Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.3 – RENCANA TENGAH MALAM
Pagi itu, di kantin penjara, Kenzo sedang menikmati sarapannya seperti biasa. Bubur nasi hangat dengan sepotong telur asin dan sayur acar. Makanan yang sama setiap hari, tapi hari ini rasanya hambar. Di benaknya masih bergema kata-kata terakhir Lin Dong, janji-janji yang kini tak akan pernah terwujud.
"Hei, kalian tahu tidak?",ucap salah satu napi kepada kawan di sekitar meja mereka.
"Konon katanya penjara ini ada hantunya."
"Benarkah?",balas kawan di samping nya terkejut.
"Kalian masih saja percaya dengan hal seperti itu?",ucap napi yg lainnya.
"Apa kau tidak tahu kedua napi yang meninggal?"
"Aku tahu berita tersebut."
"Tetapi sangat konyol jika menghubungkan kematian mereka dengan hantu."
"Eh, kalian belum tahu kan jika napi 1089 itu meninggal karena dibunuh?"
Mendengar hal tersebut, Kenzo pun terkejut, dan perlahan emosinya mulai naik. Tangan yang memegang sendok terhenti, bubur itu terasa seperti batu di mulutnya.
"Ya, aku melihat mayatnya. Ada luka tusuk di punggungnya."
"Apa kalian tahu napi dengan nomor 9999?"
"Bukannya itu napi terdakwa mati?!"
"Apa hubungannya dengan kematian 1089?"
"Kalian tidak tahu kan bahwa 9999 mempunyai dendam pribadi dengan 1089?"
"Benarkah?"
"9999 adalah ketua dari Serigala Hitam."
"Dan yang melaporkan dia adalah 1089."
"Wah... terus?",ucap napi di sebelah nya antusias.
"Sepertinya dia menyuruh anak buahnya untuk membunuh 1089."
Kenzo mendengarkan dengan telinga yang tajam. Setiap kata seperti pisau yang menusuk. Jadi ini bukan kecelakaan. Bukan perampokan yang salah sasaran. Ini pembunuhan terencana. Dan yang lebih buruk, dia yang seharusnya menjadi target.
Tak lama, datang lima orang napi dengan tubuh besar, dan di antaranya adalah napi yang berselisih dengan Kenzo saat di kamar mandi waktu itu. Pria itu berjalan di depan, bahu lebar seperti beruang, tato serigala meliuk di lengan kanannya. Anggota Serigala Hitam. Anak buah 9999.
"Minggir!!"
Bentak salah satu dari mereka kepada napi lain di sana. Suara itu seperti guntur di ruangan yang pengap.
"Hei, kalian coba lihat mereka. Mereka adalah anggota Serigala Hitam."
Dengan suara pelan hampir tak terdengar, mereka membicarakan kelima napi itu. Mata-mata takut melirik, lalu cepat-cepat menunduk. Tak ada yang berani menatap langsung.
Dengan tatapan tajam, Kenzo memperhatikan lima napi tersebut, dan sedikit demi sedikit emosi Kenzo pun meluap. Darah di urat-urat lehernya menonjol, tangan kirinya terkepal di bawah meja. Dia ingin bangkit. Dia ingin menghancurkan mereka semua. Tapi dia tahu, ini bukan waktunya. Belum.
Dan akhirnya, menarik perhatian napi yang bertubuh kekar dan besar tersebut. Pria itu merasakan tatapan tajam itu, seperti belati yang menusuk punggungnya. Dia menoleh, dan matanya bertemu dengan mata Kenzo.
"Kau!!"
"Kemari!!!"
Bentaknya kepada Kenzo, namun Kenzo hanya diam, tak memperdulikannya. Sendoknya kembali bergerak, mengaduk bubur yang sudah dingin.
"Hei, kau dengar tidak perkataan Kak Hua?!!!"
"Cepat kemari!!!"
Kenzo tak bergeming. Bahkan alisnya tak bergerak. Dia seperti patung, tak terpengaruh oleh teriakan dan amarah di sekitarnya.
Bruakkk!!!
"Brengsek!!!!"
Salah satu dari mereka pun menggebrak meja, lalu berjalan ke arah Kenzo dan menarik tangan Kenzo. Tangan besar itu mencengkram pergelangan Kenzo dengan kuat, kuku-kukunya putih menekan kulit.
Dengan tenang, Kenzo mencengkram tangan orang tersebut, lalu menariknya mendekat sambil menendang kakiinya, membuat dia tersungkur di atas meja. Piring dan mangkuk beterbangan, bubur tumpah ke lantai. Suara benturan tubuh dengan meja menggema di kantin yang tiba-tiba sunyi.
"K-kau berani melawanku?!!"
Kenzo berdiri, mencengkram lehernya, lalu membanting kepalanya dengan keras ke atas meja, membuat meja tersebut terbelah menjadi dua. Kayu-kayu patah berjatuhan, debu beterbangan. Napi itu terbaring di puing-puing, darah mengalir dari keningnya, mata berputar tak berdaya.
"Kau!!!"
