Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tara Menyadari Cinta Kia
Tara tidak pernah menyangka, kebahagiaan Kia akan terasa seperti tamparan yang sunyi.
Bukan tamparan yang menyakitkan secara kasar, bukan pula rasa cemburu yang membakar dada. Lebih seperti kesadaran yang datang terlambat—pelan, dingin, dan tidak bisa dihindari.
Ia melihatnya secara tak sengaja.
Sore itu, Tara baru selesai dari wawancara kerja terakhirnya. Hujan baru reda, meninggalkan udara lembap dan jalanan yang memantulkan cahaya lampu kota. Ia memutuskan berjalan kaki sebentar sebelum pulang, membiarkan pikirannya beristirahat dari pertanyaan-pertanyaan formal dan senyum sopan yang melelahkan.
Di depan sebuah kafe kecil yang jendelanya lebar, langkah Tara melambat.
Di sanalah Kia.
Duduk di dekat jendela, mengenakan kemeja sederhana berwarna gelap. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa riasan berlebih. Kia terlihat… ringan. Tidak dingin. Tidak tegang. Tidak seperti Kia yang selama ini tinggal di ingatan Tara—yang selalu berjaga, selalu siap bertahan.
Di hadapannya, Daffa duduk sambil tertawa kecil, tubuhnya condong ke depan, seolah dunia di luar meja itu tidak ada.
Tara berhenti.
Ia tidak berniat mengintip. Tapi kakinya membeku.
Kia sedang tersenyum. Bukan senyum sopan. Bukan senyum tipis yang biasanya ia pakai sebagai perisai. Senyum itu terbuka. Jujur. Matanya sedikit menyipit, bahunya rileks. Tangannya bergerak ringan saat berbicara, lalu berhenti ketika Daffa menyentuh punggung tangannya—sentuhan singkat, penuh kebiasaan.
Kia tidak menarik tangannya.
Ia membiarkannya.
Dada Tara terasa mengencang.
“Oh,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Bukan karena Daffa. Bukan karena mereka terlihat cocok. Tapi karena satu hal yang tidak bisa disangkal: Kia bahagia.
Dan kebahagiaan itu bukan pura-pura.
Tara mengenali ekspresi itu. Ia pernah melihatnya—bertahun-tahun lalu, sebelum segalanya runtuh. Sebelum rumah yang sama menjadi medan perang. Sebelum kata-kata berubah menjadi pisau.
Kia tertawa kecil lagi, lalu menggeleng, seolah Daffa baru saja mengatakan sesuatu yang konyol. Kia menyentuh lengan Daffa kali ini—bukan sebaliknya. Gerakan spontan, tanpa ragu.
Tara menunduk.
Ada rasa hangat yang aneh di matanya.
Ia berbalik sebelum mereka menyadari kehadirannya. Melangkah pergi, cepat tapi tidak berlari. Ia tidak ingin terlihat. Tidak ingin mengganggu momen yang jelas-jelas bukan miliknya.
Di perjalanan pulang, pikiran Tara penuh.
Ia mengingat masa lalu dengan jernih yang menyakitkan.
Tentang Kia yang selalu keras. Tentang kata-kata tajam. Tentang sikap defensif yang dulu ia benci. Tentang bagaimana ia, Tara, sering merasa menjadi korban—tanpa pernah benar-benar bertanya siapa yang terluka lebih dulu.
“Gue cuma pengen punya rumah lagi.”
Kalimat itu dulu terasa mutlak benar.
Sekarang, Tara menyadari: mungkin Kia juga ingin hal yang sama. Hanya saja, Kia tidak pernah mengatakannya.
Malam itu, Tara duduk di kamar kosnya yang sempit. Lampu meja menyala redup. Ia membuka laptop, menatap layar kosong. Pikirannya melayang pada wajah Kia sore tadi—wajah yang tenang, yang tidak siaga, yang tidak mengeras saat disentuh.
