NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gimbap

Suasana di dalam houseboat mendadak terasa lebih hidup. Kehadiran Jake yang memenuhi ruangan sempit itu membawa energi yang sudah lama tidak Takara rasakan. Jake duduk di kursi kayu kecil, menatap Takara dengan binar mata yang sama seperti saat mereka masih remaja di Brisbane.

"Gue kangen lo masakin gimbap," kata Jake tiba-tiba. Perutnya mungkin sudah kenyang dengan makanan hotel berbintang, tapi lidahnya merindukan rasa yang hanya bisa diciptakan oleh tangan Takara.

Takara mendengus, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Yaelah... bahannya nggak ada, Jake. Lo tahu sendiri ini Amsterdam, bukan Gangnam. Gue harus ke supermarket Asia dulu kalau mau cari rumput laut yang bener."

"Yaudah, mumpung gue di sini, gimana kalau kita groceries bareng? Gue temenin," saran Jake enteng, seolah-olah dia bukan salah satu wajah yang paling dikenali di dunia saat ini.

Takara melotot, tangannya refleks berkacak pinggang. "Lo mau mengundang kerumunan di sini? Lo mau besok muka gue masuk koran Belanda gara-gara belanja bareng idol Korea?" tanya Takara dengan nada geram yang dibuat-buat.

"Kan gue bisa pakai baju penyamaran, aman itu. Ayo!" Jake tidak memberikan ruang untuk bantahan. Ia bangkit, meraih hoodie hitam kebesaran miliknya dan memasang kacamata berbingkai bening. Ia menarik tangan Takara keluar dari houseboat, sebuah gerakan impulsif yang membuat jantung Takara berdegup dua kali lebih cepat.

Di bawah langit Amsterdam yang mulai menggelap, mereka berjalan beriringan menuju supermarket terdekat. Jake menarik tudung hoodie-nya rendah-rendah. Di mata orang asing, dia mungkin hanya terlihat seperti turis Asia yang sangat modis, tapi bagi Takara, setiap langkah mereka terasa seperti misi berbahaya.

Genggaman tangan Jake pada pergelangan tangan Takara belum terlepas. Hangat dan tegas.

"Pelan-pelan, Jake! Orang-orang bakal curiga kalau kita lari-lari," bisik Takara setengah berteriak.

"Gue cuma nggak sabar pengen megang troli belanja," jawab Jake sambil tertawa renyah.

"Di Seoul, gue bahkan nggak boleh ke minimarket depan dorm sendirian."

Sesampainya di dalam supermarket, Jake benar-benar mewujudkan mimpinya. Ia mendorong troli belanja dengan semangat yang luar biasa, seolah itu adalah mainan paling mahal yang pernah ia miliki.

Mereka berhenti di lorong sayuran. Jake mulai memasukkan wortel, timun, dan beberapa bungkus lobak ke dalam troli.

"Ra, pilih nasi yang paling bagus. Gue mau gimbap lo rasanya sempurna malam ini," ucap Jake sambil membandingkan dua merk beras seolah itu adalah keputusan hidup dan mati.

Takara memperhatikan Jake dari samping. Di sini, di antara rak-rak saus tiram dan botol kecap, Jake terlihat sangat bahagia. Tidak ada tekanan untuk tersenyum manis ke arah kamera, tidak ada koreografi yang harus ia hapal. Hanya ada Jake yang sedang berdebat dengan Takara soal jenis sosis mana yang paling enak untuk isian gimbap.

"Lo sadar nggak sih, ini aneh banget?" tanya Takara pelan saat mereka mengantri di kasir.

"Aneh kenapa?" Jake meliriknya dari balik kacamata.

"Lo adalah bintang global yang punya asisten buat ngelakuin semua ini, tapi lo malah milih buat repot-repot ngantri di supermarket Belanda cuma buat makan gimbap rumahan."

Jake terdiam sejenak. Ia menatap punggung orang di depan mereka, lalu kembali menatap Takara. "Karena asisten gue nggak bisa beli 'normalitas', Ra. Dan normalitas gue itu cuma ada kalau gue bareng lo."

Kalimat itu membuat Takara terdiam. Ia menyadari bahwa bagi Jake, perjalanan nekat ini bukan soal liburan, melainkan soal bertahan hidup agar tidak kehilangan akal sehat. Dan di tengah hiruk pikuk supermarket itu, Takara merasa benteng pertahanan yang ia bangun selama Jake di Korea, perlahan-lahan mulai runtuh lagi.

———

Aroma nasi hangat yang baru dimasak mulai memenuhi ruang sempit di dalam houseboat. Takara sibuk memotong memanjang wortel dan lobak, sementara Jake bertugas mengocok telur. Di bawah sinar lampu gantung yang temaram, bayangan mereka berdua jatuh di dinding kayu, terlihat begitu sinkron seolah waktu tidak pernah memisahkan mereka.

"Jake, tangan lo hati-hati. Jangan sampai terluka ya, jangan sampai agensi lo punya alasan buat ngelarang lo nemuin gue lagi cuma gara-gara lo luka di sini," peringat Takara tanpa menoleh, namun nada suaranya penuh kekhawatiran yang tulus.

"Iya ih, cerewet banget!" sahut Jake sambil terkekeh. Meski mulutnya memprotes, hatinya menghangat. Di Seoul, semua orang memperlakukannya seperti porselen mahal yang takut pecah demi kepentingan konser.

Hanya Takara yang mengomelinya karena benar-benar peduli pada keselamatannya.