Teriak keempat kawannya kepada Kenzo, namun Kenzo tak mengindahkan teriakan mereka dan pergi, meninggalkan pria yang dihajarnya. Langkahnya stabil, tak terburu-buru. Seolah baru saja selesai makan pagi, bukan baru saja menghancurkan seseorang.
Membuat napi-napi yang lain, yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka, gemetar ketakutan memandangi kedua kubu yang saling berseteru. Beberapa dari mereka mundur perlahan, menyibakkan jalan untuk Kenzo.
Kenzo melangkah dan bersimpangan dengan keempat napi itu. Mata Kenzo dan mata pria besar bertubuh kekar saling menatap tajam. Jarak mereka hanya beberapa inci, napas mereka bercampur di udara yang tegang.
"Kalian bersiap-siaplah."
Ucap Kenzo, aura keduanya saling beradu, membuat suasana kantin penjara mencekam. Suhu seolah turun, meski siang hari terik. Para napi di sekitar merinding, tak mengerti dari mana datangnya rasa takut itu.
"Brengsek kau!!"
Salah satu dari mereka bangkit, namun dicegah oleh pria besar itu. Tangan kanannya terangkat, membuat anak buahnya terhenti.
"Kalian bukan lawan dia. Sebaiknya kalian diam jika tak ingin menjadi korban berikutnya."
"K-kak Hua, apa maksud kakak?"
"Dia bukan pria biasa. Selama ini, tidak ada yang dapat menahan aura milikku."
"Tetapi dia berbeda."
"Dia tak merasa takut sedikitpun. Dia memiliki aura yang sama denganku, bahkan lebih kuat dariku."
"A-apa? I-itu mustahil."
"Menarik sekali. Telah lama aku tidak merasakan adrenalin seperti ini."
"Hahahahaha..."
Tawanya menggema setelah melihat Kenzo pergi. Tawa yang bukan karena gembira, tapi karena menemukan sesuatu yang langka. Seperti predator yang akhirnya menemukan predator lain.
Sementara itu, Kenzo pun mendatangi kantor kepala penjara. Langkahnya cepat, penuh tekad. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia sudah muak dengan kebohongan.
Bruak!!!
Kenzo menendang pintu kantor kepala penjara, membuat kepala penjara terkejut. Kertas-kertas di meja beterbangan, gelas kopi tumpah menetes ke karpet.
"K-Kenzo?!! Apa yang kau lakukan?"
"Tuan Mao, selama ini aku percaya kepadamu dan menghormatimu."
"Tetapi tak kusangka kau berani membohongiku!!!"
"K-Kenzo, apa yang kau katakan? Tenanglah dulu."
"Kau bilang Kak Lin Dong telah bebas dari penjara, tetapi ternyata Kak Lin tewas dibunuh!!!"
"Kenzo, dengarkan penjelasanku."
"Dia memang terbunuh, tetapi aku sedang berusaha mencari pembunuhnya."
"Untuk masalah dia bebas itu benar, aku telah mengirimkan jenazah Lin Dong kembali ke keluarganya."
"Apakah itu benar?"
"Kali ini aku tidak berbohong kepadamu."
"Percayalah."
"Baik, kali ini aku percaya kepadamu."
"Tetapi jika aku tahu kau berbohong, aku akan mencincangmu."
Kenzo pun beranjak pergi dari tempat tersebut, dan dengan cepat tangannya meraih sesuatu di meja kepala penjara. Sebuah penghapus karet kecil, tak berharga, tak akan disadari hilangnya.
"Tunggu."
Kenzo pun menghentikan langkahnya. Punggungnya masih menghadap kepala penjara.
"Kenzo, jangan melakukan hal yang dapat merugikanmu."
"Kau akan bebas sebentar lagi. Jangan membuat masalah yang dapat menambah masa kurunganmu."
Kenzo terdiam, tak menjawab. Setelah terdiam beberapa detik, Kenzo pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan ruangan tersebut. Pintu ditutup dengan keras, membuat dinding bergetar.
Malam itu, seperti biasanya, para napi berbaris di depan sel tahanan masing-masing untuk melakukan pemeriksaan rutin. Lampu-lampu neon berkedip redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding koridor.
Saat giliran Kenzo mendapatkan pemeriksaan, dengan gerakan cepat, Kenzo meraih kunci block penjara dari pinggang sipir penjaga. Jari-jarinya gesit seperti pencuri profesional, mengambil kunci itu tanpa disadari. Sipir itu bahkan tak merasakan apa-apa, terlalu sibuk mencoret-coret buku pemeriksaan.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Kenzo pun masuk ke dalam sel.
"Tutup pintu sel block dua!!!"
Teriak sipir penjaga kepada operator pengawas block sel.
Saat pintu mulai bergerak menutup dengan cepat, Kenzo menjentikkan penghapus karet yang diraihnya saat berada di kantor kepala penjara ke arah pintu sel dengan cepat dan tepat. Benda kecil itu menyumbat mekanisme pengunci, membuat pintu terlihat tertutup rapat, padahal masih bisa dibuka.
...$ BERSAMBUNG $...