NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Lima tahun telah berlalu sejak drama JPO yang menggemparkan SMA Garuda. Kini, seragam putih abu-abu itu telah berganti menjadi jaket almamater kebanggaan. Dunia sekolah yang sempit telah berubah menjadi hamparan kampus yang luas, namun takdir nampaknya masih suka bermain-main dengan mereka.

Jenny dan Lisa, siapa sangka, justru diterima di universitas yang sama dan mengambil jurusan yang identik: Ilmu Ekonomi. Sementara itu, Angga dan Romeo—si dua bintang lapangan voli—kini harus berkutat dengan oli, mesin, dan kalkulus di Teknik Mesin.

Jenny duduk di salah satu meja kantin dengan laptop terbuka dan tumpukan buku makroekonomi. Penampilannya kini lebih dewasa; bando merahnya telah berganti menjadi jepit rambut elegan bermotif mutiara. Di sampingnya, Lisa sedang sibuk memoles kuku sambil sesekali melirik layar ponselnya.

"Gue nggak nyangka ya, Jen. Setelah tiga tahun kita perang dingin di SMA, sekarang malah harus sekelompok ngerjain tugas akuntansi," celetuk Lisa sambil meniup kuku jarinya.

Jenny tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Dunia emang sesempit itu, Lis. Lagian, lo udah jauh lebih waras sekarang sejak nggak ada Claudia yang ngeracunin otak lo."

Lisa terdiam sebentar, lalu menghela napas. "Ngomong-ngomong soal dia... lo denger kabar? Katanya dia sekarang cuma jadi sales kosmetik di mal luar kota. Kuliahnya berantakan."

"Gue udah nggak peduli, Lis. Fokus gue sekarang cuma lulus cepat dan nikah sama Angga," jawab Jenny santai, membuat Lisa memutar bola matanya.

"Duh, yang LDR antar fakultas emang beda. Padahal cuma beda gedung, tapi kangennya kayak beda benua," sindir Lisa.

Suasana kantin Ekonomi yang biasanya dipenuhi mahasiswa dengan pakaian rapi dan wangi parfum mahal tiba-tiba berubah riuh. Dua sosok pria dengan kaos hitam bertuliskan "Mechanical Engineering" masuk ke area kantin. Wajah mereka sedikit kusam karena habis praktikum di bengkel, namun aura mereka tetap tidak bisa diabaikan.

Angga berjalan di depan, langsung menuju meja Jenny dengan senyum lebarnya yang tidak pernah berubah sejak SMA. Di belakangnya, Romeo berjalan dengan gaya angkuh yang sama, membawa helm full-face di tangan kirinya.

"Hai, Sayang. Udah makan?" tanya Angga sambil mengecup puncak kepala Jenny dengan santai, mengabaikan tatapan iri mahasiswa ekonomi lainnya.

"Belum, nungguin kamu," jawab Jenny manis. "Tadi praktikumnya susah?"

"Biasa, oli semua. Romeo tuh yang dari tadi ngedumel gara-gara mesin bubutnya macet," lapor Angga sambil duduk di sebelah Jenny.

Romeo duduk di depan Lisa tanpa permisi, meletakkan helmnya di atas meja hingga menimbulkan bunyi dentum. "Berisik lo, Ngga. Mesinnya emang udah tua, bukan salah gue."

Lisa menatap Romeo dengan pandangan sebal tapi rindu. "Muka lo kotor banget, Rom. Nih, pake tisu basah gue," Lisa menyodorkan tisu dengan gaya judesnya.

Romeo menerimanya tanpa bicara, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Hubungan mereka masih sama: penuh gengsi, namun Romeo tetap tidak pernah berpaling dari Lisa sejak mereka mulai kuliah.

Saat mereka sedang asyik berbincang, seorang pria dengan kemeja biru muda yang sangat rapi berjalan melewati meja mereka. Pria itu membawa beberapa berkas dan tampak sedang berbincang dengan salah satu dosen ekonomi.

