Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: TURBULENSI ATMOSFER
Angin sore di *rooftop* SMA Cakrawala Terpadu yang semula terasa sejuk dan romantis, mendadak berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. Keyla masih berdiri di sana, tangannya yang baru saja merasakan kehangatan genggaman Bintang kini terasa kaku. Layar ponsel Bintang masih menyala, menampilkan bukti pengkhianatan yang tak terduga.
"Vanya... sama Rio?" Keyla mengulangi pertanyaan itu, suaranya nyaris tak terdengar, tertelan deru angin.
Bintang menghela napas panjang, rahangnya mengeras. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku dengan gerakan kasar. "Gue tahu Vanya ambisius, tapi gue nggak nyangka dia bakal serendah ini. Rio itu bukan cuma rival, Key. Dia tipe orang yang bakal ngelakuin apa aja buat menang. Kalau Vanya bocorin strategi tim kita ke dia..."
Bintang tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Keyla paham. Final basket tinggal seminggu lagi. Ini bukan cuma soal pertandingan olahraga; di SMA Cakrawala, basket adalah agama kedua, dan kekalahan dari SMA Pelita Bangsa adalah dosa besar yang tak terampuni.
"Bin," panggil Keyla pelan, mencoba menarik Bintang kembali dari kemarahannya. "Mungkin... mungkin nggak seperti yang kita pikir?"
Bintang menoleh, tatapannya melembut saat mendarat di wajah Keyla. Ia tersenyum tipis, meski gurat kecemasan masih tercetak jelas di keningnya. "Lo terlalu baik, Key. Orang kayak Vanya nggak main-main kalau udah merasa dipermalukan. Dia baru aja kehilangan posisi 'Ratu Sekolah' hari ini di ruang BK, dan sekarang dia cari panggung lain."
Bintang melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang membuat jantung Keyla berdebar dua kali lebih cepat dari normal, ia merapikan anak rambut Keyla yang berantakan tertiup angin. "Tapi urusan Rio biar jadi masalah gue nanti. Sekarang, gue lebih peduli sama cewek yang ada di depan gue. Cewek yang baru aja resmi jadi pacar gue."
Keyla menunduk, wajahnya memanas. Kata 'pacar' terdengar begitu asing sekaligus memabukkan. "Aku... aku masih nggak percaya."
"Percayalah," bisik Bintang. "Yuk, turun. Dinda pasti udah lumutan nungguin lo di parkiran. Dia bisa ngamuk kalau tahu gue nyulik sahabatnya kelamaan."
Mereka berjalan menuruni tangga. Di setiap pijakan, Keyla merasa sedang melangkah dari dunia mimpi kembali ke realitas. Saat mereka mencapai koridor lantai dasar yang mulai sepi, Bintang tidak melepaskan tangannya. Ia justru menggenggam jari-jari Keyla lebih erat.
"Bin, ada orang..." desis Keyla panik saat melihat beberapa anak klub mading yang masih lembur menoleh ke arah mereka dengan mata membelalak.
"Biarin," jawab Bintang santai, terus berjalan tegap. "Biar mereka lihat. Gue capek sembunyi-sembunyi balas surat di laci. Gue mau dunia tahu kalau Cassiopeia itu nyata, dan dia punya nama."
Keyla ingin protes, ingin bersembunyi di balik pilar terdekat, tapi sebagian kecil hatinya—bagian yang selama ini lelah menjadi bayang-bayang—merasa bangga. Ia berjalan di samping Bintang Rigel, bukan di belakangnya.
Di area parkir, Dinda sedang duduk di atas motor matic-nya sambil mengunyah permen karet dengan agresif. Begitu melihat Keyla dan Bintang muncul dengan tangan saling bertautan, Dinda tersedak ludahnya sendiri.
"*Jancik*!" umpat Dinda refleks, matanya melotot horor bercampur takjub. Ia buru-buru turun dari motor. "Heh! Apa-apaan ini gandengan tangan kayak mau nyebrang jalan tol?"
Bintang terkekeh. "Udah resmi, Din. Lo jangan galak-galak lagi sama gue."
Dinda memandang mereka bergantian, lalu pandangannya berhenti pada wajah Keyla yang merah padam. Perlahan, senyum lebar merekah di wajah sahabatnya itu. "Alhamdulillah Gusti! Akhirnya drama Korea ini tamat juga! Sumpah ya, aku wes gregetan pol lihat kalian berdua. Rasanya pengen tak jedotin kepala kalian biar sadar!"
Keyla melepaskan tangan Bintang dan memeluk Dinda. "Makasih, Din. Kalau nggak ada kamu tadi di ruang BK..."
"Hush, wes talah. Itu gunanya temen," potong Dinda sambil menepuk punggung Keyla keras-keras. Lalu ia menatap Bintang dengan tatapan mengancam. "Awas kon ya, Bin. Kalau Keyla nangis gara-gara kamu, tak parut wajah gantengmu itu pake aspal jalanan."
"Siap, Komandan," jawab Bintang sambil mengangkat dua jari membentuk tanda damai. "Gue titip Keyla ya. Gue harus balik ke lapangan sebentar, anak-anak basket lagi heboh soal foto Vanya."
Senyum Keyla sedikit memudar mendengar nama Vanya disebut lagi. Bintang menyadarinya. Ia menatap Keyla intens. "Jangan mikirin Vanya. Baca surat gue aja nanti di rumah. Hati-hati di jalan."
***
Malam itu, kamar Keyla terasa berbeda. Biasanya, malam adalah waktu di mana ia merasa paling kesepian, hanya ditemani cahaya bulan dan imajinasinya sendiri. Tapi malam ini, ada surat di tangannya. Surat dari Bintang yang ditujukan untuk 'Keyla Aluna'.
Isinya sederhana, tidak sepuitis surat-surat Cassiopeia, tapi kejujurannya membuat dada Keyla sesak oleh kebahagiaan.
*"Keyla, gue nggak pinter ngerangkai kata kayak lo. Gue cuma tahu satu hal: pas baca surat lo, gue ngerasa dimengerti. Dan pas liat lo senyum malu-malu di kelas, gue ngerasa tenang. Maaf gue butuh waktu lama buat sadar kalau Cassiopeia itu ada di depan mata gue selama ini. Jangan sembunyi lagi. Lo bersinar lebih terang dari yang lo tahu."*
Keyla mendekap kertas itu ke dadanya, tersenyum sendiri menatap langit-langit kamar yang ditempeli stiker *glow in the dark* berbentuk rasi bintang. Untuk pertama kalinya, ia merasa setara. Bintang bukan lagi benda langit yang jauh, dia ada di sini, dalam jangkauan gravitasi Keyla.
Namun, hukum alam semesta berkata lain: setiap aksi memiliki reaksi. Dan reaksi atas kebahagiaan Keyla datang lebih cepat dari perkiraan.
Ponselnya berbunyi beruntun. Notifikasi grup angkatan yang biasanya Keyla bisukan mendadak membanjir. Penasaran, ia membukanya. Detik itu juga, darahnya berdesir hebat.
Di grup itu, sebuah akun anonim—yang Keyla curigai sebagai salah satu antek Vanya di *cheerleader*—mengirimkan serangkaian pesan panjang.
*HOT NEWS: Drama di Ruang BK tadi siang. Katanya si 'Gadis Polos' KA ngejebak VC pake buku harian palsu? Pinter banget aktingnya sampe Pak Burhan percaya. Terus sekarang dia jadian sama BR? Wow. Gercep banget ya nikung pas orang lagi kena musibah. Hati-hati guys, yang diem-diem itu biasanya menghanyutkan... dan mematikan.*
Keyla membaca pesan itu dengan tangan gemetar. Di bawahnya, komentar-komentar pedas mulai bermunculan.
*"Seriusan Keyla anak sastra itu? Gila, nggak nyangka mukanya doang alim."
"Vanya emang salah sih, tapi kalau sampe dijebak gitu parah juga."
"Pantesan Bintang langsung nempel, pake pelet apaan tuh?"*
Narasi telah diputarbalikkan. Kebenaran di ruang BK yang hanya diketahui segelintir orang kini dimanipulasi menjadi cerita horor di mana Keyla adalah dalang licik yang menyingkirkan Vanya demi mendapatkan Bintang. Vanya tidak perlu hadir secara fisik untuk menghancurkan Keyla; ia cukup melempar korek api ke tumpukan jerami gosip sekolah.
Keesokan paginya, atmosfer sekolah terasa seperti medan perang dingin. Saat Keyla melangkah masuk gerbang bersama Dinda, ia bisa merasakan puluhan pasang mata menatapnya. Bukan tatapan kagum atau biasa, melainkan tatapan menyelidik, sinis, dan penuh bisik-bisik.
"Jalan terus, Key. Jangan nunduk," bisik Dinda di telinganya, suaranya terdengar geram. "Mereka cuma tong kosong yang nyaring bunyinya."
Keyla berusaha menegakkan kepala, seperti yang Bintang minta. Tapi sulit rasanya menjadi bintang saat seluruh langit mencoba menutupi cahayamu dengan awan hitam.
Sesampainya di koridor kelas XI IPA 2, langkah Keyla terhenti. Di lokernya, ada secarik kertas merah yang ditempel dengan selotip hitam. Bukan surat cinta, bukan puisi.
Itu adalah fotokopi selebaran pertandingan final basket minggu depan antara SMA Cakrawala vs SMA Pelita Bangsa. Wajah Bintang di poster itu dilingkari spidol merah, dan di sebelahnya ada tulisan tangan yang kasar:
*"Kalau Cakrawala kalah gara-gara kaptennya sibuk pacaran sama pengkhianat licik, lo yang bakal kita habisi. Sadar diri, lo cuma bawa sial buat Bintang."*
Keyla terpaku. Ancaman itu bukan dari Vanya. Dilihat dari gaya bahasanya, ini dari fans fanatik basket sekolah mereka sendiri. Vanya berhasil. Dia tidak hanya menyerang karakter Keyla, tapi dia menjadikan Keyla sebagai kambing hitam potensial atas kekalahan tim basket yang bahkan belum terjadi.
"Siapa yang nempel ini?!" teriak Dinda, merobek kertas itu dengan kasar. Suaranya menggema di koridor, membuat semua orang terdiam.
Dari ujung koridor, Bintang berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka. Wajahnya tegang, seragamnya sedikit berantakan. Namun sebelum Bintang sempat bicara, ponsel Keyla bergetar lagi. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Isinya hanya sebuah foto.
Foto buku strategi tim basket SMA Cakrawala. Buku yang seharusnya hanya dipegang oleh pelatih dan kapten.
Caption di bawahnya berbunyi: *"Buku ini ada di tas lo sekarang. Coba cek sebelum Bintang nyampe di situ. Welcome to the game, Cassiopeia."*
Jantung Keyla berhenti berdetak. Dengan panik, ia membuka ritsleting tas punggungnya. Di sana, terselip di antara buku paket Fisika dan Biologi, ada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam yang bukan miliknya. Buku strategi tim basket.
Dan Bintang kini hanya berjarak lima langkah darinya, dengan wajah khawatir ingin melindunginya, tanpa tahu bahwa 'bukti' pengkhianatan tim ada di dalam tas pacar barunya.