"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: MALAIKAT PENJAGA YANG MENIPU
Sinar matahari pagi yang masuk ke kamar besar itu tidak membuat Arunika merasa hangat. Dia terbangun dengan napas pendek, jantungnya masih berdebar gara-gara ancaman Adrian semalam. Bayangan tentang peti mati dan nama "Elena" benar-benar menghantuinya. Hal pertama yang dia lakukan saat sadar adalah meraba kolong tempat tidur.
Masih ada.
Pisau lipat kecil itu masih menempel di sana. Sedikit rasa lega muncul, setidaknya dia punya sesuatu untuk melindungi diri kalau keadaan makin gila.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Arunika refleks menarik selimut menutupi dadanya. Dia mengira akan melihat Adrian yang marah seperti semalam, tapi yang masuk justru versi Adrian yang jauh berbeda.
Pria itu memakai kemeja putih santai dengan kancing atas terbuka. Dia tersenyum sangat manis—senyum yang bisa membuat wanita mana pun luluh kalau tidak tahu sifat aslinya. Di tangannya ada nampan berisi sarapan mewah.
"Selamat pagi, Sayang. Tidurmu nyenyak?" tanya Adrian lembut. Suaranya terdengar sangat peduli.
Arunika malah makin ngeri. Perubahan sifat yang mendadak ini terasa salah. "Adrian... kamu mau apa?"
Adrian duduk di tepi tempat tidur, sangat dekat sampai Arunika bisa mencium bau parfum mahalnya. Dia mengusap rambut Arunika dengan gerakan pelan. "Aku merasa bersalah soal semalam. Aku mungkin terlalu keras karena lelah kerja. Makanlah, aku sengaja kosongkan jadwalku pagi ini buat menemanimu."
Dia menyuapkan potongan buah stroberi ke mulut Arunika. Karena takut, Arunika terpaksa menerima suapan itu. Rasanya manis, tapi tenggorokannya terasa tersumbat.
"Kamu bilang semalam... soal Ayah..." suara Arunika mencicit.
Adrian tertawa pelan, seolah ancaman semalam cuma bercandaan. "Lupakan soal itu. Selama kamu jadi istri yang baik, semuanya aman. Oh, aku punya sesuatu untukmu."
Dia mengeluarkan kotak kecil dari saku kemejanya. Di dalamnya ada gelang berlian yang sangat berkilau. Adrian langsung memasangkannya ke tangan Arunika.
"Cantik sekali. Anggap saja ini permintaan maafku," bisiknya.
Arunika menatap gelang itu. Di matanya, benda itu bukan perhiasan, tapi lebih mirip borgol yang harganya miliaran. Adrian sedang melakukan love bombing—menghujani dengan hadiah supaya dia lupa kalau pria ini adalah monster.
"Sekarang mandi dan bersiaplah. Kita ke butik perhiasan langgananku. Pilihlah apa pun yang kamu mau," kata Adrian sambil berdiri.
Sepanjang jalan menuju butik, Adrian tidak melepas genggaman tangannya. Dia bersikap seperti suami paling romantis di dunia. Sesampainya di butik mewah yang sudah dikosongkan khusus untuk mereka, semua pelayan menyambut dengan hormat.
"Pilih yang paling mahal, Arunika. Aku ingin dunia tahu kalau istriku adalah wanita paling berharga," kata Adrian sambil duduk santai, membiarkan para pelayan mengeluarkan koleksi terbaik mereka.
Arunika merasa pusing melihat kilauan emas dan berlian di depannya. Orang-orang di sini menatapnya iri, mengira dia adalah wanita paling beruntung. Padahal mereka tidak tahu kalau di balik gaun mahalnya, ada bekas cengkeraman tangan Adrian yang masih terasa perih.
Saat Adrian sedang sibuk menelepon di sudut lain, seorang pelayan wanita mendekat untuk menyajikan cokelat dan minuman. Saat pelayan itu menaruh piring kecil, dia berbisik sangat pelan sampai nyaris tidak terdengar.
"Jangan makan cokelatnya, Nyonya."
Arunika tersentak. Dia menatap pelayan itu, tapi si pelayan langsung pergi dengan wajah datar.
