Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27.
"Selamat telah berhasil menyelesaikan misinya, Tuan!!"
Beberapa pria sekitar sepuluh orang itu, seketika membungkukkan tubuh mereka dengan sopan.
Saat langkahnya dan Stefan berjarak dua langkah lagi mendekati mobil mewah tersebut.
Ke sepuluh pria itu dengan gerakan serentak memberi salam hormat pada Stefan.
"Kami siap menerima tugas yang akan anda perintahkan selanjutnya!!" kata mereka lagi dengan nada yang nyaris bersamaan.
Mata Lara berkedip-kedip memandang para pria berpakaian formal serba hitam tersebut, dengan mulut yang setengah mangap tidak percaya.
"A.. apa maksud mereka? kenapa mereka menaruh hormat padamu?!" tanyanya.
"Oh, itu... !" Stefan yang tadinya percaya diri, seketika jadi gugup untuk menjawab Lara.
Ia tidak tahu memulai dari mana untuk menjelaskan keberadaan para pria, yang bertugas sebagai pengawalnya itu.
"Silahkan masuk, Nyonya!"
Salah satu pria itu membuka pintu mobil, dan mata Lara pun sontak membulat melihat wajah pria tersebut.
Bukankah dia teman Stefan? pria yang membuka pintu apartemen Stefan, saat Stefan terluka? bisik hati Lara memandang dengan lekat wajah pria tersebut.
Menyadari Lara memandangnya dengan tatapan lekat, Liam, Asisten Stefan dengan kikuk menundukkan wajahnya.
Sepertinya Lara telah mengenalinya.
"Bukankah kamu teman Stefan?"
Liam tersenyum canggung, "Ng.. bukan Nyonya, sa.. saya Asisten Tuan Alden!" jawab Liam gugup.
"Hah? apa? Asisten?" Lara seperti salah mendengar jawaban Liam.
"Iya, benar! namanya Liam, Asisten kepercayaan ku, yang dapat menggantikan tugasku kapan saja, kalau aku tidak berada di perusahaan!" Stefan menjawab pertanyaan Lara.
Lara nyaris melompat terkejut, Stefan tiba-tiba merangkul pinggangnya, dan tanpa sungkan menariknya merapat ke tubuhnya.
Apa?! Lara tidak percaya mendengar jawaban Stefan.
Apakah berondong yang ia pikir seorang anak muda pada umumnya, hanya lah seorang pemuda biasa, sebenarnya memiliki indentitas yang tidak biasa?
"Ayo, masuk ke dalam mobil! kita sudah ditunggu, Liam bilang mereka sudah tidak sabaran ingin mengenal Nyonya baru mereka!"
Sembari merangkul pinggang Lara, Stefan membawa Lara ke pintu mobil yang terbuka.
Apa?! si.. siapa yang menunggu? hati Lara kembali berbisik.
Membuatnya semakin yakin, kalau Stefan bukanlah pemuda biasa pada umumnya.
Apakah ia telah memberitahukan orang tuanya tentang pernikahan mereka? hati Lara semakin berlomba bertanya menebak siapa yang maksud Stefan.
"Silahkan, Nyonya!" kata Liam memegang pintu mobil yang terbuka.
Melihat sikap sopan Liam, dan beberapa pria lainnya yang masih berdiri ditempat mereka, membuat Lara menjadi canggung pada Stefan.
Sepertinya Stefan putra seorang pengusaha kaya di kota mereka, yang selama ini menyembunyikan indentitasnya.
"Kamu.. !" Lara tidak dapat menanyakan firasatnya pada Stefan.
Rasa canggung dalam dirinya, memikirkan status Stefan yang tidak biasa, terasa semakin kuat.
Mobil yang ia naiki saat ini bukan mobil mewah biasa, ini mobil mewah yang dirancang khusus.
Sebagai putri Darius Buchanan, walau ia tidak pernah mengerti soal mobil mewah, tapi ia dapat melihat kualitas mobil mewah edisi terbatas.
"Aku kenapa, kak? hem?" Stefan semakin tersenyum melihat reaksi tubuh Lara, yang dapat ia rasakan mulai menunjukkan rasa canggung padanya.
"Oh, ti.. tidak! i.. ini mobil siapa?" tanya Lara.
"Mobilku!" jawab Stefan dengan nada yang begitu tenang.
A.. apa?! bisik hati Lara, yang nyaris membulatkan matanya tidak percaya.
Sepertinya apa yang ia pikirkan memang benar, kalau Stefan putra seorang pengusaha di kota mereka.
Dari kaca spion, Lara dapat melihat mobil hitam lainnya mulai bergerak mengikuti mobil yang ia tumpangi bersama Stefan.
Mobil itu meluncur menuju pinggiran kota.
"Kemana kita?" tanya Lara kebingungan melihat keluar jendela mobil.
