Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan dan Rintangan
Setelah pulang sekolah, Sekar Arum langsung menuju rumah Mas Indra untuk latihan. Ia sudah tidak sabar untuk berlatih dan memperbaiki penampilannya. Ia ingin menunjukkan kepada Mas Indra bahwa ia sudah siap untuk tampil di depan umum.
Sesampainya di rumah Mas Indra, Sekar Arum melihat Mas Indra sedang menunggu di depan rumah. Mas Indra tersenyum ketika melihat Sekar Arum datang.
"Wah, semangat banget kayaknya hari ini," kata Mas Indra, mengamati Sekar Arum dengan tatapan menyelidik.
"Iya, Mas. Soalnya tadi aku udah dapat izin dari Bu Rina," jawab Sekar Arum, senang.
"Wah, selamat ya! Itu berarti kamu harus berlatih lebih keras lagi," kata Mas Indra, memberikan semangat.
"Siap, Mas!" jawab Sekar Arum dengan tegas.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah Mas Indra dan mulai dengan pemanasan vokal. Mas Indra memberikan beberapa latihan pernapasan dan teknik vokal dasar untuk memastikan Sekar Arum tidak kehilangan suaranya saat tampil nanti.
"Ingat, Kar, yang paling penting itu percaya diri. Jangan takut salah, jangan takut grogi. Anggap aja kamu lagi nyanyi di depan kaca," pesan Mas Indra.
Sekar Arum mengangguk, meskipun dalam hatinya masih ada sedikit keraguan. Ia berusaha menenangkan diri dan fokus pada latihan.
Mas Indra memulai musik. Kali ini, lagu yang mereka bawakan adalah lagu yang lebih riang dan bersemangat. Sekar Arum berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tempo dan irama lagu.
Awalnya, ia masih merasa kaku dan tidak percaya diri. Namun, semakin lama, ia semakin terhanyut dalam lagu. Ia melupakan semua keraguan dan ketakutannya. Ia hanya fokus pada musik dan suaranya.
Mas Indra tersenyum puas melihat kemajuan Sekar Arum. Ia tahu, gadis ini punya potensi yang sangat besar. Ia hanya perlu sedikit dorongan dan kepercayaan diri untuk bisa bersinar.
Setelah beberapa jam berlatih, mereka berdua beristirahat sejenak. Mas Indra menawarkan minuman dingin dan cemilan untuk mengembalikan energi mereka.
"Gimana, Kar? Udah mulai percaya diri?" tanya Mas Indra, mengamati Sekar Arum dengan tatapan lembut.
Sekar Arum mengangguk dan tersenyum. "Lumayan, Mas. Tapi aku masih takut kalau nanti pas tampil malah grogi," jawabnya jujur.
"Grogi itu wajar, Kar. Semua penyanyi juga pasti pernah merasakan grogi. Tapi, kamu jangan sampai kalah sama grogi. Kamu harus lawan rasa takutmu dan tunjukkan kemampuan terbaikmu," kata Mas Indra, memberikan semangat.
Sekar Arum merasa termotivasi oleh kata-kata Mas Indra. Ia bertekad untuk melawan rasa takutnya dan memberikan penampilan yang terbaik.
"Siap, Mas! Aku pasti bisa!" ujarnya dengan penuh keyakinan
Mas Indra tersenyum lebar. Ia bangga melihat perubahan pada diri Sekar Arum. Ia yakin, gadis ini akan sukses menjadi penyanyi campursari yang hebat, asalkan ia terus berlatih dan tidak pernah menyerah pada mimpinya.
"Nah, sekarang coba kita latihan lagi dari awal. Kali ini, coba kamu bayangkan kalau kamu sudah ada di atas panggung, di depan banyak orang. Rasakan sorot lampu dan dengarkan tepuk tangan mereka. Jadikan itu sebagai motivasi untuk memberikan yang terbaik," kata Mas Indra, memberikan arahan.
Sekar Arum mengangguk dan memfokuskan diri. Ia menutup mata sejenak dan membayangkan dirinya berada di atas panggung. Ia merasakan getaran dari musik dan energi dari penonton. Ia membuka mata dan tersenyum.
"Siap, Mas!" ujarnya dengan semangat membara.
Mas Indra memulai musik. Sekar Arum mulai menyanyi dengan penuh penghayatan. Suaranya terdengar jernih dan lantang, mengisi seluruh ruangan. Ia bergerak dengan anggun dan percaya diri, menghibur para penonton yang ada di dalam imajinasinya.
Mas Indra terpukau dengan penampilan Sekar Arum. Ia tidak menyangka gadis ini bisa berkembang secepat ini. Ia merasa bangga telah menjadi bagian dari perjalanan Sekar Arum menuju kesuksesan.
Latihan itu berlangsung hingga sore hari. Sekar Arum merasa lelah, namun juga bahagia. Ia tahu, ia sudah semakin siap untuk menghadapi penampilan perdananya.
