NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 – DUNIA YANG BERUBAH

Defit Karamoy terbangun dengan tubuh menggigil.

Hujan telah berhenti. Tanah di bawahnya dingin dan lengket. Punggungnya nyeri seolah ia jatuh dari ketinggian, padahal yang ia ingat terakhir hanyalah kegelapan dan suara-suara yang memanggilnya dari dalam tanah.

Ia duduk perlahan. Kepala terasa berat. Napasnya berbau logam.

Malam hampir berlalu.

Pohon tua itu berdiri seperti biasa diam, kokoh, tak menunjukkan apa pun yang barusan terjadi. Tanah di antara akarnya tertutup rapat. Tidak ada celah. Tidak ada denyut. Tidak ada tanda-tanda kegilaan yang nyaris merenggutnya.

“Halusinasi…” gumam Defit, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Namun saat ia bangkit, lututnya goyah. Dunia terasa… berbeda. Lebih tajam. Lebih dekat. Setiap suara gesekan daun, langkah semut, detak jantungnya sendiri terdengar terlalu jelas.

Ia memungut tasnya yang basah. Pakaian di dalamnya kotor, tak layak pakai. Ia menyampirkannya ke bahu dan berjalan tertatih menuju gerbang belakang.

Begitu melewati ambang halaman, dadanya berdenyut pelan. Seperti ada sesuatu yang menolak kepergiannya.

Ia berhenti. Menoleh.

Tidak ada apa-apa.

Defit melanjutkan langkah.

Di jalan desa, orang-orang mulai beraktivitas. Seorang ibu menyapu halaman. Seorang bapak mendorong gerobak. Hidup berjalan seperti biasa dan Defit merasa dirinya bukan bagian dari itu lagi.

Ia berjalan melewati warung kecil. Pemiliknya, Pak Darto, menoleh dan langsung mengernyit.

“Kamu… Defit, ya?” tanyanya ragu.

Defit mengangguk. “Iya, Pak.”

Pak Darto menatapnya lama. Terlalu lama. Seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

“Kamu sakit?”

“Kenapa, Pak?”

“Wajahmu… pucat sekali.”

Defit mengusap pipinya. Kulitnya dingin.

“Tidak apa-apa.”

Saat ia melangkah pergi, ia mendengar Pak Darto berbisik lirih, “Aneh…”

Langkah Defit melambat. Ada perasaan tidak nyaman yang menjalar, bukan karena kata-kata itu melainkan karena ia tahu: ada yang berubah, dan orang lain bisa merasakannya.

Di ujung jalan, seekor anjing hitam berdiri menatapnya. Bulu kuduk Defit meremang. Mata anjing itu merah, liurnya menetes. Ia menggeram pelan.

“Pergi,” kata Defit refleks.

Anjing itu meringkuk, ekornya masuk ke sela kaki, lalu lari menjauh sambil melolong.

Defit terdiam.

Jantungnya berdebar. “Apa-apaan ini…”

Ia melanjutkan perjalanan, menuju rumah kontrakan kecil yang dulu ia sewa sebelum menikah. Kunci masih di sakunya. Ia tidak tahu kenapa ia ke sana mungkin karena itu satu-satunya tempat yang belum sepenuhnya menolaknya.

Pintu terbuka dengan suara berdecit.

Ruangan itu pengap, berdebu. Kasur tipis di sudut. Meja reyot. Jendela kecil menghadap gang sempit. Defit menjatuhkan tas, lalu duduk di lantai.

Baru saat itulah ia menyadari tangannya.

Luka di telapak tangannya bekas pecahan kaca kemarin telah menghilang. Tidak ada bekas. Tidak ada parut. Kulitnya utuh, bersih, seolah tidak pernah terluka.

Defit menahan napas.

Ia menekan kulit itu dengan kuku. Kuat.

Tidak sakit.

“Apa yang… terjadi padaku?”

Jawabannya datang tanpa suara.

Bukan bisikan. Bukan kata-kata.

Melainkan perasaan berat, gelap, dan pasti yang mengendap di dadanya seperti benda asing.

Ia memejamkan mata.

Wajah Maya muncul. Tangisnya. Kata maaf yang terlambat. Dada Defit mengencang. Ada nyeri nyeri yang tidak biasa, bukan sakit hati, tapi seperti dorongan untuk meremukkan sesuatu.

Defit membuka mata tersentak.

“Tidak…” ia berbisik. “Aku tidak mau membenci.”

Namun bayangan itu tidak pergi. Justru bertambah. Wajah Pak Armand. Bu Ratna. Senyum meremehkan. Tawa para tamu.

Jantungnya berdenyut keras.

Di luar, terdengar suara benda jatuh. Gedebuk.

Defit bangkit dan membuka jendela. Di gang sempit, sebuah pot bunga pecah di lantai. Tidak ada angin. Tidak ada orang.

Ia menatap tangannya sendiri.

“Ini salahku?” suaranya gemetar.

Hening menjawab.

Malam datang lebih cepat dari seharusnya. Lampu di gang berkedip-kedip. Defit duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding. Ia memeluk lututnya seperti anak kecil.

“Aku cuma ingin hidup tenang,” katanya lirih. “Aku tidak minta balas dendam.”

Perutnya melilit. Kepalanya berdenyut. Dan untuk pertama kalinya sejak di bawah pohon itu, ia merasakan sesuatu yang jelas bukan suara, bukan gambaran melainkan dorongan.

Dorongan untuk kembali.

Ke rumah itu.

Defit menutup telinganya. “Tidak. Aku sudah diusir.”

Dorongan itu semakin kuat. Seperti benang tak terlihat yang menarik dadanya ke arah yang sama.

Air mata jatuh.

“Kenapa aku?” tanyanya pada kegelapan.

Tidak ada jawaban.

Hanya kepastian yang mengendap perlahan:

apa pun yang telah menyentuhnya di bawah pohon tua itu

tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

Dan entah ia mau atau tidak,

jalan hidup Defit Karamoy telah berbelok…

menuju sesuatu yang tidak bisa dibatalkan.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!