NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Dewa

Reinkarnasi Pendekar Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Boqin Changing

Boqin Changing, Pendekar No 1 yang berhasil kembali ke masa lalunya dengan bantuan sebuah bola ajaib.

Ada banyak peristiwa buruk masa lalunya yang ingin dia ubah. Apakah Boqin Changing berhasil menjalankan misinya? Ataukah suratan takdir adalah sesuatu yang tidak bisa dia ubah sampai kapanpun?

Simak petualangan Sang Pendekar Dewa saat kembali ke masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berakting

"Chang'er, kami pulang," Suara Ehuang Baiye memecah kesunyian di rumah. Ia segera masuk dan mencari anak semata wayangnya itu.

Ia kemudian menemukan Boqin Changing sedang membaca sebuah buku, dengan ekspresi wajah yang tampak tegang. Urat-urat kecil di pelipisnya terlihat menonjol, seolah tengah menghadapi sesuatu yang sulit.

"Chang'er, sedang apa kau?"

"Ah, Ibu! Mengagetkanku saja..." Boqin Changing berpura-pura terkejut. "Aku sedang membaca buku ini, Bu. Tapi aku tidak mengerti isinya."

Ia menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, menambah kesan bingung yang disengaja. Ia sedang memainkan perannya, berpura-pura tertarik pada buku itu agar bisa memancing reaksi ibunya.

Boqin Changing sudah memikirkan matang-matang langkah ini. Ia butuh alasan agar bisa mulai belajar membaca dan menulis. Jika ia terlihat tertarik dan meminta diajari, maka orang tuanya pasti akan mulai mengajarinya.

"Oh? Anakku mulai tertarik membaca, ya?" Ehuang Baiye tersenyum lembut. "Kalau begitu, maukah Ibu ajari mengenal huruf dan tulisan?"

"Mau, Bu! Aku mau belajar!" jawab Boqin Changing antusias, walaupun itu hanya akting semata.

"Baiklah. Nanti malam, kita mulai belajarnya ya."

Sambil berkata demikian, Ehuang Baiye mencubit pipi anaknya. Boqin Changing hanya tersenyum getir. Sebagai seseorang yang telah menjalani kehidupan panjang, perlakuan manja seperti itu kadang terasa aneh, tapi tetap ia terima. Ia adalah ibunya, orang yang sangat ia cintai.

Setelah itu, sang ibu mengajaknya tidur siang, namun Boqin Changing menolak dengan sopan.

"Ibu... bolehkah aku mulai tidur sendiri di kamar lain. Aku sudah besar, ingin tidur sendiri."

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Dalam kehidupan pertamanya, ia baru tidur terpisah saat usianya tujuh tahun, tepat sebelum ia dibawa oleh gurunya ke sekte di luar desa. Malam terakhir sebelum kepergiannya, ia bahkan masih tidur di antara kedua orang tuanya. Kali ini, ia ingin mempercepat fase itu agar lebih leluasa melakukan berbagai persiapan tanpa gangguan.

"Heh? Apa Ibu tidak salah dengar? Anakku merasa sudah besar?" Ehuang Baiye mencolek hidung Boqin Changing dengan gemas.

"Boleh ya, Bu... aku mulai belajar tidur sendiri..."

Ia terus merajuk, melengkapi aktingnya dengan ekspresi memelas yang menggemaskan. Seandainya para pengikutnya melihat kelakuan tuan mereka ini, mungkin mereka akan muntah karena tak tahan melihat betapa menjijikkannya tingkah imutnya saat ini.

Awalnya Ehuang Baiye menolak terus. Tapi akhirnya ia berkata.

"Kalau ayahmu setuju, Ibu tidak keberatan," Ia berani berkata seperti itu karena yakin suaminya akan menolak permintaan anak mereka.

"Yay! Makasih, Ibu! Ayah di mana dia sekarang ya?"

"Coba cari di gudang, tadi ayahmu ke arah sana," jawab Ehuang Baiye dengan suara lebih lembut, luluh oleh tatapan berkaca-kaca putranya.

Boqin Changing segera menemui sang ayah dan seperti yang direncanakannya, mengajukan permintaan serupa. Tak disangka, ayahnya langsung mengiyakan tanpa banyak bertanya.

Dalam hati, Boqin Changing merasa aktingnya benar-benar hebat. Ia berhasil membuat ayahnya langsung setuju tanpa banyak bujukan. Padahal ia tak tahu bahwa Boqin Feng, ayahnya, sudah lama memendam keinginan agar anaknya tidur terpisah. Ia hanya terlalu takut mengusulkannya pada istrinya, yang sangat menyayangi Boqin Changing.

