NovelToon NovelToon
Lentera Abadi Di Makam Bintang

Lentera Abadi Di Makam Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

​Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
​"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
​Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30 harga dari sebuah napas dan embargo langit

Tiga puluh hari.

Itulah waktu yang dibutuhkan bagi debu di Ibu Kota untuk benar-benar mengendap. Bagi rakyat jelata, tiga puluh hari adalah waktu untuk membangun kembali atap rumah mereka yang hancur dan menguburkan mayat-mayat yang tak terhitung jumlahnya. Namun bagi seorang kultivator di Ranah Jiwa Baru Lahir, tiga puluh hari hanyalah satu tarikan napas panjang dalam meditasi mendalam.

Di dalam Ruang Kultivasi Bawah Tanah yang tersembunyi ratusan meter di bawah reruntuhan istana, keheningan terasa begitu padat hingga bisa diiris dengan pisau.

Xing Shenyuan duduk bersila di atas sebuah batu giok dingin. Tubuhnya tidak bergerak, bahkan dadanya tidak naik-turun. Ia berada dalam keadaan Mati Suri, sebuah fase kritis dari Sutra Tidur Abadi.

Di dalam ruang kesadarannya, ia melihat Jiwa Kaisar Bintang-nya. Sosok bayi jiwa itu, yang sebelumnya memancarkan cahaya ungu agung, kini tampak seperti boneka porselen yang pernah pecah dan direkatkan kembali. Garis-garis emas halus—hasil dari Esensi Bintang Purba dan Teknik Pernapasan Kura-kura Hitam—kini mengisi retakan-retakan itu.

"Fondasi..." batin Shenyuan bergema dalam kehampaan.

Ia menyadari kesalahan fatal yang hampir merenggut masa depannya. Memaksa terobosan di tengah pertempuran adalah perjudian gila. Jika ia tidak memiliki Sistem Makam Bintang, ia pasti sudah meledak menjadi kabut darah saat melawan Xing Jian.

Sekarang, retakan itu telah tertutup sekitar 45%. Tidak sempurna, tapi cukup stabil untuk menahan aliran Qi tanpa rasa sakit yang menyiksa.

Huuh...

Shenyuan menghembuskan napas pertamanya dalam sebulan. Napas itu keluar sebagai kabut kelabu pekat yang berbau logam dan hangus—residu kotoran dari meridiannya.

Mata Shenyuan terbuka. Cahaya perak di pupilnya meredup, kembali menjadi hitam pekat yang tenang namun dalam. Ia tidak terlihat lebih kuat secara fisik, justru ia terlihat lebih "biasa". Auranya terkunci rapat di dalam, seperti pedang yang tersarung sempurna.

"Sistem, tampilkan status pemulihan."

> [Status Sistem:]

> * Kultivasi: Jiwa Baru Lahir Tahap Awal (Stabilisasi: 48%).

> * Kondisi Fisik: 85% Pulih.

> * Meridian: 90% Bersih dari residu energi dimensi.

> * Catatan: Disarankan menghindari pertempuran habis-habisan selama 3 bulan ke depan.

>

Shenyuan berdiri, sendi-sendinya berbunyi pelan. Ia mengibas jubah barunya yang telah disiapkan di sudut ruangan.

"Tiga bulan tanpa pertarungan besar?" Shenyuan tersenyum tipis, senyum yang dingin. "Itu tergantung seberapa bodoh musuh-musuhku."

Keluar dari Isolasi: Wajah Baru Kekaisaran

Pintu batu raksasa bergeser terbuka dengan suara gemuruh berat.

Di luar, Lin Xiaoyue langsung bangkit dari posisi meditasinya. Gadis itu terlihat lebih kurus, lingkaran hitam menggantung di bawah matanya, namun pedang di pangkuannya bergetar tajam. Dia benar-benar menjaga pintu itu selama sebulan penuh tanpa tidur nyenyak.

"Guru!" Xiaoyue berseru, suaranya serak. Ia memindai tubuh Shenyuan dengan khawatir. "Apakah... apakah Anda berhasil?"

Shenyuan menatap muridnya dengan tatapan yang sedikit lebih lembut dari biasanya. Ia mengulurkan tangan, menepuk kepala Xiaoyue pelan. Aliran Qi hangat yang sangat murni mengalir dari telapak tangannya, menyegarkan tubuh gadis itu seketika.

