NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 19: Gerbang pertama

Tangga spiral dari akar purba itu berderit di bawah beban langkah Reggiano, namun suaranya tidak terdengar seperti kayu kering, melainkan seperti rintihan makhluk hidup. Cahaya dari lantai atas toko roti perlahan mengecil hingga hanya menjadi titik putih di langit-langit kegelapan, sebelum akhirnya tertutup sepenuhnya oleh katup akar yang menyatu kembali.

Kini, mereka berada di ruang antara, sebuah dimensi yang terjepit di antara fondasi beton kota dan urat nadi bumi.

"Tuan Herbert," suara Seraphine memecah kesunyian yang mencekam. Ia tidak lagi berjalan di belakang,

Seraphine melayang tipis di atas permukaan akar, gaun hijaunya kini berpendar dengan cahaya yang lembut, menjadi satu-satunya sumber penerangan di lorong yang lembap itu.

"Lupakan semua yang anda pelajari tentang fisika manusia. Di sini, ruang adalah emosi, dan waktu adalah detak jantung."

Reggiano menatap punggung Seraphine. Ada sesuatu yang berubah pada wanita itu. Di atas permukaan, ia adalah pemilik toko roti yang elegan dan penuh rahasia. Namun di sini, di habitat aslinya, Seraphine tampak jauh lebih kuno dan berkuasa.

"Nona Florence," panggil Reggiano, suaranya bergema di dinding-dinding akar.

"Malachai mengatakan bahwa saya adalah kunci. Tapi siapa sebenarnya anda dalam semua skenario ini? Mengapa anda begitu setia menjaga gerbang yang hanya membawa kutukan bagi siapa pun yang mendekatinya?"

Seraphine berhenti melangkah. Ia berbalik, dan untuk pertama kalinya, Reggiano melihat mata Seraphine tidak lagi memiliki pupil manusia.

Matanya adalah hamparan padang rumput yang berputar.

"Saya adalah Suara dari Taman yang Terlupakan, Tuan Herbert. Saya tidak menjaga gerbang ini karena kesetiaan pada organisasi atau manusia. Saya menjaganya karena jika pohon di bawah sana benar-benar mati, maka setiap oksigen yang dihirup adik anda, setiap bunga yang ia sukai, dan setiap inci kehidupan di planet ini akan layu dalam hitungan jam. Saya adalah napas terakhir dari tempat yang kalian sebut Eden."

Seraphine melangkah mendekat ke arah Reggiano. Jarak mereka begitu dekat hingga Reggiano bisa mencium aroma hutan setelah hujan yang sangat pekat keluar dari kulit Seraphine.

"Masuklah ke dalam pikiran saya, Reggiano," bisik Seraphine. Ia meletakkan telapak tangannya yang dingin di dahi Reggiano. "Jangan melawan. Jika anda ingin membuka gerbang itu, anda harus memahami apa yang sebenarnya kita lindungi. Rasakan... apa yang saya rasakan."

Seketika, dunia Reggiano jungkir balik.

Reggiano tidak lagi berada di lorong gelap. Ia merasa jiwanya ditarik masuk ke dalam inti kesadaran Seraphine. Di sana, ia melihat sejarah dunia yang tidak tertulis di buku mana pun,

Pemandangan Pertama, Ia melihat Seraphine berdiri di tengah padang rumput yang tak berujung jutaan tahun lalu, berbicara dengan pepohonan yang bisa bernyanyi.

Seraphine bukanlah manusia, ia adalah personifikasi dari kehendak alam itu sendiri yang mengambil bentuk wanita untuk berkomunikasi dengan peradaban.

Pemandangan Kedua, Reggiano melihat ibunya, bertahun-tahun yang lalu, bersimpuh di depan Seraphine dalam kondisi terluka parah. Ibunya menyerahkan sebuah benih yang bersinar emas, Benih Fajar, dan memohon agar Seraphine menyembunyikan Reggiano dan Elena di balik kedok toko roti.

Pemandangan Ketiga, Ia merasakan kesedihan Seraphine yang mendalam. Menjadi abadi berarti melihat setiap orang yang ia cintai, termasuk ibu Reggiano, menua, layu, dan mati, sementara ia tetap berdiri sebagai penjaga yang kesepian di balik meja kasir sebuah toko roti kecil.

