Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Gema dari Kematian dan Amuk Sang Pelindung
Bab 21: Gema dari Kematian dan Amuk Sang Pelindung
Ruangan griya tawang itu terasa seperti altar pengorbanan yang mewah. Aroma lili putih yang menyengat bercampur dengan bau anyir darah dari luka Reihan yang terbuka, menciptakan suasana yang memuakkan. Reihan terus menciumi leher Arini dengan intensitas seorang pria yang baru saja kembali dari kematian, tangannya yang kasar merobek sisa-sisa pakaian Arini tanpa memedulikan borgol emas yang melukai pergelangan tangan wanita itu.
"Kau milikku, Arini... selalu milikku," desis Reihan, suaranya parau oleh kegilaan.
Arini hanya bisa menatap langit-langit dengan mata kosong, membiarkan air matanya membasahi bantal sutra. Namun, jauh di dalam benaknya, ia menolak untuk menyerah. Ia merasakan dinginnya rantai emas di tangannya, dan ia tahu bahwa jika ia ingin selamat, ia harus menjadi lebih licik daripada iblis yang menindihnya.
"Reihan..." bisik Arini lirih, suaranya bergetar. "Jika kau ingin aku memberikanmu anak lagi... lepaskan borgol ini. Aku tidak bisa memelukmu jika tanganku terikat."
Reihan terhenti sejenak. Ia menatap Arini, mencari tanda-tanda pengkhianatan di matanya yang indah. Namun, Arini memasang wajah yang penuh dengan kepasrahan yang menggoda—sebuah topeng yang ia pelajari dari tahun-tahun penderitaannya. Reihan, yang egonya sedang melambung tinggi karena merasa telah memenangkan segalanya, tersenyum sinis.
"Kau ingin memeluk pembunuh kekasihmu, Arini? Betapa cepatnya hatimu berpindah," ucap Reihan, namun ia tetap merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci kecil.
Klik.
Borgol itu terlepas. Arini segera melingkarkan tangannya di leher Reihan, menariknya mendekat dalam sebuah ciuman yang terasa seperti racun. Di saat yang sama, jemari Arini merayap ke arah meja nakas, mencari benda tajam apa pun yang bisa ia gunakan.
Namun, sebelum Arini berhasil menemukan senjata, sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh bangunan.
BOOOOOMMMM!
Pintu masuk griya tawang hancur berkeping-keping. Kaca-kaca balkon pecah berantakan akibat gelombang kejut. Reihan terlempar dari atas tubuh Arini, menabrak lemari kaca yang berisi koleksi wiski mahalnya.
Di ambang pintu yang berasap, sesosok figur muncul dari balik kabut debu dan api. Ia mengenakan rompi taktis yang compang-camping, wajahnya tertutup darah dan jelaga, namun matanya memancarkan amarah yang bisa membakar seluruh kota.
Bima.
Ia tidak mati. Rompi antipeluru dan ketangguhan fisiknya telah menyelamatkannya dari kecelakaan maut itu. Dengan bantuan sisa-sisa tim elit yang masih setia padanya, ia berhasil melacak jalur pelarian Reihan ke satu-satunya tempat yang paling disukai sang tiran: rumah mereka sendiri.
"REIHAN! KELUAR KAU, BAJINGAN!" suara Bima menggelegar, lebih keras dari guntur di luar.
Reihan bangkit dari puing-puing kaca, darah mengalir dari dahi dan punggungnya. Ia tertawa—tawa gila yang melengking di tengah reruntuhan. "Kau punya sembilan nyawa, ya, anjing penjaga? Aku seharusnya memastikan kepalamu hancur di jalanan tadi!"
Reihan meraih sebuah pistol dari balik bantal dan mulai melepaskan tembakan ke arah pintu. Bima berguling ke balik sofa besar, membalas tembakan dengan presisi yang mematikan.
"Arini! Tundukkan kepalamu!" teriak Bima di sela-sela desingan peluru.
Arini merangkak di lantai yang penuh pecahan kaca, mencari perlindungan di balik tempat tidur marmer. Ia melihat Reihan yang sedang mengganti magazin pistolnya dengan tangan gemetar. Kegilaan di mata Reihan telah mencapai puncaknya; ia tidak lagi peduli pada keselamatannya sendiri, ia hanya ingin menghancurkan apa pun yang mencoba mengambil Arini darinya.
"Kau tidak akan mendapatkannya, Bima! Dia adalah bagian dari kutukanku!" Reihan berteriak sambil melepaskan tembakan liar ke arah langit-langit, menjatuhkan lampu kristal raksasa yang menimpa meja makan.
Bima tidak lagi membalas dengan peluru. Ia kehabisan amunisi. Dengan nekat, ia berlari menerjang Reihan, menerobos hujan pecahan kaca. Keduanya bertabrakan di tengah ruangan, bergulat dengan kemarahan yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.
Ini bukan lagi pertarungan antara pengusaha dan investigator; ini adalah pertarungan dua pemangsa yang memperebutkan satu-satunya hal yang berharga di hidup mereka. Bima mendaratkan pukulan keras ke wajah Reihan, mematahkan hidungnya. Reihan membalas dengan menusukkan potongan kaca ke bahu Bima.
