𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 23
...왕신...
...ー...
𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰!
....
Han Taeja melanting tersentak. Suara aneh seperti gemuruh bumi mengacaukan tenang yang dia bangun dengan meyakinkan diri berkali-kali. Bahkan lebihーmata, jantung dan rahang yang jatuh lebar, menggambarkan segala bentuk terkejut dalam dirinya.
Halaman yang mula lengang tanpa penghalang apa pun selain pohon-pohon perdu yang dedauannya dibentuk bulat mengisi beberapa titik, tiba-tiba menaikkan gerbang besi dari dalam tanah memenuhi sekeliling halaman rumah. Mata telurnya mengikuti pergerakan gerbang itu hingga diam dan berbatas sampai melewati setengah meter dari kepala.
Dalam beberapa saat, otaknya tidak dapat memproses informasi dari mata yang baru dia terima itu.
“Oh ... My ... God!” Pekikkan pendek dan terbata akhirnya keluar. Untuk meminta penjelasan, dia menoleh Wang Shin yang sudah lebih dulu mencapai teras. “Bagaimana bisa iniー”
“Hanya gerbang tanam!” tukas Shin, melirik sekilas pada tombol rahasianya di satu sisi. “Kau tidak lahir di zaman batu, 'kan, sampai bodoh dengan teknologi?”
Han Tae-ja tergagap. Bukan lahir di zaman batu, melainkan terasa seperti baru saja menelan batu. “Ah, i-itu ... tidak!”
“Kalau begitu ayo masuk!”
Seraya mengikuti, wajah Han Tae-ja terus celingukan cemas. “Sekarang, masalahnya bukan teknologi lagi, ... tapi ... kau menaikkan gerbang itu bukan untuk mengurungku, 'kan?”
*****
Di dalam mobil yang sedang dikendarai, Han Taeja terus menggali pikir, tak ada habisnyaーtak habis pikir.
Bayangan tentang dikurung lalu dicincang, tidak terjadi. Si sinting itu malah menjamunya dengan makanan berlimpah lalu membiarkannya pulang setelah satu pesan diberikan sebagai tekanan: Jangan bicara apa pun yang kau ketahui tentang aku pada Pimpinan Lim, biarkan aku membantunya sebagai diriku yang dia ketahui seperti itu saja.
Semakin dipikirkan semakin menumpuk rasa penasarannya.
Tentang Wang Shin, yang setelah diketahuinya separuh dari latar belakang pria itu bukanlah 'hanya' seorang bartender rendahan, melainkan sosok 'manusia gila' yang seharusnya berdiri dengan telunjuk kuatーdituruti dan mengintimidasi, dia jadi haus ingin mengupas semua tentang lelaki itu.
“Orang sepertinya ... kenapa sampai ada waktu bermain-main?”
“Menjadi pengawal seorang wanita tua yang bisa saja sama kaya dengannya. Apa serunya?”
“Dan apa katanya? Hanya mengisi sisa sedikit waktunya sebelum kembali ke medan perang?”
Medan perang apa? Perang yang bagaimana?
Perang sesungguhnya dengan peluru, senjata dan mesiu? ーSebagai prajurit kah?
Atau perang lain yang ....
“Ah, sialan! Kenapa aku yang jadi merasa gila karena penasaran?” Han Taeja frustrasi.
Dibela-bela mengikuti dari Seoul sampai Incheon hanya untuk membuktikan kecurigaannya atas Shin yang dia pikir hanya seorang berandal penipuーuntuk nanti dikabarkannya pada Lim Suyu, tapi malah mendapati kenyataan yang menampar dari dugaan.
Rumah semi mewah dengan teknologi lupa batas itu ternyata adalah benar-benar milik si bedebah Shin.
Diketahui dari dua orangーsuami istri penjaga rumah yang menyapa Shin dengan sebutan Tuan Muda. Mereka tunduk khas budak, pengakuan rasa hormat atas junjungan yang menyirami dengan lembaran uang. Itu bukan ilusi.
