Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pembebasan Rumah tua yang di kutuk
"Freen," kata Nam, pandangannya beralih dari layar laptop ke wajah Freen yang masih terlihat tegang. "Aku punya ide yang lebih baik."
"Ide apa lagi? Membuat kartu nama baru untuk 'Paranormal Freen, Pembasmi Bumbu Berhantu'?" balas Freen sinis.
"Bukan. Ini serius. Kau tidak bisa kembali ke rusunmu malam ini," ujar Nam.
"Kenapa tidak? Bibi Som mungkin sudah tidur, dan motor Nam ada di sana," Freen mengangkat bahu.
"Justru itu. Sekarang, kau adalah magnet bagi para arwah, Freen. Siapa tahu ada hantu lain di rusunmu yang ingin curhat padamu. Dan lebih penting lagi, kau punya motorku. Kau harus tinggal di sini. Setidaknya untuk beberapa hari ke depan." Nam menunjuk ke ruang tamu yang luas.
Freen menatap sekeliling. Rumah itu memang terasa dingin dan sedikit suram, tetapi setidaknya lebih besar dan lebih pribadi daripada rusunnya yang sempit.
"Aku? Tinggal di rumah yang baru saja kau yakini dihantui oleh arwah pembunuhan?" Freen menunjuk ke kamar tidur yang gelap.
"Kau sudah lupa dengan hantu Chanya?"
"Chanya sudah pergi, Freen. Dia damai. Tapi..." Nam merendahkan suaranya, sedikit merinding.
"Jika kau tinggal di sini, dan matamu benar-benar terbuka lebar, kau bisa bertindak sebagai 'alarm' untukku. Jika ada arwah lain yang masuk, kau akan tahu. Kita bisa waspada bersama."
Nam melanjutkan, "Lagipula, kita ini tim sekarang. Aku butuh kamu dekat untuk riset dan strategi. Aku bisa tidur di sofa ini, dan kau bisa ambil kamar di lantai atas yang belum kubereskan. Atau, kau tidur di sini, aku tidur di kamar Chanya."
"Kau mau tidur di kamar Chanya?" Freen mengangkat alis, skeptis.
"Tentu saja tidak!" seru Nam cepat.
"Aku akan tidur di sini. Kau tidur di sofa atau di kamar kosong di lantai atas. Dengan kemampuanmu, aku merasa lebih aman daripada sendirian. Aku akan membayarmu, tentu saja. Anggap saja ini... biaya keamanan pribadi supranatural."
Freen berpikir sejenak. Jika ia kembali ke rusun, ia harus menghadapi Bibi Som dan risiko bertemu arwah baru tanpa bantuan Nam untuk riset.
Tinggal bersama Nam, di rumah yang luas dan jauh dari keramaian, bisa memudahkannya mengendalikan 'kemampuan' barunya. Selain itu, janji 'biaya keamanan' terdengar menggiurkan.
Freen akhirnya menghela napas pasrah. "Baiklah. Aku terima tawaranmu, Nam. Tapi aku tidur di kamar yang paling jauh dari kebun belakang, dan jangan berani-berani kau membelikanku dupa lagi. Kita butuh koneksi internet cepat dan kopi, bukan dupa dan klenik."
"Beressss!" Nam tersenyum lebar. Ia merasa jauh lebih berani dengan kehadiran Freen.
"Aku akan segera membuatkan kopi. Sementara itu, kau coba lihat lagi. Apakah di sekitar rumah ini ada arwah lain yang butuh 'bantuan detektif bumbu'?"
Freen mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan yang gelap, tempat ia baru saja melihat anak kecil hantu di pasar. Ia memaksakan matanya untuk memindai setiap bayangan di rumah Nam.
"Belum ada, Nam. Tapi aku yakin, itu hanya masalah waktu," jawab Freen. Ia mengeluarkan handphone-nya.
"Aku harus segera check-in di tempat kerja baru ini. Aku akan mencari tahu siapa wanita merah marun itu. Aku tidak mau dia tiba-tiba muncul lagi di sampingku saat aku sedang mandi."
Nam bergegas ke dapur, sementara Freen, sang Paranormal Gadungan yang terpaksa menjadi paranormal sejati, memulai riset pertamanya di markas barunya. Babak 'Takdir di Freen' baru saja dimulai.
Freen meraih laptop Nam dan meletakkannya di meja kopi. Nam kembali dari dapur dengan dua cangkir kopi hitam pekat.
"Ini amunisi kita," kata Nam, menyerahkan salah satunya kepada Freen. "Apa yang kita cari dulu?"
"Wanita itu," jawab Freen, menyesap kopinya. Rasa pahit yang kuat itu membantunya fokus.
