NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

Pintu besi berat itu berderit terbuka sempurna, mengeluarkan hawa dingin yang lembap dan aroma anyir dan besi yang tajam. Langkah Megan terhenti saat suara erangan seorang pria menyambut pendengarannya dari kegelapan di balik pilar-pilar beton semakin jelas.

"Suara siapa itu, Pet? Aku seperti mengenalnya" tanya Megan, jantungnya berdegup kencang.

"Nona lihat saja sendiri. Tuan sudah menunggu di dalam," jawab Peter datar tanpa ekspresi sedikit pun.

Megan melangkah masuk. Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu gantung temaram, Bradley duduk di sebuah kursi kulit besar dengan gaya angkuh, menyilangkan kakinya dengan dominan. Ia mengenakan overcoat hitam panjang yang menambah kesan mistis.

Di antara jemarinya, sebatang rokok masih menyala, mengepulkan asap abu-abu yang menari-nari di udara pengap. Di sampingnya, seorang pria tampak berlutut dengan tangan terikat ke belakang.

Begitu Megan mendekat, matanya membelalak. "Nathan?"

Dan benar saja dugaan Megan, itu suara Nathan. Rekan satu timnya dari Langley yang sengaja dikirim ke London dua bulan lalu bersamanya untuk menangkap Bradley Brown.

Meskipun wajahnya sudah lebam keunguan dan sudut bibirnya robek, Nathan tidak memohon. Ia justru mendongak, menatap Bradley dengan tatapan yang penuh kebencian dan harga diri yang masih utuh.

"Brown, apa maksudmu memintaku ke sini? Kenapa... kenapa Nathan ada di sini?" suara Megan bergetar.

"Sayang... kemarilah," panggil Bradley. Suaranya pelan. Bradley menarik pinggang Megan dengan satu gerakan kuat, memaksa wanita itu terduduk di pangkuannya.

Bradley menjatuhkan rokoknya ke lantai marmer yang dingin, tepat di depan Nathan, lalu menginjaknya dengan ujung sepatu pantofel mahalnya. Tangannya mengusap perut Megan dengan posesif. "Dia pahlawanmu, Sayang," bisik Bradley tepat di telinga Megan.

"Pahlawan? Apa maksudmu?"

"Agen Nathan... berani mengirimkan informasi tentang kita ke jalur pribadi Arthur di Langley tepat di malam hari saat singa tua itu sedang memadu kasih dengan daun mudanya, dia pikir dia bisa menjadi pahlawan untukmu," Bradley tertawa sinis.

Nathan meludah ke samping, darah merah menetes dari mulutnya. "Kau tidak akan pernah bisa menyembunyikannya selamanya, Brown! Arthur Ford akan meratakan tempat ini!" geram Nathan, suaranya tetap tegar meski fisiknya hancur.

Bradley meraih dagu Megan, memaksanya menatap Nathan. "Lihatlah, Meg. Dia tidak memohon ampun. Dia justru semakin berani menantang maut. Dan pahlawanmu ini akan segera merasakan bagaimana rasanya menjadi tawanan di penjara bawah tanahku yang paling gelap."

"Lepaskan dia, Brown! Dia hanya menjalankan tugasnya!" Megan meronta, namun cengkeraman Bradley di pinggangnya tak goyah.

Bradley mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik jasnya, ia memutar-mutar benda tajam itu di depan wajah Nathan yang tak berkedip sedikit pun. "Di duniaku, keberanian tanpa kekuatan hanyalah tiket menuju neraka. Sekarang, Meg... kau ingin memohon padaku untuk nyawanya, atau kau ingin melihat seberapa lama pahlawanmu ini bisa bertahan sebelum aku mematahkan setiap tulang di tubuhnya?"

"Hentikan, Brad! Aku mohon... lepaskan Nathan!" rintih Megan, air matanya mulai membasahi overcoat hitam Bradley.

Namun, Nathan yang setengah sadar justru menggeleng lemah. Darah menetes dari sudut bibirnya yang hancur. "Jangan... jangan memohon pada bajingan ini, Meg! Dia tidak punya nurani!" geram Nathan. Baginya, harga diri adalah satu-satunya hal yang ia miliki di kandang serigala ini.

Melihat pembangkangan Nathan, Bradley memberi kode kecil dengan dagunya. Seketika, satu pukulan keras kembali mendarat di ulu hati Nathan, membuatnya terbatuk darah dan nyaris jatuh dari berlututnya.

"BRADLEY, HENTIKAN!" teriak Megan histeris, ia mencengkeram jas Bradley dengan tangan gemetar.

Bradley tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat keji di tengah ruang bawah tanah yang sunyi. Ia menikmati pertunjukan ini, melihat dua agen elit yang saling bertolak belakang; yang satu siap mati demi martabat, yang satu siap menghamba demi nyawa.

