Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 26
Dada Anton terasa semakin berat, seolah ada beban besar yang menekan dari dalam. Napasnya pendek-pendek, tak teratur. Matanya terpaku pada monitor televisi yang masih menayangkan gambar lokasi penemuan mayat, tetapi pikirannya melayang ke arah lain. Gambaran wajah Miranda muncul silih berganti dengan bayangan kemungkinan terburuk yang nyaris saja menjadi kenyataan. Telapak tangannya lembap, jarinya mencengkeram sandaran kursi terlalu kuat.
"Ayah ternyata itu bukan miranda bagaimana ini?" Tanya rizki dengan nada khawatir
Suara Rizki memecah keheningan. Wajahnya pucat, bekas memar di sudut bibirnya masih jelas. Ia bergeser sedikit, menahan rasa nyeri yang belum sepenuhnya hilang. Pandangannya bergantian antara Anton dan layar televisi, seakan berharap ada jawaban yang bisa menenangkan pikirannya.
"Tidak tahu" ujar anton "ternyata teman ayah salah perkiraan"
Anton mengusap wajahnya kasar. Nada suaranya datar, namun rahangnya mengeras. Kesalahan perkiraan itu bukan hal kecil. Ia sadar, satu dugaan keliru saja hampir menyeret mereka pada kekacauan yang jauh lebih besar.
Suasana menjadi hening dengan masing masing pikirannya.
Keheningan itu terasa menyesakkan. Hanya suara dengung pendingin ruangan yang terdengar, menambah kesan dingin di antara mereka. Tidak ada yang benar-benar tenang, masing-masing sibuk dengan kegelisahan sendiri.
"Ya harusnya kita bersyukur itu bukan miranda yah"ucap raka tentu saja hal itu membuat anton merengut kesal
Anton melirik Raka tajam. Kalimat itu terasa seperti sindiran yang menusuk. Baginya, rasa syukur terdengar seperti ejekan di tengah kekacauan yang sudah terlanjur terjadi.
"Aku ini sudah bonyok...di pukuli..terus aku harus bersyukur" ucap rizki kesal
Rizki mengepalkan tangan. Nada suaranya meninggi, bercampur marah dan sakit hati. Rasa perih di tubuhnya seolah kembali terasa ketika ia mengingat apa yang baru saja dialaminya.
Raka hanya menghela nafas berat "saat di ujung ke bangkrutan siapa yang membuat perusahaan bangkit...aku tahu betul setiap detail.perjuangan miranda dalam menyelamatkan perusahaan..uang 9 milyar itu kecil karena perusahaan kita sudah menghasilkan laba puluhan milyar semenjak bangkit"jelas raka
Tatapan Anton berubah. Matanya membulat, rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menegang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika Raka bukan anaknya, amarah itu sudah lama meledak tanpa sisa.
"Kamu ini benar benar bodoh ...miranda ini ancaman buat kita..dia itu menggunakan badan dia ..mendekatkan diri pada orang orang kaya ...dia tidak sepolos yang kamu kira"
Raka menggeleng pelan, ekspresinya lelah namun tegas "tidak..tidak..miranda tidak seperti itu...dia itu memang punya kemampuan setiap langkahnya selalu terukur "
"Diamlah" teriak anton
Raka berdiri. Kursinya bergeser kasar di lantai. Wajahnya dingin, seolah keputusan sudah bulat di kepalanya.
"aku muak dengan semua ini...ki tak masalah kamu nikah dengan siapapun..dan dengan berapapun wanita..hanya satu hal yang harus kamu ingat...kamu harus jadi manusia yang punya malu dan harga diri" ucap raka lantas dia berdiri dan masuk ke kamar amora.
Langkah kaki Raka menghilang di balik pintu. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini lebih berat. Rizki menatap tajam ke arah kamar Amora, dadanya naik turun menahan emosi.
"Jangan pikirkan raka..dia itu bodoh" ucap anton kesal
Ucapan itu meluncur kasar, seperti upaya Anton menegaskan kembali kendali atas ruangan yang mulai terasa lepas dari genggamannya. Nada suaranya dipenuhi amarah yang belum menemukan sasaran jelas. Rizki hanya diam, menunduk sesaat, lalu menghela napas panjang. Kekesalan masih bergelayut di dadanya, bercampur rasa tidak adil yang terus menggerogoti pikirannya.
Rizki menghela napas panjang. Kekesalan belum juga reda ketika ia akhirnya bertanya dengan suara tertahan. "Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan yah..kalau harus keluar uang lagi untuk miranda aku tidak rela"
Anton menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya menatap kosong ke depan, seolah sedang menimbang sesuatu yang berbahaya namun menguntungkan. Beberapa detik berlalu sebelum sorot matanya berubah, tanda sebuah ide mulai terbentuk.
"Kita harus menemui joni sukmana" ucap anton alhirnya terlintas ide
Rizki mengangkat kepala, alisnya bertaut, belum sepenuhnya menangkap maksud ayahnya. "Untuk apa yah?"
"Asal.keluarga sukmana benar benar berpihak pada kita dan ikut menekan miranda maka .miranda tidak akan punya kekuatan untuk melawan kita...dan orang orang yang mendukung mirandapun tidak akan rela membantu demi seorang wanita simpanan"
Keyakinan itu masih tertanam kuat di benak Anton. Dalam pandangannya, Miranda hanyalah bidak yang kebetulan berada di posisi terlalu tinggi. Ia menolak melihat kemungkinan lain selain apa yang selama ini ia yakini.
Anton masih meyakini kalau miranda memang jadi simpanan orang orang kaya
Saras yang sejak tadi menyimak dengan wajah dingin akhirnya menyela, sudut bibirnya terangkat sinis. "Tidak usah bilang saja keluarga sukmana tidak akan mendukung miranda...yang mereka akui sebagai putri satu satunya keluarga sukmana hanya melisa" ucap saras dengan nada sinis
Anton menoleh tajam. Tatapannya penuh peringatan. "Kamu jangan terlalu polos saras...mereka itu rubah berbulu domba...yang .mereka tahu itu hanya keuntungan saja...kalau mereka tidam kita amankan maka mereka akan mengigit kita" jelas anton
Saras terdiam. Namun di balik wajahnya yang tampak patuh, pikirannya bergejolak. "Bearti sama saja kamu juga seperti itu" ucap saras dalam hati
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"tanya rizki
Sebelum Anton menjawab, Nadia yang sejak tadi duduk kaku di sudut ruangan mengangkat tangan ragu. ",pak sepertinya ini masalah internal.keluarga..saya sebaiknya tidak ada disini"
Anton langsung memotong, suaranya tegas. "Tidak" ucap anton "kamu sebentar lagi jadi istri rizki jadi kamu harus disini biar kamu tahu"
Saras mendelik tajam. Amarah dan kecemburuan bercampur jadi satu di dadanya. "aku melayani nafsu kamu..tapi kamu mengecewakanku bandot tua...rizki harus tetap jadi milikku..miranda sudah pergi maka aku yang harus menggantikannya" ucap saras dalam hati kesal
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya rizki mengingatkan ayahnya
Anton tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tak menyentuh matanya. "Kita beri beberapa proyek pada joni dan berikan saham 1% pada dia...asal dia mau menekan miranda maka kita aman"
Rizki mengangguk pelan. Wajahnya mengeras, keputusan terasa semakin jelas baginya. "Ya aku lebih setuju hal itu yah...daripada memberi uang pada miranda aku tak rela"
...
Anton meraih ponselnya dengan gerakan cepat, seolah takut niatnya menguap jika ditunda satu detik saja. Jarinya menekan nama Joni Sukmana di layar. Nada sambung berdering sekali, dua kali, tiga kali, lalu tersambung. Anton menarik napas pendek, menyiapkan nada suaranya.
"Ada apa besan?" Sapa joni dengan ramah
Anton tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip tarikan bibir penuh kejengkelan. Ia menegakkan punggung, menahan dorongan emosi yang sejak tadi bergejolak.
"Joni...anak kamu itu makin hari makin tidak tahu diri...rizki sudah tidak tahan dengan dengan miranda jadi dia menceraikan miranda" ucap joni
Anton memutar bola matanya, lalu mendecih pelan. Ia bisa merasakan bagaimana pembicaraan ini akan berjalan.
"Ah dulukan saya pernah bilang hentikan saja perjodohan ini...kenapa anda melanjutkaanya...walau miranda sudah bercerai anda harus membagi hata bersama padanya...bagaimanapun anak saya sudaj bekerja keras" ucap joni
Rahang Anton mengeras. Tangannya mencengkeram ponsel lebih kuat, kuku jarinya menekan sisi perangkat itu. Ia tidak suka diingatkan soal kewajiban, terlebih oleh orang yang menurutnya hanya ikut menikmati hasil.
Anton mendecih kesal "kami sudah memberikan uang 3 milyar pada miranda hanya saja miranda terlu serakah dia masih ingin uang lebih dari itu..dia ingin saham 5 % dari keluarga kami" ucap anton
Keheningan muncul di seberang sana. Anton bisa membayangkan Joni sedang berhitung di kepalanya, bukan soal hubungan keluarga, melainkan angka dan keuntungan.
"Ya itu terserah miranda lah sebagai orang tua saya memberi kebebasan pada anak yang sudah berumah tangga untuk menetukan langkah hidupnya" ucap joni
Nada santai itu membuat dada Anton kembali sesak.
"Kamu harus mengendalikan miranda joni bagaimanapun dia adalah anak kamu" ucap anton
Joni terdiam sejenak. Ia paham betul arah pembicaraan ini. Nada suaranya berubah lebih hati-hati. "apa yang harus aku lakukan" joni menjeda ucapannya lalu bertanya "dan apa yang akan aku dapatkan"
"Dasar rubah tua" pikir anton dalam hati
Anton menarik napas, lalu berbicara tegas, tanpa basa-basi. "Jangan membantu miranda dan kamu harus ikut menekan miranda" ucap anton tegas dan tidak ada kelanjutan lagi
"Bagaimanapun miranda adalah anakku..tentu saja aku harus membantu dia" ucap joni
Anton tersenyum dingin. Ia tahu ini belum selesai. "Akan aku berikan beberapa proyek pada kamu..saham 1% dan akses ke karman wijaya."
Nada di seberang sana langsung berubah, lebih ringan, hampir bersahabat. "Miranda itu memang anak yang didik di kampung jadi perangainya aga keras..nanti aku didik dia dengan baik..agar tidak menganggu anda" ucap joni langsung berubah sikap saat mendengar keuntungan
Anton menyandarkan punggungnya, puas. "Bagus sekali kamu harus mengendalikan miranda agar hubungan keluarga kita baik dan saling menguntungkan" ucap anton
"Ok..." ucao joni "kapan kita akan bertemu untuk membahas pengalihan saham dan beberapa proyek"
Setelah itu, pembicaraan bergeser sepenuhnya ke angka, proyek, dan pembagian saham. Nama Miranda tak lagi disebut sebagai anak atau manusia, melainkan sekadar variabel. Ia hanya muncul jika berguna, dijadikan alat tukar dalam kesepakatan yang dingin dan penuh perhitungan.