Kelakuan Shin di rumah itu juga seenak maunya. Minuman yang disuguhkan, berkualitas tidak sembarang. Apalagi yang diragukan?
Han Taeja bahkan menerima souvenirーyang menakjubkan.
Sebuah benda yang sampai membuat remang bulu kuduknya.
Revolver dengan magasin penuh terisi peluru.
Mulanya dia menolak, tapi kata-kata Shin berhasil membuatnya membuang naif.
“Sebaik apa pun manusia menjalani hidup, tidak ada yang bisa menjamin kebaikan itu melindunginya dari bahaya. Kau tidak tahu, macan menerkam lebih cepat dari kaki pendekmu yang berlari. Tapi saat kau punya senjata, setidaknya bisa kau lepaskan sebelum nyawamu mencapai batas. Itu akan impas.”
Kendati demikian, semua pertunjukkan yang diberikan Shin tak lantas membuat Han Taeja merasa terpuaskan, dia belum tahu ... siapa seorang Wang Shin sebenarnya.
“Sial, dia bahkan tidak mengungkapkan apa pekerjaannya!”
Shin hanya mengatakan, “Aku hanya orang kaya biasa.”
***
Di rumah itu ....
Paman Hong datang ke tempat di mana Shin asyik memberi pakan seekor rubah, di halaman belakang. Secangkir teh jahe kesukaan Shin diletakannya di atas meja.
“Apa ada yang ingin kau tanyakan, Paman?” tanya Shin, sekilas lirik langsung paham gelagat itu.
“Ah, itu ... hanya sedikit merasa ... umm ....”
Shin beranjak dari kegiatannya, mendekat ke posisi Paman Hong lalu duduk di kursi yang ada di sana. “Paman mencemaskan pengacara itu? Takut dia akan macam-macam setelah mengetahui tempat tinggalku?”
Sepertinya tepat sasaran, Paman Hong mengangguk sedikit kaku, mengakui dari itu. Sudah bukan rahasia baginya, Shin memang paling bisa membaca raut.
“Soal itu Paman tidak usah khawatir. Meskipun karakternya terkesan sombong seolah penuh ancaman, tapi aku bisa pastikan ... Han Taeja bukan manusia yang akan merusak sesuatu yang tidak merugikannya. Dia lebih mirip anjing yang setia dan penurut pada tuannya.” Cangkir teh dijewernya lalu diletakkan di bibir untuk disesap isinya. Setelah sedikit mengaliri tenggorokan, dia menambahkan, “Meski bukan aku, dia tidak akan mengacaukan kendali tuannya sendiri.”ー Lim Suyu.
Setelah mendengar itu dan keyakinan dari sorot mata sang junjungan, raut Paman Hong berangsur tenang. “Syukurlah kalau begitu.”
Saat sama, gerak langkah mengalihkan dua pasang mata yang bersilang tatap, Bibi Chu datang tergopoh. “Tuan Muda ... di luar ada tamu,” katanya memberitahu.
Shin mendongak padanya dengan kening berkerut. “Tamu?”
“Hmm. Ini!”
Sebuah tablet diterima Shin segera dari tangan Bibi Chu, tidak menuntut waktu untuk melihat siapa gerangan yang datang lagi ke kediamannya. Ini agak aneh dan mengejutkan.
Rekaman area luar, posisi di mana sang tamu berada. Gerbang sudah dikembalikan ke tanah selepas Han Taeja berlalu.
Tiga detik menatap, mata Shin langsung berubah sorot. “Bedebah ini,” gumamnya sambil tersenyum mendengus. “Tak apa. Aku akan menyambutnya.” Dia berdiri. Tablet diserahkannya kembali ke tangan Bibi Chu, tersenyum pada wanita itu kemudian melenggang meninggalkan santainya untuk menyongsong tamu.
Sampai di sana ....
Sosok itu sedang berdiri membelakangi sembari celingukan ke sana sini, seorang pria dengan rambut terikat half-bun. Tubuhnya tidak terlalu tinggi seperti Shin, namun punya otot punggung kokoh dan pundak lebar.