Setelah selesai latihan, Mas Indra mengantar Sekar Arum hingga depan rumahnya.
"Makasih ya, Mas, buat latihannya hari ini. Aku jadi lebih percaya diri," kata Sekar Arum, tulus.
"Sama-sama, Kar. Ingat, yang paling penting itu tetap rendah hati dan terus belajar. Jangan pernah merasa puas dengan apa yang sudah kamu capai," pesan Mas Indra.
Sekar Arum mengangguk. "Pasti, Mas. Aku nggak akan lupa," jawabnya.
Mas Indra tersenyum dan mengacak-acak rambut Sekar Arum dengan lembut. "Ya sudah, sana masuk. Istirahat yang cukup biar besok bisa latihan lagi," katanya.
Sekar Arum berpamitan kepada Mas Indra dan masuk ke dalam rumah dengan hati riang. Ia tidak sabar untuk menceritakan semua pengalamannya hari ini kepada keluarganya.
Namun, saat ia membuka pintu, ia terkejut melihat Bapak dan Ibunya sedang duduk di ruang tamu dengan wajah yang serius. Suasana di dalam rumah terasa tegang dan menakutkan.
"Sekar, sini duduk. Ada yang ingin Bapak dan Ibu bicarakan," kata Bapak dengan nada yang berat.
Jantung Sekar Arum berdebar kencang. Ia merasa khawatir dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia mendekati Bapak dan Ibunya dengan hati-hati dan duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka.
"Ada apa, Bapak, Ibu? Kok wajahnya serius banget?" tanya Sekar Arum, mencoba untuk mencairkan suasana.
Bapak dan Ibunya saling bertukar pandang sejenak, seolah mencari kekuatan satu sama lain. Kemudian, Bapak menghela napas dan mulai berbicara.
"Sekar, Bapak dan Ibu tahu kamu punya impian untuk menjadi seorang penyanyi. Kami juga mendukung kamu untuk mengembangkan bakatmu. Tapi..." Bapak menghentikan kalimatnya, mencari kata-kata yang tepat.
"Tapi apa, Bapak?" tanya Sekar Arum, semakin penasaran.
"Tapi, kami khawatir dengan omongan orang. Kamu tahu sendiri kan, masyarakat di desa kita ini masih kolot. Mereka mungkin tidak suka dengan apa yang kamu lakukan. Mereka mungkin akan menghakimi kamu, mencibir kamu, bahkan mengucilkan kamu," jelas Bapak dengan hati-hati.
Sekar Arum terdiam. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia tahu, lingkungan tempat ia tinggal tidak selalu mendukung impiannya.
"Bapak dan Ibu tidak ingin kamu terluka karena omongan orang. Kami tidak ingin kamu kehilangan semangatmu karena cibiran mereka. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu," lanjut Ibu dengan nada yang lembut.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sekar Arum. Ia merasa sedih karena impiannya terancam oleh ketakutan orang tuanya.
"Jadi, Bapak dan Ibu ingin aku berhenti bernyanyi?" tanya Sekar Arum, suaranya bergetar.
Bapak dan Ibunya kembali bertukar pandang. Mereka tampak ragu dengan keputusan yang akan mereka ambil.
"Bukan begitu, Nak. Kami tidak ingin kamu berhenti bernyanyi. Kami hanya ingin kamu berhati-hati. Kamu harus kuat menghadapi omongan orang. Kamu harus buktikan kepada mereka bahwa kamu bisa sukses tanpa melanggar norma dan aturan yang ada," jawab Bapak dengan bijak.
"Tapi, bagaimana caranya, Bapak? Aku takut aku tidak kuat," ujar Sekar Arum, menangis.
Ibu mendekati Sekar Arum dan memeluknya dengan erat. "Kamu tidak sendiri, Nak. Bapak dan Ibu akan selalu mendampingi kamu. Kami akan selalu mendukungmu. Kamu hanya perlu percaya pada dirimu sendiri dan jangan pernah menyerah pada impianmu," bisik Ibu dengan lembut.
Pelukan Ibu memberikan kekuatan kepada Sekar Arum. Ia merasa lebih tenang dan percaya diri. Ia tahu, ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia harus berjuang untuk meraih impiannya, meskipun banyak rintangan yang menghadang.
"Terima kasih, Bapak, Ibu. Aku janji akan berhati-hati dan tidak akan mengecewakan kalian," ujar Sekar Arum, menghapus air matanya.
Bapak dan Ibunya tersenyum lega. Mereka bangga dengan keteguhan hati Sekar Arum. Mereka tahu, gadis ini akan sukses meraih impiannya.
Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip sebuah pertanyaan yang mengganjal di hati Sekar Arum. Siapa sebenarnya orang yang mengawasi dirinya dari kejauhan tadi?
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*