Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Setelah kehebohan teman-temannya mereda, suasana di ruang tamu perlahan berubah menjadi sendu. Koper-koper Namira sudah rapi berjajar di dekat pintu depan. Mobil yang akan membawa mereka ke pesantren sudah dipanaskan mesinnya.
Namira yang tadinya pecicilan, tiba-tiba terdiam. Ia menatap Bunda yang sedang merapikan sedikit kerah daster Namira yang agak miring.
"Sudah semua? Nggak ada yang ketinggalan? Charger hp? Skincare? Paket dres yang tadi?" tanya Bunda dengan suara yang mulai serak.
Namira menggeleng pelan. Ia tiba-tiba menghambur ke pelukan Bundanya, memeluk erat pinggang wanita yang selama ini menjadi teman curhat dan teman berdebatnya.
"Bun... Mira beneran pergi sekarang ya?" bisik Namira. Air mata yang tadi ia tahan-tahan akhirnya jatuh juga, membasahi bahu Bunda. "Nanti siapa yang bantuin Bunda masak? Siapa yang dengerin Bunda ngomel kalau dapur berantakan?"
Bunda mengusap punggung Namira dengan sayang, mencoba menahan tangisnya sendiri di depan besan. "Sudah, jangan cengeng. Kamu kan sudah jadi istri Ustadz. Sekarang surgamu sudah pindah ke suamimu. Harus nurut, jangan sering membantah, apalagi kalau dikasih tahu yang baik-baik."
Ayyan berdiri di belakang Namira, menatap momen itu dengan saksama. Ia bisa merasakan betapa beratnya bagi Namira, seorang gadis kota yang manja, untuk tiba-tiba harus pergi jauh meninggalkan rumah.
Namira melepaskan pelukannya, lalu beralih ke Ayah yang sejak tadi hanya diam di sudut ruangan. "Ayah... Mira pamit ya. Maafin Mira kalau selama ini Mira cuma bisa bikin Ayah pusing karena denda telat bayar paket atau suara Mira yang ketinggian."
Ayah Namira tersenyum, lalu mengecup kening putrinya. "Ayah sudah tenang karena ada Nak Ayyan yang jagain kamu. Jadilah istri yang salihah, ya Sayang."
Terakhir, Namira berdiri di hadapan Ayyan yang sedang membawa koper kecilnya. Namira menyeka air matanya dengan kasar. "Mas Ayyan... janji ya, kalau di pesantren nanti Mira kangen Bunda, Mira nggak boleh dilarang nangis?"
Ayyan terdiam sejenak. Ia mendekat, lalu dengan lembut—untuk pertama kalinya di depan semua orang—ia mengusap air mata di pipi Namira menggunakan ibu jarinya.
"Menangis itu manusiawi, Namira. Saya tidak akan melarang kamu kangen orang tua," ucap Ayyan dengan suara rendah yang sangat menenangkan. "Tapi ingat, sekarang saya adalah rumahmu. Kalau mau nangis, cari bahu saya, jangan cari tembok."
Namira tertegun, jantungnya serasa berhenti sejenak mendengar ucapan Ayyan yang begitu puitis di balik sifat dinginnya. Teman-teman Namira yang masih ada di sana langsung baper berjamaah.
"Duh, Mas Kulkas kalau sekali ngomong manis, diabetes gue kumat," bisik Sisil sambil mengusap air matanya sendiri.
"Ayo, kita berangkat. Biar tidak kemalaman di jalan," ajak Abah Kyai dengan lembut.
Namira menyalami tangan Bunda dan Ayah untuk terakhir kalinya, lalu berjalan beriringan dengan Ayyan menuju mobil. Di dalam mobil, Namira terus melambai ke arah jendela sampai bayangan orang tuanya menghilang di tikungan jalan.
Suasana di dalam mobil benar-benar berbanding terbalik dengan kehebohan di rumah tadi. Namira hanya menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu-lampu jalanan Jakarta yang mulai menjauh. Tidak ada lagi celotehan soal seblak, dres, atau protes soal bangun pagi.
Ayyan yang duduk di samping kemudi sesekali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memantau istrinya. Melihat Namira yang biasanya "berisik" tiba-tiba menjadi pendiam dan tampak lesu, ada perasaan aneh yang mengusik hati Ayyan. Ternyata, dia lebih suka Namira yang cerewet daripada Namira yang murung seperti ini.
"Namira," panggil Ayyan lembut, memecah keheningan.
Namira hanya berdehem pelan tanpa menoleh, "Hmm?"
"Kamu pusing? Atau mual?" tanya Ayyan lagi. Ia tahu ini adalah pertama kalinya Namira akan tinggal jauh dari orang tuanya untuk waktu yang lama.
Namira menggelengkan kepala. Ia mengeratkan pelukannya pada tas kecil yang ada di pangkuannya.
"Enggak kok, Mas. Cuma... aneh aja. Biasanya jam segini lagi rebutan remot TV sama Bunda, sekarang malah udah di jalan mau ke bandara."
Namira menghela napas panjang, suaranya terdengar sedikit parau. "Mas, di pesantren nanti beneran nggak ada tukang seblak yang lewat depan rumah ya?"
Mendengar pertanyaan itu, Ayyan hampir saja tertawa, tapi ia berhasil menahannya. Setidaknya, sifat asli Namira sudah mulai kembali meskipun sedikit.
"Di pesantren itu lingkungannya asri, Namira. Lebih banyak orang jualan makanan tradisional yang sehat. Tapi kalau kamu memang sangat ingin seblak, nanti saya minta tolong santri senior untuk mencarikan atau... saya yang temani kamu cari di luar komplek kalau ada waktu senggang," jawab Ayyan dengan nada yang sangat sabar.
Namira langsung menoleh, matanya yang tadi sayu kini sedikit berbinar. "Beneran, Mas? Mas nggak akan marah-marah kalau aku jajan itu?"
Ayyan mengangguk tipis. "Asalkan makannya tidak berlebihan dan tidak mengganggu jam belajar atau jam kegiatan pesantren."
"Tuh kan, ujung-ujungnya pake syarat," gumam Namira, tapi kali ini sambil tersenyum tipis. Ia merasa sedikit lega karena ternyata "Kulkas Dua Pintu"-nya ini punya sisi pengertian juga.
Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki area Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat mereka menuju Jawa Timur akan berangkat sebentar lagi.
"Sudah sampai. Ayo turun, kuatkan hatimu. Kamu bukan lagi sekadar gadis SMA, tapi pendamping seorang guru," ucap Ayyan sambil membukakan pintu mobil untuk Namira.
Namira menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Oke! Ibu Nyai Namira siap beraksi! Tapi Mas Ayyan janji ya, jangan galak-galak banget nanti di sana!"