NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkembang

Pukul setengah lima pagi, Bima sudah bangun. Kebiasaan lama yang tidak bisa diubah—bangun sebelum matahari terbit, sholat subuh, lalu mulai aktivitas. Di kos barunya yang lebih rapi meski tetap sederhana, ia duduk di depan meja belajar yang kini berfungsi ganda sebagai meja kerja.

Laptop usangnya menyala, menampilkan baris-baris kode yang belum selesai semalam. Tiga orderan website sedang dalam pengerjaan: satu portfolio fotografer, satu toko online kecil untuk kerajinan tangan, dan satu company profile untuk startup rintisan.

Bima meregangkan tubuh. Hari ini ia memakai kaos oblong putih polos dan celana training—pakaian paling nyaman untuk bekerja. Rambut ikalnya sedikit lebih panjang, jatuh menutupi dahi, tapi ia malas potong. Yang penting kerjaan selesai.

Ponsel bergetar. Pesan dari Laras: "Bim, jam 8 di kampus ya? Ada calon klien baru. Temennya temenku, butuh website katering."

Bima membalas singkat: "Oke."

---

Jam setengah delapan, Bima tiba di kampus Sanata Dharma. Ia memakai jaket jeans tipis untuk menutupi kaos oblongnya, tas ransel hitam lusuh di punggung. Wajahnya sudah tidak lebam—hanya sedikit noda biru di sudut rahang yang tersisa. Tapi matanya lebih hidup, tidak sedingin dulu.

Di taman dekat fakultas desain, Laras sudah duduk bersama seorang wanita muda. Laras hari ini tampil casual dengan kemeja flanel dan celana jeans, rambut panjangnya diikat ekor kuda sederhana. Melihat Bima, ia melambai antusias.

"Bim, sini!" sambutnya.

Bima mendekat, mengangguk pada wanita di samping Laras. Wanita itu—mungkin sekitar 25 tahun—tersenyum ramah. Ia mengenakan blus motif batik dan celana bahan, tampak profesional.

"Bim, ini Mbak Rina. Dia punya usaha katering rumahan, butuh website buat promosi," jelas Laras. "Mbak Rina, ini Bima. Temenku yang jago bikin website."

Mbak Rina menjabat tangan Bima. "Senang bertemu, Mas. Saya dengar dari Laras, Mas Bima handal dan harganya ramah di kantong."

Bima mengangguk. "Bisa diskusi dulu, Mbak."

Mereka duduk di bangku taman. Mbak Rina mengeluarkan tablet, menunjukkan foto-foto makanan dan konsep yang diinginkan. Bima mendengarkan dengan serius, sesekali bertanya detail.

"Jadi saya mau ada galeri menu, bisa pesan online, dan info kontak. Sederhana aja, tapi elegan," jelas Mbak Rina.

Bima mengamati sebentar. "Fitur pesan online, butuh integrasi dengan WhatsApp? Atau pakai sistem sendiri?"

"Lebih enak WhatsApp aja, Mas. Saya masih kecil-kecilan."

"Oke. Domain udah punya?"

"Udah. Saya beli beberapa bulan lalu."

Bima mengetik di ponsel, menghitung cepat. "Tiga fitur utama: landing page, galeri menu dengan filter kategori, integrasi WhatsApp. Harga 800 ribu. Termasuk domain dan hosting setahun, plus pelatihan cara update."

Mbak Rina matanya berbinar. "800 ribu? Murah banget, Mas. Biasaya saya tanya orang 2 juta ke atas."

Bima mengangkat bahu. "Masih pemula. Lagian, Mbak Rina temennya Laras."

Laras tersenyum bangga. "Nah kan, Mbak. Bima orangnya baik."

"Deal, Mas! Saya setuju." Mbak Rina bersemangat. "Kapan mulai?"

"Besok. Minggu depan selesai."

Mereka bertukar kontak. Mbak Rina pamit, masih dengan senyum lebar. Setelah ia pergi, Laras menatap Bima dengan kagum.

"Bim, lo jago banget negosiasi. 800 ribu, fitur banyak, tapi lo bisa selesai seminggu."

Bima mengangkat bahu. "Udah biasa."

Laras menghela napas. "Serius, Bim. Lo itu luar biasa. Pinter coding, desain juga ngerti. Kenapa dulu di UGM bisa jatuh?"

Bima diam. Laras sadar ia menyentuh topik sensitif.

"Sorry, gue nggak maksud—"

"Nggak apa." Bima menatap langit. "Karena gue terlalu sibuk ngejar yang lain, lupa jaga diri."

Laras tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk.

"Bim, lo tahu, banyak yang nanya tentang lo. Temen-temen desain pada kepo. Lo datang tiba-tiba, pinter, pendiem, misterius. Kayak karakter novel gitu."

Bima menatapnya datar. "Gue cuma biasa."

"Biasa buat lo, luar biasa buat orang lain." Laras tersenyum. "Tapi tenang, gue nggak akan ganggu. Gue cuma senang punya temen kayak lo."

