"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PENGAKUAN SANG EKSEKUTOR
Udara di dalam ruang kerja itu mendadak membeku. Ghea masih berdiri mematung di depan dinding penuh foto para penjahat saat suara pintu tertutup dengan bunyi klik yang final. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Aroma sandalwood dan hawa dingin yang dibawa Adrian sudah cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.
"Indah, bukan? Hasil kerja keras yang kulakukan demi dirimu," suara Adrian terdengar tenang, namun getarannya memenuhi setiap sudut ruangan.
Ghea membalikkan tubuhnya perlahan. Jantungnya berdegup kencang, tangannya meremas ujung gaun satinnya untuk menyembunyikan getaran hebat. "Adrian... sejak kapan kau berdiri di sana?"
Adrian tidak menjawab. Ia melangkah maju, melewati meja jati besarnya, dan berdiri tepat di hadapan Ghea. Ia tidak tampak marah. Justru, ada binar kebanggaan yang mengerikan di matanya saat ia menatap dinding foto di belakang Ghea.
"Aku melihatmu masuk lewat CCTV di ponselku, Ghea. Aku sengaja membiarkanmu, karena aku ingin tahu kapan kau akan siap melihat kebenaran ini," Adrian mengulurkan tangannya, menyentuh foto seorang pria yang dicoret silang merah. "Kau ingat dia? Bramantyo. Koruptor yang memakan uang rakyat dan menyebabkan ribuan orang kelaparan. Kau mengejarnya selama dua tahun, tapi hukum yang kau agung-agungkan justru melepaskannya karena alasan 'prosedur yang salah'."
Ghea menelan ludah. Memorinya berdenyut menyakitkan saat mendengar nama itu. "Tapi kau tidak punya hak untuk membunuhnya, Adrian! Kau bukan Tuhan!"
"Lalu siapa yang punya hak, Ghea? Hukummu yang lemah itu?" Adrian tiba-tiba mencengkeram bahu Ghea, tidak keras, namun mengunci pergerakannya. "Aku hanya menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan oleh sistemmu yang sampah. Aku melakukan apa yang tidak berani dilakukan oleh polisi-polisi pengecut di luar sana."
Ghea menatap mata Adrian, mencoba mencari setitik rasa bersalah, namun yang ia temukan hanyalah keyakinan gila. "Kau membunuh mereka semua... demi aku?"
"Demi kita," koreksi Adrian. "Setiap kali kau pulang dengan wajah frustrasi, setiap kali kau menangis di malam hari karena penjahat yang kau tangkap dibebaskan begitu saja oleh hakim korup... hatiku hancur, Ghea. Aku tidak bisa membiarkan wanitaku menderita karena dunia yang tidak adil ini. Jadi, aku memutuskan untuk menjadi adil bagi mereka."
Adrian membawa Ghea mendekat ke dinding itu. Ia menunjuk satu per satu foto para pendosa tersebut. "Semua orang di dinding ini punya satu kesamaan: mereka pernah membuatmu kecewa. Mereka pernah membuatmu merasa tidak berguna sebagai detektif. Kini mereka sudah tidak ada. Aku telah membersihkan jalanmu, Sayang."
Ghea merasa mual. Ia teringat buku catatan yang baru saja ia baca di brankas—tentang rem mobilnya yang sengaja dipotong oleh pria ini. Ia ingin berteriak menuduhnya, namun akal sehatnya menahan lidahnya. Jika ia mengaku sudah membaca buku harian itu sekarang, Adrian mungkin tidak akan membiarkannya hidup lebih lama lagi.
"Kau... kau mengerikan, Adrian," bisik Ghea.
"Aku efektif, Ghea. Itulah bedanya aku dengan rekan-rekanmu," Adrian menarik Ghea ke dalam pelukannya. "Dunia luar adalah tempat yang kejam bagi orang jujur sepertimu. Di sini, kau aman. Kau tidak perlu lagi berurusan dengan kegagalan hukum. Kau hanya perlu menjadi ratuku, dan aku akan menjadi eksekutor bagi siapa pun yang berani mengusik ketenanganmu."
Ghea menyandarkan kepalanya di dada Adrian, tapi bukan karena cinta. Ia merasa seperti sedang bersandar pada sebongkah es yang siap menghimpitnya. Di dalam hatinya, kemarahan dan rasa muak bercampur menjadi satu. Adrian sedang mencoba meyakinkannya bahwa pembunuhan berantai yang ia lakukan adalah sebuah bentuk pengabdian cinta.
"Lalu kenapa kau menyembunyikan ini dariku selama ini?" tanya Ghea, mencoba mencari celah dalam logika Adrian.
"Karena aku menunggu ingatanmu pulih sedikit demi sedikit. Aku ingin kau menerimaku bukan hanya sebagai tunanganmu, tapi sebagai rekan yang paling mengertimu," Adrian mencium puncak kepala Ghea. "Sekarang kau sudah tahu rahasia terbesarku. Tidak ada lagi yang perlu kita sembunyikan satu sama lain."
Ghea hanya bisa mengangguk pelan dalam dekapan pria itu. Di dalam otaknya, ia sedang memetakan rencana baru. Adrian telah membuka topengnya, yang berarti pria itu merasa sudah memiliki kendali penuh atas kewarasan Ghea.
"Terima kasih sudah jujur padaku, Adrian," ucap Ghea, suaranya terdengar sangat parau dan pasrah.
Adrian tersenyum puas. Ia merasa Ghea mulai bisa menerima sisi gelapnya. "Baguslah. Aku tahu detektifku ini akan mengerti bahwa keadilan sejati butuh tangan yang berlumuran darah."
Namun, di balik wajah pasrahnya, Ghea mencengkeram kunci titanium yang ada di sakunya. Pengakuan Adrian barusan bukan membuatnya luluh, melainkan memperkuat tekadnya. Adrian bukan hanya menculiknya; pria ini adalah seorang psikopat yang membenarkan kejahatannya dengan mengatasnamakan cinta.
Ghea menyadari bahwa ia sedang berdansa di atas benang tipis. Salah langkah sedikit saja, ia akan jatuh ke dalam kegilaan yang sama dengan Adrian. Ia harus tetap berperan sebagai "Ghea yang mulai paham", sambil menunggu saat yang tepat untuk menusukkan kunci titanium itu tepat ke jantung kekuasaan Adrian.
"Sekarang, mari kita kembali ke kamar. Kau butuh istirahat setelah melihat semua ini," ajak Adrian dengan nada penuh kasih yang kini terdengar jauh lebih mengerikan di telinga Ghea.
Saat mereka berjalan keluar dari ruang kerja, Ghea sempat melirik kembali ke arah dinding foto tersebut. Ia tahu, di antara foto-foto penjahat itu, seharusnya ada satu tempat kosong untuk satu monster lagi.
Monster yang kini sedang menggandeng tangannya dengan sangat erat.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....