Bradley meraih dagu Megan, memaksa wanita itu menatap matanya yang sedingin es. "Kau tahu peraturanku, Meg. Di duniaku, tidak ada permintaan yang gratis. Apa yang berani kau berikan padaku sebagai ganti nyawa pahlawanmu ini?"

Megan tertegun. Pikirannya buntu. Di bawah tekanan tatapan Bradley dan erangan kesakitan Nathan, Megan merasa oksigen di sekitarnya menipis.

"KATAKAN, MEG!" bentak Bradley, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat Megan tersentak hebat.

Megan memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri sebelum akhirnya mengeluarkan kalimat yang paling ia benci.

"Kita... kita akan menikah. Aku akan melakukan apa pun yang kau mau. Tapi biarkan dia hidup," ucap Megan dengan suara yang nyaris hilang.

Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Bradley terkekeh puas, sebuah seringai kemenangan tersungging di wajahnya yang tampan namun mematikan. Ia meraih dagu Megan,lalu ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Megan dengan posesif, seolah menunjukan pada Nathan jika Megan kini berada di bawah kendalinya

Sementara itu, Nathan membeku. Tatapannya yang tadi berani kini berubah menjadi kehampaan yang luar biasa.

"Pilihan yang cerdas, Sayang," bisik Bradley di sela tautan bibir mereka. Ia lalu menoleh pada Peter. "Bawa hama kecil ini ke sel isolasi. Berikan dia perawatan medis terbaik. Aku tidak ingin pahlawan kita mati sebelum dia melihat sendiri bagaimana cantiknya Megan dalam gaun pengantin Obsidian."

Nathan hanya bisa menatap Megan dengan tatapan hancur saat ia diseret keluar. "Maafkan aku, Meg... aku gagal," batin Nathan saat pintu besi itu tertutup, menyisakan Megan yang kini benar-benar telah menggadaikan seluruh hidupnya pada sang Hantu London.

Nathan, yang sudah hampir kehilangan kesadaran, diseret kasar oleh dua unit pemukul menuju sel isolasi di lantai paling bawah mansion. Megan hanya bisa menatap punggung rekannya yang menghilang di balik pintu besi, sementara hatinya hancur berkeping-keping.

Ia sudah memberikan maharnya, sebuah janji pernikahan namun ia baru sadar bahwa Bradley tidak pernah mengatakan akan melepaskan Nathan ke luar dari mansion ini.

"Kau berjanji akan membiarkannya hidup, Brad! Kenapa dia tidak dipulangkan?!" tuntut Megan dengan suara bergetar.

"Aku menjamin nyawanya, Meg. Aku tidak pernah berjanji untuk memulangkannya ke Langley agar dia bisa melaporkan koordinat rumahku lagi," Bradley bangkit dari kursinya, masih mendekap pinggang Megan. "Dia akan tetap di sini. Sebagai pengingat bagimu, bahwa setiap kali kau mencoba bermain api, rekanmu yang akan merasakan panasnya."

Bradley masih bergeming, lalu ia menarik Megan yang masih terisak ke dalam pelukannya yang posesif. Tidak ada makian, tidak ada bentakan, hanya keheningan yang menyesakkan.

"Aku benci setiap kali harus menatap matamu, Meg," batin Bradley sambil membenamkan wajahnya di rambut Megan. "Aku benci kenyataan bahwa kau adalah putri dari Arthur Ford. Dan aku sangat membenci kenapa hatimu tetap terasa begitu lembut di tengah kejamnya duniaku yang berdarah ini."

"Tuan, jadwal ke pelabuhan jam satu siang untuk pengecekan kargo sudah siap," suara Peter yang tenang memecah lamunan Bradley.

Bradley tak langsung menjawab. Ia melepaskan pelukannya, lalu membingkai wajah Megan dengan kedua telapak tangannya yang besar, tangan yang baru saja memerintahkan penyiksaan.

"Kau akan ikut denganku," ucap Bradley tak ingin di bantah.

"Aku tidak mau!" Megan menepis tangan Bradley, matanya yang sembap berkilat penuh penolakan.

"Akan kutunjukkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar agen yang sudah tak berdaya di dalam sel itu, Meg," Bradley mendekatkan wajahnya, menatap Megan dengan intensitas yang sanggup melumpuhkan saraf.

"Kau selalu memaksakan kehendakmu pada orang lain! Aku bukan robotmu, Brown! Aku bukan mainan yang bisa kau bawa ke mana pun kau mau!" teriak Megan frustrasi.

"Suka atau tidak suka, kau akan tetap ikut bersamaku," Bradley meraih pinggang Megan, menariknya paksa agar berjalan bersamanya menuju pintu keluar. "Berhentilah menjadi pembohong yang buruk, Meg. Kau membenciku, tapi darahku mengalir di nadimu, dan nyawaku ada di rahimmu. Kita sudah terikat, lebih dalam dari yang kau sadari.”

