Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Bab 31: Drum yang Berdentum di 10 IPS 1
Suasana kelas 10 IPS 1 siang itu jauh dari kata tenang. Meskipun jam pelajaran sejarah baru saja usai, bangku-bangku tidak ada yang kosong. Mereka semua berkumpul membentuk lingkaran besar di tengah kelas. Di depan papan tulis, Maya—sang koordinator dance—berdiri dengan kapur di tangan, siap mencatat keputusan akhir.
"Oke gais, ini latihan pertama kita besok bakal nentuin progres kelas kita. Tapi sebelum itu, kita harus fiksasi lagu. Ada usulan?" tanya Maya lantang.
Beberapa usulan muncul, mulai dari lagu pop Indonesia yang sedang viral hingga lagu barat yang slow. Namun, Ayra yang duduk di barisan depan hanya diam sambil mengetuk-ngetukkan pulpennya di meja, berpikir keras. Sebagai anak IPS 1, dia ingin sesuatu yang kuat, yang bisa membuat satu sekolah ternganga.
Sinta, yang duduk di sebelah Ayra, tiba-tiba mengangkat tangan dengan antusias. "Gimana kalau kita pakai lagu BLACKPINK - Kill This Love?"
Seketika, kelas yang tadinya riuh mendadak hening sejenak, lalu pecah oleh sorakan setuju.
"Wih! Kill This Love? Gila, itu lagu legend banget, Sin! Beat-nya dapet, power-nya dapet, cocok banget buat imej kelas kita yang 'ganas'!" seru salah satu siswa dari bangku belakang.
"Iya! Apalagi pas bagian terompet di awal, beuh... langsung kerasa auranya!" tambah yang lain.
Sinta menyenggol lengan Ayra dengan semangat. "Ay, bayangin deh! Itu lagu legend. Kita pake kostum hitam-hitam, terus gerakannya tajam-tajam. Kamu kan badannya tegak banget, pasti cocok jadi Lisa atau Jennie!"
Ayra tersenyum tipis, membayangkan beat lagu tersebut. "Aku setuju. Lagu itu punya karakter yang kuat. Kalau kita bisa bawain dengan rapi, IPS 1 pasti jadi sorotan utama di Pensi nanti."
Keputusan sudah bulat. Sore itu juga, setelah jam pulang sekolah, tim dance kelas 10 IPS 1 langsung menuju lapangan parkir belakang yang agak sepi untuk mulai membedah gerakan. Musik dari speaker portabel milik Sinta mulai menggelegar.
“Yeah, yeah, yeah... BLACKPINK in your area!”
Suara terompet yang ikonik dari lagu tersebut menggema. Ayra berdiri di tengah, mencoba menangkap setiap ketukan. Meskipun ini lagu yang sangat enerjik, Ayra tetap membawa gaya "dingin"-nya yang justru membuat gerakannya terlihat sangat berkelas.
"Ay, pas bagian 'Let’s kill this love!' tangannya harus bener-bener kayak orang nembak ya, harus tegas!" instruksi Maya.
Ayra mengangguk. Ia mengatur napasnya, menatap lurus ke depan seolah ada kamera yang sedang menyorotnya. Ia melakukan gerakan tangan yang tajam, pinggul yang bergerak sinkron, dan tatapan mata yang tajam.
"Gila, Ayra... kamu kalau lagi serius gini serem ya, tapi keren banget!" puji Sinta yang berdiri di sampingnya, meski nafasnya sudah mulai tersengal-sengal.
Ternyata, suara musik yang kencang itu menarik perhatian anak-anak kelas 11 IPS 2 yang baru saja bubar dari kelas tambahan. Di antara kerumunan itu, tentu saja ada Alano.
Alano berdiri di dekat tiang basket, tangannya bersedekap di dada. Ia memperhatikan setiap gerakan Ayra. Ia melihat bagaimana Ayra begitu fokus, keringat mulai membasahi pelipisnya, dan bagaimana bando birunya hari ini diganti dengan ikat rambut hitam yang simpel.
