NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase yang Gagal

Udara di kafeteria utama Aeryon International Academy beraroma panggangan roti kelas satu dan biji kopi pilihan dari wilayah selatan Aeruland. Di tempat ini, kasta tidak hanya ditentukan oleh siapa namamu, tapi di meja mana kau duduk. Seraphina Aeru, tentu saja, menempati meja pusat yang paling terang, dikelilingi oleh para pengagum dan mahasiswa konglomerat yang sibuk memamerkan rencana liburan musim dingin mereka ke Skytown.

Namun, fokus Seraphina tidak tertuju pada obrolan tentang kapal pesiar atau saham yang sedang naik daun. Matanya terus melirik ke meja kecil di pojok ruangan, tempat yang seharusnya diisi oleh para mahasiswa beasiswa yang kurang pergaulan.

Di sana, Dareen Christ duduk dengan tenang. Dia tidak memesan makanan mewah. Di depannya hanya ada segelas air mineral dan tumpukan kertas tebal—makalah Hukum Pidana yang ditulis tangan dengan rapi, sebuah tugas fisik yang diinstruksikan Profesor Maxwell untuk dikerjakan tanpa bantuan komputer guna menguji kedalaman analisis mahasiswa.

"Kau melihat apa, Sera?" tanya Julian, putra pemilik bank yang sejak tadi mencoba menarik perhatian Seraphina. "Si 'pria beasiswa' itu lagi? Dia terlihat seperti robot yang sedang diprogram."

Seraphina tidak menjawab. Dia merasa panas setiap kali melihat betapa seriusnya Dareen mencatat. Pria itu tampak begitu berdedikasi, seolah-olah kertas-kertas di depannya adalah harta karun yang lebih berharga daripada semua perhiasan yang Sera kenakan. Harga diri Seraphina yang terusik sejak kejadian di kelas kemarin menuntut balas dendam. Dia ingin melihat Dareen hancur. Dia ingin melihat pria itu memohon atau setidaknya mengumpat.

"Aku butuh kopi lagi," ujar Seraphina tiba-tiba. Dia berdiri, menyambar gelas kopinya yang masih penuh dan panas, lalu berjalan dengan langkah anggun namun penuh maksud menuju meja di pojok itu.

Dareen tidak mendongak, meski dia pasti tahu Seraphina sedang mendekat. Pendengarannya yang terlatih sebagai mantan intelijen tidak mungkin melewatkan suara stiletto yang menghantam lantai marmer.

"Ops!"

Suara Seraphina yang dibuat-buat memecah keheningan di meja Dareen. Dengan gerakan yang disengaja, dia menyentakkan tangannya. Gelas keramik itu miring sempurna. Cairan cokelat pekat yang panas tumpah seperti air bah, menggenangi meja kayu tersebut dan—yang paling penting—meresap dengan rakus ke dalam lembar demi lembar makalah Dareen yang sudah dikerjakan semalaman.

Tinta hitam di atas kertas itu seketika luntur, menciptakan pola-pola mengerikan yang menghapus ribuan kata yang ditulis dengan susah payah.

Seluruh kafeteria mendadak sunyi. Julian dan gengnya tertawa kecil dari kejauhan, menunggu ledakan amarah dari si pria beasiswa.

Seraphina meletakkan gelas kosongnya dengan bunyi trak yang keras, lalu menatap Dareen dengan senyum kemenangan yang bengis. "Aduh, tanganku licin sekali pagi ini, Dareen. Maaf ya, sepertinya tugas hebatmu itu sudah jadi sampah sekarang."

Dareen Christ masih diam. Tangannya tetap memegang pulpen, meski air kopi kini mulai menetes dari pinggiran meja ke celananya. Dia menunduk, melihat hasil kerja kerasnya selama berjam-jam kini hancur menjadi bubur kertas berwarna cokelat.

Seraphina menunggu. Dia menanti Dareen berdiri dan membentaknya, atau setidaknya menunjukkan raut wajah putus asa. Namun, detik demi detik berlalu, dan yang terjadi justru sebaliknya.

Dareen perlahan mengangkat kepalanya. Dia melepas kacamata peraknya, mengelapnya dengan ujung kemeja yang masih kering, lalu memakainya kembali. Matanya yang gelap menatap Seraphina tanpa secercah pun amarah. Hanya ada kekosongan yang dingin, yang entah kenapa membuat Seraphina merasa sangat kecil.

"Tangan Anda memang sering licin akhir-akhir ini, Nona," ujar Dareen datar. Suaranya tidak bergetar. "Mungkin Anda butuh pemeriksaan medis lebih lanjut."

"Kau ..." Seraphina menggertakkan gigi. "Kau tidak marah? Itu makalah lima puluh halaman, Dareen! Kau tidak akan bisa menyelesaikannya tepat waktu untuk kelas sore ini!"

Dareen berdiri, mengabaikan noda kopi yang membasahi kemeja putihnya. Dia memunguti kertas-kertas yang basah kuyup itu dengan gerakan tenang, lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah terdekat seolah-olah itu memang barang yang tidak berguna.

"Marah adalah kemewahan bagi orang yang memiliki banyak waktu, Nona. Saya tidak memilikinya," jawab Dareen. Dia menyampirkan tasnya ke bahu. "Saya akan berada di perpustakaan. Jika Anda ingin menyiramkan sesuatu lagi, silakan datang ke sana."

Tanpa menoleh lagi, Dareen melangkah pergi meninggalkan kafeteria. Dia berjalan tegak, tidak membungkuk karena kalah, tidak juga terburu-buru karena panik.

Tiga jam berlalu.

