Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.04. KE DESA LOLOAN
Darren terdiam sesaat, ia juga bingung, tapi ke tiga gadis itu harus diselamatkan dengan cepat. Ia sebenarnya tidak ingin bisa nge-Le-ak, namun ia harus berani apapun resikonya. Disamping itu ia ingin papanya tahu bahwa hidupnya seutuhnya diserahkan pada XpostOne.
"Aku tetap membelinya!" jawab Darren tegas.
"Boss...."
"Tenang, tidak apa-apa..." bisik Darren kepada Agung.
Pasien yang masih tersisa serentak keluar rumah, mereka setengah berlari ketakutan. Takut menjadi saksi kuncì kejadian itu. Lebih tepatnya mereka takut mati atau kena imbas ilmu Le-ak.
"Karena kamu sudah setuju memiliki ilmu ini, sekarang ikuti perintah saya." ucap Jro du-kun menatap tajam Darren.
"Baik Jro, saya sudah siap.."
"Duduklah bersila, kemudian cakupkan kedua telapak tangan di dada, pejamkan mata dan konsentrasi." perintah du-kun seraya berdiri.
Seorang wanita tua keluar dari salah satu ruangan, dia membawa sesajen, kelapa kuning yang sudah terbuka dan dupa. Bau kemenyan menguar memenuhi ruangan membuat kesan mistis.
Darren kaget saat ibu itu memercikan air kelapa ke tubuhnya tiga kali. Agung yang tadi berada di sampingnya meloncat jauh mungkin juga takut kena imbas.
Saat man-tra dilantunkan oleh Jro du-kun, tiba-tiba langit menjadi gelap. Angin dingin menghempaskan semua yang ada di bale-bale. Petir menggelegar seolah tidak terima terhadap pilihan Darren.
Lolongan anjing kampung membuat nyali menciut, bulu roma berdiri. Darren tetap duduk tak bergeming. Sudah kepalang basah, bukankah ini yang di inginkan oleh papaku? Bathinnya.
"Keluarkan li-dah-mu!!" teriak Jro du-kun mengagetkan Darren.
Ia cepat melakukan perintah itu. Batang sirih dan madu menyentuh lidahnya. Terasa manis dan sepet. Kemudian ia di suruh minum air kelapa muda, memakan satu buah pisang emas. Kemudian....
"Masuk!!" tongkat Jro du-kun melayang dan hinggap di punggungnya. Darren tersentak, seolah ada benda berat masuk dan melesat ke tubuhnya.
"Aduhh..." ia berteriak, badannya bergetar hebat dan tubuhnya oleng. Agung reflex menangkap tubuh kekar Darren.
"Tidurkan dia." perintah du-kun itu.
Agung khawatir saat melihat wajah Darren merah membara seperti kepiting rebus. Matanya tertutup rapat.
"Jro..kenapa teman saya?" tanya Agung ketakutan.
"Dia mati suri nanti juga bangun, biarkan ilmu itu menguasai raganya.
"Saya takut kalau terjadi sesuatu."
"Kita tunggu saja, tidak semua orang bisa di masukan ilmu Le-ak ke tubuhnya. Jika dia orang baik dan rajin sembahyang, di jamin ilmu sulit masuk. Kemungkinan sepertiganya."
"Saya malah berharap supaya ilmu itu sulit masuk ke tubuhnya karena dia tidak mengerti tentang ilmu Le-ak. Ia cuma bercanda dan ikut-ikutan saja..." bohong Agung.
"Ohh..begitu. Semoga saja ilmu itu sedikit masuknya. Walaupun sedikit bayarannya tetap sepuluh juta." ucap du-kun itu tersenyum penuh arti. Dasar matre!
"Tidak apa-apa saya akan bayar yang penting teman saya selamat."
"Tunggu saja, semoga ada anugrah dari Ibu kali."
Agung mau menyahut tapi urung, ia lalu mengeluarkan amplop yang berisi uang sepuluh jeti dan meletakan di aras bale di depan Jro. Ia berdoa dalam hati semoga Ibu kali pergi dan menarik ilmu Le-aknya.
"Huukkk...huukkk..." Darren tiba-tiba meloncat bangun sambil batuk-batuk.
"Kamu sudah sadar. kesinilah.." du-kun memegang lengan Darren sambil berucap.
"Ilmu ini kemungkinan masuk sepertiga, Jika ingin menambahkannya harga akan di sesuaikan dan dapat diskon!" ucap Jro du-kun santai.
Huh..Agung seolah faham, du-kun ini ternyata licik. Pasti ilmu Le-ak sengaja di masukan sedikit atau tidak dimasukan sama sekali. Tapi ia lebih senang kalau Darren terhindar dari ilmu hitam.
"Tidak apa-apa Jro, ini sudah cukup, saya tidak mau mengambil resiko. Apakah dia sudah bisa menjadi monyet?" tanya Agung tidak memberi kesempatan saat Darren mau menjawab.
"Kalau menjadi monyet saya yakin dia sudah bisa, asal dia sering mencoba. Jika ada kendala boleh kesini lagi, tapi tidak ada garansi..."
"Jro, apakah ilmu itu sudah masuk ke tubuh saya?" tanya Darren berusaha berdiri tegak. Agung cepat memegang tangan bosnya berusaha mengajak keluar. Tapi Darren menolak.
"Sudah, tenang saja. Jika mau mencoba boleh coba di rumah."
"Terimakasih Jro, saya mau pamit pulang." ucap Agung. Ia menarik Darren dan cepat keluar dari rumah itu. Perasaannya tidak nyaman.
"Silahkan..."
Senyum Jro du-kun mengembang. Agung takut sekali lebih lama berada di rumah itu. Sangat menyeramkan.
"Iihhh...serem..." gerutu Agung naik ke mobil.
"Apanya serem, jangan katakan kalau wajahku sudah berubah." ucap Darren setelah mereka berada di mobil.
"Bos sadar, sampai kapan pun bos tidak bisa berubah."
"Du-kun bilang aku akan beubah kalau sudah malam. Aku tak sabar menunggu."
"Bos..kalau sudah berubah wujud apa bisa kembali menjadi normal dan bos sudah tahu mantra untuk menjadi monyet?"
"Agung jangan banyak tanya, aku jadi bingung. Kita keburu waktu tak sempat untuk bertanya, yang penting kita ke desa Loloan dulu mencari informasi."
"Ya boss aku mengerti."
Darren mana tahu kalau wanita yang tadi membawa sesajen, terus mengintip dari pintu kamar sebelah yang sedikit terbuka. Matanya melotot dan merah menyala saat Darren jatuh pingsan, ia malah tersenyum menyeringai penuh arti. Pokoknya ngeri!!.
Agung memacu mobilnya lebih kencang ia ingin berada di desa Loloan sebelum magrib. Desa Loloan satu kecamatan dengan desa Beduwi. Hanya desa ini yang warganya tidak bisa nge-Le-ak.
Darren yang duduk di belakang dengan santainya membuka kontainer makanan dan mengisi perutnya. Ia terlihat tak takut atau merasakan sesuatu di tubuhnya. Padahal Agung dag-dig-dug-plass berada di belakang stir. Matanya terus melirik spion memperhatikan Darren. Takut kalau Darren tiba-tiba berubah wujud.
"Makan Gung, gantian nanti nyetir, siapa tahu ini makanan kita yang terakhir..."
"Huss..jaga bicaranya boss, kita bertugas untuk menyelamatkan orang." sahut Agung wanti-wanti.
"Kenapa matamu trus melirik ke spion, apa kamu takut aku berubah wujud?" sindir Agung memasukan dessert ke mulutnya.
"Hehe...jantungku bisa copot kalau bos sampai menjadi monyet. Tapi aku ingin melihat monyet ganteng keturunan Perancis."
"Kalau begitu aku berubah ..." candanya.
"Jangan bos.. mobil bisa masuk jurang, lihat di kanan kiri kita jurang."
"Ahh, kamu cemen. Jadi agen rahasia harus serba bisa. Kamu ingat slogan Intelijen?"
"Berhasil tidak dipuji, hilang tidak dicari, gagal dicaci maki." jawab Agung.
"Seluruh jiwa ku sudah aku persembahkan pada negara. Tak usah ragu dan bimbang saat menjalankan tugas."
"Mengerti boss, tapi aku belum menikah."
"Hahaha...kita sudah menikah dengan senjata, kalau kamu ingin mencari selir nikah lah dengan ilmu Le-ak."
Mereka tertawa, tapi dibalik tawa itu ada perasaan sakit menusuk hati Darren. Bukan karena tugas ini atau menjadi agen rahasia, tapi ini berbeda. Luka hatinya belum sembuh setelah di tinggal pacar.
Ia menarik nafas panjang membuangnya kasar. Kemudian bertukar posisi supaya Agung bisa makan.
Mobil kembali melaju kencang.
*****