Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulau Pribadi, Mi Instan Mewah, dan Skandal Snorkeling
Setelah seminggu yang penuh peluru, laser, dan pengejaran ala film Fast & Furious, Rian bener-bener nepatin janjinya. Dia sewa satu pulau pribadi di Maladewa khusus buat Nara. Gak tanggung-tanggung, transportasi ke sananya pake jet pribadi yang di dalemnya udah disiapin dispenser khusus buat Nara bikin kopi sachet kalau dia bosen sama sampanye mahal.
"Mas... ini kita beneran cuma berdua?" tanya Nara pas mereka turun dari seaplane dan ngelihat pasir putih yang bener-bener kayak bedak bayi.
Rian ngerangkul pinggang Nara, kacamatanya nangkring ganteng di hidung. "Iya, cuma berdua. Oh, plus Satya dan tiga orang tim keamanan yang jagain dari perahu di tengah laut sana. Efisiensi keamanan, Nara."
Nara nengok ke arah laut, bener aja ada kapal patroli kecil di kejauhan. "Ya ampun Mas, kita mau bulan madu apa mau jaga perbatasan negara sih?"
"Demi ketenangan jiwa saya, Sayang. Ayo, villa kita udah siap."
Villa mereka itu overwater bungalow yang lantainya dari kaca jernih. Jadi sambil rebahan, Nara bisa liat ikan-ikan berenang di bawah kakinya. Tapi yang bikin Nara paling teriak histeris bukan pemandangannya, melainkan lemari bajunya.
Pas dibuka, isinya bukan baju-baju renang seksi ala model Victoria's Secret, melainkan... KOLEKSI DASTER BUAH NAGA EDISI LIMITED DENGAN BAHAN LINEN PREMIUM!
"MAS RIAN! Ini Mas yang pesen?!" Nara langsung peluk-peluk daster itu kayak ketemu saudara lama.
Rian nyengir sambil buka kancing kemejanya. "Saya tahu istri saya nggak bakal betah pake bikini lama-lama. Jadi saya minta tim desain kamu buat bikin daster khusus pantai. Gimana? Suka?"
"SUKA BANGET! Mas beneran suami paling pengertian sedunia!" Nara langsung ganti baju, dan dalam lima menit dia udah lari-lari di atas dek villa pake daster tipis motif buah naga warna toska yang berkibar kena angin laut.
Sore harinya, Rian ngajak Nara buat snorkeling. Rian udah pake peralatan lengkap, badannya yang atletis kelihatan makin "meresahkan" pas kena air laut. Sementara Nara? Dia pake pelampung warna pink neon yang gedenya minta ampun karena dia sebenernya takut tenggelam.
"Mas, jagain ya! Jangan dilepas! Nanti kalau saya dimakan hiu gimana?!" teriak Nara dari balik masker snorkeling-nya.
"Nara, hiu di sini baik-baik. Mereka lebih takut liat pelampung kamu yang silau itu," goda Rian sambil narik tangan Nara pelan ke arah terumbu karang.
Pas lagi asyik liat ikan, tiba-tiba Nara berhenti mendadak. Dia nepuk-nepuk pundak Rian kenceng banget.
"Mas! Mas! Itu apa?!" tunjuk Nara ke arah dasar laut yang agak dalem.
Rian ngelihat ke bawah. Di sana ada sesuatu yang berkilau di antara karang. Rian nyelam sebentar buat ambil barang itu. Ternyata... sebuah botol kaca tua yang di dalemnya ada gulungan kertas.
"Wah! Surat dalam botol?! Kayak di film-film!" seru Nara pas mereka udah balik ke atas dek.
Pas dibuka, isinya bukan peta harta karun, melainkan surat cinta kuno dari tahun 1980-an yang ditulis dalam bahasa Prancis. Nara yang nggak paham bahasa Prancis cuma bisa ngerutin dahi.
"Artinya apa, Mas?"
Rian ngebaca surat itu pelan, matanya sedikit berubah jadi sendu. "Intinya... ini surat dari seorang pelaut buat istrinya. Dia bilang, meskipun dia jauh di tengah laut, hatinya selalu tertinggal di rumah, di tempat istrinya berada. Dia bilang... rumah itu bukan sebuah bangunan, tapi sebuah rasa nyaman yang cuma bisa ditemuin di satu orang."
Rian natap Nara dalem banget. "Kayak saya ke kamu, Nara. Dulu saya pikir 'rumah' itu apartemen kaku saya atau kantor saya. Tapi sekarang saya tahu, rumah saya itu ada di daster-daster kamu yang berantakan, di suara berisik kamu, dan di bau mi instan tiap tengah malam."
Nara tertegun. Dia langsung meluk Rian erat banget. "Mas... kok Mas makin pinter gombal sih? Belajar dari mana?"
