Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke mall bersama penguasa
Sasana ruang tamu terasa menegangkan, tiga orang duduk di sana dengan udara yang mencengkeram. Cassandra duduk di sofa tunggal, sementara wanita dan pria paruh baya duduk berdampingan di sofa panjang, menatapnya tajam.
"Tujuan kamu ke sini sebenarnya untuk apa?" tanya pria paruh baya yaitu Adrian, ayah Georgio. sementara istrinya, Sonia, duduk kaku disampingnya.
"Sebenarnya saya tidak ingin ke sini. Tidak ada untungnya juga," jawab Cassandra dengan nada sombong, membuat Adrian dan Sonia mengeram menahan amarah. "Tapi saya sedikit kasihan dengan Annabella. Dia hampir gila mencari Jordan. Jangan sampai dia masuk rumah sakit jiwa untuk kedua kalinya." Cassandra tersenyum miring.
"Itu bukan urusan kita. Annabella tidak ada hubungannya dengan Jordan. Mereka akan bercerai," sahut Adrian. Cassandra menaikkan satu alisnya.
"Kalian yakin? Saya rasa itu tidak akan terjadi."
Adrian dan Sonia saling pandang. Sonia kembali menatap Cassandra, kali ini suaranya lebih lembut namun jelas mengandung tekanan.
"Saya tidak tau tujuan kamu ke sini."
Cassandra tersenyum tipis. Tujuan saya itu anda, batinnya.
"Tapi saya minta tolong," lanjut Sonia, menahan gengsinya. "Bantu Jordan. Dia benar-benar tidak ingin bertemu siapa pun karena masalah ini."
Cassandra menaikkan alis, merasa menang karena seorang Sonia sampai memohon padanya.
"Saya bisa saja menolong Jordan. Mudah bagi saya membujuk Gio. Tapi…" Cassandra sengaja mengulur, membuat keduanya penasaran.
"Tapi apa?" tanya Adrian penasaran.
"Gio meminta Jordan sendiri yang harus datang padanya. Memohon pertolongan. Kalau bisa berlutut, Gimana? Bisa?"
Sonia sontak berdiri, menatap Cassandra tajam. "Kalian sengaja mau menghancurkan harga diri anak saya?"
Cassandra mendongak, tersenyum mengejek. "Dia masih punya harga diri?"
Ucapan itu memancing emosi Sonia. Saat tangan Sonia hendak terangkat menampar, Adrian cepat menahannya.
"Jangan! Kalau kamu menyakiti anak Edward, kita yang akan kena masalah."
Cassandra tersenyum puas. ternyata nama ayahnya masih cukup ditakuti.
"Tapi dia keterlaluan!" geram Sonia.
"Sudah! Duduk!" tegas Adrian, dan Sonia menurut, meski wajahnya masih merah menahan emosi.
Cassandra diam, mengangkat alis menunggu keputusan mereka.
"Baiklah," akhirnya Adrian bersuara. "Saya akan bujuk Jordan untuk datang menghadap Gio."
Sonia menatap suaminya dengan tidak percaya. "Tidak bisa gitu! Tujuan mereka jelas ingin menjatuhkan Jordan! Kamu terima anak kita direndahkan?!"
Cassandra menutup salah satu telinga dengan jari, malas mendengar suara Sonia yang melengking. Kata-kata terakhir Sonia itu bahkan membuat perutnya mual.
"Tidak ada jalan lain, Sonia! Kamu mau anak kamu selamanya berdiam diri di tempat terpencil itu?" bentak Adrian.
Sonia terdiam. Tentu ia tidak mau itu terjadi. Sejak kehancuran perusahaan, Jordan bersembunyi di pinggir kota.
"Baiklah. Saya setuju. Tapi kami bisa pegang ucapan kamu?"
Cassandra mengangguk sambil tersenyum kemenangan. "Tentu. Kalau begitu, ditunggu Jordan di Cassano Grup." Ia berdiri, lalu pergi tanpa basa basi.