---

Dua minggu kemudian, jasa Bima mulai dikenal. Orderan tidak hanya dari kalangan mahasiswa, tapi juga dari UMKM luar kampus. Dalam sebulan, ia mengerjakan 8 website. Uang masuk 6,4 juta—rekor tertinggi dalam hidupnya.

Malam itu, Bima duduk di kos, menghitung pemasukan. Ia membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa.

Pemasukan bulan ini: Rp 6.400.000

Pengeluaran:

- Kos: Rp 500.000

- Makan: Rp 900.000

- Cicil utang: Rp 2.000.000

- Tabungan: Rp 1.500.000

- Sisa: Rp 1.500.000

Ia menatap angka 2 juta di kolom cicil utang kay. Bulan pertama, ia bisa simpan cukup besar. Dengan kecepatan ini, 8 bulan lagi bisa dilunasi.

Bima mengambil dompet, mengeluarkan foto Kay yang lusuh. Ia tersenyum tipis.

"Kay, gue mulai simpan untuk bayar utang. Pelan-pelan. Tapi gue janji, bakal lunas."

Cicilan hutang ke Kay disimpan nya dalam amplop khusus. Yang bertuliskan ‘Hutang Kay’

Ia meletakkan foto itu di samping laptop, lalu mulai mengetik laporan untuk Dr. Hartono. Tapi matanya terus melirik foto itu.

---

Di kamar kosnya yang sunyi, Bima meraih buku sketsa baru—hadiah dari Laras karena sudah membantu. Ia membuka halaman kosong, mulai menggambar. Tangannya bergerak luwes, terbiasa. Kali ini ia menggambar Kay sedang tertawa, dengan latar belakang perpustakaan UGM—tempat pertama kali ia melihatnya.

Setiap goresan pensil membawa ingatan. Rambut Kay yang tergerai, matanya yang berbinar saat melihat sketsanya, senyumnya saat bilang "Lo jago banget". Bima menggambar dengan detail, menghabiskan dua jam untuk satu sketsa.

Selesai, ia menatap hasilnya. Kay tersenyum padanya dari atas kertas. Bima tersenyum balik.

"Maaf, Kay. Gue belum bisa ketemu lo sekarang. Tapi setiap gambar, gue selalu inget lo."

Ia menulis di pojok kanan bawah: "Untuk Kay, di manapun berada. Tetap tersenyum."

Lalu ia menyimpan buku sketsa itu di laci, dikunci rapat. Bersama puluhan sketsa Kay lainnya.

---

Esok harinya, Bima kedatangan tamu tak terduga. Tasya muncul di kosnya dengan wajah cemas.

"Bim, gue denger lo dipukuli orang? Kok nggak ngabarin?"

Bima mengangkat bahu. "Udah lama. Udah baikan."

"Lo tuh..." Tasya menghela napas. "Lo keras kepala. Tapi gue lihat muka lo masih biru dikit. Sakit?"

"Nggak."

Tasya masuk, duduk di dipan. Matanya mengamati kamar yang kini lebih rapi. Ada laptop, tumpukan kertas, dan catatan keuangan di meja.

"Bim, gue denger jasa lo laris. Keren."

"Makasih."

Tasya tersenyum. "Lo berubah, Bim. Dulu lo kayak... mati. Sekarang lo keliatan lebih hidup."

Bima diam. Tasya melanjutkan.

"Gue seneng liat lo bangkit. Tapi Bim, lo udah mikir buat hubungi Kay?"

Bima menatapnya. "Belum."

"Kenapa?"

"Gue belum siap."

Tasya menghela napas. "Lo tahu Kay hancur? Dia keluar dari kampus berkali-kali, IPK turun, perang dingin sama mamanya. Semua karena lo."

Bima mengepalkan tangannya. "Itu sebabnya gue harus bangkit dulu. Jadi orang yang layak."

"Bim, lo udah layak dari dulu."

Bima menggeleng. "Belum. Lo nggak ngerti."

Tasya menatapnya iba. "Oke. Tapi janji, kalo lo udah siap, lo hubungi dia. Jangan biarin dia terus-terusan hancur."

Bima mengangguk pelan.

---

Malam itu, setelah Tasya pulang, Bima duduk lama. Ia membuka laci, mengambil buku sketsa. Di halaman baru, ia mulai menggambar lagi—Kay sedang menangis. Tapi kali ini, ia menggambar dirinya sendiri di samping Kay, memegang tangannya.

Di bawah gambar, ia menulis:

"Suatu hari nanti, aku akan kembali. Bukan sebagai beban, tapi sebagai tempatmu bersandar."

Ia memejamkan mata, berdoa.

Di suatu tempat di Jogja, Kay juga terbangun tengah malam. Ia meraih ponsel, menatap foto Bima. Lalu berbisik pelan, "Gue nunggu lo, Bim. Sampai kapan pun."

Di luar, hujan turun lagi. Tapi kali ini, tidak ada yang basah. Hanya rindu yang menguap ke langit, berharap sampai ke tujuan.

1
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
Agry
OMG!!!!!/Applaud/
Agry
/Blush/
Agry
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Agry: ya, sama sama kak! semangat terus ya!
total 2 replies
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!