NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan Keras

Tiga hari setelah pengakuan itu, Arga hidup dalam kebahagiaan yang aneh. Kebahagiaan yang ia tahu salah, tapi terasa sangat benar. Setiap malam ia menunggu Safira dengan hati berdebar. Setiap malam mereka mengobrol, tertawa, kadang menangis bersama. Dan setiap malam Arga merasakan ikatannya dengan Safira semakin kuat.

Tapi ia juga merasakan perubahan pada tubuhnya.

Ia sering pusing. Sering lemas tanpa alasan. Badannya terasa dingin meski cuaca panas. Dan setiap pagi setelah Safira pergi, ia selalu terbangun dengan tubuh yang lebih lelah dari sebelum tidur.

Tapi ia tidak peduli. Selama ia bisa bertemu Safira, selama ia bisa merasakan kehangatan cinta ini, ia tidak peduli apa yang terjadi pada tubuhnya.

Sampai hari itu Bagas datang lagi. Kali ini dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. Dan di belakangnya, Ustadz Hasyim turun dari motor dengan wajah yang sangat, sangat serius.

Arga yang sedang duduk di teras langsung berdiri. Dadanya terasa sesak. Ia tahu kenapa mereka datang.

"Bagas, Ustadz," sapa Arga dengan suara yang berusaha terdengar tenang. "Ada apa?"

Bagas tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga dengan tatapan yang khawatir. Matanya memerah, seperti habis menangis atau kurang tidur.

Ustadz Hasyim yang melangkah maju. Wajahnya lebih serius dari kunjungan terakhir. Bahkan ada kekhawatiran yang sangat kentara di matanya.

"Mas Arga, kita perlu bicara. Sekarang," kata Ustadz Hasyim dengan nada yang tidak bisa ditawar.

Mereka masuk ke ruang tamu. Tapi kali ini Ustadz Hasyim tidak mau duduk. Ia berdiri, menatap Arga dengan tatapan yang sangat intens.

"Mas Arga, saya langsung ke inti saja," Ustadz Hasyim memulai dengan suara yang tegas. "Saya bisa merasakan ikatan gaib sudah terbentuk antara Anda dan jin itu."

Arga menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.

"Ikatan ini bukan ikatan biasa, Mas," Ustadz Hasyim melanjutkan, suaranya mulai naik. "Ini ikatan yang sangat berbahaya! Ini ikatan yang bisa menguras nyawa Anda perlahan-lahan! Anda bisa mati, Mas Arga! Atau lebih parah lagi, Anda bisa terseret ke alam mereka dan tidak pernah kembali ke dunia manusia!"

"Ustadz..."

"Belum selesai!" Ustadz Hasyim memotong dengan tegas. Wajahnya memerah, napasnya memburu. "Saya sudah menangani banyak kasus seperti ini, Mas. Orang yang terlalu dekat dengan jin. Dan hampir semuanya berakhir tragis! Ada yang mati muda tanpa sebab jelas. Ada yang gila. Ada yang hilang tanpa jejak. Dan Mas Arga, saya tidak mau itu terjadi pada Anda!"

Bagas yang duduk di sofa menundukkan kepala. Tangannya gemetar, mengepal kuat di atas paha.

Arga menatap Ustadz Hasyim dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, ada rasa takut, tapi juga ada kekerasan kepala yang tidak mau mengalah.

"Saya tahu risikonya, Ustadz," jawab Arga pelan tapi tegas.

"Tahu?!" Ustadz Hasyim hampir berteriak. "Kalau Mas tahu, kenapa Mas masih terus melakukan ini?! Kenapa Mas masih terus bertemu dengan jin itu setiap malam?!"

"Karena saya mencintainya!" Arga membalas dengan teriakan yang tidak kalah keras. "Karena saya sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini selain Safira!"

"Mas Arga, dengarlah!" Ustadz Hasyim melangkah maju, menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca. "Ini bukan soal cinta! Ini soal hidup dan mati! Ini soal akhirat Anda! Allah melarang hubungan seperti ini bukan tanpa alasan! Jin dan manusia punya alam yang berbeda! Kalau kalian terus bersatu seperti ini, konsekuensinya bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat!"

Arga terdiam. Kata-kata itu menohoknya tepat di hati. Akhirat. Ia hampir lupa tentang itu.

Ustadz Hasyim mengambil napas dalam, mencoba menenangkan diri. Lalu dengan suara yang lebih pelan tapi penuh kesungguhan, ia melanjutkan.

"Mas Arga, ingatlah firman Allah. Qul audzuu birabbil falaq, min syarri maa khalaq. Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya. Jin adalah makhluk Allah, Mas. Mereka ada untuk ujian kita. Bukan untuk kita cintai. Bukan untuk kita nikahi."

"Tapi Safira muslimah, Ustadz," Arga membela dengan suara yang bergetar. "Dia shalat. Dia bertakwa. Dia bukan jin jahat."

"Saya percaya itu," Ustadz Hasyim mengangguk. "Tapi itu bukan berarti halal bagi Anda untuk bersatu dengannya! Walau dia muslimah, walau dia shalihah, tetap saja dia bukan dari alam Anda! Dan ikatan antara dua alam yang berbeda itu dilarang keras dalam Islam!"

