SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Preman Pasar Sewon
Bulan purnama menggema keindahannya di langit malam yang begitu jelas dan bersih, tanpa sehelai awan pun yang berani menghalangi sinar kemilauannya yang lembut namun tajam.
Cahayanya merembes masuk melalui celah-celah kayu jendela kamar kecil Romi, menyinari setiap sudut ruangan mulai dari kasur empuk yang dijahit tangan oleh Emak Susi, hingga karpet lantai yang sudah mulai memudar warnanya akibat digunakan selama bertahun-tahun.
Di sudut kamar, sebuah jam dinding dengan angka-angka besar yang sudah mulai menguning menunjukkan pukul 03.00 WIB tepat pada waktunya, disertai dengan bunyi detak jam yang teratur namun tidak terlalu keras agar tidak mengganggu kedamaian malam yang masih buta itu.
Romi perlahan membuka kedua mata, matanya yang masih sedikit mengantuk segera fokus melihat ke arah jendela yang menerawang ke luar halaman rumahnya.
Tangisan ayam kampung dari kandang belakang rumah mulai terdengar satu per satu, seolah mereka sedang bersiap untuk menyambut datangnya fajar yang belum terlihat jelas dari ufuk timur.
Tanpa banyak berpikir, tangan kanannya secara refleks menjulurkan ke arah meja kecil kayu yang ditempatkan di tepi kasurnya, mengambil tasbih kayu yang selalu ia letakkan di sana bersama dengan buku doa kecil yang pernah diberikan oleh bapaknya sebelum wafat.
Setelah duduk dengan posisi badan tegak dan punggung lurus di atas kasur, ia mengusap wajahnya yang masih terasa sedikit dingin karena suhu malam yang cukup sejuk di daerah Pasar Sewon. Kemudian ia membuka buku doa kecil tersebut, membaca kalimat doa yang sudah hafal oleh hatinya dengan suara yang jelas dan penuh rasa syukur yang tulus:
"Alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin-nusyuur"
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan hanya kepada-Nya kami akan dikembalikan (dibangkitkan)."
Setelah menyelesaikan bacaan doanya, Romi langsung berdiri dan menuju kamar mandi kecil yang berada di belakang rumah, yang hanya bisa ditempuh melalui lorong kecil yang penuh dengan tanaman rambat yang tumbuh subur di sekelilingnya.
Ia melakukan wudhu dengan sangat teliti dan khusyuk, mencuci setiap bagian tubuh sesuai dengan tuntunan agama yang telah diajarkan oleh kedua orang tuanya. Sementara itu, di ruang tamu yang juga berfungsi sebagai dapur sekaligus ruang makan, Emak Susi sudah sibuk menyiapkan bekal makanan dan minuman untuk hari ini – nasi hangat dengan lauk sambal terong yang masih panas, serta air putih yang disimpan dalam botol plastik bekas yang sudah dicuci bersih.
Di atas meja kecil yang dilapisi alas kain motif bunga, juga sudah diletakkan perlengkapan untuk lapak sayuran mereka di Pasar Sewon – mulai dari timbangan manual yang sudah agak berkarat, ember plastik untuk menyimpan uang, hingga kain serbet yang digunakan untuk menutupi sayuran agar tidak cepat layu terkena sinar matahari.
Sejak bapaknya Bayu Buana meninggal dunia dua bulan yang lalu sebelum Romi masuk sekolah SMA Harapan Bangsa karena sakit paru-paru, tinggal Romi seorang diri yang membantu emaaknya berjualan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.
Ia tahu bahwa penghasilan dari berjualan sayuran dan ikan serta udang & cumi adalah satu-satunya sumber nafkah mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tambah dengan dirinya yang berjualan bakso cuanki , mulai dari biaya makan, biaya sekolah, hingga biaya listrik dan air yang harus dibayar setiap bulan.
"Hai Rom, sudah siap belum nak?" tanya Emak Susi sambil menyimpan bekal makanan ke dalam tas ransel tua yang masih kokoh walau warnanya sudah memudar.