Langkah kaki pria itu terhenti. Ia menoleh ke arah meja Jenny.

"Jenny?"

Suara itu membuat mereka berempat menoleh serentak. Jenny merasa jantungnya sedikit mencelos. Sosok itu... Jonathan.

Jonathan kini terlihat jauh lebih mapan. Ia adalah asisten dosen sekaligus mahasiswa berprestasi di tingkat magister. Wajahnya yang dulu hancur dan penuh tangis kini telah kembali kaku dan profesional, namun ada gurat kedewasaan yang berbeda.

"Jonathan?" Jenny berdiri perlahan.

Angga ikut berdiri, posisinya sangat protektif di samping Jenny. Romeo hanya menyeringai, "Wah, si Robot balik ke habitatnya."

Jonathan mendekat, menatap mereka satu per satu dengan senyum yang sangat tipis namun tulus. "Lama nggak ketemu ya. Aku dengar kalian semua kuliah di sini juga."

"Iya, Jo. Gue di sini, Angga sama Romeo di teknik," jawab Jenny, mencoba bersikap seprofesional mungkin.

"Baguslah," ucap Jonathan. Ia menatap Angga, lalu mengulurkan tangannya. "Selamat ya, Ngga. Aku dengar kalian masih awet sampai sekarang. Aku minta maaf buat kejadian lima tahun lalu. Aku benar-benar sudah berterima kasih karena kalian menyelamatkanku waktu itu."

Angga terdiam sejenak, lalu menyambut tangan Jonathan. Genggaman mereka kini bukan lagi genggaman persaingan, melainkan sebuah bentuk perdamaian antar pria dewasa. "Semuanya udah lewat, Jo. Sukses buat lo di sini."

Jonathan kemudian beralih menatap Jenny. "Jen, sebenarnya aku mau bilang... bulan depan aku bakal lanjut studi ke luar negeri. Sebelum pergi, aku cuma mau mastiin kalau orang yang dulu aku sakiti sekarang benar-benar bahagia. Dan melihat kamu sekarang... aku sadar kalau pilihanku untuk pergi dulu adalah hal yang benar."

Jenny tersenyum, kali ini benar-benar tulus. "Gue bahagia, Jo. Banget. Sukses ya buat studinya."

Jonathan mengangguk, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka. Tidak ada air mata, tidak ada keributan. Hanya sebuah penutup yang manis untuk sebuah luka yang sudah lama mengering.

"Gila ya, si Robot makin ganteng aja pas udah jadi asdos," celetuk Lisa, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Romeo. "Bercanda, Rom! Lo tetep yang paling sangar!"

Romeo hanya mendengus, lalu merangkul leher Lisa dengan lengannya. "Awas lo ya kalau lirik asdos."

Sore itu, mereka berempat berjalan keluar kampus menuju parkiran motor. Matahari sore yang sama dengan lima tahun lalu di SMA Garuda kini bersinar lebih lembut.

"Ngga, nanti malem mau ke mana?" tanya Jenny sambil membonceng motor Angga.

"Kita ke tempat pertama kali gue nembak lo di SMA. Gue mau rayain 5 tahun kita di sana," jawab Angga penuh semangat.

Romeo yang berada di motor sebelah berteriak, "Woi! Jangan lama-lama pacarannya! Besok kita ada kuis kalkulus, jangan sampe otak lo isinya cuma Jenny doang!"

"Bilang aja lo mau belajar bareng gue tapi malu ngomongnya!" balas Angga sambil tertawa.

Motor-motor mereka menderu meninggalkan gerbang kampus. Jenny memeluk pinggang Angga erat, menyandarkan kepalanya di punggung yang selama lima tahun ini menjadi tempatnya bersandar dari segala badai. Ia telah melewati fase dikhianati, fase menjadi ratu yang kejam, hingga akhirnya menemukan dirinya yang sejati: seorang wanita yang dicintai dan mencintai dengan tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!