Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13
...CERITA WARGA YANG TIDAK MEMBANTU...
Pagi di desa itu tidak pernah benar-benar ramai seperti pagi kampus hari Minggu, di mana suara burung masih terdengar ramah dan langkah kaki terasa wajar. Ini sunyi yang salah, seperti jeda napas terlalu lama, membuat orang bertanya-tanya apakah dunia masih berjalan atau tidak. Sunyi yang tidak memberi ruang untuk menghela napas panjang yang justru membuat telinga bekerja lebih keras, menangkap suara-suara kecil yang seharusnya tidak perlu diperhatikan, ranting patah jauh di kebun, gesekan daun tanpa angin, atau suara air menetes entah dari mana.
Tidak ada suara motor lewat. Tidak ada anak kecil berlari. Bahkan suara ayam pun terdengar seperti malas berkokok, seolah desa ini sedang tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Ayam-ayam itu berkeliaran tanpa tujuan jelas, mematuk tanah basah dengan gerakan setengah hati. Seekor di antaranya berhenti, menatap ke arah posko terlalu lama, lalu berjalan pergi tanpa suara. Kabut tipis masih menggantung rendah, menempel di ujung daun dan atap rumah warga, membuat jarak pandang terasa lebih sempit dari seharusnya. Garis antara rumah satu dan lainnya jadi kabur. Antara dekat dan jauh jadi rancu. Segalanya terlihat seperti lukisan yang belum kering sempurna.
Udara dingin menyelusup ke kulit, bukan dingin segar, tapi dingin lembap yang bikin badan nggak nyaman. Dingin yang masuk ke tulang dan betah di sana. Kaos terasa kurang. Jaket terasa nanggung. Semua terasa setengah-setengah seperti desa ini sendiri. Di tengah suasana itu, Paijo berdiri di depan posko dengan wajah penuh semangat yang entah berasal dari mana. Senyumnya lebar. Bahunya tegak. Seolah hari ini adalah hari festival desa, bukan hari ketiga KKN di tempat yang mulai terasa mencurigakan. Energi Paijo terasa kontras dengan kabut dan udara dingin. Terlalu cerah. Terlalu pagi. Terlalu optimis untuk tempat yang belum sepenuhnya memperlihatkan wajah aslinya.
“Baik, teman-teman,” katanya sambil menepuk tangan. “Hari ini kita cari informasi ke warga. Biar nggak parno sendiri.”
Tepukan tangannya terdengar nyaring di udara pagi yang terlalu hening. Beberapa burung kecil beterbangan menjauh dari pohon terdekat. Udin mengangguk cepat, seakan kalimat itu adalah ide yang sejak awal memang berasal darinya.
“Betul. Kita mahasiswa. Bukan anak kecil. Semua ada penjelasan logisnya.”
Nada suaranya tegas. Terlalu tegas. Nada orang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari orang lain. Ia menyilangkan tangan di dada, berdiri sedikit lebih depan dari yang lain, pose alamiah orang yang ingin terlihat punya kendali. Meski lingkaran hitam di bawah matanya belum sepenuhnya hilang.
“Kayak bayangan kemarin?” Bodat menyeringai.
Senyumnya miring setengah bercanda, setengah sengaja menusuk. Udin tidak langsung menoleh, Rahangnya mengeras sesaat.
“Itu—angin.”
Kata itu keluar cepat. Terlalu cepat.
“Anginnya lewat jendela lantai dua?”
Nada Bodat santai. Terlalu santai. Seperti orang yang sudah siap dengan jawaban apa pun.
“Angin vertikal,” jawab Udin tanpa rasa bersalah.
Tidak ada satu pun teori fisika yang mendukung pernyataan itu, tapi Udin mengatakannya dengan keyakinan penuh, seperti dosen yang tidak mau ditanya ulang. Beberapa saling pandang. Tidak ada yang membantah. Bukan karena setuju, tapi karena membantah terasa melelahkan. Palui menghela napas panjang sambil memeluk tas selempangnya.
“Yang penting jangan keluar duit. Tanya aja. Gratis, kan?”
Baginya, horor bisa ditoleransi. Pengeluaran tidak. Ia menghitung cepat di kepalanya, berapa hari lagi uang kiriman aman, berapa kali lagi bisa makan mie tanpa topping, dan apakah cerita horor bisa dijadikan alasan untuk pulang cepat tanpa potong anggaran.
