NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Penuh Berkah

Kucing berwarna hitam kusam itu terus mengekor di belakang Sulastri.

Langkahnya pelan, seolah menjaga anak kecil itu dengan setia hingga mereka memasuki pelataran rumah sederhana milik Abah Kosasih.

Sulastri, gadis kecil berusia lima tahun yang tubuhnya mulai berisi setelah sebulan tinggal di desa, duduk di bale-bale bambu di teras.

Si kucing hitam itu melingkar di dekat kakinya, meringkuk nyaman.

Tanpa ada yang menyadari, bilah-bilah bambu bale-bale yang diduduki Sulastri, yang tadinya kusam dan rapuh dimakan rayap, perlahan mengeluarkan aroma samar seperti bambu segar yang baru ditebang.

Serat-seratnya tampak lebih kokoh, seolah menyerap energi kehidupan dari gadis kecil itu.

Mira Utami, budhe-nya Sulastri, keluar membawa keranjang bekas yang sudah dialasi kain perca dan jerami kering.

"Nduk, Lastri. Coba si Bintang ditaruh sini. Biar dia tahu tempat boboknya nanti," ujar Mira dengan lembut.

Mereka menempatkan si Bintang di sudut gudang belakang yang teduh dan cukup angin.

Saat Sulastri meletakkan si Bintang, induk kucing itu ikut masuk, merebahkan diri, dan mulai menyusui anaknya.

Lik Ipah, tetangga yang mengantar kucing itu, tersenyum haru.

"Lihat tuh, Mbak Mira. Induknya cuma sayang sama yang satu ini. Sekarang dia tenang, anaknya dapat juragan baru yang baik hati."

Naluri keibuan memang bahasa universal, tak peduli manusia atau hewan.

"Lik Ipah, mampir dulu atuh, minum teh anget," tawar Mira ramah.

Lik Ipah mengangguk sopan.

"Iya, Mbak. Sebentar saja ya, keburu dicari Mang Udin."

Sementara itu, Kinar Hidayat, ibu kandung Sulastri, mengelus kepala putrinya.

"Nduk, main di sini yang pinter ya. Ibu mau bantu Budhe di dalam. Kalau ada apa-apa, panggil Ibu, nggih?"

Sulastri mengangguk patuh.

Mata bulatnya tak lepas memandang si Bintang yang sedang menyusu.

Dia menopang dagu dengan kedua tangan mungilnya, menelan ludah saat melihat si Bintang menyedot susu dengan lahap sampai terdengar bunyi cecap yang lucu.

Ingatannya melayang samar.

Rasanya dia ingat rasa susu, manis dan hangat.

Dulu di rumah gedong Ayahnya di kota, susu adalah hal mewah bagi Lastri, tapi tidak bagi kedua kakak sepupunya.

Di ruang tamu, Mang Udin dan Lik Ipah berpamitan pada keluarga Hidayat setelah mengobrol sebentar.

"Dik Kinar," kata Lik Ipah sebelum pulang, "Bahan-bahan buat bangun rumah sudah lengkap semua? Kalau butuh tenaga tambahan, panggil saja Kang Udin atau anak-anak, kami siap roan."

Kinar tersenyum tulus, wajahnya yang dulu sayu kini mulai bercahaya.

"Matur nuwun sanget, Lik. Alhamdulillah, Abah sama Kang Jaka sudah atur semuanya. Doakan lancar ya."

Setelah tamu pulang, Mak Sari, nenek Sulastri, segera menutup pintu depan dan menoleh pada Kang Jaka.

"Jaka, tangkap ayam jago yang di kandang belakang. Potong buat Lastri. Cucuku butuh perbaikan gizi."

Meski Sulastri terlihat sehat, trauma masa lalu membuat keluarga ini protektif.

Ayam jago kampung adalah "obat" paling manjur bagi orang desa.

Mak Sari kemudian mengecek ayam betina pemberian Mang Udin.

"Wah, ayam ini lagi produktif. Jangan dipotong dulu, eman-eman. Biar bertelur buat Lastri makan tiap pagi."

Kang Jaka, paman Sulastri yang humoris, segera beranjak ke belakang.

"Siap, Mak! Laksanakan!"

Mira pun bergegas ke dapur, menyiapkan air panas di atas kompor minyak tanah.

Kinar kembali menengok Sulastri dan tersenyum geli.

Putrinya itu tertidur dalam posisi duduk sambil menopang dagu.

Yang ajaib, meski udara siang itu panas terik, area di sekitar Sulastri terasa sejuk seperti ada AC alam. Nyamuk kebun yang biasanya ganas pun tak ada yang berani mendekat.

Kinar menggendong tubuh mungil itu ke kamar.

Dalam tidurnya, bibir Sulastri bergerak-gerak lucu, seolah sedang mengunyah makanan lezat.