Diam-diam, Boqin Feng ingin lebih banyak waktu berdua dengan istrinya. Kehadiran anak mereka di kamar membuat banyak hal jadi lebih terbatas.

Saat Ehuang Baiye tahu sang suami menyetujui permintaan anak mereka, ia langsung kesal. Tapi karena sudah terlanjur berjanji, ia tak bisa menarik kata-katanya. Namun ia tetap bersikeras,

"Nanti malam baru mulai. Siang ini, kau tetap tidur bersama Ibu."

Boqin Changing tak bisa menolak. Ia mengangguk pasrah dan beristirahat bersama ibunya siang ini. Di sisi lain, wajah Ehuang Baiye masih merengut tiap kali menatap wajah suaminya. Boqin Feng hanya bisa tersenyum kaku sambil mencoba memberi penjelasan.

Malam harinya, sesuai janji, Ehuang Baiye mulai mengajarkan Boqin Changing membaca dan menulis. Ia merasa bangga karena anaknya cepat tanggap dan tampak serius. Padahal di balik itu semua, Boqin Changing hanya berpura-pura bingung dan baru belajar dari awal. Ia harus melakukannya agar tak menimbulkan kecurigaan di masa depan.

Dalam hati, Boqin Changing bertekad akan satu hal. Ia tidak akan memberitahu siapa pun bahwa dirinya telah kembali ke masa lalu. Menurutnya ini adalah keputusan terbaiknya untuk saat ini.

Saat malam semakin larut, Ehuang Baiye menghentikan pelajaran. Ia tersenyum puas dengan kemajuan Boqin Changing malam ini. Ia bahkan mulai berpikir bahwa anaknya kelak bisa menjadi seorang pejabat atau sastrawan besar.

Sementara itu, Boqin Changing yang sudah pindah ke kamar barunya, menghela napas panjang. Ia merebahkan diri sambil memandangi langit-langit kamarnya. Hari ini terasa sangat melelahkan secara mental. Ia harus terus berpura-pura di hadapan orang tuanya. Namun di sisi lain, ia juga merasa puas.

"Aku tak menyangka bisa meyakinkan mereka dengan akting seperti ini," gumamnya sambil tersenyum. "Kalau aku jadi pemain teater di zaman ini... mungkin aku bisa jadi aktor terbaik." ucapnya sambil tertawa.

Akan tetapi ia tak tahu bahwa di kamar sebelah, kedua orang tuanya sedang berbincang, saling bertanya-tanya tentang perubahan aneh pada diri anak mereka hari ini. Perubahan sikap Boqin Changing yang mendadak terasa mencurigakan. Seandainya Boqin Changing tahu ini, ia mungkin akan menyimpulkan bahwa dirinya sama sekali tidak berbakat dalam seni peran.

...****...

Di dalam kamarnya yang sunyi, Boqin Changing duduk bersila, memejamkan mata.

"Hmmm... Baiklah. Mari kita mulai."

1
Fian Tefbana
Batu Pelangi. Batu yang akan membawanya menjadi pendekar langit nanti.
Fian Tefbana
CLBK nih ceritanya!
Edi Sopian
Karena kurang gopay nya hahhaa
Fian Tefbana
Dewa Kematian Boqin Changing.
Fian Tefbana
Pedang pusaka yg pertama utk Bang Boqin!
Fian Tefbana
Zhi Zen..... akhirnya akan menitis d Gao Rui.
Agus Wahyudi
seharusnya, Ibu Boqin dibawa saja ke Sekte, kemudian tinggal diwilayah sekte demi keamanannya!!!
Edi Sopian
Uraaa.. Datanglah pendekar putin
Edi Sopian
Ipar adalah maut... Selingkuh donh
Edi Sopian
Awal cerita terlalu membosankan tapi setelah seratus episode baru agak enak.. Tetap semangat ya thor
Edi Sopian
Mateekk wkwkkw
Edi Sopian
Batosai
Amir Hamzah
misinya ingin kuat sendiri
Amir Hamzah
merasa pendekar terkuat jadi egoisnya tinggi😄 tidak mau membantu meningkatkan kekuatan guru dan orang yg katanya keluarganys
Mad Saleh
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Demen novel
seru & lucu.. semangat thorrr 👍
brajamusti
mo bunuh aja lama. banyak ngobrol dulu. kayak drakor aja
Soto
AQ TDK tau
Soto
wuiiihhh
Soto
ok kasi la
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!