Adrian menghela napas panjang, sementara Sonia menatap punggung Cassandra dengan kebencian membara. Lihat saja. Aku akan membalas penghinaan ini.
★★★
Cassandra masuk ke ruangan Georgio. Pria itu berdiri tegap di depan kaca besar, menatap hamparan kota yang sibuk. Cassandra menghampirinya dan berdiri di sampingnya. Georgio sudah tahu kedatangannya sejak tadi, siapa lagi yang berani masuk tanpa mengetuk selain istrinya sendiri?
"Mereka bilang apa?" tanya Georgio, memalingkan wajah menatap Cassandra.
"Mereka setuju. Aku yakin cepat atau lambat Jordan akan datang ke sini." Georgio mengangguk pelan.
Mereka terdiam, larut menatap kota. Setelah beberapa detik, Cassandra mulai bicara lagi.
"Olivia ingin ngajak aku ke mall, boleh ti—"
"Tidak." Bahkan sebelum Cassandra menyelesaikan kalimat, Georgio langsung memotong.
Cassandra berkedip, bengong. "Cuma ke mall, tidak ke mana-mana."
Georgio memasukkan tangan ke sakunya, melangkah mendekat sampai wajahnya hanya sejengkal dari Cassandra. Tatapannya seakan ingin menenggelamkan Cassandra kedalam lautan.
"Kamu mau main-main lagi?"
Cassandra buru-buru menggeleng. "Tidak. Waktu itu Olivia galau diselingkuhin, makanya kita ke club."
"Intinya tetap tidak boleh," tegas Georgio. "Teman kamu itu membawa dampak buruk."
Cassandra mendengus pelan, melipat tangan di depan dada. "Padahal cuma sebentar."
Georgio menurunkan tatapannya ke wajah istrinya. "Aku tidak mau kamu dibawa-bawa Olivia untuk hal-hal yang tidak jelas lagi."
Cassandra merengut kecil. "Aku cuma mau jalan-jalan. Masa begitu aja dilarang?"
Georgio mendekat lagi, satu tangannya terangkat, menyentuh dagu Cassandra dan mengarahkannya agar menatapnya. Sikapnya lembut tapi menekan.
"Kalau kamu mau pergi," lanjut Georgio, suaranya rendah, "aku ikut."
Cassandra tercengang. "Hah? Kamu ikut? Ke mall? Sama Olivia?"
"Kalau tidak begitu, kamu tidak boleh pergi." Ucapnya dan kembali menatap hamparan kota.
Cassandra memandang Georgio lama, antara kesal, geli, dan banyak lagi ekspresi yang tidak bisa dijabarkan.
Setelah beberapa saat, ia mendecak. "Terserah kamu."
Georgio tersenyum tipis. "Bagus."
"Yaudah, kalau gitu ayo kita jemput Olivia."ucap Cassandra, dan tanpa aba-aba menarik lengan Georgio keluar ruangan.
★★★
Olivia sudah menunggu di depan apartemennya ketika mobil hitam Georgio berhenti. Begitu pintu terbuka dan Cassandra turun, Olivia langsung melambai ceria, hingga langkahnya mendadak membeku saat melihat siapa yang turun dari sisi pengemudi.
"Astaga!" Olivia menutup mulutnya. "Kenapa bawa singa buas itu?!"
Georgio mengangkat satu alis. Cassandra menyikut pelan sahabatnya itu. "Sudahlah. Dia maksa ikut."
"Ikut? Ke mall? Sama kita?" Olivia menunjuk dirinya sendiri, lalu berpaling ke Cassandra. "Are you serious?"
Cassandra hanya menghela napas dan meraih tangan Olivia. "Daripada dia ngelarang kita pergi, mending dia ikut. Terima nasib aja."
Georgio berjalan melewati mereka berdua, ekspresinya datar tapi mengandung aura mencengkram yang membuat Olivia refleks menghindar setengah langkah. "Kalau sudah selesai dramanya, ayo masuk," ujarnya tenang namun tegas.