“Kukira kau membual saat mengatakan akan berkunjung.”
Suara Shin mengejutkannya sampai orang itu sontak membalik badan.
“Hoooo! My Brother! Shin Sunbae!" Dia berseru senang. Tak serta merta, dua tangan mengembang mendorongnya menerjangkan badan ke arah Shin, memeluk sembari melompat-lompat. “Aku benar-benar merindukanmu!”
"ˢᵘⁿᵇᵃᵉ" ⁽선배⁾ ᵃᵈᵃˡᵃʰ ⁱˢᵗⁱˡᵃʰ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵇᵃʰᵃˢᵃ ᴷᵒʳᵉᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵇᵉʳᵃʳᵗⁱ "ˢᵉⁿⁱᵒʳ" ᵃᵗᵃᵘ ᵒʳᵃⁿᵍ ʸᵃⁿᵍ ˡᵉᵇⁱʰ ᵇᵉʳᵖᵉⁿᵍᵃˡᵃᵐᵃⁿ ᵈⁱ ˢᵉᵏᵒˡᵃʰ, ᵗᵉᵐᵖᵃᵗ ᵏᵉʳʲᵃ, ᵃᵗᵃᵘ ᵇⁱᵈᵃⁿᵍ ᵗᵉʳᵗᵉⁿᵗᵘ.
Adalah Lee Jay, junior Shin saat mereka masih sama-sama bekerja untuk negara.
Beberapa saat kemudian ....
“Aku tidak menyangka, Shin Sunbae benar-benar membangun rumah sekeren ini dari uang pesangon.” Lee Jay mengejek seraya mengempaskan tubuhnya ke atas sofa, langsung merebah dengan kepala berbantal lengan. “Haaa, ruangan ini nyaman sekali.”
Aroma minuman mahal memenuhi ruangan. Satu lemari kaca terisi penuh dengan beragam macam yang dari jenis botol-botolnya sudah jelas berkualitas premium.
Shin mengambil satu untuk kemudian dibawanya bergabung bersama Lee Jay.
“Jangan terlalu menjurus saat menebak,” katanya seraya mendudukkan diri di sofa bersebrang Lee Jay. “Uang pesangon kumodalkan membangun bisnis. Rumah ini sudah kubangun saat kita masih bekerja.”
“Wah, benarkah?” Ketertarikan Lee Jay membawanya langsung terduduk. “Bisnis apa yang Shin Sunbae bangun itu? Senjata? Cyber? Keamanan? Mobil? Jika salah satu dari itu aku ingin satu posisi bagus untuk bergabung.”
Shin mendelik. “Otak nepotisme yang bodoh!” cibirnya.
“Terserah saja dengan istilah itu! Yang penting aku ingin bekerja denganmu lagi. Jadi ... bisnis apa yang sebenarnya kau geluti?!”
Sebelum menjawab, Shin lebih dulu menyesap halus minuman di gelasnya. Wajah Lee Jay yang semangat itu terasa manis untuk digoda, dia tersenyum. “Sayangnya ... hanya bisnis urusan perut.”
Doeng!
Sorot mata Jay mendadak bodoh. “Perut katamu, Sunbae? Apa maksudmu itu ... bisnis kuliner?!” tanyanya dengan nada kartun pemalas.
“Hmm. Sejenis itulah.”
“Jangan bercanda, Sunbae!!!!” Jay langsung meneriaki, tidak percaya. “Seorang Shadow yang hebat, menguasai hampir semua penggunaan senjata, yang tinjunya bahkan bisa meretakkan dinding, memilih membuka bisnis kuliner?! Apa itu tidak konyol?!!!” Napasnya sampai memburu.
“Tidak,” sangkal Shin, tetap santai. “Memangnya apa yang salah? Manusia perlu makan. Aku juga.”
Lee Jay tercengang sampai beberapa saat, lalu .... “HAHAHA!" terbahak keras. “Kau pasti sudah gila, Sunbae!” Sebelum akhirnya menangis bodoh seperti bocah.