.
Bintang memperhatikan diam-diam.
Inilah alasan ia dan Rahman memilih diam soal Saung Langit.
Karena perusahaan ini bukan hanya bangunan.
Ini tanggung jawab besar.
Dua jam kemudian, keputusan selesai.
Investor puas. Direksi tenang.
Ruang rapat kosong perlahan.
Bintang mendekat pelan. “Terima kasih sudah datang.”
Aroel menatapnya singkat. “Kalian menjaga dengan baik.”
Rahman berdiri di sisi lain ruangan, memastikan semua normal.
Tidak ada yang tahu ke mana Aroel pergi beberapa hari terakhir.
Tidak ada yang tahu konflik apa yang terjadi di luar sana.
Bersambung .....