Rasa puas yang tadi dirasakan Seraphina perlahan menguap, digantikan oleh rasa gelisah yang aneh. Dia mencoba tertawa bersama teman-temannya di butik, namun pikirannya terus kembali pada tatapan Dareen. Akhirnya, dengan dalih ada buku yang tertinggal, Seraphina menyelinap menuju perpustakaan pusat Aeryon International Academy.

Perpustakaan itu adalah labirin buku yang sangat sunyi. Di sudut terdalam, di balik deretan rak buku hukum yang menjulang tinggi, Seraphina menemukan apa yang dicarinya.

Dareen Christ duduk di sana, di sebuah meja kayu kecil yang hanya diterangi oleh lampu belajar kuning yang redup. Dia dikelilingi oleh tumpukan buku referensi setinggi gunung. Jemarinya yang masih memperlihatkan bekas memar bergerak dengan kecepatan yang luar biasa di atas kertas baru yang bersih.

Seraphina berdiri di balik bayangan rak, mengawasi pria itu. Dia melihat Dareen menulis ulang setiap kata, setiap referensi, dan setiap analisis dari ingatannya. Pria itu tidak menggunakan komputer; dia benar-benar menulis ulang semuanya dari nol. Keringat tipis terlihat di pelipisnya, dan sesekali dia memijat pangkal hidungnya karena lelah, namun dia tidak pernah berhenti.

Satu jam. Dua jam.

Dareen tetap di sana. Dia tidak pergi makan siang. Dia tidak memeriksa ponselnya. Dia seolah sedang berperang dengan waktu, dan senjatanya hanyalah sebuah pulpen dan tekad yang tak terpatahkan.

Hati Seraphina mulai terasa nyeri. Dia teringat ucapan Dareen di kelas kemarin: "Pendidikan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dicuri orang dari pria miskin seperti saya."

Dan hari ini, Seraphina baru saja mencoba mencuri hal itu darinya dengan cara yang paling rendah.

Sera melangkah keluar dari bayangan, berjalan mendekat dengan langkah yang tidak lagi angkuh. "Dareen," panggilnya lirih.

Pena Dareen berhenti bergerak sebentar, namun dia tidak menoleh. "Jika Anda di sini untuk menyabotase kertas yang baru ini, mohon tunggu sepuluh menit lagi. Saya sedang berada di kesimpulan yang sangat krusial."

"Aku tidak ..." Seraphina terdiam. Dia melihat tumpukan kertas baru yang sudah mencapai dua puluh halaman. Tulisan tangan Dareen tetap rapi, tetap tegas, meski tangannya pasti sudah sangat pegal. "Kenapa kau tidak melapor pada Seldin? Dia pasti akan menghukumku dan memberimu dispensasi waktu."

Dareen akhirnya meletakkan penanya. Dia berbalik sedikit, menatap Seraphina dengan mata yang terlihat merah karena kelelahan.

"Melapor hanya akan membuktikan bahwa saya lemah, Nona. Dan Tuan Seldin tidak membayar saya untuk menjadi orang lemah yang mengadu saat ada masalah sepele seperti tumpahan kopi," Dareen menjawab dengan suara serak. "Lagipula, menulis ulang materi ini justru membuat pemahaman saya tentang hukum internasional menjadi lebih dalam. Jadi, terima kasih atas bantuannya."

Seraphina terpaku. "Kau berterima kasih? Setelah apa yang kulakukan?"

"Dunia tidak pernah adil bagi orang seperti saya, Nona Seraphina. Saya sudah terbiasa bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan setengah dari apa yang Anda miliki secara cuma-cuma," Dareen berdiri, mengumpulkan kertas-kertasnya. "Sekarang, jika Anda sudah selesai menonton pertunjukan 'kegigihan orang miskin' ini, mari kita kembali ke kelas. Profesor Maxwell tidak suka keterlambatan."

Saat Dareen berjalan melewati Seraphina, gadis itu secara spontan meraih lengan baju Dareen. Dia bisa merasakan otot lengan pria itu yang mengeras karena terkejut.

"Maaf," bisik Seraphina. Kata itu terasa sangat asing di lidahnya. Sangat berat.

Dareen berhenti. Dia menatap tangan Seraphina yang mencengkeram lengan jasnya, lalu beralih ke mata gadis itu. Ada keheningan panjang di antara mereka, sebuah momen di mana status majikan dan pelayan terasa menguap di udara perpustakaan yang dingin.

"Simpan maaf Anda untuk sesuatu yang lebih besar, Nona," ujar Dareen, suaranya melembut hanya untuk sedetik sebelum kembali kaku. "Tugas saya adalah menjaga Anda, termasuk menjaga Anda dari rasa bersalah yang tidak perlu."

Dareen melepaskan tangan Seraphina dengan gerakan halus namun tegas. Dia berjalan menuju pintu keluar perpustakaan, meninggalkan Seraphina yang masih berdiri terpaku di antara deretan buku.

Seraphina menatap meja tempat Dareen bekerja tadi. Ada satu kertas kecil yang tertinggal—sebuah catatan kaki yang tidak sempat dimasukkan ke dalam makalah. Sera mengambilnya. Di sana tertulis sebuah kutipan latin: Per aspera ad astra. Melalui kesulitan menuju bintang.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh kemewahan, Seraphina Aeru merasa malu. Dia tidak lagi melihat Dareen sebagai 'robot' atau 'anjing penjaga'. Dia melihat seorang pria yang memiliki martabat yang jauh lebih tinggi daripada semua konglomerat di kampus ini. Dan saat itu juga, rasa benci di hatinya mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kekaguman yang mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!