Olivia menatap Cassandra sambil berbisik, “Dia ikut terus nanti aku tidak bisa gibah bebas dong.”
"Ya makanya jangan gibah," sahut Cassandra enteng.
Mereka pun pergi ke mall. Mobil melaju mulus, namun suasana di dalam mobil terasa unik. Cassandra melihat pemandangan di kaca, Olivia memainkan ponselnya gelisah, sedangkan Georgio menyetir dengan tatapan fokus namun sesekali melirik Cassandra seolah memastikan istrinya tidak akan kabur ke tempat mencurigakan.
Begitu tiba, Cassandra menggandeng Olivia, berjalan sedikit di depan. Georgio mengikuti di belakang mereka seperti bodyguard pribadi.
"Auranya dingin banget," gumam Olivia.
"Dia memang begitu," jawab Cassandra sambil membenarkan rambutnya.
Saat mereka memasuki mall, Cassandra berhenti tepat di tengah atrium besar. Ia menengadah ke lampu gantung yang berkilau. Diam sejenak.
Georgio, yang memperhatikan sejak tadi, mendekat. "Kenapa diam?"
Cassandra menunduk, tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, dulu mama sering ajak aku kesini. Buat ngabisin uang aku saja."
Georgio menatap Cassandra lama, tatapannya berubah menjadi lebih hangat meski tetap keras. Tanpa banyak kata, ia meraih tangan Cassandra. Genggamannya mantap.
"Jangan memikirkan orang yang tidak memikirkan kamu." ucapnya singkat.
Cassandra terdiam, sorot matanya melembut tanpa ia sadari.
Olivia memutar mata. "Romantis banget, ya Tuhan! Mau belanja atau mau shooting drama Korea?"
Georgio menatap Olivia datar. "Mau komentar, pulang."
Olivia langsung mingkem.
Cassandra terkekeh, lalu menarik tangan Georgio. "Ayo. Kita ke toko sepatu dulu."
Di toko sepatu, Cassandra mencoba beberapa model. Olivia sibuk memilih yang paling mahal. Georgio duduk di sofa khusus pelanggan, tapi tatapannya tak lepas dari Cassandra satu detik pun.
"Aduh San, yang ini cantik banget!" seru Olivia, mengangkat high heels merah.
Cassandra melirik, tapi tiba-tiba Georgio berdiri dan mengambil sepatu lain. Ia berlutut di depan Cassandra, tanpa memedulikan beberapa pengunjung yang melongo melihat pria setampan itu berlutut di lantai.
"Yang ini lebih cocok buat kamu," ucapnya sambil menyelipkan sepatu itu ke kaki Cassandra.
Cassandra terpaku.
Olivia menutup mulut, terharu dan iri sekaligus. "Aku belum lama jomblo, sumpah ini menyakitkan."
Georgio menatap kaki Cassandra, lalu menengadah. "Kamu suka?"
Cassandra mengenggam ujung rok. "Suka!"
Georgio tersenyum tipis, lalu berdiri.
"Kalau kamu suka, ambil. Kalau kamu mau dua, ambil. Kalau mau semuanya, am-"
"Aku tidak serakah." Cassandra memotong, suaranya pelan.
Georgio berdiri, mendekatkan wajah. "Aku tau. Tapi kamu boleh bahagia tanpa harus sungkan."
Cassandra menunduk lagi. Ada sesuatu yang hangat menekan dadanya.
Kalimat itu sederhana, tapi menembus jauh. Tidak semua orang datang untuk menjatuhkan. Kadang, seseorang datang untuk mengangkatmu tanpa kamu sadari.
Olivia berdiri di antara keduanya. "Oke! Sebelum aku trauma liat kemesraan kalian, kita lanjut belanja!"
Cassandra tertawa kecil dan melanjutkan rutinitas belanjanya. Sementara Georgio kembali mengikuti langkah mereka.