NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam Tahun Kemudian

Enam tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah banyak hal.

Termasuk seseorang.

---

Kota itu masih sama—ramai, padat, penuh ambisi—tapi **Kia** tidak lagi menjadi bagian yang mudah terguncang olehnya.

Pagi itu, ia berdiri di depan jendela apartemen lantai sembilan, secangkir kopi hitam di tangan. Tidak ada gula. Tidak ada susu. Rasanya pahit, dan Kia menyukainya seperti itu.

Jam di dinding menunjukkan pukul 06.10.

Tepat waktu.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana, blazer hitam, dan celana bahan. Rambutnya diikat rendah. Wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Matanya tajam, dingin—terbiasa mengambil keputusan tanpa ragu.

Teleponnya bergetar.

> **Client – PT Arunika:**

> Meeting dimajukan jadi jam 08.00. Bisa?

Kia langsung membalas.

> **Kia:** Bisa. Saya di lokasi jam 07.45.

Singkat. Profesional. Tanpa basa-basi.

Ia mematikan layar ponsel dan menyesap kopinya sekali lagi.

Tidak ada lagi Kia yang reaktif, temperamental tanpa arah.

Yang tersisa adalah perempuan berusia dua puluh empat tahun yang belajar mengandalkan dirinya sendiri—karena tidak pernah benar-benar bisa bergantung pada siapa pun.

---

Di kantor, Kia dikenal sebagai sosok yang tidak banyak bicara tapi selalu tepat sasaran.

Ia bekerja sebagai konsultan proyek—bidang yang menuntut logika dingin, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan membaca manusia. Dan Kia unggul di sana.

“Lo nggak capek, Ki?” tanya Rena, rekan kerjanya, suatu siang. “Kerja terus, pulang paling terakhir.”

Kia mengetik tanpa menoleh. “Capek itu pilihan.”

Rena mendengus. “Lo tuh kayak nggak punya kehidupan.”

Kia berhenti sejenak.

Punya kehidupan?

Ia teringat rumah kecil di pinggir kota.

Ibunya yang kini rambutnya lebih banyak putih.

Dan kamar belakang yang sudah lama kosong.

“Ada,” jawab Kia akhirnya. “Cuma nggak semua orang perlu tahu.”

---

Ibunya masih tinggal di rumah yang sama.

Kia pulang seminggu sekali—kadang dua—membawakan belanjaan, memastikan obat diminum, dan mendengarkan cerita yang sering kali diulang.

“Kamu nggak kepikiran nikah?” tanya ibunya suatu malam.

Kia tersenyum tipis. “Belum.”

“Teman-temanmu?”

“Sebagian sudah. Sebagian lagi sibuk.”

Ibunya mengangguk, lalu berkata pelan, “Ibu cuma pengen kamu bahagia.”

Kia menatap televisi yang menyala tanpa benar-benar ia tonton.

“Aku baik-baik aja, Bu.”

Jawaban itu selalu sama.

Dan selalu setengah benar.

---

Malam hari adalah waktu paling sunyi.

Di apartemennya, Kia duduk di sofa, membuka laptop bukan untuk kerja—melainkan hanya menatap layar kosong.

Kadang, tanpa ia sadari, pikirannya melayang ke masa lalu.

Ke rumah yang tidak pernah damai.

Ke seorang gadis yang pernah ia benci sepenuh hati.

Ke kepergian tanpa janji.

Nama itu jarang ia ucapkan.

**Tara.**

Ia tidak mencari kabar. Tidak juga menghindar secara sadar.

Masa lalu ia simpan rapi—seperti berkas lama yang tidak perlu dibuka kecuali benar-benar terpaksa.

---

Sementara itu, di kota lain, Tara berdiri di depan cermin kamar kos kecil.

Rambutnya kini lebih pendek. Pakaiannya sederhana. Tidak ada lagi aura gadis sekolah yang defensif dan penuh amarah.

Ia mengenakan seragam kerja—pegawai administrasi di sebuah klinik swasta.

Tidak glamor. Tidak istimewa.

Tapi tenang.

Tara mengikat sepatunya, lalu duduk sebentar di tepi ranjang.

Enam tahun terakhir tidak mudah.

Ia jatuh.

Ia salah memilih.

Ia belajar menelan penyesalan tanpa tahu harus meminta maaf pada siapa.

Ibunya kini tinggal di kota kecil, hidup sederhana.

Hubungan mereka membaik—perlahan, canggung, tapi jujur.

Tentang masa lalu, mereka jarang bicara.

Karena beberapa luka tidak sembuh dengan membahasnya terus-menerus.

---

Tara sering bertanya-tanya.

Bagaimana hidup Kia sekarang?

Apakah ia bahagia?

Apakah ia masih marah?

Apakah ia masih membencinya?

Pertanyaan itu datang terutama di malam hari, saat Tara menatap langit-langit kamar dan merasa ada bagian hidupnya yang tertinggal.

Ia tidak berani mencari.

Karena takut menemukan jawaban yang tidak siap ia terima.

---

Takdir bekerja dengan caranya sendiri.

Tanpa peringatan.

Tanpa izin.

Suatu sore, di sebuah kafe kecil dekat pusat kota, Kia duduk sendirian menunggu klien. Ia membuka tablet, memeriksa proposal.

Pintu kafe terbuka.

Angin masuk bersama seseorang.

Kia tidak langsung menoleh.

Sampai suara itu terdengar.

“Pesanannya sama kayak biasa ya.”

Suara yang lebih dewasa.

Lebih tenang.

Tapi terlalu familiar.

Tangan Kia berhenti bergerak.

Ia menoleh perlahan.

Dan dunia seperti berhenti satu detik lebih lama dari seharusnya.

Di sana berdiri **Tara**.

Lebih kurus.

Lebih matang.

Lebih… tenang.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada ledakan emosi.

Tidak ada pelukan.

Hanya keterkejutan yang sunyi.

Tara lebih dulu bereaksi.

Ia menelan ludah, lalu mengangguk kecil. “Kia.”

Kia berdiri.

“Lama nggak ketemu,” jawabnya datar.

Tara tersenyum tipis. “Iya.”

Keduanya terdiam.

Kafe tetap ramai, tapi ruang di antara mereka terasa terpisah dari dunia.

Akhirnya Tara berkata, “Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini.”

“Aku juga.”

Hening lagi.

“Gimana kabar?” tanya Tara hati-hati.

Kia menatapnya lama, lalu menjawab singkat, “Baik.”

Tidak ada basa-basi lanjutan.

Tidak ada tawaran duduk bersama.

Tara mengangguk, memahami batas yang tak terlihat itu.

“Ya… aku senang lihat kamu baik,” katanya jujur.

Kia mengangguk. “Kamu juga.”

Dan hanya itu.

Tara mengambil pesanannya dan pergi.

Pintu kafe tertutup kembali.

Kia duduk perlahan.

Tangannya sedikit gemetar.

Bukan karena marah.

Tapi karena luka lama yang ia kira sudah mati…

ternyata hanya tertidur.

---

Enam tahun berlalu.

Mereka tumbuh.

Berubah.

Tapi beberapa cerita tidak pernah benar-benar selesai.

Dan pertemuan singkat itu hanyalah awal dari sesuatu

yang akan membuka kembali kenangan, penyesalan,

dan kebenaran yang selama ini dikubur terlalu rapi.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!