Reggiano tersentak kembali ke realitas, napasnya tersengal-sengal. Ia menatap Seraphine dengan pandangan baru, pandangan yang penuh dengan rasa hormat sekaligus ngeri.

"Jadi... selama ini anda menanggung beban semua Penjaga yang telah gugur?" tanya Reggiano lirih.

"Dan sekarang, beban itu akan terbagi dengan anda, Tuan Herbert," sahut Seraphine, matanya kembali normal namun kesedihannya masih tersisa.

"Kita sudah sampai di depan pintu pertama. Tapi lihatlah... kegelapan dari Taman Belati sudah mulai merembes."

Di depan mereka, sebuah pintu raksasa yang terbuat dari tulang hewan purba yang membatu dan lilitan mawar hitam menghalangi jalan. Dari celah-celah pintu itu, keluar cairan hitam yang berbau belerang, sama dengan aroma yang dibawa Kaelen.

"Mereka sudah ada di sini, di dalam akar," geram Malachai sambil mengangkat tongkatnya.

"Mereka tidak menunggu kita turun. Mereka sedang mencoba membedah pintu ini dari sisi lain."

Reggiano menggenggam sabit emasnya yang kini berdenyut kencang karena resonansi dengan energi Seraphine.

"Nona Florence, tetaplah di belakang saya. Jika mereka ingin menyentuh 'Suara Taman', mereka harus melewati sabit saya terlebih dahulu."

Seraphine tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kekuatan jutaan tahun.

"Tuan Herbert, di tempat ini, kita tidak bertarung secara terpisah. Berikan tangan anda yang bertanda mawar itu kepada saya."

Reggiano mengulurkan tangannya. Seraphine menggenggamnya erat, dan seketika energi hijau dari Seraphine menyatu dengan energi emas dari Reggiano.

Sabit The Reaper’s Thorn milik Reggiano mendadak diselimuti oleh api hijau yang tidak membakar, melainkan menghancurkan kegelapan dengan kemurnian yang mutlak.

Ledakan itu tidak menghasilkan suara dentuman logam, melainkan suara robekan yang basah dan menjijikkan, seolah-olah kulit bumi sendiri dipaksa terbuka secara kasar. Serpihan tulang purba dari pintu itu melesat ke segala arah, namun sebelum sempat menyentuh wajah Reggiano, Seraphine mengangkat tangannya.

Seketika, dinding udara di depan mereka mengental, membuat serpihan itu berhenti di udara dan jatuh tak berdaya ke lantai akar.

Dari balik kepulan asap hitam yang berbau busuk, makhluk-makhluk itu mulai merangkak keluar. Mereka adalah pasukan tanpa wajah yang dibentuk dari lumpur hitam yang terus berdenyut, dengan duri-duri baja tajam yang mencuat dari punggung dan persendian mereka.

Mereka tidak bernapas, mereka hanya mengeluarkan suara desis seperti uap yang keluar dari mesin yang rusak.

"Hama yang gigih," desis Malachai, namun ia tetap berdiri di belakang, membiarkan Reggiano mengambil peran utamanya.

Reggiano tidak merasakan ketakutan. Sebaliknya, saat tangan Seraphine menggenggam erat pergelangan tangannya, ia merasakan sebuah koneksi yang belum pernah ia alami selama hidupnya. Aliran energi Seraphine masuk ke dalam nadinya, mendinginkan amarahnya yang membara menjadi sebuah fokus yang sangat tajam. Sabit emas raksasanya kini berpendar dengan api hijau yang tenang namun mengandung daya hancur mutlak.

"Jangan biarkan setetes pun lumpur itu menyentuh akar inti, Reggiano," bisik Seraphine tepat di telinganya.

"Serang mereka sebagai satu kesatuan. Apa yang kau lihat, aku lihat. Apa yang kau tebas, aku hancurkan."

Makhluk pertama melompat dengan kecepatan yang tidak wajar, tangan bajanya yang runcing mengarah tepat ke leher Reggiano. Namun, Reggiano tidak hanya bergerak dengan ototnya, ia bergerak mengikuti aliran energi Seraphine. Ia berputar dengan anggun, membiarkan serangan itu lewat hanya beberapa milimeter dari wajahnya, lalu mengayunkan sabitnya secara horizontal.