"Aku masih hidup, Xiaoyue. Dan kau... kau hampir mencapai ambang batas Inti Emas (Golden Core). Kau menjaga pintu ini dengan baik."

Xiaoyue menunduk, menyembunyikan mata yang berkaca-kaca. "Saya hanya melakukan tugas saya."

"Ayo. Kita lihat apa yang terjadi dengan dunia saat aku tidur."

Mereka berjalan keluar dari area bawah tanah menuju permukaan.

Apa yang menyambut Shenyuan bukanlah pemandangan kehancuran total seperti sebulan lalu. Sebaliknya, ia melihat kerangka bangunan baru mulai berdiri. Ribuan pekerja dan kultivator tingkat rendah bekerja bahu-membahu memindahkan puing-puing.

Namun, ada sesuatu yang salah.

Shenyuan bisa merasakannya di udara. Qi di Ibu Kota terasa tipis. Wajah-wajah para pekerja tampak lesu, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena kekurangan asupan energi spiritual.

Di tenda komando sementara yang didirikan di taman istana yang tersisa, Su Yan sedang berdebat dengan tiga menteri tua.

"Kita tidak bisa menaikkan pajak lagi! Rakyat sudah makan bubur air!" teriak salah satu menteri.

"Jika kita tidak membeli Batu Roh dari pedagang luar, formasi pelindung kota akan mati dalam dua hari!" balas Su Yan dingin. "Apakah Anda ingin Sekte Pedang Langit masuk begitu saja tanpa perlawanan?"

"Tapi harganya sepuluh kali lipat, Nona Su! Ini pemerasan!"

"Cukup."

Satu kata itu diucapkan dengan nada datar, tidak keras, namun gaungnya menghentikan seluruh perdebatan di tenda itu.

Semua orang menoleh. Saat melihat sosok berjubah hitam yang berdiri di pintu masuk, para menteri itu langsung menjatuhkan diri berlutut, tubuh mereka gemetar hebat.

"Tuan Shenyuan!"

Su Yan menghela napas lega yang hampir tak terdengar. Bahunya yang tegang akhirnya rileks. "Tuan... Anda sudah kembali."

Shenyuan berjalan masuk, duduk di kursi utama yang kosong. Ia tidak memancarkan tekanan membunuh, tapi keberadaannya saja sudah cukup membuat udara terasa berat.

"Laporan situasi, Su Yan. Singkat."

Masalah Logistik: Embargo Langit

Su Yan melangkah maju, menyerahkan gulungan peta strategis.

"Tuan, secara militer kita aman. Sisa-sisa pasukan Pangeran Pertama dan Ketiga telah menyerah atau dieksekusi. Namun, kita menghadapi perang jenis lain."

Su Yan menunjuk ke garis-garis merah yang mengelilingi perbatasan Kekaisaran.

"Sekte Pedang Langit tidak menyerang secara langsung. Mereka tahu Anda membunuh tiga Tetua mereka, dan mereka berhati-hati. Sebagai gantinya, mereka menggunakan pengaruh politik mereka. Mereka mendeklarasikan Embargo Spiritual terhadap Kekaisaran Bintang Agung."

Shenyuan mengangkat alis. "Embargo?"

"Ya. Mereka melarang semua pedagang, sekte aliansi, dan kota-kota tetangga untuk menjual Beras Roh, Batu Roh, dan Pil Pengobatan kepada kita. Siapa pun yang melanggar akan dianggap musuh Sekte Pedang Langit."

Su Yan menunjuk ke arah gudang penyimpanan. "Cadangan kita menipis. Tanpa Batu Roh, formasi pertahanan kota akan runtuh. Tanpa Beras Roh, kultivator tingkat rendah di pasukan kita akan kehilangan tenaga. Mereka mencoba membuat kita kelaparan sampai kita menyerahkan leher kita sendiri."

"Cerdas," puji Shenyuan, nada suaranya tanpa emosi. "Mereka tahu aku kuat, tapi mereka juga tahu aku tidak bisa memberi makan satu negara dengan membunuh orang."

Masalah kedua muncul. Panji di pinggang Shenyuan bergetar pelan.

Tie Zha mengirimkan sinyal mental: Lapar... Tuan... Pasukan butuh makan...

Roh-roh di dalam Panji Sepuluh Ribu Jiwa membutuhkan Yin Qi yang pekat untuk bertahan dan berevolusi. Ibu Kota yang baru dibersihkan dari energi iblis sekarang terlalu "bersih" dan "panas" (Yang) karena matahari musim panas. Tanpa asupan Yin, pasukan hantunya akan melemah.

Shenyuan mengetuk-ngetuk sandaran kursi.

Satu masalah kekurangan sumber daya spiritual (Batu Roh), satu masalah kekurangan sumber daya kematian (Yin Qi).

"Tuan," kata Su Yan ragu-ragu. "Para menteri menyarankan agar kita mengirim utusan perdamaian untuk bernegosiasi..."

"Negosiasi?" Shenyuan tertawa kecil. "Negosiasi adalah hak istimewa mereka yang setara. Saat ini, mereka menganggap kita mangsa yang terperangkap."

Shenyuan berdiri.

"Kita tidak akan meminta belas kasihan. Kita akan menciptakan sumber daya kita sendiri."

Login Harian: Solusi dari Masa Lalu

Shenyuan berjalan keluar tenda, menuju ke area Makam Leluhur Kerajaan yang terletak di sisi utara kompleks istana. Tempat ini relatif utuh karena dilindungi formasi kuno yang terpisah.

Shenyuan tahu dia masih memiliki satu kesempatan Login Harian yang belum terpakai hari ini.

"Sistem, aku butuh solusi untuk masalah logistik. Entah itu energi Yin untuk pasukanku, atau cara memecahkan embargo ini."

Ia berdiri di depan nisan leluhur pendiri Kekaisaran.

> [Sistem Login Harian Makam Bintang]

> [Lokasi: Makam Leluhur Kerajaan (Tanah Berdarah Kuno)]

> [Status: Siap untuk Check-in.]

> [Analisis Keinginan Tuan Rumah: Sumber Daya Berkelanjutan.]

>

"Login."

> [Ding! Check-in berhasil!]

> [Selamat, Tuan mendapatkan: "Benih Teratai Mayat Sembilan Kelopak" (Item Alam Tingkat Bumi) dan "Cetak Biru: Formasi Konversi Qi Terbalik".]

> [Deskripsi Item:]

> * Benih Teratai Mayat Sembilan Kelopak: Tanaman langka yang hanya tumbuh di medan perang kuno. Ia menyerap energi kematian, racun, dan limbah spiritual, lalu mengubahnya menjadi Yin Qi Murni dan memadatkan Mutiara Roh Yin (bisa digunakan sebagai pengganti Batu Roh untuk kultivator jalur gelap/hantu).

> * Formasi Konversi Qi Terbalik: Sebuah susunan formasi yang memungkinkan pengguna mengubah Batu Roh atribut apa pun menjadi atribut netral, atau sebaliknya.

>

Mata Shenyuan berbinar. Ini dia.

Teratai Mayat ini adalah solusi sempurna. Ibu Kota ini baru saja menjadi kuburan bagi puluhan ribu prajurit dan terkontaminasi oleh energi Pelahap Bintang. Tanah ini penuh dengan "sampah spiritual" yang beracun bagi manusia biasa, tapi merupakan pupuk terbaik bagi Teratai ini.

"Su Yan!" panggil Shenyuan.

Su Yan segera muncul di belakangnya. "Ya, Tuan?"

Shenyuan melempar benih hitam yang berdenyut itu ke arah Su Yan. Wanita itu menangkapnya dengan kaget, merasakan hawa dingin menusuk tulang.

"Tanam ini di bekas kawah utama tempat Xing Jian mati. Area itu memiliki konsentrasi energi kematian tertinggi."

"Benda apa ini, Tuan?"

"Ini adalah pabrik uang baru kita," Shenyuan menyeringai. "Tanaman ini akan memakan sisa-sisa energi iblis di tanah, membersihkan Ibu Kota dari racun, dan sebagai gantinya, ia akan memproduksi Mutiara Roh Yin. Mutiara itu adalah makanan bagi pasukanku, dan juga komoditas yang sangat mahal di pasar gelap bagi para kultivator aliran hitam."