"Dia terlalu jelas, terlalu kuat, dan terlalu arogan untuk menjadi arwah penasaran biasa. Dia tahu namaku, tahu aku menipu, dan bahkan menyebut Chanya 'arwah level rendah'."
Nam mengangguk setuju. "Entitas yang lebih tinggi. Mungkin dewa, dewi, atau semacam roh pelindung yang bertugas menjaga keseimbangan karma."
"Atau hantu yang punya ego sebesar menara Eiffel," cibir Freen, meskipun dalam hati ia tahu Nam benar.
Freen mulai mengetik, Nam membimbingnya.
"Kita tidak bisa mencari 'hantu cantik berbaju merah marun'," ujar Nam.
"Terlalu umum. Kita harus fokus pada lokalisasi dan deskripsi detail yang kau ingat. Kapan dan di mana kau melihatnya pertama kali?"
"Di pasar, saat aku meninggalkan rumah Nam. Tapi dia muncul di motor, setelah mata batin ini terbuka lebar. Pakaiannya... kebaya sutra Thailand, merah marun. Rambut disanggul rapi. Wajahnya cantik, tapi matanya hitam pekat, tanpa pupil yang jelas. Dan aura... sangat dingin, tapi berkuasa."
Nam mengetik: "Entitas Supranatural Wanita Pakaian Tradisional Kebaya Merah Thailand"
Hasil pencarian pertama menunjukkan banyak gambar hantu Krasue atau arwah Nang Tani, tapi Freen menggeleng.
"Bukan. Yang ini elegan, berkelas, tidak menjijikkan seperti Krasue."
Nam mengubah kueri:"Roh Penjaga Kuat Thailand Wanita Kebaya Merah"
Sebuah artikel menarik muncul, dengan foto sebuah patung batu tua yang memudar.
"Coba ini, Freen. Ada legenda lokal tentang Mae Nakha atau Dewi Penjaga Takdir," kata Nam, membaca dengan suara keras.
"Konon, beliau adalah arwah bangsawan kuno yang bertugas mengawasi karma dan takdir di daerah ini. Dia sering muncul mengenakan kebaya sutra merah marun, dan hanya menampakkan diri pada orang-orang yang takdirnya terjalin dengan dunia arwah, seringkali pada mereka yang 'berhutang karma'."
Mata Freen melebar. "Dewi Penjaga Takdir? Berhutang karma? Itu cocok sekali dengan predikat 'Paranormal Gadungan' yang kupunya!"
Nam mengeklik foto patung itu. Patung itu terlihat anggun, dengan detail pakaian tradisional dan sanggul tinggi.
"Bagaimana, Freen? Apakah ini dia?" tanya Nam.
Freen menatap foto itu lama. Perasaan dingin familiar menyelimutinya sejenak, membuat merinding.
"Ya, Nam. Ini mirip sekali. Ekspresinya, pakaiannya... Itu dia. Mae Nakha. Dia bilang aku adalah 'alat'. Dia tidak meminta uang, Nam. Dia meminta aku menyelesaikan urusan karma. Urusannya, bukan urusanku," kata Freen, menyandarkan punggungnya di sofa, kelelahan mental.
"Jadi, kita sedang berurusan dengan seorang dewi yang terpaksa menjadi manajer karir paranormal gadungan," simpul Nam dengan nada serius yang kocak.
"Tepat sekali. Dan dewi itu baru saja menugaskanku untuk menjadi 'malaikat pelindung' pedagang mie, hanya untuk menguji kekuatanku. Apa misi selanjutnya? Aku yakin dia tidak akan memberiku waktu istirahat."
Tiba-tiba, lampu di ruang tamu berkedip tiga kali, meskipun Nam yakin kabel rumah itu sudah ia periksa.
Di layar laptop Nam, halaman pencarian Mae Nakha tiba-tiba tertutup, dan digantikan oleh file notepad yang terbuka sendiri.
Di layar, hanya ada tiga kata dalam bahasa Thailand kuno yang Freen bisa baca maknanya:
"Ku Wahn (Rumah Tua)"
"Kehancuran"
"Besok"
Freen dan Nam saling pandang, wajah mereka memucat.
"Rumah Tua?" bisik Freen. "Rumah siapa? Dan 'kehancuran' besok?"
"Ini bukan lelucon, Freen," kata Nam, suaranya bergetar. "Mae Nakha memberi kita kasus baru. Sebuah 'rumah tua' akan hancur besok. Kita harus mencari tahu rumah tua mana yang dimaksud!"
Freen menghela napas, rasa kantuknya hilang sepenuhnya. Takdir memang tidak memberinya waktu untuk istirahat.
Ia menyalakan laptop Nam kembali, bersiap untuk riset kilat, sementara di sudut ruang tamu yang gelap, ia merasakan senyum dingin yang samar-samar. Permainan Mae Nakha baru saja dimulai.