Jake menghentikan kegiatannya sebentar. Ia menoleh ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke sungai. "Jujur, Amsterdam senyaman ini ya," ujarnya lirih. Matanya terpaku pada pantulan lampu-lampu kota yang menari-nari di atas permukaan air sungai yang tenang. Suasana ini begitu kontras dengan cahaya neon Gangnam yang agresif.

"Ya... beginilah kehidupan gue. Sepi, tenang, tapi nyata," jawab Takara pendek.

Takara kemudian meletakkan pisaunya. Ia melangkah ke dapur kecil, melakukan ritual yang sudah sangat ia hafal di luar kepala.

"Sambil nunggu nasinya mateng, gue buatin teh lemon buat lo. Favorite lo kalau lagi stres," ucap Takara sembari menyuguhkan secangkir teh hangat dengan uap yang mengepul, lengkap dengan beberapa keping biskuit kering.

Jake menerima cangkir itu. Aroma sitrus yang segar langsung menyeruak, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang setelah penerbangan belasan jam. Ia menyesapnya pelan, memejamkan mata sejenak untuk merekam memori ini kuat-kuat.

"Coba aja bisa tiap hari begini sama lo," gumam Jake. Suaranya terdengar sangat jujur, sebuah keinginan terdalam yang selama ini ia kunci rapat di balik kontrak dan popularitas.

Takara terdiam sejenak. Jantungnya berdenyut sedikit lebih kencang, namun ia segera memasang tameng pertahanannya yang paling andal: sarkasme.

"Iya, yang ada gue gila harus dengerin curhatan lo 24 jam secara langsung. Terus berapa stok lemon yang harus gue siapkan tiap harinya buat nenangin lo?" jawab Takara khas dengan nada ketus yang manis.

Jake tertawa, kali ini tawanya terdengar lepas tanpa beban. Ia meletakkan cangkir tehnya dan menatap Takara dalam-dalam. Di dalam houseboat yang bergoyang pelan itu, dunia luar seolah menghilang.

Tidak ada ENHYPEN, tidak ada penggemar, tidak ada gimmick agensi. Hanya ada dua sahabat dari Brisbane yang sedang berupaya mempertahankan kewarasan mereka di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.

"Tapi serius, Ra," Jake menurunkan suaranya.

"Kalau suatu saat gue mutusin buat berhenti jadi idol... lo masih ada di sini buat buatin gue teh lemon, kan?"

"Suatu saat memang akan ada momen lo meninggalkan dunia idol, tapi lo harus siapin apa yang akan lo lakukan setelahnya. Gue selalu di sini, sebagai sahabat lo yang bakal mendukung lo sampai akhir," jawab Takara dengan nada yang tenang namun tak tergoyahkan.

Takara tidak ingin Jake mengambil keputusan besar hanya karena kelelahan sesaat. Ia ingin Jake berhenti di puncak, dengan kepala tegak, bukan karena melarikan diri. Kalimat "sebagai sahabat" itu kembali ia tekankan, seolah menjadi pengingat bagi Jake, dan dirinya sendiri, tentang batasan yang menjaga mereka agar tidak hancur.

Melihat Jake yang masih terpaku menatap cangkir tehnya, Takara segera menepuk bahu laki-laki itu pelan untuk memutus suasana melankolis yang mulai menebal.

"Nasinya udah mateng, lebih baik lo sekarang mandi, lalu kita makan bareng," saran Takara sambil mulai mengeluarkan gulungan bambu untuk mencetak gimbap. "Handuk bersih udah gue taruh di depan kamar mandi. Buruan, sebelum gimbapnya dingin!"

Jake menurut. Ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi kecil di ujung houseboat. Di dalam sana, ia bisa mendengar suara pisau Takara yang beradu dengan talenan, serta bunyi gemericik air sungai di luar. Rasanya begitu domestik, begitu hangat.

Selama mandi, Jake membiarkan air hangat membasuh kelelahannya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang sedikit berembun. Rambutnya yang biasanya ditata sempurna oleh stylist, kini basah dan berantakan. Ia merasa lebih seperti Jake Sim daripada Jake sang bintang global.

Sepuluh menit kemudian, Jake keluar dengan mengenakan kaos oblong dan celana kain milik Takara yang untungnya berukuran oversized. Ia menemukan meja makan kecil di tengah ruangan sudah tertata rapi. Piring-piring berisi potongan gimbap yang cantik, semangkuk sup bening, dan tentu saja, teh lemon yang masih mengepul.

"Wah, gila... ini kelihatan lebih enak daripada makanan di pesawat," puji Jake sambil duduk dengan antusias.

"Makan yang banyak. Gue tahu di Korea lo pasti disuruh diet ketat terus," sahut Takara sambil menyodorkan sumpit.

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Sesekali Jake menceritakan hal-hal konyol tentang member lain, dan Takara membalasnya dengan cerita tentang dosen desainnya yang eksentrik. Untuk sesaat, mereka lupa bahwa ada sebuah jet pribadi atau penerbangan komersial yang akan membawa salah satu dari mereka pergi dalam hitungan jam.

Namun, di sela-sela tawa itu, Jake berkali-kali mencuri pandang ke arah Takara. Ia menyadari sesuatu; Amsterdam mungkin nyaman, gimbap ini mungkin enak, tapi alasan utama ia merasa "pulang" adalah karena ada Takara di depannya.

"Ra," panggil Jake di tengah suapannya.

"Makasih ya. Buat semuanya."

Takara hanya mengangguk kecil, matanya fokus pada piring. Ia tidak berani membalas tatapan Jake, karena ia tahu, jika ia melakukannya, ia mungkin tidak akan sanggup melepaskan Jake pergi besok pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!