Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategy Baru Sherly
Di dalam kabin Rubicon yang kedap suara, deru mesin yang kuat berpadu dengan suara wiper yang bekerja keras menghalau hujan badai.
Suasana di dalam mobil sangat tenang, berbanding terbalik dengan kekacauan yang baru saja ditinggalkan Aurora di belakang.
Bram sesekali melirik Aurora dari kaca spion tengah. Wajah Aurora tampak tenang, ia menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap butiran air yang meluncur di kaca.
"Ra," Bram membuka suara dengan nada berat dan protektif.
"Aku sudah bicara dengan tim hukumku di Medan. Kita punya cukup bukti untuk menyeret Ucok ke penjara atas tuduhan penggelapan fasilitas dan perusakan properti. Dan untuk perempuan itu, Sherly... kita bisa menjeratnya sebagai kaki tangan atau setidaknya membuat laporannya cukup berat agar dia jera. Kamu mau aku proses sekarang?"
Aurora menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis dan elegan muncul di wajahnya. Ia tidak menoleh, suaranya terdengar sangat dewasa dan terkontrol.
"Tidak perlu, Bram. Jangan buang-buang energi untuk sesuatu yang menurutku sudah tidak penting lagi," jawab Aurora lembut.
Bram mengernyitkan dahi.
"Tapi mereka sudah keterlaluan, Ra. Mereka mengotori vila keluargamu. Mereka menghina profesionalisme kita."
"Bram," Aurora menoleh perlahan, menatap Bram dengan mata yang kini terlihat jauh lebih jernih.
"Memenjarakan mereka hanya akan membuat namaku terus terikat dengan drama murahan mereka. Aku tidak mau menghabiskan waktuku di kantor polisi atau pengadilan hanya untuk melihat wajah-wajah yang sudah tidak ada harganya lagi di mataku. Membiarkan mereka hidup dalam kehinaan dan kehilangan martabat di Deli... itu sudah hukuman yang cukup."
Aurora membetulkan posisi duduknya, suaranya kini beralih ke nada yang lebih tegas.
"Hanya satu permintaanku, Bram. Pastikan kejadian malam ini tidak pernah sampai ke telinga keluargaku di Singapura atau Jakarta. Kamu tahu sendiri, vila ini adalah salah satu aset kebanggaan Ayah yang kamu kelola. Jika Ayah tahu tempat ini dikotori oleh orang-orang seperti mereka, beliau akan sangat kecewa. Dan aku tidak ingin liburan penelitian Ibu Alice rusak lebih parah karena berita hukum ini."
Bram terdiam sejenak, mengagumi kedewasaan Aurora. Wanita di sampingnya ini benar-benar sudah naik level. Ia tidak lagi membalas api dengan api, melainkan dengan air yang tenang namun mematikan.
"Baiklah, kalau itu mau kamu. Aku akan tutup mulut dan memastikan tim operasional di vila segera membersihkan semuanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa," janji Bram.
"Tapi Ucok... dia tetap masuk daftar hitam di seluruh jaringan pariwisata Sumatera Utara. Itu mutlak."
Aurora mengangguk kecil. "Itu adil. Terima kasih, Bram."
Mobil terus melaju menembus pekatnya malam. Aurora memejamkan matanya perlahan.
Baginya, bab tentang Adrian, Sherly, dan pengkhianatan mereka benar-benar sudah tertutup rapat malam ini.
Ia sudah melepaskan bebannya di rumah Kepala Suku, dan sekarang, ia hanya ingin pulang dan beristirahat.
Setelah kepergian Aurora dan Bram, aura di dalam kamar Adrian berubah drastis. Tidak ada lagi kehangatan, hanya ada ketegangan yang membeku.
Adrian berdiri membelakangi Sherly, menatap rintik hujan dari balik jendela dengan tatapan kosong.
"Dri... terima kasih sudah membelaku di depan Papa," bisik Sherly sambil mencoba menyentuh lengan Adrian.
Adrian segera menarik tangannya, menjauh seolah tersengat listrik. Ia menoleh dengan tatapan yang begitu dingin, hingga membuat Sherly mematung.
"Jangan salah paham, Sherly," suara Adrian terdengar datar dan tanpa emosi.
"Aku membelamu bukan karena aku masih mencintaimu, atau karena aku percaya pada tangisanmu. Aku melakukannya hanya karena aku sudah berjanji pada orang tuamu untuk menjagamu dan membawamu pulang dengan selamat. Aku akan menepati janji itu sampai kita tiba di depan pintu rumahmu."