"Kenapa, Sayang? Kamu tidak suka cokelatnya?" suara Adrian tiba-tiba muncul di belakang telinganya. Tangannya menempel di bahu Arunika, membuat wanita itu merinding.
"Aku... aku cuma merasa agak mual," jawab Arunika bohong.
"Mual? Apa jangan-jangan kita akan segera punya bayi?" Adrian tersenyum lebar, tapi matanya tetap tajam mengawasi. "Kalau kurang enak badan, kita pulang sekarang. Aku tidak mau kamu capek."
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Adrian tidak berhenti bercerita soal rencana liburan mereka ke Paris dan bagaimana dia akan membuatkan taman mawar untuk Arunika. Kata-katanya sangat manis, sampai-sampai Arunika sempat berpikir, apa aku yang salah sangka? Apa sebenarnya Adrian memang cinta padaku tapi caranya saja yang kasar?
Inilah yang diinginkan Adrian. Dia sedang merusak logika Arunika.
Begitu sampai di rumah, Adrian mengantar Arunika sampai depan kamar. "Istirahat ya. Aku ada urusan sebentar. Jam tujuh malam nanti kita makan malam formal, pakai gaun merah yang kita beli tadi."
Setelah pintu dikunci dari luar, Arunika langsung terduduk lemas. Dia ingat cokelat tadi. Secara diam-diam, dia ternyata sempat memasukkan satu cokelat pralin itu ke saku gaunnya.
Dia membelah cokelat itu dengan jari gemetar. Di dalamnya bukan racun, melainkan sebuah chip memori kecil yang dibungkus plastik bening.
Jantungnya berpacu liar. Siapa pelayan itu? Dia harus tahu isi chip ini. Dia mencari tablet yang diberikan Adrian, lalu masuk ke dalam walk-in closet—berharap kamera CCTV di plafon kamar tidak bisa melihatnya di situ.
Begitu chip dimasukkan, sebuah video pendek muncul.
Gambarnya agak buram, seperti rekaman CCTV lama. Di video itu, ada seorang wanita yang memakai kalung choker yang sama dengan yang dipakai Arunika sekarang. Wanita itu berlutut di lantai sambil menangis tersedu-sedu.
"Tolong, Adrian... lepaskan aku. Aku mau pulang," isak wanita itu.
Lalu suara Adrian terdengar, dingin dan tanpa perasaan. "Kamu tidak bisa pergi, Elena. Koleksi yang sudah masuk ke rumah ini tidak boleh keluar lagi."
Video itu terputus saat Adrian menyeret wanita itu keluar ruangan.
Arunika menutup mulutnya supaya tidak berteriak. Tubuhnya gemetar hebat. Sisi "Malaikat" yang ditunjukkan Adrian hari ini cuma topeng. Dia sedang dijinakkan sebelum akhirnya "dihilangkan" seperti Elena.
Cklek.
Suara pintu kamar terbuka. Arunika buru-buru menyembunyikan tablet dan chip itu di tumpukan baju. Dia keluar dari lemari dengan wajah pucat.
Adrian berdiri di sana, menatapnya dengan senyum tipis yang aneh. "Arunika? Ngapain di dalam lemari?"
"Aku... aku cuma lagi milih sepatu buat nanti malam," jawab Arunika, berusaha supaya suaranya tidak pecah.
Adrian berjalan mendekat, memojokkan Arunika ke dinding. Dia menatap mata Arunika dalam-dalam, seolah bisa membaca pikirannya.
"Kamu bohong lagi, Sayang," bisik Adrian. Dia mengusap leher Arunika, tepat di atas kalung kepemilikannya. "Bau ketakutanmu itu menyengat sekali, meskipun sudah ditutupi parfum mahal."
Dia mencium kening Arunika, tapi bibirnya terasa sedingin mayat.
"Dandan yang cantik untuk makan malam nanti. Jangan buat aku kecewa, atau hadiahnya tidak akan berupa berlian lagi."
Arunika menyadari bahwa Adrian mungkin sengaja membiarkannya menemukan chip itu untuk melihat reaksinya. Dia sedang dimainkan seperti kucing yang mempermainkan tikusnya sebelum dimakan.