Juned sudah menyalakan kamera sejak lima menit lalu. Kamera itu tidak diarahkan ke wajah siapa pun secara spesifik tapi lebih ke suasana. Seperti Kabut, Posko, Tanah basah, Dinding kayu yang catnya terkelupas. Semua yang, menurut algoritma, berpotensi “menjual”. Lensa menangkap embun yang belum jatuh, cahaya pagi yang redup, dan ekspresi orang-orang yang setengah siap, setengah ragu.
“Opening dulu, Jo. Konten ‘KKN dan Misteri Desa’ bisa naik.”
Nada Juned datar, profesional. Seolah ini proyek biasa. Padahal jari-jarinya sedikit gemetar saat mengatur fokus.
“Ini bukan vlog horor!” Juleha menegur sambil membenarkan posisi tasbih di tangannya.
Tasbih itu sudah ia pegang sejak subuh. Bukan untuk gaya. Bukan untuk pamer. Tapi untuk berjaga, setidaknya begitu yang ia yakini.
“Justru itu. Horor tanpa niat.”
Kalimat itu membuat beberapa orang menoleh. Tidak ada yang bisa membantah. Karena sejauh ini, memang semuanya terasa begitu. Anang keluar dari dapur sambil membawa spatula, masih mengenakan celemek lusuh yang entah kapan dipakainya. Aroma bawang goreng samar-samar tertinggal di udara.
“Aku ikut setelah masak. Jangan lama-lama. Gas tinggal setengah.”
Nada suaranya datar, tapi ancamannya nyata. Tidak ada yang ingin bertanggung jawab jika mereka harus masak dengan kayu bakar di tempat yang bahkan siang hari pun terasa tidak sepenuhnya aman. Surya berdiri di belakang semua orang, kacamata hitam masih terpasang meski matahari nyaris tak terlihat di balik kabut. Ia menyilangkan tangan. Posturnya defensif. Seperti siap lari kapan saja.
“Aku ikut… dari jauh,” katanya pelan.
Tidak ada yang menertawakan. Semua paham. Itu bukan soal malas. Itu soal bertahan hidup versi Surya. Ani sudah siap paling depan. Wajahnya berseri. Mata berbinar. Seperti anak TK mau study tour, padahal tujuan mereka adalah sumber cerita yang kemungkinan besar tidak ingin ditemukan. Ia melompat kecil di tempat, menghangatkan badan, sama sekali tidak terpengaruh aura dingin desa.
“Rumah mana dulu? Yang katanya kosong itu?”
Nada suaranya penuh rasa ingin tahu. Terlalu penuh.
“Bukan ‘katanya’,” Susi membenarkan kerah kerudungnya. “Itu jelas kosong. Aura nya jelek.”
Ia mengatakannya tanpa ragu, seperti menyebut fakta cuaca. Wati masih tidur di bangku panjang, posisi tubuhnya tidak berubah sejak pagi. Napasnya teratur. Wajahnya damai. Seolah dunia ini tidak sedang aneh sama sekali. Sementara Aluh menatap langit, Ia memicingkan mata, memperhatikan kabut yang perlahan bergerak, atau terlihat bergerak.
“Kalau hujan gimana?”
Tidak ada yang menjawab. Karena pertanyaan itu terasa terlalu normal. Terlalu masuk akal. Dan justru karena itu, terasa asing di tengah semua keganjilan. Beberapa detik berlalu dalam diam. Kabut sedikit menipis, tapi tidak cukup untuk membuat desa terasa lebih ramah.
Akhirnya, mereka bergerak. Bukan dengan keyakinan penuh. Bukan dengan rencana matang. Tapi dengan kesepakatan tak tertulis bahwa diam di posko lebih menakutkan daripada mendengar cerita warga. Langkah pertama meninggalkan halaman posko terasa berat. Seolah tanahnya menahan sedikit lebih kuat dari seharusnya. Seolah rumah tua itu tidak sepenuhnya merelakan mereka pergi. Dan di balik kabut, di antara rumah-rumah kayu yang berdiri terlalu rapi untuk desa yang jarang ramai.
Cerita-cerita menunggu. Bukan untuk menjelaskan. Bukan untuk menenangkan. Tapi untuk membuat segalanya semakin tidak membantu.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....