Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 4 bagian 2
Satu bulan berlalu dengan begitu cepat dan ujian tengah semester telah dilaksanakan, kali ini tidak ada satu pun penghuni bangku belakang yang merasa pesimis. Meski kasus yang mereka dapatkan lebih besar dari sebelumnya, mereka sebenarnya tidak melakukan apa pun. Kepolisian lah yang hyang seharusnya sibuk, karena ini memang tugas mereka.
Pagi ini koridor sekolah dihebohkan dengan berita seorang siswa yang bunuh diri. Namanya adalah Ani Irawan, dia adalah siswa yang diambil dari masyarakat karena prestasinya. Jadi secara ekonomi dia bisa dibilang kekurangan, namun karena prestasinya yang baik Celestial School akhirnya memberikan keringanan dengan mengratiskan biaya pendidikannya. Sebenarnya dia bukan lah satu-satunya siswa yang beruntung itu, karena ada lebih dari 100 siswa yang mendapatkan bantuan itu. Mereka bertempat tinggal di asrama yang dibangun tidak jauh dari sekolah.
Tidak ada satu pun siswa yang terlambat hari ini, entah karena mereka sudah lebih serius menjalani akhir semester atau karena bell memang tidak dibunyikan pagi ini. Jam sudah menunjukkan pukul 07.15, namun bell sekolah belum juga berbunyi. Padahal biasanya bell akan berbunyi sebelum Ilyas memasuki kelas.
Hani dan Ida juga tidak terlihat di bangku mereka, sepertinya mereka sedang mencari informasi tentang berita yang didapat pagi ini. Biarkan ratu gosip itu melebarkan sayap kekuasaannya.
Ke-empat siswa penghuni bangku pojok belakang itu tampak tengah membicarakan sesuatu yang sangat serius, hingga tidak ada satu pun siswa yang tertarik untuk membahas siswi yang bunuh diri itu. Bagi mereka keadaan dalam kota sepertinya lebih menarik untuk dibahas, karena pada akhirnya mereka mau tidak mau mempercayai apa yang Ida dan Hani katakan di awal semester. Pemuja setan itu benar-benar ada, dan bahkan tersebar di setiap sudut dunia.
“Lalu bagaimana dengan Yulia” tanya Ilyas mengalihkan pembicaraan. Sejak hari itu, Yulia tidak tampak dimana pun, ia seperti bersembunyi dan hilang ditelan bumi.
“Pihak sekolah membiarkannya tinggal di asrama dan mengratiskan semua biaya sekolah hingga kelas 12. Selama 3 hari ia tinggal di rumah atasan Om Bima, dan sejak Senin kemarin dia sudah tinggal di asrama” jawab Andre.
“Kasian dia, mungkin jika dia tidak mengadu pada kita keluarganya mungkin masih hidup” sahut Jonatan.
“Keluarga apa, itu yang selama 15 tahun merawatnya itu adalah pembunuh keluarga kandungnya. Jika dia tidak mengadu pada kita saat itu, mungkin dia sudah menjadi mayat tidak dikenali seperti Danila” sangkal Andre.
Daniel tidak memikirkan hal itu. Dia sudah mendengar semua hal dari sumbernya langsung. Berurusan dengan orang-orang yang menganut faham satanik atau sejenisnya memang bukanlah hal yang mudah, dan dia tidak suka berurusan dengan sesuatu yang rumit. Dia hampir tertidur saat ini, mungkin jika Hani dan Ida tidak masuk dengan membanting pintu, ia akan benar-benar tertidur.
“Gaes, berita itu benar. Pagi ini Ani Irawan ditemukan gantung diri di kamar asramanya dengan secarik kertas bertuliskan ‘aku sangat lelah’. Orang pertama yang menyadarinya adalah Yulia. Saat ini pihak sekolah sedang memeriksa ruangannya, sepertinya tidak akan ada guru yang masuk kelas. Kemungkinan besar sekolah akan dibubarkan lebih awal, kita hanya disuruh menunggu keputusan yang diambil oleh pihak sekolah. ” ucap Hani dengan wajah yang serius membuat suasana kelas menjadi hening. Baru kali ini mereka tidak menyukai rencana pulang awal kali ini.
“Kasusnya dilaporkan?” Tanya Andre.