"Ke rumah kita!" jawab Stefan meraih tangan Lara, dan membawanya ke atas pangkuannya.
Ia dengan lembut meremas tangan Lara, untuk menenangkan perasaan Lara yang terlihat sepertinya tidak nyaman.
Mobil kemudian masuk ke sebuah pintu gerbang yang terbuka secara otomatis, diikuti mobil yang mengikuti mereka dari belakang.
Lara hanya bisa termangu melihat ke luar jendela, pemandangan yang cukup asri di kiri dan kanan sepanjang jalan.
Mata Lara terpaku melihat bangunan sebuah Mansion lewat kaca mobil depan, yang ia tumpangi bersama Stefan.
Sebuah Mansion bergaya Eropa abad-19, terlihat begitu megah dengan desain klasik yang masih terlihat mewah.
Lara sudah pernah melihat beberapa Mansion mewah di kota mereka, tapi ia belum pernah melihat Mansion yang seperti di depannya saat ini.
"I.. ini rumah siapa?" tanya dengan mulut setengah terbuka, karena tertegun melihat bangunan Mansion mewah tersebut.
"Rumah kita!" jawab Stefan tersenyum.
"Silahkan, Tuan, Nyonya!" pintu mobil di buka Liam, saat mobil telah berhenti di depan pintu utama Mansion.
Stefan menggenggam tangan Lara dengan erat, lalu lebih dahulu turun dari dalam mobil, sembari tangannya masih menggenggam tangan Lara.
Kembali Lara dibuat tertegun-tegun oleh sikap para pria, yang tadi berada di depan gedung catatan sipil.
Setelah mereka keluar dari dalam mobil, mereka kembali membuat formasi berdiri dengan rapi.
Mereka dengan tubuh tegak, berbaris di sepanjang teras menuju pintu utama Mansion.
Bukan hanya mereka saja.
Lara melihat beberapa pria dan wanita, yang Lara dapat kenali dari seragam mereka, kalau mereka adalah para pengasuh Mansion tersebut.
Sekilas Lara melihat, ada sekitar enam atau tujuh pengasuh yang menyambut mereka.
Terbentuklah dua baris memanjang, antara para pria berpakaian formal serba hitam, dan para pengasuh Mansion.
"Selamat datang di Mansion Juorell, Nyonya! kami telah menanti kedatangan anda!!"
Terdengar suara para pengasuh tersebut secara bersamaan, dengan nada ramah sembari tersenyum menyambut Lara.
Tubuh Lara nyaris limbung mendengar kata sambutan para Maid tersebut, yang tidak pernah ia alami di kediaman Ayahnya, mau pun di vila David.
Dua pengasuh di vila David, sudah ia anggap seperti anggota keluarga sendiri, jadi ia tidak ingin ke dua pengasuh itu menaruh sikap formal padanya.
"Ayo, masuk!" ajak Stefan menggenggam tangan Lara semakin erat.
Dengan keadaan termangu melihat situasi, yang ia alami saat ini, Lara diam saja melangkah di bawa Stefan masuk ke dalam Mansion.
"Ja.. jadi maksudmu, mereka yang tidak sabaran menunggu kedatangan kita?" tanya Lara melirik ke belakang, setelah mereka masuk ke dalam Mansion.
"Ya! mereka pengasuh kediaman Juorell, yang sudah kuanggap sebagai keluarga selama ini!" jawab Stefan dengan jujur.
Lara seketika kembali merasa begitu canggung pada Stefan.
Ia menarik tangannya dari genggaman tangan Stefan.
Stefan pun seketika merasa kehilangan, "Kak, sepertinya kamu menjaga jarak dariku!" katanya sedih memandang Lara.
Lara yang menyimpan tangannya ke balik punggungnya, seketika memperlihatkan wajah memerah.
"A.. apa? tidak! a.. aku hanya merasa, kalau kamu itu menipuku!" jawab Lara.
Mendengar jawaban Lara, seketika Stefan menjadi panik.
"A.. apa? aku tidak menipumu, kak! a.. aku sebenarnya sudah lama menyukai mu!" jawab Stefan.
Lara ingat kata-kata itu sudah Stefan ucapkan padanya, tapi ia tidak tahu sejak kapan Stefan menyukainya.
"Sudah lama? Stefan, kamu itu baru dua puluh dua tahun! memangnya umur berapa seorang anak lelaki, bisa merasakan adanya perasaan pada seorang wanita? dan, aku rasa kita belum pernah bertemu!"
Stefan meraih kembali tangan Lara, "Ayo, aku akan beritahukan! kapan persisnya kita pernah bertemu, dan kapan aku mulai menyukai kak Lara!"
Stefan kemudian membawa Lara menuju tangga ke lantai dua, dan masih tetap memegang tangan Lara, ia membawa Lara menaiki anak tangga.
Bersambung..........