Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Tidak lama lagi akan memasuki bulan puasa. Nafis dan keluarga sedang perjalan menuju ke Tuban untuk menjemput Azizah sekaligus menghadiri undangan Haflah Muwadda'ah Akhirissanah pondok pesantren tempat Zizah menimba ilmu. Besok saat acara berlangsung juga ada beberapa kakak senior Zizah yang menjalani wisudah khotmil Qur'an Bil Ghaib, atau sudah merampungkan hafalan 30 jus Al-Qur'an. Untuk Zizah mungkin masih tahun depan untuk mencapai tahap itu.
Nafis dan rombongan sengaja berangkat hari ini karena jauhnya perjalanan yang mereka tempuh. Sesuai rencana mereka akan menginap semalam di hotel baru paginya meluncur ke pesantren azizah.
Kali ini Nafis mengajak orang tuanya, serta pengasuh Naufal dan juga mbak Nur. Sebenarnya ke dua kakaknya ingin ikut, akan tetapi Eka berhalangan karena bersamaan dengan keluar Nadia ada yang memiliki hajat menikahkan anaknya. Sementara Angga akan menyusul besok dengan menaiki pesawat. Hari ini Angga masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan di tempat kerjanya.
Nanti Wahyu dan keluarga juga akan menyusul dari Jember. Nafis senang setelah hampir 6 tahun Zizah di pondok dia bisa membawa keluarganya saat acara besar pondok begini. Biasa keluarga Hanafilah yang ikut serta.
" Nduk gimana persiapan buat umroh besok ?" celetuk pak Jatmiko usai mereka istirahat untuk makan siang.
" Sudah aman semua pak, kita hanya tinggal packing dan berangkat saja. Semua surat menyurat juga sudah selesai."
" Syukurlah, apa mbak Mirna dan budhe Nur jadi ikut bun ?"
" Jadi dong, suka tidak ?'
" Suka banget bun " Nafis tersenyum melihat putranya begitu bahagia.
" Terima kasih banyak ya bu, Nur jadi bisa merasakan nikmatnya umroh."
" Sama-sama mbak Nur "
" Saya juga tidak menyangka ibu akan mengajak saya juga ?" Ucap kang Tejo.
" Kang tejo, mbak Nur dan mbak Arum adalah orang-orang yang dengan setia menemani saya saat masa-masa sulit itu. Apa yang saya beri sekarang tentu tidak ada apa-apanya dengan yang kalian beri selama ini "
" Saya sebagai ibunya Nafis sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah menemani Nafis di masa-masa terpuruknya. Kalianlah yang paham situasinya waktu itu, sayang kalian terlalu nurut kepada Nafis, sampai kamu Tejo diam saja tidak cerita ke kami. Padahal bapak kirim kamu kesana kan buat melindungi Nafis dan segera laporan kalau Nafis kenapa-napa." Nafis terkekeh, sementara kang Tejo hanya bisa terdiam merasa bersalah terhadap orang tua Nafis.
" Jangan salahin kang Tejo buk, Nafis yang minta. Lagian sudah berlalu kan buk. Jangan di bahas lagi ya nanti malah bikin sakit hati " Ucapnya sembari memeluk ibunya.
Perjalan di lanjutkan, Nafis sengaja membeli sebuah mobil yang berukuran lumayan besar utuk mobilitas dirinya dan keluarga. Terlebih setelah di modifikasi sedemikian rupa. Mobil yang bisa muat 10 orang itu semakin nyaman saja.
Perjalanan kali ini Nafis juga membawa kang maman agar bisa bergatian dengan kang Tejo jika capek nanti. Karena besok mereka keluar dari pondok juga biasanya agak malam. Menunggu acara selesai terlebih dahulu.
Nafis patut bersyukur, kariernya di beri kelancaran. Novelnya yang di adaptasi menjadi Film juga sudah mulai proses syuting. Dia juga di dapuk untuk menulis skenarionya. Karena sang sutradara ingin filmnya ini tidak menyimpang dari cerita aslinya di novel.
Nafis menjadi semakin sibuk saja. Kiprahnya dalam dunia psikologi semakin di kenal khalayak umum. Pasiennya mulai beragam. Bahkan banyak pula dari kalangan pejabat yang datang untuk berkonsultasi kepadanya.
Dan itu membuat waktu Nafis bersama putranya sedikit berkurang. Beruntung Naufal memahami bentul kesibukan bundanya. Karena sedari kecil sudah terbiasa melihat ibundanya sibuk dengan berbagai kegiatan.
Butiknya juga sangat ramai terlebih menjelang puasa begini. Bahkan satu bulan lalu dia kembali membuka satu butik lagi di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.
Dan jika tidak ada aral melintang. Awal puasa ini akan dia jalani bersama keluarga dan orang terdekatnya dengan menjalani ibadah umroh. Ini Azamnya, jika proses perceraian dengan Hanafi lancar dia akan menjalankan ibadah umroh bersama keluarga da orang terdekatnya.
Sayang Santi sang asisten tidak bisa ikut karena dia harus menjaga ayahnya yang sedang sakit. Santi tidak tega meninggalkan ayahnya yang sudah dua tahun ini terserang strok. Kalau hanya semalam dua malam dia masih bisa menitipkan ayahnya kepada kakak tertuanya. Tapi perjalanan umroh Nafis kali ini lebih dari 10 hari. Itu yang membuat Santi memilih tidak ikut dengan atasannya itu. Nafis pun tidak bisa memaksa. Dia mengalihkan uang yang seharusnya untuk biaya umroh Santi menjadi bonus untuk Santi. Nafis berharap itu bisa membantu Santi untuk biaya berobat ayahnya Santi.
Mereka tiba di hotel yang tidak jauh dari pesantren Zizah tepat saat adzan isyak berkumandang. Nafis satu kamar dengan Naufal dan besok malam mungkin akan dengan Azizah juga. Lalu pak Jatmiko dengan bu Ningsih, mbak Nur dengan mbak Erna dan kang Tejo dengan kang Maman. Nafis memesan satu kamar lagi untuk Wahyu dan keluarga yang masih dalam perjalanan.
" Ibu dan bapak lekas istrirahat njeh, Nafis mau menunggu mbak Wahyu dulu. Mungkin sebentar lagi sampai."
" Iya nduk, nanti kalau mbak mu sampai kabari ibu ya " Nafis menganguk.
" Ini kunci kamar kang Tejo sam Kang Maman. Langsung istirahat saja kang. Saya nggak ada rencana keluar kok malam ini "
" Baik bu "
" Mbak Nur sama Mirna juga lekas istirahat ya."
" Saya gantiin bajunya adik dulu ya bu, biasnya adik susah tidur kalau nggak mandi dulu bu " Nafis mengangguk.
" Di kamar saya saja mbak Mir " Mirna menganguk lalu, segera membawa Naufal masuk kekamar Nafis dengan di bantu mbak Nur membawa koper milik Nafis.
Sementara Nafis memilih kembali ke lobby untuk menunggu kakak sepupunya datang. Tak lupa dia mengabari Eka kakak pertamanya jika mereka sudah sampai. Kalau Angga sudah chat dia tadi jika kakak keduanya itu kemungkinan baru tiba tengah malam nanti dan memilih menginap di Surabaya baru lanjut ke Tuban.
Selang tak lama Wahyu datang. Bersama Andi dan putri mereka yang 2 tahun lebih tua dari Azizah.
" Sampai jam berapa kalian dek ?" Ucap Wahyu usai saling berucap salam.
" Baru 20 menit yang lalu mbak. Langsung ke kamar kalian aja ya mbak" Wahyu menganguk.
" Nggak mau tambah satu kamar mbak ?"
" Nggak dek, kasian sania kalau tidur sendirian. Kalau di rumah mah udah biasa." Nafis tersenyum
" Ya udah nambah kamarnya besok aja ya kak, biar bisa sekamar sama dek Zizah ?" Ucap Nafis sembari memeluk keponakannya itu.
" Iya tante, seru kayaknya kalau kita sekamar."
" Iya kak tapi, adiknya agak pemalu maklum ya "
" Iya tante "
" Mbak ke kamar ibu dulu ya. Soalnya ibu pesen begitu tadi."
" Menang om Jatmiko sama tante belum istirahat dek, takuknya malah menganggu istirahat beliau"
" Insya Allah nggak mas, ibu pesennya begitu soalnya "
" Ya sudah hayo, nanti biar kamu bisa cepat istrirahat." Nafis mengangguk.
jodohkan bunda nafis dan farid ya author yg baik 😑
masih sj jd laki2 model robot setelan pabrik hanafi..😁
bu suuusiiiii ada orang tak berguna tenggelamkan bu...biar jd santapan iwak teri