“Sepertinya tidak, aku dengar orang tua Ani tidak ingin ada media yang tahu karena menurut mereka itu tabu besar. Pihak sekolah yang mendengar itu segera setuju, mereka juga perlu menjaga nama baik sekolah. Perkataan orang tua Ani itu benar-benar seperti angin segar bagi sekolah, jadi mereka berusaha menutupi semua kejadian dari media dan kepolisian” jawab Hani. Ada rasa kecewa dalam keputusan ini, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun juga. Kasus ini tidak ada kaitannya dengannya.
Hani dan Ida duduk di tempatnya dan tidak berniat melakukan apa pun. Daniel yang mendengar kasus ini agak terkejut, apa yang membuat anak itu nekat gantung diri? Ia siswi berprestasi tentu tidak akan terpengaruh oleh beratnya pelajaran. Ia juga tidak perlu memikirkan spp atau uang apa pun, pihak sekolah mengratiskan semua biaya sekolah. Ia hanya perlu memikirkan uang jajannya.
“Sepertinya akan ada kasus arwah baru, asrama itu sudah horor sebelumnya. Aku tidak akan kaget jika beredar kabar arwah Ani gentayangan. Dia hidup saja sudah seperti mayat” ucap Ilyas pada ke-3 temannya. Itu bukan julukan, itu hanya mengacu pada orangnya yang memang selalu tampak pucat.
Anak itu sangat pendiam dengan rambutnya yang panjang sepinggang dan kulitnya yang sangat pucat. Beberapa orang sudah memanggilnya kuntilanak bahkan saat ia masih hidup. Kira-kira apa reaksi mereka begitu tahu Ani bunuh diri, kalau dia yang memberi julukan ia pasti tidak bisa tidur nyenyak hingga 7 hari ke depan.
“Kenapa harus menganggu orang jika dia ingin mati atas kemauannya sendiri. Aneh sekali, aku tahu bertahan itu tidak mudah tapi bukan berarti mengakhiri hidup adalah jalan utamanya kan? Dengan dia bunuh diri di asrama saja sudah menyusahkan pihak sekolah, padahal sekolah sudah berusaha untuk membuat dia merasa nyaman. Bahkan aku dengar ada hukuman kusus bagi anak-anak yang membully dia” sahut Jonatan sedikit kesal.
Dia bukan tidak berempati, dia hanya merasa orang yaang bunuh diri dengan alasan apa pun itu tidak dibenarkan. Apalagi jika mereka melakukan hal itu di tempat yang bukan milik sendiri, rasanya seperti mematikan rezeki orang lain. Dia juga bukan orang yang terlahir dari keluarga yang mampu, dia juga tidak mendapatkan bantuan dalam menjalani pendidikannya, tapi kedua orang tuanya masih berusaha untuk memberinya yang terbaik.
“Mental orang tidak ada yang tahu Jo” ucap Ilyas menenangkan.
“Ya tapi bukan berarti dia bisa bunuh diri di tempat orang lain juga lah. Itu kan sudah terencana, kenapa tidak pulang dulu atau minimal cari tempat kosong lah agar tidak ada orang yang tahu. Aku akan ikut marah jika SPP kita naik hanya karena kasus ini” jawab Jonatan masih dengan kekesalannya.
“Apa hubungannya kasus ini dengan SPP naik?” Tanya Ilyas dengan mata menyipit.
“Gedung asrama itu sudah pernah digunakan sebagai tempat bunuh diri, siapa yang mau tinggal di tempat seperti itu? Bukankah itu artinya sekolah akan memerlukan gedung baru?” jawab Jonatan.
“Yang mana sih anaknya?” tanya Daniel akhirnya.
“Anak MIPA 3, yang anak selalu terlihat pucat, bertubuh kecil dan menggunakan berkacamata. Aku juga tidak terlalu faham anaknya, mungkin Yulia lebih paham. Dengar-dengar dulu dia dan geng lamanya suka bully anak itu” jawab Andre malas.
“Oh jadi karena pembullyan” gumam Daniel.
“Tapi kali ini aku tidak bisa memastikan geng yang membully dia itu mereka atau bukan. Karena menurut keterangan Harry, mereka sudah meminta maaf sebelum kasus Mitha itu selesai. Seharusnya mereka tidak ada masalah saat ini” jawab Andre masih dengan posisinya.
“Geng mereka, bukankah berarti ada mantan adik tirimu dan Bagas ya?” Tanya Daniel mencoba mengingat.
“Tidak usah diingatkan. Faktanya dia tidak pernah menjadi saudara tiriku, dia hanya ingin memeras harta ayahku. Apa kau tidak dengar apa yang diumumkan ayahku dalam pertemuan tahun baru?” Tanya Andre sedikit kesal. Ada rasa tidak terima dalam dirinya setiap ada orang yang membicarakan gadis itu, seolah telinganya tidak sudi mendengarkan.
Daniel tidak menjawab namun ia memahami konteks apa yang berusaha Andre ucapkan. Sora dan ibunya telah hidup menumpang pada keluarganya selama 16 tahun hidupnya, bukan hanya itu ia juga mengatakan hal-hal tidak baik pada Andre. Ia juga akan menyimpan dendam jika berada di posisi Andre.
Keheningan terpecahkan oleh suara wali kelas mereka yang tiba-tiba masuk.
“Oke selamat pagi anak-anakku tercinta. Hari ini kalian sudah mendengar kabar yang beredarkan. Ibu akan memberikan konfirmasi ya, Ani Irawan pagi ini ditemukan meninggal dunia di kamar asramanya. Kalian pasti sudah tahu bagaimana kondisinya saat ditemukan, ibu tidak akan memperjelas karena sebenarnya ibu juga takut. Tapi yang pasti itu bukan meninggal alami ya, mohon untuk tidak ditiru. Seberat apa pun masalah kalian pasti ada solusi lebih baik daripada melakukan hal seperti itu.” Guru itu memberi jeda kalimatnya dan memperlihatkan semua muridnya.
Walau pun terkenal dengan sebutan nakal, kelas mereka tidak pernah terkena kasus yang berat, apalagi sampai terkena drop out. Kesalahan terbesar mereka hanyalah tidak terlalu mengerti matematika.Mereka masih mengerti caranya menghitung uang.
“Ya, kita do’a kan saja semoga arwahnya tenang dan diterima sisih-Nya. Siang ini pemakan akan langsung di laksanakan, jadi ibu akan menujuk beberapa perwakilan. Mungkin ada yang ingin mengajukan diri?”
“Bu memang tidak diotopsi atau diselidiki dulu? Itu kan mencurigakan, beberapa hari yang lalu loh dia masih baik-baik saja mengapa tiba-tiba mengakhiri hidup?” Tanya Hani yang duduk di bangku paling depan.
“Ya kemauan sekolah memang begitu, tapi pihak orang tua tidak memperbolehkan itu. Mungkin terkendala biaya juga. Ya sudah, mereka sendiri yang tidak ingin kita mempublikasikan apa yang terjadi, jadi kita juga harus menghormati apa yang diinginkan oleh keluarganya. Mungkin Ani Irawan ini benar-benar lelah seperti apa yang ia tulis dalam surat terakhirnya” ia memandang murid-muridnya “ayo cepat siapa yang hendak mewakili kelas untuk ke rumah duka, sudah ditunggu teman-temannya yang lain”
Pada akhirnya hanya Hani dan Andre yang ditunjuk untuk mewakili kelas, karena hanya mereka lah yang memiliki riwayat aktif di sekolah. Tapi tentu bukan Andre jika tidak ada gebrakan baru, ia dengan segera menyeret Daniel bersamanya dengan alasan tidak mau memboncengkan Hani. Padahal alasan utamanya ia tidak ingin bergosip di sepanjang jalan. Ia benar-benar lupa kalau Daniel dapat melihat arwah.
Rumah yang mereka tuju tampaknya memang jauh dari kota. Mereka harus benar-benar keluar dari pusat kota. Perlu waktu kurang lebihnya 2 jam untuk ke sampai ke runah itu. Pantas saja kalau Ani lebih memilih tinggal di asrama dari pada pulang ke rumahnya.
“Ini lebih jauh dari apa yang aku bayangkan” ucap Yulia yang berada satu mobil dengan mereka. Miki dan Bagas pergi dengan motor membuat Yulia harus ikut dengan mereka.
“Apa kau pernah mencoba menyelidikinya?” Tanya Hani yang duduk di sebelahnya.
“Tidak juga. Aku dan Miki sebenarnya tidak terlalu suka berurusan dengan BK, Sora lah yang lebih banyak melakukan tindakan. Aku tidak tahu apakah itu masih berlaku hingga saat ini, tapi sejak dulu sebenarnya dia lah biang masalahnya. Sebastian juga di drop out karena dia” jawab Yulia kesal.