Hening.

Arga merasakan dadanya sesak. Napasnya berat. Ia tahu Ustadz Hasyim benar. Ia tahu ini salah dari sudut pandang agama. Tapi hatinya... hatinya tidak bisa melepaskan Safira.

"Mas," Ustadz Hasyim melanjutkan dengan suara yang lebih lembut sekarang. "Saya tahu Mas terluka. Saya tahu Mas dikhianati oleh istri. Saya tahu Mas merasa sendiri. Tapi ini bukan jalan keluarnya. Allah punya rencana yang lebih baik untuk Mas. Jangan biarkan kesedihan Mas membawa Mas ke jalan yang sesat."

"Jalan yang sesat?" Arga menatap Ustadz Hasyim dengan mata yang mulai memerah. "Ustadz bilang jalan ini sesat? Tapi jalan yang 'benar' itu apa? Kembali ke kota dan melihat mantan istri saya bahagia dengan pria lain? Hidup sendirian sampai mati dengan luka yang tidak pernah sembuh? Itu jalan yang Ustadz maksud?"

"Bukan itu, Mas," Ustadz Hasyim menggeleng. "Jalan yang benar adalah kembali pada Allah. Berdoa pada-Nya. Minta petunjuk pada-Nya. Allah Maha Penyembuh. Dia bisa menyembuhkan luka Mas tanpa harus Mas bersandar pada makhluk yang bukan dari alam Mas."

"Tapi saya sudah berdoa, Ustadz!" Arga berteriak dengan air mata yang mulai mengalir. "Saya sudah tahajud setiap malam! Saya sudah menangis di sajadah! Saya sudah memohon agar luka ini hilang! Tapi tetap saja sakit! Tetap saja rasanya seperti dada saya dirobek setiap kali saya ingat pengkhianatan Ratih! Dan saat Safira datang, saat dia menemani saya, baru lah saya merasa... merasa sedikit utuh lagi."

Bagas yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara. Suaranya serak, seperti menahan tangis. "Ga... gue mohon. Gue mohon sama lo. Dengerin ustadz. Lo... lo kelihatan semakin kurus. Semakin pucat. Mata lo cekung. Kantung mata lo hitam. Lo sakit, Ga. Lo sedang sekarat perlahan-lahan dan lo nggak sadar."

Arga menatap Bagas dengan tatapan terkejut. "Apa?"

"Iya!" Bagas berdiri, air matanya jatuh. "Lo pikir gue nggak perhatiin? Tiga minggu yang lalu lo masih keliatan normal. Sekarang? Lo kayak mayat hidup, Ga! Lo kayak orang yang lagi sekarat tapi masih dipaksa berjalan!"

Ustadz Hasyim mengangguk. "Bagas benar, Mas. Ikatan gaib itu sedang menguras energi hidup Anda. Semakin lama Anda bersama jin itu, semakin cepat nyawa Anda tersedot. Kalau ini terus berlanjut, mungkin dalam beberapa bulan... atau bahkan beberapa minggu... Anda bisa..."

"Mati," Arga menyelesaikan kalimat itu dengan suara datar. "Saya bisa mati."

"Ya," Ustadz Hasyim menjawab dengan suara yang penuh kesedihan. "Anda bisa mati, Mas."

Hening lagi.

Arga menatap tangannya sendiri. Benar. Tangannya memang lebih kurus dari biasanya. Kulitnya lebih pucat. Ia juga sering merasa lemas akhir-akhir ini.

Tapi apakah itu cukup untuk membuatnya melepaskan Safira?

"Saya rela," bisik Arga pelan.

"Apa?" Bagas tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Saya rela mati," Arga mengulangi dengan suara yang lebih keras. Ia mengangkat wajahnya, menatap Ustadz Hasyim dan Bagas dengan tatapan yang penuh tekad. "Kalau harga untuk bahagia bersama Safira adalah nyawa saya, maka saya rela membayarnya."

"ARGA!" Bagas berteriak dengan frustasi. "LO GILA?! LO MAU MATI DEMI HANTU?!"

"DIA BUKAN HANTU!" Arga membalas dengan teriakan yang lebih keras. "DIA SAFIRA! DIA WANITA YANG SAYA CINTAI! DIA SATU-SATUNYA YANG MEMBUAT HIDUP SAYA BERARTI LAGI!"

"Tapi dia jin, Mas!" Ustadz Hasyim ikut bersuara keras. "Dia bukan manusia! Mas tidak bisa hidup normal dengannya! Mas tidak bisa menikah dengannya dengan cara yang sah! Mas tidak bisa punya keturunan dengannya! Apa gunanya cinta kalau ujungnya hanya kehancuran?!"

"Cukup!" Arga berteriak sampai suaranya serak. "Cukup! Saya sudah muak dengan semua nasihat ini! Saya sudah muak dengan semua peringatan ini! Saya tahu apa yang saya lakukan! Saya tahu ini salah! Tapi saya tidak peduli!"