“Dia pantas,” bisik Tara.
Kata-kata itu berat, tapi jujur.
Ia sadar, selama ini, ia menyimpan perasaan yang tidak pernah ia beri nama. Bukan cinta yang ingin dimiliki, bukan rindu yang ingin dibalas. Lebih seperti kebutuhan untuk diakui. Untuk dimengerti. Untuk didengar oleh satu orang yang tidak pernah memberinya itu.
Dan ia marah karena itu.
Padahal, mungkin Kia juga marah karena hal yang sama.
Tara menutup mata, menghela napas panjang.
Ia teringat ibunya.
Tentang keputusan-keputusan yang dulu ia bela mati-matian. Tentang alasan-alasan yang kini terdengar rapuh. Tentang bagaimana ia memilih menyalahkan Kia karena itu lebih mudah daripada mengakui bahwa ibunya tidak selalu benar.
Kia tidak pernah punya pilihan.
Kesadaran itu datang seperti hujan—tidak deras, tapi meresap.
Beberapa hari kemudian, Tara kembali bertemu Kia secara langsung.
Bukan disengaja. Mereka dipertemukan oleh acara ulang tahun Daffa—pertemuan kecil, dewasa, tanpa euforia berlebihan. Orang-orang yang dulu mereka kenal kini hadir dengan versi diri masing-masing yang lebih tenang.
Kia datang bersama Daffa.
Tidak bergandengan tangan. Tidak pamer. Tapi duduk berdekatan, bahu bersentuhan sesekali. Ada bahasa yang tak diucapkan, tapi terasa jelas.
Tara menyapa lebih dulu.
“Hai,” katanya, suaranya tenang. “Kabar?”
Kia menoleh. Ada jeda sepersekian detik—kebiasaan lama—lalu Kia tersenyum kecil. “Baik.”
Bukan senyum dingin. Bukan senyum jaga jarak.
Tara mengangguk. “Senang dengarnya.”
Daffa menatap Tara, lalu Kia, membaca situasi. “Aku ambil minum dulu,” katanya bijak, memberi ruang.
Mereka berdiri berhadapan.
Sunyi.
Tidak canggung. Tidak nyaman. Hanya… berat oleh semua yang tidak pernah diucapkan.
“Aku lihat kamu… bahagia,” kata Tara akhirnya.
Kia tidak menyangkal. “Aku belajar caranya.”
Tara tersenyum tipis. “Kelihatan.”
Ia menelan ludah. “Aku cuma mau bilang… aku senang buat kamu.”
Kejujuran itu membuat Kia terdiam. Matanya meneliti wajah Tara, seolah mencari lapisan lama—amarah, sindiran, pertahanan. Tapi yang ia temukan hanya ketenangan yang masih rapuh, tapi nyata.
“Terima kasih,” kata Kia pelan.
Tara mengangguk. “Dan… maaf.”
Satu kata. Terlambat. Tapi jujur.
Kia menghela napas. “Aku juga.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk melepaskan beban bertahun-tahun.
Daffa kembali dengan minuman. Suasana mencair. Obrolan lain menyusul. Dunia berputar seperti biasa.
Namun bagi Tara, ada sesuatu yang telah berubah.
Malam itu, saat ia pulang sendiri, Tara berhenti di depan cermin kecil di kamarnya. Ia menatap dirinya—lebih dewasa, lebih tenang, lebih sadar.
Ia tidak kehilangan apa pun malam ini.
Ia justru melepaskan sesuatu yang sudah lama ia genggam terlalu erat.
Kia bahagia.
Dan untuk pertama kalinya, Tara tidak merasa tertinggal.
Ia merasa… selesai.
Di luar, kota kembali ramai. Dan di antara lampu-lampu itu, Tara berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan—bukan karena cintanya terbalas, tetapi karena akhirnya ia mengerti: mencintai tidak selalu berarti memiliki.
Kadang, itu berarti merelakan dengan hati yang utuh.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya