NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Taksi melaju menembus guyuran hujan yang semakin deras saat melewati gerbang masuk wilayah pelabuhan. Arlan melirik kaca spion untuk memastikan tidak ada mobil hitam yang membuntuti mereka sejak dari stasiun pusat tadi. Ia masih menggenggam erat drive USB dan kartu emas milik Aliansi Logistik Nasional di balik saku jaketnya yang basah.

"Sopir, berhenti di depan gudang nomor lima itu," ucap Arlan sambil menunjuk ke arah bangunan tua yang lampu depannya berkedip redup.

"Baik, Mas," sahut sopir taksi tersebut sambil memperlambat laju kendaraannya.

Siska menoleh ke arah Arlan dengan tatapan yang dipenuhi keraguan. Ia merapatkan jaketnya karena suhu di dalam taksi terasa semakin dingin setelah mereka memanjat saluran ventilasi tadi.

"Kamu yakin ini tempatnya, Arlan? Tempat ini terlihat sangat tidak terawat," tanya Siska dengan nada suara yang rendah.

"Wanita itu yang memberikan koordinat ini. Kita tidak punya pilihan lain kecuali mempercayainya untuk saat ini," jawab Arlan sambil membayar ongkos taksi menggunakan uang tunai yang tersisa di dompetnya.

Mereka turun dari taksi dan segera berlari menuju pintu kecil di samping gerbang gudang nomor lima. Taksi itu segera pergi dan menghilang di balik kegelapan jalur pelabuhan. Arlan mencoba mendorong pintu besi tersebut, namun pintu itu ternyata tidak dikunci sama sekali.

"Masuklah, Mbak Siska," ucap Arlan sambil membukakan pintu untuk rekannya.

Di dalam gudang, ruangan terasa sangat luas dan dipenuhi oleh tumpukan kontainer kosong yang sudah berkarat. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu kecil dengan sebuah lampu gantung yang menyinari seorang wanita yang sedang duduk membelakangi mereka.

"Kalian datang tepat waktu," ucap wanita itu tanpa memutar kursinya.

Arlan melangkah maju dengan sangat hati-hati. Ia memastikan tangannya tetap berada di dekat saku untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk.

"Siapa Anda sebenarnya? Dan kenapa Anda tahu tentang kunci loker ayah Mbak Siska?" tanya Arlan dengan nada yang sangat tegas.

Wanita itu perlahan memutar kursinya. Arlan dan Siska tertegun saat melihat wajah wanita tersebut. Ia adalah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat elegan, namun memiliki bekas luka kecil di sudut matanya yang tajam.

"Namaku Ibu Sari. Aku adalah sekretaris pribadi ayahmu, Siska, sebelum peristiwa sepuluh tahun lalu terjadi," jawab wanita itu sambil menatap Siska dengan tatapan yang sangat dalam.

"Ibu Sari? Ayah sering menyebut namamu di dalam catatan hariannya, tapi aku pikir kamu sudah meninggal dalam kecelakaan itu," ucap Siska dengan suara yang bergetar karena terkejut.

"Aku selamat, tapi aku harus bersembunyi selama sepuluh tahun karena Aliansi Logistik Nasional terus mencariku," sahut Ibu Sari sambil bangkit dari kursinya.

Arlan segera mengeluarkan drive USB dari sakunya dan meletakkannya di atas meja kayu tersebut.

"Apa isi dari benda ini sebenarnya? Dan kenapa ALN sangat takut jika data ini bocor ke publik?" tanya Arlan sambil menunjuk ke arah USB hitam itu.

[Peringatan Sistem: Subjek Sari Memiliki Tingkat Kejujuran 92%] [Status: Tidak terdeteksi adanya senjata atau ancaman fisik di sekitar subjek.]

"Di dalam sana terdapat bukti bahwa Aliansi Logistik Nasional bukanlah organisasi bisnis biasa. Mereka adalah organisasi yang dibentuk untuk memonopoli jalur logistik dengan cara melenyapkan siapa pun yang mencoba menawarkan harga lebih murah," jelas Ibu Sari sambil mengambil USB tersebut.

"Maksud Anda, Arlan Corp sekarang sedang berada di puncak daftar target mereka?" tanya Arlan dengan dahi yang berkerut.

"Benar. Arlan Corp telah merusak keseimbangan pasar yang mereka jaga selama puluhan tahun. Dan kartu emas yang kamu pegang itu adalah bukti bahwa ayah Siska sebenarnya ingin menghancurkan aliansi ini dari dalam," jawab Ibu Sari sambil menyerahkan sebuah laptop kecil ke hadapan Arlan.

"Lalu apa yang harus kami lakukan pada rapat besok pagi?" tanya Siska sambil mendekati meja tersebut.

"Kalian akan masuk ke rapat itu sebagai pemegang saham sah. Dengan kartu emas dan data di USB ini, kalian bisa membekukan seluruh operasional aliansi secara hukum," ucap Ibu Sari dengan nada yang sangat mantap.

Arlan menatap layar laptop yang mulai menampilkan barisan data transaksi gelap milik para anggota aliansi. Ia menyadari bahwa ia baru saja memegang bom waktu yang bisa meledakkan seluruh industri logistik nasional dalam satu malam.

"Berapa banyak orang yang akan mencoba menghentikan kami besok pagi?" tanya Arlan sambil menatap Ibu Sari.

"Seluruh jaringan keamanan mereka akan dikerahkan di gedung pertemuan. Kalian butuh pengalihan yang sangat besar," jawab Ibu Sari sambil melirik ke arah pintu gudang yang tiba-tiba berderit.

"Ada yang datang," bisik Arlan sambil segera mematikan lampu di atas meja.

Suara langkah kaki yang sangat banyak mulai terdengar dari arah luar gudang, mengepung seluruh area bangunan tua itu dengan sangat rapat.

Arlan segera menarik Siska untuk bersembunyi di balik tumpukan kontainer yang paling dekat dengan meja. Ibu Sari tampak sangat tenang dan segera menutup laptop kecilnya dengan gerakan yang sangat halus. Ia memberikan isyarat kepada Arlan untuk tetap diam di tempatnya.

"Sari, kami tahu kamu ada di dalam! Keluar dan serahkan datanya sekarang juga!" teriak sebuah suara parau dari arah gerbang utama gudang.

Arlan merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba mengatur napasnya agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di tengah kesunyian gudang yang mencekam.

{Sistem, berapa jumlah orang yang mengepung tempat ini?}

[Analisis Selesai: Terdeteksi 12 orang di pintu depan dan 4 orang di pintu belakang. Semuanya membawa senjata tumpul dan alat pelacak sinyal.]

"Mereka sudah tahu kita di sini, Arlan," bisik Siska dengan nada yang sangat cemas.

"Tenanglah, Mbak Siska. Ibu Sari sepertinya sudah menyiapkan sesuatu," jawab Arlan sambil menatap wanita paruh baya itu yang kini berdiri tegak di tengah ruangan.

Ibu Sari mengeluarkan sebuah alat kecil berbentuk remote dari saku blazernya. Ia menekan sebuah tombol merah di alat tersebut, dan tiba-tiba seluruh lampu di dalam gudang menyala dengan sangat terang secara serempak.

"Masuklah! Jika kalian berani menyentuh data ini, seluruh dokumen aslinya akan terkirim ke server kepolisian pusat secara otomatis!" teriak Ibu Sari dengan suara yang sangat lantang.

Pintu gudang didobrak dengan sangat keras. Sekelompok pria berseragam hitam masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang terburu-buru. Di depan mereka, berdiri seorang pria dengan setelan jas mahal yang tampak sangat berwibawa namun memiliki tatapan mata yang licik.

"Pak Wiratama? Jadi Anda sendiri yang turun ke lapangan?" tanya Ibu Sari dengan senyum sinis di bibirnya.

"Sari, kamu sudah terlalu lama menghilang. Serahkan USB itu dan aku akan menjamin keselamatan anak itu dan temannya," ucap Pak Wiratama sambil menunjuk ke arah kontainer tempat Arlan bersembunyi.

Arlan menyadari bahwa persembunyian mereka sudah tidak ada gunanya lagi. Ia melangkah keluar dari balik kontainer sambil tetap memegang erat kartu emas di tangannya.

"Anda mencari ini?" tanya Arlan sambil menunjukkan kartu anggota aliansi tingkat tinggi itu kepada Pak Wiratama.

Wajah Pak Wiratama mendadak berubah menjadi sangat pucat saat melihat kartu tersebut berada di tangan Arlan. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.

"Dari mana bocah sepertimu bisa mendapatkan kartu milik pendiri aliansi?" tanya Pak Wiratama dengan nada suara yang bergetar karena marah.

"Kartu ini adalah milik ayah saya, Pak Wiratama. Dan sekarang, hak suara ayah saya berpindah kepada Arlan sebagai wali bisnis saya," sahut Siska yang juga melangkah keluar dari balik kontainer.

"Siska? Jadi kamu masih hidup?" tanya Pak Wiratama dengan ekspresi yang sangat tidak percaya.

"Saya hidup untuk memastikan bahwa kejahatan Anda terhadap ayah saya sepuluh tahun lalu terungkap di rapat besok pagi," jawab Siska dengan nada yang sangat tegas.

Pak Wiratama tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat meremehkan di dalam gudang yang luas itu. Ia memberikan kode kepada anak buahnya untuk mengepung Arlan dan Siska.

"Kalian pikir bisa keluar dari sini hidup-hidup? Di sini tidak ada wartawan, tidak ada polisi, dan tidak ada hukum," ucap Pak Wiratama dengan nada yang sangat mengancam.

Arlan menatap barisan pria berseragam hitam yang mulai mendekat. Ia kemudian melirik ke arah Ibu Sari yang masih memegang remote kecil di tangannya.

"Mbak Siska, bersiaplah untuk lari saat lampu mati lagi," bisik Arlan sambil menyiapkan langkahnya.

"Sekarang!" teriak Ibu Sari sambil menekan tombol di remotenya.

Gudang kembali menjadi gelap gulita dalam sekejap. Suara teriakan dan denturan benda tumpul mulai terdengar bersahutan di tengah kegelapan. Arlan menarik tangan Siska dan berlari menuju pintu belakang yang sudah ditunjukkan oleh sistem di matanya.

"Lewat sini, Mbak!" ucap Arlan sambil menendang pintu kayu kecil yang menuju ke arah dermaga.

Mereka keluar tepat di tepian pelabuhan yang sangat gelap. Sebuah kapal motor kecil sudah menunggu di sana dengan mesin yang menyala pelan. Ibu Sari sudah berada di atas kapal tersebut sambil melambaikan tangan ke arah mereka.

"Cepat naik! Kita harus sampai di hotel tempat rapat sebelum fajar menyingsing!" teriak Ibu Sari.

Arlan dan Siska melompat ke atas kapal motor itu tepat saat anak buah Pak Wiratama muncul di pintu belakang gudang. Kapal itu segera melesat membelah ombak laut yang cukup besar, meninggalkan para pengejar di dermaga.

"Bagaimana dengan barang-barang di gudang tadi, Bu Sari?" tanya Arlan sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal.

"Itu semua hanya umpan. Data yang asli sudah ada di dalam cloud server Arlan Corp sejak kalian masuk ke gudang tadi," jawab Ibu Sari sambil memberikan sebuah tablet baru kepada Arlan.

Arlan menatap layar tablet itu. Ia melihat seluruh log transaksi ilegal ALN sudah tersusun rapi dan siap dipresentasikan. Ia menyadari bahwa strategi Ibu Sari benar-benar sangat matang.

"Besok pagi, kamu tidak hanya akan menghadiri rapat, Arlan. Kamu akan membubarkan aliansi itu untuk selamanya," ucap Ibu Sari sambil menatap ke arah lampu-lampu gedung pencakar langit di kejauhan.

Siska menyandarkan kepalanya di pundak Arlan. Ia merasa sangat lelah namun ada secercah harapan yang mulai muncul di hatinya. Arlan hanya bisa menatap laut yang gelap, menyadari bahwa matahari besok pagi akan membawa perubahan yang sangat besar bagi hidupnya.

"Kita akan menyelesaikannya besok pagi, Mbak Siska," ucap Arlan dengan nada suara yang sangat mantap.

Namun, di tengah perjalanan menuju hotel, sebuah helikopter dengan lampu sorot yang sangat kuat mendadak muncul dari balik awan dan menyinari kapal motor mereka secara langsung. Suara speaker dari helikopter itu terdengar sangat memekakkan telinga.

"Berhenti di tempat atau kami akan melakukan tindakan tegas!"

[Peringatan Sistem: Terdeteksi ancaman tingkat tinggi. Helikopter tersebut dilengkapi dengan penembak jitu.]

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!