Ustadz Hasyim menatap Arga dengan tatapan yang sangat, sangat sedih. "Mas Arga... tolong jangan keras kepala. Ini bukan hanya soal Anda. Ini juga soal jin itu. Apa Mas pikir dia bahagia melihat Mas perlahan mati karenanya?"

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam. Safira. Apakah Safira tahu tentang ini? Apakah ia tahu bahwa kedekatannya dengan Arga sedang membunuh Arga perlahan?

"Jin itu pasti tahu," Ustadz Hasyim melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Kalau dia benar-benar muslimah seperti yang Mas bilang, dia pasti tahu ikatan ini berbahaya. Tapi dia tetap datang. Tetap bertemu Mas setiap malam. Apa itu bukan tanda bahwa dia juga egois? Bahwa dia lebih mementingkan perasaannya daripada keselamatan Mas?"

"Jangan bicara tentang Safira seolah kau mengenalnya!" Arga membentak. "Kau tidak tahu apa-apa tentang dia! Tentang kesepiannya! Tentang penderitaannya selama lima puluh tahun!"

"Saya tidak perlu mengenalnya untuk tahu ini bahaya, Mas!" Ustadz Hasyim membalas dengan tegas. "Saya hanya perlu tahu hukum Allah! Dan hukum Allah jelas! Innallaha laa yuhibbul mufsidiin. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan hubungan ini, Mas, adalah kerusakan. Kerusakan yang akan menghancurkan Anda!"

Arga menutup telinganya dengan kedua tangan. "Cukup... cukup..."

Bagas menghampiri Arga, memegang bahunya dengan gemetar. "Ga... gue mohon. Gue mohon sama lo. Jangan kayak gini. Gue takut kehilangan lo, bro. Lo... lo satu-satunya sodara yang gue punya yang bener-bener peduli sama gue. Kalau lo mati... kalau lo pergi... gue..."

Suara Bagas terputus karena isak tangis yang pecah. Ia memeluk Arga dengan erat, menangis di bahu sepupunya yang keras kepala ini.

Arga merasakan dadanya remuk. Melihat Bagas menangis seperti ini membuatnya sakit. Tapi ia... ia tidak bisa melepaskan Safira. Ia sudah terlanjur mencintainya. Terlanjur terikat.

Dengan lembut, Arga melepaskan pelukan Bagas. Ia menatap sepupunya yang masih menangis dengan tatapan yang penuh kesedihan.

"Maaf, Gas," bisik Arga dengan suara yang bergetar. "Maaf kalau aku egois. Maaf kalau aku membuat kamu khawatir. Tapi... tapi aku tidak bisa melepaskannya. Aku sudah mencoba. Tapi aku tidak bisa."

Bagas menggeleng sambil menangis. "Lo bodoh, Ga... lo bodoh banget..."

Arga lalu menatap Ustadz Hasyim. "Terima kasih atas perhatian Ustadz. Terima kasih sudah datang jauh-jauh kesini untuk memperingatkan saya. Tapi keputusan saya sudah bulat. Saya akan tetap bersama Safira. Apapun konsekuensinya."

Ustadz Hasyim menatap Arga dengan tatapan yang sangat sedih. Ia menggeleng pelan, air matanya jatuh. "Innalillahi wa innailaihi rajiuun. Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali. Mas Arga... saya sudah berusaha. Saya sudah sampaikan peringatan Allah. Kalau Mas tetap memilih jalan ini, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

"Saya mengerti, Ustadz."

Ustadz Hasyim mengambil tasnya, berjalan menuju pintu dengan langkah yang berat. Tapi sebelum keluar, ia berbalik, menatap Arga untuk terakhir kali.

"Saya akan tetap mendoakan Mas, Mas Arga. Saya akan tetap berdoa agar Allah membukakan hati Mas. Membukakan jalan yang lebih baik untuk Mas. Dan kalau suatu saat Mas sadar dan ingin kembali ke jalan yang benar, hubungi saya. Saya akan bantu Mas lepas dari ikatan ini."

Arga hanya mengangguk pelan, tidak bisa berkata apa-apa.

Ustadz Hasyim keluar dari rumah, diikuti Bagas yang masih menangis. Sebelum naik motor, Bagas menatap Arga dengan tatapan yang hancur.

"Gue nggak akan berhenti khawatir sama lo, Ga. Gue nggak akan berhenti berdoa buat lo. Dan gue berharap... gue sungguh berharap lo sadar sebelum terlambat."

Lalu mereka pergi. Meninggalkan Arga yang berdiri sendirian di teras rumah tua itu dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.

Ia tahu ia salah.

Ia tahu ini berbahaya.

Tapi hatinya... hatinya sudah terlanjur memilih.

Dan malam itu, saat Safira muncul dengan senyum lembutnya, Arga memeluknya lebih erat dari biasanya.

"Jangan pernah pergi," bisik Arga dengan suara yang bergetar. "Kumohon, jangan pernah tinggalkan aku."

Safira yang merasakan kesedihan dalam pelukan Arga hanya bisa menangis dalam diam, tidak tahu bahwa cinta mereka sedang membawa mereka berdua ke jurang kehancuran.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!