"Belajar dari setiap detik saya hampir kehilangan kamu kemarin," bisik Rian tulus.
Malamnya, mereka makan malam romantis di pinggir pantai. Cuma ada meja kecil, lilin, dan deburan ombak. Pelayannya udah nyiapin lobster dan makanan laut paling mahal. Tapi Nara lagi-lagi bikin ulah konyol.
"Mas, lobsternya enak sih. Tapi... kok rasanya kurang nendang ya kalau nggak pake sambal terasi?" Nara ngeluarin sesuatu dari balik dasternya.
Rian udah bisa nebak. "Nara... jangan bilang kamu bawa..."
"Iya! Sambal terasi kemasan sachet! Hehe!" Nara langsung tuang sambal itu ke atas lobster seharga jutaan rupiah itu. "Nah, begini baru mantap! Mas mau?"
Rian cuma bisa pasrah. Dia akhirnya ikutan nyocol lobster ke sambal terasi itu. Dan emang bener, Bro, rasanya jadi makin gacor!
Pas lagi asyik makan, tiba-tiba HP Satya (yang stand-by di kejauhan) bunyi. Dia jalan nyamperin Rian dengan muka serius. "Pak, ada telepon penting dari Jakarta. Dari rumah sakit."
Rian langsung tegang. "Kenapa? Mama? Papa?"
"Bukan, Pak. Ini soal... Karin."
Nara langsung berhenti ngunyah. "Karin kenapa lagi, Bang Satya?"
"Karin kabur dari pusat rehabilitasi sore tadi, Mbak. Tapi kali ini dia ninggalin catatan. Dia bilang... dia nggak mau ganggu kalian lagi. Dia cuma mau 'pergi' ke tempat yang jauh buat nebus dosanya."
Rian ngerutin dahi. "Pergi ke mana?"
"Dia ninggalin semua hartanya buat panti asuhan, Pak. Dan dia kirim email terakhir ke kantor. Isinya... dia kasih tahu lokasi gudang rahasia Andra yang lain, yang isinya dokumen-dokumen buat jatuhin Pak Handoko secara total di pengadilan nanti."
Nara narik napas lega. "Berarti dia beneran insaf, Mas?"
"Semoga saja, Nara. Semoga dia bisa nemuin kedamaiannya sendiri," ucap Rian sambil natap ke arah laut lepas.
Besok paginya, Nara ngerasa badannya nggak enak. Dia mual-mual pas cium bau ikan bakar di meja sarapan. Rian yang liat itu langsung panik level dewa.
"Nara?! Kamu kenapa? Masuk angin? Atau keracunan lobster sambal terasi semalam?" Rian langsung pegang dahi Nara.
"Nggak tahu, Mas... mual banget. Pusing juga."
Rian langsung panggil tim medis pribadi yang dia bawa di kapal. Setelah diperiksa singkat dan Nara diminta buat tes urin pake alat yang selalu dibawa tim medis... suasananya mendadak sunyi.
Dokter keluar dari kamar dengan senyum lebar. "Selamat, Pak Rian. Ibu Nara... sepertinya tim keamanan Bapak bakal nambah anggota baru sembilan bulan lagi."
Rian mematung. Dia kayak patung lilin yang baru disiram air dingin. "Maksudnya...?"
"Mbak Nara hamil, Pak!" seru Satya yang tiba-tiba muncul di pintu, mukanya yang kaku mendadak kelihatan sumringah.
Nara yang lagi tiduran di kasur langsung melongo. "HAH?! HAMIL?! Mas! Berarti daster saya bakal jadi daster hamil dong?!"
Rian langsung lari ke arah Nara, dia peluk istrinya itu sambil nangis bahagia. "Nara... makasih... makasih banyak! Kamu beneran kasih kejutan paling luar biasa dalam hidup saya!"
"Mas... tapi nanti kalau anak kita lahir, dia bakal kaku kayak Mas atau berisik kayak saya?" tanya Nara polos.
"Apapun itu, dia bakal jadi 'Sultan Daster' paling bahagia sedunia," jawab Rian sambil nyium perut Nara yang masih rata.
Honeymoon mereka yang harusnya santuy, mendadak berubah jadi pesta syukuran kecil di tengah pulau. Rian langsung telepon orang tuanya, dan bisa ditebak, Tante Shinta langsung pingsan kegirangan di Jakarta.
Tapi, di tengah kebahagiaan itu, Nara bisik ke kuping Rian. "Mas... kalau anak kita nanti lahir, jangan kasih nama yang kaku ya. Saya mau namanya ada unsur-unsur daster atau buah naga!"
Rian ketawa kenceng banget. "Nggak bakal, Nara! Nggak bakal!"