"Akh!" Bima mengerang, namun ia tidak melepaskan cengkeramannya. Ia menghantamkan kepala Reihan ke lantai marmer berkali-kali.
"Bima, hentikan! Kau akan membunuhnya!" teriak Arini, namun ia sendiri tidak tahu apakah ia ingin Bima berhenti atau terus melanjutkannya.
Reihan yang sudah setengah sadar berhasil meraih pisau lipat dari sakunya dan menusukkannya ke paha Bima. Bima terjatuh, mengerang kesakitan. Reihan merangkak menuju Arini, tangannya yang bersimbah darah berusaha meraih kaki Arini.
"Ikut aku... Arini... kita pergi dari sini..." igau Reihan, pikirannya sudah benar-benar hancur.
Arini berdiri tegak di depan suaminya yang sudah tak berdaya. Ia melihat pria yang dulu ia cintai, pria yang menjadikannya ratu sekaligus tawanan, kini merangkak di kakinya seperti binatang yang sekarat. Rasa kasihan sempat muncul, namun segera terkubur oleh ingatan akan bayinya yang hilang dan penderitaan yang ia alami.
Arini mengambil pistol Reihan yang terjatuh di lantai. Ia mengarahkannya tepat ke kening Reihan.
"Semuanya berakhir di sini, Reihan," ucap Arini dengan suara yang sangat dingin dan mantap.
"Tembak aku, Sayang... tembak aku agar aku bisa membawamu ke neraka bersamaku," bisik Reihan dengan senyum iblis terakhirnya.
Tangan Arini gemetar. Jari telunjuknya sudah berada di pelatuk. Namun, sebuah tangan yang hangat dan kasar memegang tangannya. Bima berdiri di sampingnya, meski dengan kaki yang berlumuran darah.
"Jangan, Arini," bisik Bima. "Jangan kotori tanganmu demi sampah seperti dia. Jika kau menembaknya sekarang, kau tidak akan ada bedanya dengan dia atau ayahmu. Biarkan hukum yang mengurus sisanya. Dia tidak layak mendapatkan kematian yang cepat di tanganmu."
Arini menatap mata Bima, melihat kemanusiaan yang masih tersisa di sana. Perlahan, ia menurunkan senjatanya. Air matanya kembali luruh, namun kali ini adalah air mata kelegaan.
Di luar, suara sirine polisi dan tim SWAT mengepung gedung. Reihan pingsan akibat kehilangan banyak darah dan trauma kepala. Tim medis masuk dan segera mengamankan lokasi.
Tiga bulan kemudian.
Reihan dinyatakan bersalah atas puluhan dakwaan, termasuk pelarian dari penjara dan kekerasan tingkat tinggi. Karena kondisi kejiwaannya yang dinyatakan "gila secara kriminal", ia dikirim ke rumah sakit jiwa dengan pengamanan paling ketat di negara ini, di mana ia akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam ruangan berlapis busa.
Arini berdiri di dermaga pelabuhan kecil di pinggiran Bali. Angin laut yang hangat memainkan rambut pendeknya. Di belakangnya, sebuah rumah kayu sederhana yang asri telah menantinya. Ia telah menjual seluruh sahamnya di Dirgantara dan Atmadja Holdings, menyumbangkan sebagian besar hartanya ke yayasan perlindungan wanita dan anak, dan memutuskan untuk menghilang dari dunia korporat yang beracun.
Bima berjalan mendekatinya, mengenakan kemeja linen santai. Luka-lukanya sudah sembuh, meski menyisakan bekas luka permanen yang akan selalu mengingatkannya pada malam itu.
"Semuanya sudah siap, Arini. Identitas baru kita, kehidupan baru kita," ucap Bima sambil merangkul pinggang Arini.
Arini menyandarkan kepalanya di bahu Bima. "Apakah kau pikir dia akan pernah menemukan kita?"
Bima mencium kening Arini dengan penuh kelembutan. "Biarkan dia mencari bayang-bayang di dinding selnya. Di sini, hanya ada kita. Dan kali ini, tidak ada rahasia, tidak ada dendam. Hanya ada masa depan."
Gairah yang mereka rasakan sekarang bukan lagi gairah yang didorong oleh ketakutan atau pelarian. Ini adalah cinta yang tenang, seperti ombak yang membasuh pantai. Malam itu, di rumah baru mereka di tepi pantai, mereka bercinta dengan penuh kelembutan dan janji setia yang tulus. Tidak ada lagi sprei sutra putih yang berlumuran darah; yang ada hanyalah cahaya bulan yang memantul di atas air laut dan dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan terakhir mereka.
Arini memejamkan mata dalam pelukan Bima, menyadari bahwa meski luka di hatinya mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang, ia telah berhasil merebut kembali haknya untuk bernapas. Ia bukan lagi milik siapa pun. Ia adalah miliknya sendiri, dan ia memilih untuk dicintai oleh pria yang berani mati untuk menyelamatkannya.
Di sudut terjauh pikirannya, bayangan Reihan perlahan memudar, tertelan oleh suara deburan ombak yang membawa pergi segala kepedihan masa lalu. Ratu Es telah mencair, berubah menjadi wanita yang siap untuk mencintai kembali.