"Buset, 10 IPS 1 mau perang apa mau dance? Lagunya horor banget," celetuk Bima yang berdiri di samping Alano.
"Itu namanya power, Bim," sahut Alano tanpa mengalihkan pandangan. "Dan liat Ayra. Dia bener-bener dapet nyawanya di lagu itu. Ternyata bener kata orang, orang kaku kalau udah ketemu musik yang pas, bakal jadi yang paling berbahaya."
Alano sengaja tidak mendekat. Ia ingin memberikan ruang bagi Ayra untuk berlatih. Namun, saat musik berhenti sejenak untuk evaluasi, Alano berjalan menuju kantin dan kembali membawa dua botol minuman isotonik dingin.
"Capek?" tanya Alano tiba-tiba saat Ayra sedang duduk di lantai semen sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
Ayra mendongak, sedikit terkejut namun langsung tersenyum tipis. "Lumayan. Lagunya capek banget, gerakannya nggak ada jeda buat napas."
Alano menyodorkan minuman itu. "Nih, minum dulu. Jangan sampe pingsan di sini, nanti nggak ada yang gantiin posisi sekretaris OSIS yang paling rajin."
Ayra menerima minuman itu, merasakan sensasi dingin di tangannya. "Makasih, Lan. Kamu dari tadi di situ?"
"Iya. Nontonin calon idol sekolah," goda Alano. Ia duduk di samping Ayra, tidak peduli dengan debu lapangan. "Bagus kok pilihannya, Kill This Love. Cocok sama sifat lo yang suka 'membunuh' perasaan gue lewat kata-kata ketus lo."
Ayra langsung menyikut lengan Alano. "Lano! Lagi serius juga!"
"Gue juga serius, Ay. Gerakan lo tadi... yang bagian tangan nembak itu? Gue ngerasa beneran ketembak di sini," Alano menunjuk dadanya sendiri dengan tampang dramatis.
Ayra memutar bola matanya, namun ia tidak bisa menahan tawa. "Sinta bener, lagu ini emang seru. Tapi aku takut nanti pas hari-H malah grogi."
"Tenang aja. Gue bakal ada di barisan paling depan, bawa spanduk gede tulisan 'AYRA CENTER 10 IPS 1'," canda Alano.
"Jangan berani-berani ya! Malu-maluin!" ancam Ayra, meskipun dalam hati ia merasa jauh lebih tenang setelah mendengar dukungan dari Alano.
Semangat yang Tak Padam
Latihan dilanjutkan hingga langit berubah jingga. Anak-anak 10 IPS 1 tampak sangat kompak. Mereka bukan lagi sekadar teman sekelas, tapi sebuah tim yang ingin membuktikan bahwa kelas IPS tidak bisa diremehkan dalam hal kreativitas.
Sinta yang melihat kedekatan Ayra dan Alano di pinggir lapangan hanya bisa tersenyum. "Ay, kayaknya lagu kita beneran bakal sukses. Soalnya penyemangat kamu udah stand-by terus kayak satpam."
Ayra hanya tersenyum tipis sambil memasang kembali posisi siapnya. Saat musik kembali berdentum, Ayra bergerak dengan keyakinan baru. Setiap entakan kakinya adalah janji bahwa ia akan memberikan yang terbaik. Bukan hanya untuk kelasnya, bukan hanya untuk OSIS, tapi juga untuk seseorang yang sedang menunggunya dengan setia di pinggir lapangan.
Malam itu, Ayra pulang dengan badan pegal-pegal, namun hatinya dipenuhi irama lagu yang membara. Di kepalanya, melodi Kill This Love terus berputar, seirama dengan detak jantungnya yang makin tak keruan tiap kali mengingat tatapan bangga dari Alano sore tadi.