"Mimpi indah ya, Cah Ayu," bisik Kinar.

Di halaman belakang, Kang Jaka sudah selesai menyembelih ayam jago.

"Dik Kinar, lihat nih Mas-mu!" seru Kang Jaka bangga sambil menenteng ayam yang sudah tak bernyawa.

"Bersih, rapi, nggak pakai drama ayam lari keliling kampung!"

Kinar tertawa kecil.

"Iya, Kang Jaka memang jagonya."

Setelah air mendidih, Kang Jaka memanggil istrinya.

"Dik Mira! Sini sebentar! Mas mau pamer ilmu 'Cabut Bulu Sepuluh Hitungan'!"

Mira tersipu malu melihat tingkah suaminya, tapi matanya berbinar jenaka.

"Ah, Mas ini ada-ada saja. Malu dilihat Abah sama Emak."

"Tenang, aman. Lihat ya!" Kang Jaka mencelupkan ayam ke air panas, lalu ke air dingin, dan dengan gerakan tangan super cepat mencabuti bulu-bulu ayam itu.

"Satu... dua... tiga..." Dia menghitung dengan suara lantang yang dibuat-buat.

Tepat di hitungan kesepuluh, ayam itu memang belum bersih total, tapi Kang Jaka dengan gaya sok pamer mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Tadaaa! Gimana? Hebat kan suamimu?"

Mira tertawa renyah, pipinya merona.

"Hebat apanya, itu masih ada bulu halusnya, Mas. Udah ah, Mas lanjutin, aku mau bantu Dik Kinar."

Suasana dapur menjadi hangat.

Aroma bawang putih, jahe, dan lada yang ditumis menguar, menyatu dengan kaldu ayam kampung yang gurih.

Sulastri terbangun karena perutnya keroncongan mencium aroma surga itu.

Dia berjalan tertatih ke dapur, matanya masih sipit khas bangun tidur.

"Ibu... harum banget..."

Kinar sedang menyendok kuah sop yang kuning keemasan.

"Eh, anak Ibu sudah bangun. Sini, Nduk. Makan dulu, ini ada paha ayam montok buat Lastri."

Semangkuk sop ayam dengan nasi hangat tersaji.

Uapnya mengepul menggoda.

Sulastri menyendok kuah itu, tapi bukannya memakannya, dia menyodorkannya ke mulut ibunya.

"Ibu, aaaa..."

Kinar menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca.

"Nggak usah, Nduk. Ibu nggak pengen. Ini semua buat Lastri biar sehat."

Sulastri cemberut, sendoknya tak ditarik.

"Kalau Ibu nggak makan, Lastri juga nggak mau. Lastri mau semua makan. Lastri mau panggil Abah Kung, Mbah Uti, Pakdhe, sama Budhe."

Kinar tertegun.

Di rumah keluarga Wibowo dulu, Sulastri diajarkan bahwa dia tidak berharga.

Tapi lihatlah hatinya sekarang, begitu luas.

"Iya, iya... Ibu makan," Kinar menyerah bahagia.

Sulastri melompat turun dari kursi kayu, berlari kecil memanggil seluruh anggota keluarga.

"Mbah! Pakdhe! Budhe! Ayo makan! Sop ayamnya enak banget!"

Mak Sari yang sedang melipat baju di kamar mengusap sudut matanya yang basah.

"Anak sekecil itu... Gusti Allah memang Maha Adil."

Akhirnya, di dapur sederhana beralaskan tanah liat yang dipadatkan itu, mereka semua duduk melingkar.

Abah Kosasih berkata tegas namun hangat, "Sudah, jangan ada yang nolak. Rezeki Lastri, kita nikmati bareng-bareng."

Sulastri menyeruput kuah sop itu dengan bunyi slurp yang nyaring.

Wajahnya berseri-seri.

"Ini sop ayam paling enak sedunia!" serunya polos.

Tanpa mereka sadari, sisa-sisa sayuran layu di pojok dapur mendadak tampak segar kembali, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang memancar dari tawa Sulastri.

"Ini juga sop ayam paling enak yang pernah Abah makan," sahut Abah Kosasih sambil mengunyah daging ayam yang alot-alot sedap.

Mak Sari tak mau kalah, "Mbah Uti juga baru sekali ini ngerasain sop seger begini. Pinter ya cucu Mbah."

Kang Jaka tersedak pelan menahan tawa melihat kedua orang tuanya saling bersaing memuji cucu.

"Pakdhe juga! Wah, rasanya kayak makan di restoran mahal di Jakarta!"

Sulastri tertawa hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.

Dia merasa sangat penuh.

Bukan hanya perutnya, tapi juga hatinya.

Beberapa hari berikutnya hujan turun rintik-rintik, membuat udara desa menjadi lembap.