"Pasar gelap..." Su Yan cerdas, dia langsung menangkap maksudnya. "Anda ingin kita berdagang dengan faksi-faksi bawah tanah?"

"Tepat. Jika Jalur Putih (Sekte Pedang Langit) memblokir kita, kita akan berdagang dengan Jalur Hitam. Madam Hong di Kota Seribu Sungai pasti akan sangat tertarik dengan pasokan Mutiara Roh Yin berkualitas tinggi."

Shenyuan menatap ke langit utara.

"Mereka ingin mencekik kita dengan aturan 'kebenaran'? Kita akan merusak pasar mereka dengan barang selundupan."

Pelatihan Xiaoyue: Menjaga Ladang Kematian

Malam itu, Shenyuan membawa Xiaoyue ke kawah tempat Teratai Mayat baru saja ditanam. Dalam hitungan jam, benih itu telah tumbuh menjadi tanaman merambat raksasa dengan kelopak hitam-ungu yang memancarkan cahaya redup.

Aura di sekitar kawah itu sangat dingin dan menekan.

"Xiaoyue, kau merasa tidak nyaman?" tanya Shenyuan.

"Sedikit, Guru. Udaranya berat," jawab Xiaoyue jujur.

"Bagus. Itu artinya indramu tajam." Shenyuan menunjuk ke tengah kolam energi tempat teratai itu tumbuh. "Tugasmu selanjutnya bukan membunuh musuh, tapi Meditasi."

"Meditasi? Di sini?"

"Kultivasimu adalah elemen Es dan Angin. Tempat ini penuh dengan Yin Qi. Jika kau bisa mempertahankan kemurnian Inti-mu di tengah lumpur energi kematian ini, fondasimu akan menjadi sepuluh kali lebih kuat daripada kultivator manja yang berlatih di atas bantal sutra."

Shenyuan melempar sebuah buku teknik baru—hasil salinan dari perpustakaan Makam Bintang.

"Pelajari Langkah Angin Pembeku. Gunakan tekanan tempat ini untuk memadatkan Qi-mu. Aku memberimu waktu satu bulan untuk menerobos ke Inti Emas. Jika gagal... kau tidak boleh ikut aku ke perjalanan selanjutnya."

Wajah Xiaoyue meneras. "Saya tidak akan mengecewakan Anda, Guru!"

Gadis itu melompat ke atas batu yang menonjol di tengah kawah, duduk bersila di antara uap beracun, dan mulai melatih pernapasan.

Shenyuan mengamati sejenak, lalu mengangguk puas. Dia keras, tapi itu satu-satunya cara agar Xiaoyue bisa bertahan hidup di dunia yang akan semakin gila ini.

Tamu Tak Diundang: Pesan untuk Sekte

Tiga hari kemudian. Operasi "Ladang Teratai" mulai menunjukkan hasil. Su Yan telah menjalin kontak kembali dengan jaringan bawah tanah, dan Mutiara Roh Yin mulai diproduksi.

Namun, seperti yang diprediksi, Sekte Pedang Langit tidak tinggal diam. Mereka tidak mengirim pasukan, tapi mereka mengirim "mata".

Malam itu, di dinding barat Ibu Kota yang setengah jadi.

Seorang sosok bayangan bergerak cepat, menyatu dengan kegelapan. Dia adalah Mata Elang, pengintai elit Sekte Pedang Langit dengan kultivasi Inti Emas Tahap Akhir. Tugasnya sederhana: Konfirmasi status Xing Shenyuan. Apakah dia cacat? Apakah dia mati?

Mata Elang berhenti di atas menara pengawas. Dari sini, dia bisa melihat aktivitas di kawah pusat.

"Tanaman iblis..." gumamnya, mencatat dalam kristal memori. "Dia benar-benar telah jatuh ke jalan sesat. Ini bukti yang cukup untuk menggalang aliansi sekte-sekte lurus untuk memusnahkannya."

Dia berbalik hendak pergi.

"Sudah selesai melihat-lihat?"

Suara itu terdengar tepat di telinganya. Dingin, santai, dan sangat dekat.

Mata Elang membeku. Bulu kuduknya berdiri. Dia tidak merasakan kedatangan siapa pun!

Dia berputar, belati di tangannya menebas leher musuh.

Tring.

Belati itu berhenti satu inci dari kulit leher Shenyuan, ditahan oleh satu jari telunjuk.

Shenyuan berdiri di sana, mengambang di udara, jubah hitamnya tidak berkibar meski angin malam bertiup kencang. Matanya menatap si pengintai dengan kebosanan yang mengerikan.

"S-Siapa..." Mata Elang mencoba menarik belatinya, tapi tidak bisa bergerak. Tubuhnya terkunci oleh tekanan spiritual yang tak kasat mata.

"Kau datang ke rumahku, mengintip kebunku, dan sekarang mau pergi tanpa pamit?" Shenyuan menjentikkan jarinya.

Krak!

Belati kelas Bumi itu hancur berkeping-keping.

Shenyuan mencengkeram leher pengintai itu, mengangkatnya seperti boneka kain.

"Katakan pada Tetua Sektemu," bisik Shenyuan, matanya mulai bersinar ungu. "Jangan kirim tikus lagi. Jika mereka ingin tahu keadaanku, datanglah sendiri. Tapi pastikan mereka membawa peti mati yang cukup bagus."

Shenyuan tidak membunuhnya. Sebaliknya, ia menempelkan telapak tangannya ke dahi pengintai itu.

"Segel Mimpi Buruk."

AAAAARGHHH!

Pengintai itu menjerit saat Shenyuan menanamkan ilusi horor langsung ke dalam jiwanya—gambaran tentang Tie Zha yang memakan ribuan jiwa, tentang langit yang terbelah, tentang mata ungu di kegelapan.

Shenyuan melepaskannya. Pengintai itu jatuh ke tanah, terengah-engah, matanya kosong karena teror.

"Pergi," perintah Shenyuan. "Jadilah kurir pesanku."

Pengintai itu tidak berpikir dua kali. Dia lari terbirit-birit, memacu pedang terbangnya dengan sisa tenaga terakhir, membawa serta ketakutan yang akan menyebar seperti virus di dalam Sekte Pedang Langit.

Penutup Bab: Langkah Selanjutnya

Shenyuan kembali mendarat di balkon istana. Su Yan sudah menunggu di sana dengan nampan berisi teh.

"Anda membiarkannya hidup, Tuan?"

"Orang mati tidak bisa bercerita, Su Yan," Shenyuan mengambil cangkir teh itu. "Ketakutan lebih efektif daripada kematian. Kesaksiannya akan membuat Sekte Pedang Langit ragu untuk menyerang secara langsung dalam waktu dekat. Mereka akan berpikir aku masih memiliki kekuatan penuh, atau bahkan lebih kuat."

"Itu memberi kita waktu," Su Yan mengerti.

"Ya. Waktu untuk menstabilkan fondasiku sepenuhnya, dan waktu untukmu mengumpulkan kekayaan dari perdagangan Mutiara Roh Yin."

Shenyuan menatap ke arah Barat.

"Tiga bulan lagi. Setelah fondasiku pulih 100% dan Xiaoyue mencapai Inti Emas, kita akan meninggalkan Ibu Kota ini di tanganmu sementara."

"Anda mau ke mana, Tuan?"

"Ke Barat," jawab Shenyuan. "Ada sesuatu yang jatuh dari langit saat pertempuran terakhir. Sesuatu yang milikku. Dan aku merasakan... ada undangan dari masa lalu yang menungguku di sana."

Di kejauhan, di pegunungan liar Barat, rumor tentang "Desa yang Hilang dalam Semalam" mulai terdengar. Benih bencana baru sedang tumbuh, dan Shenyuan tahu dia harus memanennya sebelum menjadi terlalu besar.

* Kultivasi: Jiwa Baru Lahir Tahap Awal (Stabilisasi: 50%).

* Aset Baru: Ladang Teratai Mayat (Sumber Mutiara Roh Yin).

* Strategi: Perang Ekonomi & Psikologis terhadap Sekte Pedang Langit.

* Target: Memperkuat Xiaoyue ke Inti Emas & Persiapan Ekspedisi ke Barat.

1
Seorang Penulis✍️
Tess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!