Adrian menjeda sejenak, menarik napas berat.
"Tapi setelah itu, kita selesai. Jangan pernah hubungi aku lagi, jangan pernah muncul di depanku. Hubungan kita mati malam ini."
Mendengar vonis itu, otak Sherly yang licik langsung bekerja cepat.
Ia tahu ia tidak bisa lagi mengandalkan rayuan fisik. Ia harus memainkan peran yang lebih "suci" untuk menyentuh sisi religius dan empati Adrian yang terdalam.
Tiba-tiba, Sherly jatuh terduduk di lantai. Ia menangis sejadi-jadinya, meratapi nasibnya dengan suara yang memilukan.
"Aku tahu aku kotor, Dri! Aku tahu aku hina! Aku tidak pantas untukmu!"
Tak berhenti di situ, Sherly segera mengambil kain mukena yang kebetulan ia bawa di tasnya. Di tengah malam yang sunyi itu, ia mulai melakukan drama "Sholat Taubat".
Ia bersujud sangat lama, terisak di atas sajadah seolah-olah ia sedang mengalami transformasi spiritual yang luar biasa.
Ia sengaja mengeraskan suara isakannya agar Adrian bisa mendengar betapa "hancur" dan "menyesalnya" ia di hadapan Tuhan.
Setiap kali selesai berdoa, ia akan menatap Adrian dengan mata yang merah dan bengkak.
"Dri, aku sudah bertaubat. Aku sudah menyerahkan segalanya pada Tuhan. Kalau kamu memang tidak bisa memaafkanku, biarlah aku pergi membawa penyesalan ini sampai mati."
Adrian yang duduk di kursi kayu hanya bisa memperhatikan dari jauh. Ia melihat Sherly yang tampak begitu khusyuk dan hancur.
Meskipun logikanya sudah diperingatkan berkali-kali oleh Ayahnya dan Aurora, sisi lemah Adrian mulai terusik kembali.
Apakah dia benar-benar berubah? Apakah hidayah memang datang padanya saat ini? pikir Adrian dalam hati.
Ia tidak sadar bahwa di luar kamar, Rico masih terjaga. Rico yang sempat lewat dan melihat drama sholat taubat Sherly dari celah pintu hanya bisa tersenyum sinis.
Rico tahu betul bahwa bagi wanita seperti Sherly, bahkan agama pun bisa dijadikan alat untuk menipu.
Melihat pemandangan Sherly yang bersujud dengan isak tangis yang dibuat-buat, Adrian justru merasa kepalanya dihantam oleh memori masa lalu yang sangat menyakitkan.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, dan seketika bayangan Aurora muncul di benaknya.
Adrian ingat betul saat Aurora mengalami tantrum hebat di Jakarta semasa kuliah dulu.
Ia melihat Aurora menangis histeris, tubuhnya gemetar, dan napasnya tersengal karena serangan panik yang dipicu oleh trauma masa lalu.
Aurora pernah dikhianati dan dizalimi secara keji oleh sekelompok wanita yang secara penampilan terlihat sangat religius dan berkerudung.
Kejadian itu meninggalkan bekas luka psikologis yang begitu dalam bagi Aurora, menjadikannya trauma terhadap simbol-simbol kesucian yang disalahgunakan.
Itulah alasan mengapa Aurora—meskipun hatinya sangat lembut—masih belum sanggup untuk berkerudung.
Bukan karena ia tidak taat, tapi karena setiap kali ia melihat pantulan dirinya atau orang lain, trauma tentang "penjahat berwajah suci" itu kembali menghantuinya.
Adrian teringat bagaimana Aurora dengan luar biasa bijaksananya selalu berkata:
"Bukan kerudungnya yang salah, Dri. Kerudung itu mulia. Yang salah adalah karakter orang di baliknya yang menggunakan kain itu untuk menutupi busuknya hati. Aku hanya... aku hanya butuh waktu untuk tidak lagi merasa takut pada kain itu."
Aurora tetap bersikap sangat sopan dan menghormati setiap wanita berkerudung yang ia temui, sekuat tenaga ia menekan traumanya agar tidak menjadi kebencian.
Itulah definisi wanita berkelas yang sesungguhnya di mata Adrian: Seseorang yang berdarah-darah melawan traumanya sendiri demi tetap menjadi orang baik.
Kini, melihat Sherly yang mendadak "alim" dan menggunakan ritual ibadah sebagai senjata untuk memanipulasi emosinya, Adrian merasa mual.
Apa yang dilakukan Sherly malam ini adalah penghinaan bagi perjuangan Aurora selama bertahun-tahun.
"Cukup, Sherly," ucap Adrian tiba-tiba. Suaranya tidak lagi iba, melainkan terdengar lelah dan penuh kejijikan.
Sherly menghentikan isakannya, menatap Adrian dengan wajah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat rapuh.
"Kenapa, Dri? Aku sedang memohon ampun..."
"Jangan gunakan Tuhan untuk menipuku lagi," potong Adrian tajam.
"Aku pernah melihat seseorang yang benar-benar hancur karena orang-orang yang berakting seperti kamu sekarang. Kamu tidak sedang bertaubat, kamu hanya sedang mengganti kostum untuk skenario barumu."
Adrian berdiri, mengambil jaketnya dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Sherly yang terpaku karena strateginya kali ini gagal total.
Adrian menyadari satu hal: Bahkan dalam diamnya dan ketidakhadirannya malam ini, Aurora tetap berhasil menyelamatkan Adrian dari kebodohan lewat kenangan akan ketulusannya.
Adrian melangkah keluar ke teras dengan bahu yang merosot, beban rasa bersalahnya terasa lebih berat daripada luka fisik di punggungnya.
Di sana, ia mendapati Rico sedang menyandarkan punggungnya pada pagar kayu, menatap kegelapan hutan Deli yang masih basah oleh sisa hujan.
Adrian berdeham pelan, lalu berdiri di samping Rico.
"Co," panggilnya lirish.
Rico tidak menoleh, ia hanya mengeluarkan kepulan asap rokoknya ke udara malam.
"Sudah selesai pertunjukan religius di dalam?" sindirnya tajam tanpa basa-basi.
Adrian mengabaikan sindiran itu karena ia tahu ia layak mendapatkannya.
"Aku minta maaf. Untuk semuanya. Untuk kebodohanku yang membiarkan bajingan-bajingan itu mengacaukan istirahat kalian dan menyakiti Aurora lagi."
Adrian menjeda sejenak, suaranya terdengar sangat memohon.
"Aku tahu aku sudah tidak punya muka di depan Aurora. Tapi aku butuh bantuanmu, Co. Tolong sampaikan padanya... aku ingin bicara berdua saja dengannya. Sekali saja, sebelum aku kembali ke Jakarta. Aku hanya ingin minta maaf dengan benar."
Rico perlahan menoleh, menatap Adrian dengan pandangan yang sangat dingin, seolah sedang melihat orang asing. Ia menarik napas panjang, lalu memberikan jawaban yang seketika membuat Adrian merasa benar-benar kehilangan hak atas Aurora.
"Minta izin padaku?" Rico terkekeh sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata.
"Dri, posisiku di hidup Aurora itu hanya sebagai pelindung dan sahabat. Aku tidak punya hak untuk melarang atau mengizinkanmu."
Rico melangkah mendekat, menepuk pundak Adrian yang masih diperban.
"Kalau kau memang merasa jantan dan ingin bicara dengan Aurora, jangan minta izin padaku. Mintalah izin kepada Firan."
Nama itu disebut dengan penekanan yang membuat jantung Adrian mencelos.
"Firan?" tanya Adrian dengan suara bergetar.
"Ya, Firan," tegas Rico.
"Dia yang memegang tangan Aurora saat kau melepaskannya. Dia yang memeluk Aurora saat kau membuatnya menangis histeris karena trauma wanita-wanita suci palsu itu. Dan dia juga yang sekarang punya hak penuh untuk menjaga ketenangan hati Aurora dari gangguan pria pengecut sepertimu. Jika Firan bilang 'tidak', maka selamanya pintu itu tertutup untukmu."
Rico mematikan rokoknya di asbak kayu, lalu berbalik masuk ke dalam.
"Satu hal lagi, Dri. Di mata Firan, kau itu bukan lagi saingan. Kau hanya masa lalu yang sudah dianggap mati. Jadi, siapkan nyalimu jika ingin menghubunginya."
Adrian terpaku di teras sendirian. Nama Firan seolah menjadi tembok raksasa yang tidak mungkin ia panjat.
Ia menyadari bahwa sementara ia sibuk bermain drama dengan Sherly, ada pria lain yang sudah jauh lebih dulu membangun istana keamanan untuk Aurora.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...