Namun, tepat pada tanggal 23 Juni, hari yang ditentukan untuk buka dasar rumah baru Kinar, langit mendadak cerah luar biasa.

Matahari pagi bersinar hangat, mengeringkan tanah becek dengan cepat.

Keluarga besar Hidayat sudah sibuk sejak subuh.

Para tetangga dan kerabat berdatangan membawa beras, gula, dan tenaga.

Tradisi sambatan masih sangat kental di desa ini.

Sulastri didandani cantik oleh Budhe Mira.

Rambutnya diikat dua dengan pita merah, membuatnya tampak menggemaskan.

Di lokasi tanah kosong sebelah rumah Abah, Pak RT, yang merangkap sesepuh desa, sudah bersiap memimpin doa.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu," suara Pak RT berwibawa, "Hari ini cuaca cerah, pertanda alam merestui. Neng Kinar Hidayat mau bangun rumah, mandiri bersama anaknya. Semoga cangkulan pertama membawa rezeki, cangkulan kedua membawa kesehatan, dan rumah ini jadi baiti jannati."

"Aamiin!" seru warga serempak.

Suara petasan renteng meledak: Pretek-pretek-pretek-dor!

Kinar memegang cangkul dengan tangan gemetar karena haru.

Sulastri berdiri di sampingnya, memegang cangkul mainan kecil.

Saat Kinar mengayunkan cangkul ke tanah, keajaiban tipis terjadi.

Tanah yang biasanya keras dan berbatu di musim kemarau itu terasa lunak seperti memotong mentega.

Aroma tanah basah yang wangi, petrichor, menguar kuat, padahal tanah itu kering di permukaan. Di tempat mata cangkul Sulastri menyentuh tanah, rumput liar kecil mendadak tumbuh subur dalam hitungan detik, hijau royo-royo, meski tak ada yang memperhatikan detail itu di tengah keramaian.

Kinar menangis bahagia.

Ini bukan sekadar rumah, ini benteng pertahanannya.

Setelah doa, Kinar mengambil baskom berisi uang receh logam, beras kuning dan bunga.

"Saweraaan!" teriak anak-anak desa yang sudah menunggu.

Kinar melemparkan uang-uang itu ke udara.

Suasana riuh rendah penuh tawa saat warga berebut "uang berkah".

Konon, uang yang didapat dari saweran rumah baru akan membawa hoki jika disimpan.

Sementara para lelaki mulai menggali pondasi, Sulastri berjalan-jalan di sekitar area proyek.

"Ih, cantik banget ya. Kayak boneka di toko kota," celetuk seorang anak perempuan berusia enam tahun yang sedang bermain karet gelang.

Sulastri menoleh, tersipu malu.

"Makasih, Kakak juga cantik."

"Namaku Tri. Kamu mau main bekel nggak sama kami?" tawar gadis itu.

Mata Sulastri berbinar.

"Mau! Tapi aku izin Ibu dulu ya."

Sulastri berlari kecil ke arah Kinar.

"Ibu, Lastri boleh main sama Kak Tri?"

Kinar mengangguk, hatinya lega melihat anaknya mulai punya teman.

"Boleh sayang, hati-hati ya."

Saat Kinar sedang mengobrol dengan ibu-ibu tetangga yang membantu di dapur umum dadakan, tiba-tiba terdengar suara, "Huek..."

Semua menoleh.

Mira, yang sedang memotong tempe, menutup mulutnya dan berlari ke belakang pohon pisang.

"Huek... huek..."

Kinar panik dan menyusul.

"Mbak Mira! Masuk angin ya?"

Mira menyeka mulutnya, wajahnya pucat tapi bingung.

"Nggak tahu Dik, rasanya mual banget nyium bau bumbu mentah."

Seorang ibu tetangga yang sudah sepuh tersenyum penuh arti.

"Walah, Nduk Mira. Jangan-jangan isi itu. Tanda-tandanya persis orang nyidam."

Mira terbelalak.

Dia memegang perutnya yang masih rata.

Kebetulan, Mantri Desa yang diundang makan siang ada di situ.

Dia segera memeriksa denyut nadi Mira.

Suasana hening sejenak.

Pak Mantri tersenyum lebar.

"Selamat ya, Pak Jaka, Bu Mira. Ini denyut nadinya kuat. Sudah jalan satu bulan sepertinya."

"Alhamdulillah!" seru Kang Jaka yang baru datang membawa batu bata.

Dia langsung menjatuhkan batunya dan berlari memeluk istrinya, tak peduli ditertawakan warga.

"Ya Allah, Gusti..." Mak Sari sujud syukur di atas tiker.

Hari itu benar-benar hari penuh berkah.

Rumah baru mulai dibangun, dan nyawa baru mulai tumbuh di rahim Mira.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!