[ SAYATAN ETERNAL ]

Bilah sabit emas itu membelah udara, meninggalkan garis cahaya hijau permanen yang membakar tubuh makhluk itu hingga menjadi abu dalam sekejap.

Belum sempat makhluk kedua menyerang, akar-akar di bawah lantai, atas perintah batin Seraphine yang tersambung pada Reggiano, melesat keluar seperti tombak, menusuk tubuh-tubuh lumpur itu dan menarik mereka masuk ke dalam kegelapan dinding lorong.

Reggiano merasakan sensasi yang luar biasa, setiap kali ia mengayunkan sabit, ia bisa merasakan Seraphine "mengisi" celah dalam gerakannya. Saat ia menebas ke depan, Seraphine menciptakan perisai duri di belakangnya. Saat ia melompat, Seraphine memperkeras pijakan akarnya agar Reggiano bisa meluncur lebih cepat. Ini bukan lagi sekadar kerja sama tim, ini adalah hubungan antara sang Penjaga dan Suara Taman.

"Mereka terus berdatangan!" teriak Reggiano sambil membelah dua makhluk sekaligus. Lumpur hitam itu mencoba menempel pada kakinya, namun setiap kali zat busuk itu menyentuh sepatu Reggiano, cahaya emas dari tandanya langsung membakarnya hingga menguap.

"Itu karena jantung mereka ada di dalam sana, di balik lubang pintu itu!" Seraphine menunjuk ke kegelapan di dalam ruangan yang baru saja terbuka.

"Ada sebuah 'Induk Duri' yang memproduksi mereka. Kita harus menghancurkannya sebelum lorong ini runtuh karena beban energi negatif mereka!"

Reggiano menoleh ke arah Seraphine, mata zamrudnya berkilat penuh tekad.

"Nona Florence, pegang bahu saya. Kita akan menerjang masuk ke tengah-tengah mereka. Malachai, jaga jalan keluar kami!"

Dengan Seraphine yang menempel erat di belakangnya, Reggiano menjadi badai emas dan hijau. Ia berlari menerjang kerumunan makhluk tanpa wajah itu, sabitnya berputar seperti baling-baling maut yang menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi jalan mereka. Setiap tebasan tidak hanya memotong tubuh, tapi juga memurnikan energi negatif yang pekat di ruangan itu.

Di tengah ruangan, mereka melihatnya, sebuah gumpalan daging hitam raksasa yang tertancap pada akar besar yang malang, terus-menerus memuntahkan pasukan lumpur.

"Sekarang, Reggiano! Gabungkan niatmu dengan seluruh keabadian yang aku berikan padamu!" teriak Seraphine.

Reggiano mengangkat sabitnya tinggi-tinggi. Api hijau meluap dari bilahnya, menyatu dengan cahaya emas dari lengannya hingga menciptakan pilar cahaya yang menyentuh langit-langit gua.

[ PEMURNIAN EDEN : TEBASAN FAJAR ]

Reggiano menghantamkan sabitnya ke inti gumpalan hitam tersebut. Sebuah ledakan cahaya murni menyapu seluruh ruangan, melenyapkan semua makhluk lumpur dalam satu kedipan mata dan mengubah lingkungan yang tadinya busuk dan gelap menjadi ruangan yang dipenuhi oleh serbuk sari yang bersinar.

Gumpalan hitam itu menjerit sebelum akhirnya layu dan hancur menjadi debu putih. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi.

Reggiano terengah-engah, tubuhnya masih dialiri sisa-sisa energi Seraphine yang hangat. Ia merasakan tangan Seraphine masih merangkul bahunya, memberikan kekuatan agar ia tidak jatuh tersungkur.

"Kita berhasil..." bisik Reggiano, menatap ruangan yang kini bersih dari polusi hitam.

Seraphine melepaskan rangkulannya perlahan, namun ia tetap berdiri sangat dekat.

"Itu baru penjaga pintunya, Tuan Herbert. Tapi kau telah membuktikan bahwa ikatan kita lebih kuat dari racun mereka. Lihatlah ke depan... Gerbang Eden yang sebenarnya sudah terlihat."

Di ujung ruangan, di balik reruntuhan Induk Duri, berdiri sebuah gerbang yang terbuat dari emas murni yang berdenyut, dikelilingi oleh air terjun cahaya yang mengalir ke atas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!