“Bukankah bukti CCTV memang memberatkan Sebastian?”
“Ya, karena Sora tahu dimana letak CCTV itu jadi ia bisa menghindar, Sebastian adalah orang yang emosional dan punya suara yang keras. Tentu itu akan menjadi point plus. Dulu dia adalah orang yang melindungi kami, Harry bukan lah orang yang tega menyakiti orang lain itu membuat beberapa orang menganggapnya lemah” jawab Yulia lagi
Di sisi lain Andre mulai mengingat hari dimana Bagas mencoba menjebaknya. Ia juga membawanya ke tempat yang tidak terjangkau CCTV, meski ia tahu tempat-tempat mana yang terjangkau CCTV ia tidak tau spesifik letaknya dimana.
“Dari mana ia tahu semua itu?” Tanya Andre penasaran.
“Aku juga tidak tahu. Dia punya denah sekolah dan CCTV yang terpasang semua tertulis di dalam denah itu, ia bisa dengan mudah menghindarinya” jawab Yulia kesal.
Semua orang terdiam mendengarnya. Mobil pun mulai memelan begitu melihat sebuah desa kecil yang letaknya benar-benar dipinggiran. Masih ada beberapa lahan pertanian warga, dan tambak kecil yang berisi udang. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah mendatangi tempat ini.
Mas Rian memarkirkan mobilnya di bawah sebuah pohon beringin besar yang akarnya sudah menggantung panjang. Sudah ada banyak orang yang datang, siswa yang pergi lebih dulu juga sudah terlihat di halaman depan. Suasananya suram dengan sebagian besar orang berpakaian hitam membuat suasana menjadi semakin tidak menyenangkan. Hari sudah menjelang siang namun udara terasa dingin begitu dingin, bau dupa dan bunga-bunga sesaji tercium begitu mereka membuka pintu mobil.
Daniel yang duduk di bangku belakang masih enggan untuk turun.
“Kenapa, melihat sesuatu?” Tanya Hani pelan.
Namun Daniel tidak menjawab, ia turun begitu mendengar Hani bertanya. Dalam sudut pandangnya rumah ini benar-benar mengerikan. Meski tidak sehancur rumah lama Yulia, rumah ini berbatasan langsung dengan sebuah kuil Budha dan bersebrangan dengan makam. Tentu akan menjadi tempat tinggal begitu banyak arwah. Bau dupa yang menyengat juga membuat suasana semakin tidak menyenangkan. Tinggal di tempat yang penuh dengan arwah itu bukan salah satu yang akan dilakukan Daniel.
“Ada Sora dan Bagas di sana” ucap Yulia sambil menunjuk halaman pojok.
Mereka hanya meliriknya sekilas sebelum mencari tempat duduk yang lebih jauh, mereka tidak ingin berurusan dengan orang yang bermasalah. Miki dan Harry melambai ke arah mereka begitu melihat Yulia.
Sepanjang acara dimulai Daniel tidak mengeluarkan sepatah kata pun, wajahnya datar dan sedikit mengantuk. Andre pun tidak berbeda jauh dia sudah berkali-kali menguap begitu ia duduk, hanya Harry yang dengan khidmat mendengar apa yang dikatakan biksu yang ada di depan, walau tampaknya dia tidak mengerti sepatah kata pun. Dia adalah orang yang paling niat dalam acara ini.
Namun di tengah-tengah acara itu, tiba-tiba seorang gadis berteriak histeris. Dia berkata sesuatu seperti ‘berikan saja kekasihku pada adikku’. Beberapa orang mencoba membantu dan yang lain hanya berbisik dan melihat dengan pandangan penasaran
“Sepertinya kalian akan menangani kasus baru” ucap Harry yang pandangannya fokus ke depan.
“Apa maksudmu?” Tanya Andre malas.
“Ada yang kesurupan” ucap Harry pelan.
Daniel sebenarnya sudah melihatnya sejak tadi, namun enggan melakukan apa pun. Karena jelas gadis yang sejak tadi melamun itu hanya berpura-pura. Dia tampak sudah mempersiapkan semuanya, terlihat dari orang-orang disekitarnya yang tanpak tidak kaget dan mempersiapkan diri.
Benar-benar kacau.