***

Ruang kerja Direktur, yang biasanya mulai sibuk dengan aroma kopi dan tumpukan berkas, pagi ini justru terasa mencekam. Arthur Ford berdiri di depan jendela besar, menatap matahari pagi Virginia yang tidak mampu menghangatkan hatinya yang dingin.

Tangannya menggenggam ponsel satelit pribadi. Ia terus melirik jam dinding digital. "Kenapa Nathan belum memberikan laporan?" gumam Arthur parau.

Seharusnya, satu jam yang lalu Nathan mengirimkan informasi. Nathan adalah agen didikannya yang paling disiplin, tak pernah meleset meski dalam kondisi paling kritis. Ia sengaja mengirim Nathan bersama Megan untuk menyelidiki Bradley Brown dua bulan lalu.

Arthur melangkah menuju mejanya, membanting dokumen misi Black Ops yang Sean Miller kirim padanya, "Sialan kau, Miller. Kau pikir aku bisa kau bodohi?"

Insting intelijennya yang telah terasah selama tiga dekade berteriak bahwa ada lubang besar dalam narasi Sean. Hilangnya kontak dengan Nathan seolah mengonfirmasi ketakutan terburuknya: putrinya dan agen terbaiknya sedang ditelan oleh kegelapan yang sama.

"Alice! Masuk ke ruanganku sekarang!" teriak Arthur melalui interkom.

Alice masuk dengan wajah tenang, mengenakan setelan kantor yang rapi. "Ya, Arthur? Kau tampak sangat gelisah pagi ini."

"Hubungi otoritas pelabuhan London secara tertutup! Aku tidak peduli dengan birokrasi MI6!" perintah Arthur. "Cari tahu aktivitas Obsidian dalam dua belas jam terakhir. Dan lacak koordinat terakhir ponsel Agen Nathan. Sekarang!"

Alice mengangguk patuh,ia pun keluar untuk melakukan apa yang Arthur perintahkan, meskipun ia sendiri punya rencana licik di balik kepatuhannya.

Arthur, duduk di kursi kebesarannya, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri, saat tiba tiba sebuah pesan masuk di ponselnya, pesan tanpa nama,

[UNKNOWN NUMBER]

“Dua bulan lalu Anda mengirim agen terbaik untuk mengungkap kegelapan Obsidian.

Dan hari ini Anda mengirim agen untuk kembali menyelidiki keberadaan putri Anda. Sangat menyedihkan, Direktur Ford.

Nathan mengirim salam dari ‘tempat baru'-nya. Dia bertanya, apakah Anda lebih mencintai jabatan Anda daripada nyawa orang-orang yang Anda kirim ke neraka? Pencarian Anda sia-sia. Di sini, rahasia tetap menjadi rahasia, dan kegagalan adalah akhir dari segalanya.”

Arthur membaca pesan itu. Rahangnya mengeras, tangannya gemetar saat beberapa gambar menampilkan Nathan yang tak berdaya di antara dua pria berbadan kekar yang menghajarnya. Ia membuka laci mejanya. Mengambil pistol dinasnya. Lalu berbisik, “Bradley Brown… Atau siapapun disana, kau sudah mengambil agen terbaikku, jika kau menyentuh satu helai saja rambut putriku, maka aku sendiri yang akan menghancurkan kepalamu…”

1
🇮🇹 25
kukira plok2 😒
Bintang Kejora
cie cie yg habis dapet durian runtuh🤭
Bintang Kejora
Cie muji/Chuckle/
🇮🇹 25
😒
Riska Memet
Jodoh Meg😄
Azzalea Chanifa
makin penasaran.
axm
alex debenernya suaminya megan ya 🤭
🇮🇹 25
akoh lebih takod otor apdet cuma 2 tiap hari 😭
🇮🇹 25: al menanti apdet banyak2 🌚🌚🌚
total 2 replies
Bintang Kejora
Siapa Ethan?
Bintang Kejora
Kau ini intel yang lemot, menganalisa apapun telat 😪
Bintang Kejora
Kecurigaan lo telat Sean, payah😔
Bintang Kejora
Alice bakal kena masalah sama brown lo
Bintang Kejora
waduh jangan macam2 alice, 🤭
Bintang Kejora
finaly 😀
🇮🇹 25
SERAKAH ADALAH SIFAT UMUM MANUSIA SELAIN IRI 😒
FF
😍Ada visualnya 👍
Je
up nya jangan lama'
Riska Memet
Woy Brown, puasa woy🙈😍🤣🤣
Riska Memet
Bau2 penkhianat sih🤔
Riska Memet
Fix ini Alex 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!