Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Di Drop out.
Di depan halaman luas kampus, seorang wanita turun dari sebuah motor. Pandangannya melayang jauh ke arah depan, ke tempat banyak mahasiswa berlalu-lalang tanpa peduli.
Arumi menghela napas kasar, berusaha menetralkan degup jantungnya yang berpacu lebih cepat. Wanita yang sejak dulu aktif di media sosial itu tentu tahu betul bagaimana laman media kampus beberapa kali menampilkan berita tentang dirinya. Dan seperti yang bisa ia duga, hal itu memicu banyak reaksi. Sebagian besar orang menodongnya dengan kalimat hujatan di kolom komentar.
Apa dia siap?
Jika ditanya seperti itu, Arumi ingin berteriak menjawab tidak.
Selama lebih dari tiga minggu sejak kejadian memalukan itu, wanita itu bahkan tak lagi punya muka untuk sekadar datang ke kampus. Ia tidak kembali ke Jakarta, memilih menghilang, karena tak ingin terlihat banyak orang dan berakhir dibully. Sama seperti saat kejadian itu berlangsung, ketika ia dicaci maki oleh tetangga kamar dan juga warga sekitar.
Namun, kedatangannya pagi ini bukan semata karena keinginannya sendiri. Melainkan karena surat panggilan yang sudah ketiga kalinya ia terima dari pihak kampus.
Menutupi rasa malu yang menggerogoti dadanya, Arumi melangkah lebar, lebih cepat dari biasanya, dengan wajah tertunduk dalam. Ia memasang earphone kecil di telinganya, tersembunyi di balik rambut panjang yang tergerai. Setidaknya dengan begitu, ia tak perlu terlalu jelas mendengar kalimat-kalimat jahat yang diarahkan padanya.
Meski begitu, Arumi tetap punya mata. Dan matanya mampu membaca arti tatapan sinis teman-teman kampusnya.
Kini, Arumi berdiri di depan kantor rektor. Sekali lagi ia menghela napas kasar, lalu membuangnya perlahan. Earphone dilepaskan. Telapak tangannya diremas basah oleh keringat dingin.
Sejujurnya, baru kali ini selama masa kuliahnya ia harus berhadapan langsung dengan rektor karena masalah yang memalukan. Ia memang bukan mahasiswa berprestasi, tetapi setidaknya ia tak pernah berbuat onar. Hingga hari ini. Untuk pertama kalinya. Dan rasanya seperti duduk di depan meja hijau.
Arumi mengetuk pintu ruang rektor.
“Silakan masuk.”
Begitu melangkah ke dalam, pandangannya bertemu dengan seorang pria tua yang duduk tegap di kursinya. Wajah itu datar, namun memancarkan kebijaksanaan. Di hadapannya, sang dekan duduk dengan sikap yang sama seriusnya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Arumi gugup.
“Selamat pagi, Arumi Mentari. Silakan duduk.”
Arumi menurut, duduk di sofa tunggal, menanti dengan raut tegang.
“Arumi Mentari,” ujar sang rektor, mempertahankan nada tegas dan datar. “Kamu tahu alasan kamu dipanggil ke ruangan saya, bukan?”
“Iya, Rektor,” jawab Arumi pelan.
Sang rektor melirik dekan di depannya, lalu mengeluarkan sebuah surat dari dalam map.
“Baiklah, tanpa perlu menjelaskan ulang, saya pikir kamu sudah memahami dampak dari video yang viral tentang kamu beberapa minggu lalu. Jujur saja, hal itu membuat citra kampus kita menjadi buruk di mata masyarakat,” ujar sang rektor dengan nada rendah. Ia menghela napas kasar, lalu menatap Arumi lebih dalam, seolah sengaja menekan mental wanita itu.
"Oleh karena hal itu, Setelah kami melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk mempertimbangkan laporan dari berbagai pihak serta dampak yang ditimbulkan terhadap nama baik institusi,” lanjutnya dengan suara datar, “Kami sampai pada satu keputusan.”
Jari Arumi mencengkeram ujung sofa. Dadanya naik turun, seolah udara di ruangan itu mendadak menipis.
“Pihak kampus memutuskan untuk menghentikan status Saudari Arumi Mentari sebagai mahasiswa aktif, terhitung mulai hari ini.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Pendek. Bersih. Tanpa ampun.
Arumi mendongak. Matanya membulat lebar, berkaca-kaca. Ia ingin mengajukan protes, ingin mengatakan sesuatu apa pun. Namun, ingatan tentang skandal yang ia perbuat justru menariknya kembali. Dalam sekejap, kepalanya tertunduk, malu menekan dadanya.
Dunia di sekelilingnya terasa menjauh. Suara sang rektor terdengar samar saat pria itu melanjutkan penjelasan tentang pelanggaran etika, citra kampus, dan keputusan yang katanya “tidak diambil dengan ringan”.
Bagi Arumi, semua itu tak lagi berarti.
Satu kalimat tadi sudah cukup.
Ia resmi dikeluarkan.
...****************...
Arumi keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Wanita itu menangis dalam diam. Dadanya sesak, memikirkan bagaimana dulu ia berjuang keras agar bisa berada di kampus ini.
Sekilas ingatan tentang kehancuran Aulia berputar samar di kepalanya. Tangis wanita itu kembali hadir, membuat Arumi terdiam. Dan pada akhirnya ia menyadari, mungkin inilah karma untuknya, karena telah menghancurkan wanita itu.
Arumi menggeleng cepat, menyangkal pikiran itu.
Dibandingkan semua itu, bukankah justru dirinya yang selalu dihancurkan berkali-kali?
Ya. Kesialan seolah tak pernah lepas darinya.
Niat hati ingin merengkuh sedikit kenikmatan bersama pria yang ia cintai, justru berakhir dengan dirinya dikeluarkan dari kampus idaman. Semua hanya karena masalah itu. Bukankah ini terlalu berlebihan?
Setidaknya, itulah yang Arumi rasakan.
Langkahnya yang pelan membawa tubuhnya ke tepi jalan. Sebelum benar-benar pergi, dengan sebuah map tergenggam di tangannya, Arumi kembali menatap gedung-gedung tinggi yang menjulang di depannya.
Tempat di mana hampir tiga tahun hidupnya ia habiskan.
Tempat ia pernah bermimpi meraih gelar Ilmu Komunikasi. Dan hari ini, semua itu hancur.
Ini bukan lagi tempatnya.
Motor melaju menuju kos lamanya. Arumi berniat mengambil sisa pakaiannya. Namun setibanya di sana, langkahnya terhenti. Barang-barangnya sudah dikeluarkan oleh pemilik kos, diletakkan begitu saja di luar. Pintu kamar terkunci rapat, seolah keberadaannya ikut dihapus.
Hati Arumi mencelos melihat pemandangan itu. Tanpa sadar, tangannya mengepal kuat.
Bukan… bukan seperti ini yang ia inginkan.
Salahkah ia jika hanya ingin meraih kebahagiaannya sendiri?
Sore itu, Arumi kembali ke bandara. Sehari sebelumnya ia memesan tiket pulang-pergi, dan jadwal kepulangannya jatuh hari ini. Wanita itu membawa kerapuhan dalam dirinya, menangisi kehancuran hatinya sepanjang langkah.
Lebih dari satu jam di atas awan, Arumi hanya menatap ke luar jendela. Pikirannya melayang jauh, tak menentu. Hingga akhirnya pesawat mendarat. Ia menyeret kopernya, melangkah keluar dengan tubuh dan hati yang sama-sama lunglai.
Di depan sana, Adrian sudah menunggunya.
Pria itu pulang lebih cepat dari kantor, hanya untuk menjemput istrinya.
"Mas..." langkah Arumi cepat, setelah tubuhnya nyaris dekat dengan pria yang berdiri di hadapannya, wanita itu berlari kecil, menubruk tubuhnya ke delapan sang suami, Arumi melepaskan isak tangis nya dalam dekapan pria itu.
"Mas... aku... aku..." kalimatnya kalah oleh nafasnya yang tersendat dan tubuhnya yang gemetar.
"Hei... sayang, kamu kenapa? ayo masuk dulu ke mobil," ujar Adrian mengusap lembut punggung istrinya, kemudian menuntunnya untuk pergi ke area parkiran dimana mobilnya berada di sana.
Sampai di dalam mobil, Arumi masih belum juga berhenti menangis. sampai mata wanita itu bengkak, dan Adrian membiarkannya sampai Arumi benar-benar berhenti. saat sudah mulai reda, baru pria itu bertanya.
"Kenapa, hmm? kamu boleh cerita sama aku, sayang." ujarnya lembut, selembut tangannya yang mengusap pipi basah wanitanya itu.
"Aku... aku... aku di keluarkan dari kampus, mas..." ujarnya lirih, dan tangisannya kembali pecah saat itu juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian