NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Malam yang Tak Terkendali II

​Fajar mulai menyingsing, menyinari kamar yang remang-remang itu. Ling’er perlahan terbangun dari tidurnya yang tidak tenang.

Namun, hal pertama yang ia rasakan bukanlah kesegaran, melainkan sensasi terbakar yang menjalar dari dadanya ke seluruh saraf tubuhnya.

Ia merasakan tekanan hangat, ritmis, dan penuh tenaga yang meremas bagian sensitifnya tanpa henti.

​Mata besar Ling’er terbuka lebar. Ia melihat tangan besar Jian Yi yang kasar masih terkunci erat di balik jubah tidurnya, bergerak dengan insting yang seolah-olah sedang menempa logam di atas paron.

​"J-Jian Yi..." desis Ling’er.

​Anehnya, kemarahan yang biasanya meledak-ledak tidak muncul.

Efek dari Kristal Api Langit ternyata melipatgandakan sensasi fisik pada raganya.

Aliran energi panas di dalam tubuhnya kini bercampur dengan gejolak gairah yang primitif.

Bukannya menendang Jian Yi keluar dari ranjang, Ling’er justru merasa tubuhnya lemas dan memanas.

Nafasnya pendek-pendek, dan pipi bakpaonya memerah padam bukan karena marah, melainkan karena hasrat yang memuncak.

​Ling’er berbalik arah dengan sisa-sisa tenaganya, kini ia berhadapan langsung dengan wajah Jian Yi yang masih terpejam dengan aroma arak yang kuat.

​"Kau... kau yang memulainya, Dasar Pendekar Cabul!" bisik Ling’er dengan suara serak yang penuh gairah.

​Kehilangan kendali atas raga manusianya yang masih baru, Ling’er menerjang.

Ia mencium bibir Jian Yi dengan kasar dan menuntut, sebuah ciuman yang tidak berpengalaman namun penuh dengan energi api yang membara.

Tangannya yang kecil mulai menggeledah tubuh Jian Yi, menarik jubah hitam pria itu hingga terbuka, meraba otot-otot dada dan perut Jian Yi yang keras.

Ling'er benar-benar sudah berada di puncak keinginannya; raga pusakanya menuntut penyatuan yang lebih dalam dengan sang tuan.

​"Jian Yi... bangun... tanggung jawab..." rintih Ling’er sambil menggigit kecil leher Jian Yi, tangannya sudah mulai turun menuju ikat pinggang pria itu.

​Suasana di kamar itu menjadi sangat panas, jauh lebih panas dari lava di Gunung Merapi.

Ling’er sudah bersiap untuk menyerahkan segalanya, memposisikan dirinya di atas tubuh Jian Yi dengan mata yang berkabut oleh nafsu.

​Namun, tepat saat Ling’er hendak melepaskan rintangan terakhir di antara mereka...

​SNORRRRRRRKKKK!

​Jian Yi tiba-tiba mengeluarkan dengkuran yang sangat keras.

Kepalanya terkulai ke samping, tangannya yang tadi meremas tiba-tiba lemas dan jatuh ke kasur.

Wajahnya tampak sangat damai, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas berat dan sekarang sedang bermimpi makan paha ayam bersama Lu Feng.

​Efek arak sampah semalam akhirnya mencapai puncaknya—Jian Yi pingsan karena kelelahan dan mabuk berat tepat di saat yang paling krusial.

​Ling’er terdiam membeku di atas tubuh Jian Yi. Tangannya masih memegang kerah baju Jian Yi, nafasnya masih memburu, dan tubuhnya masih gemetar karena gairah yang belum tuntas.

Keheningan yang tiba-tiba itu terasa seperti disiram air es di tengah padang pasir.

​"Jian... Yi?" Ling’er mengguncang bahu pria itu. "Bangun! Oi! Kau tidak bisa berhenti sekarang!"

​Zzzzz... bakpao... enak... igau Jian Yi sambil tersenyum bodoh dalam tidurnya.

​"JIAN YIIIIIIIIIIIIIIIIII!"

​Ling’er berteriak frustrasi hingga seisi penginapan bergetar.

Ia menjambak rambutnya sendiri, wajahnya merah padam karena menahan malu dan rasa "tidak puas" yang menyiksa.

Ia merasa seperti pedang yang sudah dipanaskan di dalam tungku hingga membara, namun batal ditempa dan dibiarkan mendingin begitu saja di atas lantai.

​"Sialan! Brengsek! Pendekar tidak berguna!" Ling’er memukul-mukul dada Jian Yi dengan kepalan tangan kecilnya, namun pria itu hanya membalas dengan dengkuran yang lebih keras.

​Akhirnya, Ling’er turun dari tubuh Jian Yi dengan langkah menghentak-hentak.

Ia menyiram wajahnya sendiri dengan air dingin di baskom sudut ruangan sambil terus menggerutu tentang betapa payahnya tuannya itu.

Malam yang seharusnya menjadi malam "penyatuan" yang legendaris, berakhir dengan seorang Grand Master yang tidur seperti kerbau dan sebilah pusaka imut yang stres karena tidak jadi "digunakan".

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!