"Siap sudah emaak, aku sudah siap semua," jawab Romi dengan suara ceria sambil keluar dari kamar mandi, mengenakan baju kaos putih dan celana panjang hitam yang selalu ia pakai untuk membantu berjualan.
Ia kemudian mengambil topi laki-laki dengan tali dagu yang pernah menjadi milik ayahnya, mengenakannya dengan hati-hati sambil melihat ke cermin kecil yang terpasang di dinding kamar mandi. Di wajahnya yang masih muda itu terlihat keseriusan dan keikhlasan yang tidak biasa untuk anak seusianya.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka berangkat dari rumah menggunakan sepeda motor tua warna biru tua yang menjadi satu-satunya kendaraan mereka pengganti angkot yang dulu biasa mereka tumpangi, saat mereka masih mengontrak di belakang dekat pasar Sewon.
Jalan menuju Pasar Sewon masih sangat sepi, hanya ditemani oleh suara mesin motor yang sedikit berisik dan kilatan lampu jalan yang jarang-jarang ditemukan di sepanjang jalan raya yang belum diaspal dengan rata.
Udara pagi yang masih segar dan sejuk menyegarkan paru-paru mereka, membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari kebun-kebun kecil yang berada di sepanjang pinggir jalan. Ketika mereka tiba di lokasi pasar sekitar pukul 03.45 WIB, beberapa pedagang lain sudah mulai aktif membuka lapaknya – membentangkan tenda lipat, menyusun meja dan bangku, serta menyimpan barang dagangannya dengan rapi.
Namun berbeda dari biasanya yang selalu ramai sekali, area parkir khusus untuk mobil truck pengangkut barang dagangan terlihat sangat kosong – tidak ada satu pun mobil truck sayuran yang terlihat sampai saat ini.
Bang Rokib, agen sayuran terbesar di Pasar Sewon yang dikenal sebagai orang yang selalu terpercaya dan sangat peduli kepada keselamatan serta kesejahteraan para pedagang kecil di sekitarnya, sedang berjalan bolak-balik di depan kantor kecil pasar yang berdiri di tengah area parkir.
Wajahnya yang biasanya selalu ceria dan ramah kini terlihat gelisah, alisnya terkunci dan dahinya mulai menetes peluh meskipun udara pagi masih cukup dingin.
Tangannya sering menyentuh kantong celananya yang terdapat dompet kulit tua dan buku catatan bisnis yang selalu ia bawa kemana-mana, seolah ia sedang mencari sesuatu yang bisa membantunya mengatasi kekhawatiran yang sedang melanda dirinya.
Romi melihat kondisi Bang Rokib yang tidak biasa itu, lalu mendekatinya dengan langkah yang lembut dan sopan, sambil mengucapkan sapaan dengan suara yang jelas dan penuh rasa hormat: "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Bang Rokib, semoga sehat selalu ya bang."
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh juga Rom, kamu sudah datang ya nak? Semoga hari ini kita diberkahi rejekinya ya," jawab Bang Rokib dengan suara yang sedikit lemah sambil menghela nafas panjang yang terasa berat di dadanya.
"Tumben ya bang, mobil truck angkutan sayuran belum sampai sama sekali? Biasanya kan jam empat sudah ada beberapa mobil yang sudah tiba dan mulai membongkar barang dagangannya," ujar Romi dengan suara penuh perhatian, melihat sekeliling area parkir yang masih kosong itu.
"Benar sekali Rom, kamu benar sekali katanya," kata Bang Rokib sambil mengangguk-angguk, matanya masih terus melihat ke arah jalan masuk pasar yang menghubungkan dengan jalan raya utama, "Abang sendiri sudah nungguin sejak jam tiga setengah tepatnya, dan sampai sekarang ini belum ada satu mobil pun yang muncul dengan jelas.
Padahal kemarin sore saya sudah melakukan konfirmasi sebanyak tiga kali dengan pihak perusahaan pengangkut sayuran di Sukabumi, dan mereka menjamin bahwa akan datang lima unit mobil truck dengan membawa berbagai jenis sayuran segar mulai dari bayam, kangkung, kubis, wortel, hingga bawang merah dan bawang putih yang banyak dibutuhkan oleh para pembeli."
Tidak lama kemudian, beberapa pedagang sayuran yang biasanya berjualan di sekitar area lapak Bang Rokib mulai berkumpul satu per satu di sekitarnya.
Di antara mereka adalah Mpok Wati yang berjualan di lapak sebelah kanan Emak Susi, seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang selalu ceria dan suka membantu orang lain.
Wajahnya yang biasanya penuh dengan senyum kini juga terlihat khawatir, membawa cangkir teh hangat yang ia seduh sendiri untuk dibagikan kepada teman-teman pedagang lainnya.
"Coba aja bang Rokib hubungi mereka lagi dengan telepon genggam ya, jangan cuma diam dan nunggu-nunggu doang seperti ini," sarankan Mpok Wati dengan suara yang khasnya lantang namun tetap penuh perhatian kepada Bang Rokib, "Kalau memang ada masalah atau kendala di jalan, setidaknya kita bisa cari jalan keluar dari awal saja kan? Bisa aja kita mencari sumber sayuran dari daerah lain yang lebih dekat jika memang diperlukan."
"Ya benar sekali mpok Wati yang kamu katakan itu," tambah salah satu pedagang pria muda yang baru saja membuka tenda lapaknya di sisi kanan area parkir, "Coba hubungi salah satu supirnya secara langsung biar kita bisa tahu dengan pasti jam berapa mereka akan datang atau apakah memang ada kendala yang membuat mereka terlambat dalam perjalanan."
Mendengar saran dari para pedagang itu, Bang Rokib segera mengeluarkan ponsel pintarnya dari kantong jaketnya yang sudah mulai aus. Ia dengan cepat mencari nomor kontak supir-supir truck yang biasanya mengantar sayuran ke pasar ini, mulai dari Pak Slamet yang sudah bekerja sebagai supir selama lebih dari sepuluh tahun, hingga Pak Joko yang baru saja bergabung sebagai supir baru sekitar tiga bulan yang lalu.
Namun sayangnya, semua panggilan yang ia lakukan tidak mendapatkan tanggapan sama sekali – beberapa nomor menunjukkan bahwa pemiliknya sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan sinyal, sementara yang lain hanya terdengar nada dering yang terus berulang tanpa ada yang menjawabnya.
Wajah para pedagang yang sudah berkumpul di sekitarnya makin terlihat khawatir dan resah seiring dengan bertambahnya lama waktu yang mereka habiskan untuk menunggu tanpa ada kabar yang jelas dari pihak perusahaan pengangkut sayuran.
Seiring berjalannya waktu yang terasa sangat lambat bagi mereka yang sedang menunggu, cahaya pagi mulai perlahan menyingsing dari ufuk timur, menerangi langit yang awalnya hitam pekat menjadi berwarna jingga muda yang indah.
Sinar matahari yang mulai muncul perlahan menghangatkan udara sekitar pasar, membuat beberapa pedagang mulai merasa gerah meskipun mereka masih berada di bawah naungan tenda lapaknya.
Beberapa pembeli yang sudah biasa datang ke Pasar Sewon sejak pagi hari juga mulai muncul satu per satu – sebagian datang dengan menggunakan sepeda motor, sebagian lagi datang dengan berjalan kaki dari rumah-rumah yang berada di sekitar pasar.
Mereka datang dengan harapan bisa mendapatkan sayuran serta ikan & udang segar dengan harga yang terjangkau, baik untuk dikonsumsi sendiri di rumah maupun untuk dijual kembali di pasar-pasar kecil atau warung-warung yang berada di daerah sekitarnya.