Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.
Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.
Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.
Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.
Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
.
Hari hampir senja ketika Almira pulang dengan naik taksi. Mengambil nafas dalam-dalam ketika taksi yang ia tumpangi berhenti di depan gerbang rumahnya. Wanita itu turun setelah membayar argo. Langkahnya ringan seakan tidak terjadi sesuatu dalam hidupnya.
Ternyata, Gilang datang bersamaan dengannya, dan terlihat pria itu mengerutkan kening melihat Almira turun dari taksi.
"Dari mana kamu?" tanya Gilang, tatapannya menyelidik. Ibunya memang sempat menyinggung bahwa Almira jadi lebih sering keluar rumah saat ia bekerja. Dan benar, kemarin juga wanita itu bahkan belum pulang saat ia sudah pulang dari kantor. Sekarang juga baru pulang. Sejuta tanya muncul, kemana saja istrinya? Apa yang dilakukan di luar dari pagi hingga sore? Rasa kesal tiba-tiba mencuat.
“Dari mana aku apa peduliku? Apa hakmu bertanya?" sahut Almira cuek.
"Almira Abimanyu! Jangan melewati batas. Aku suamimu dan aku berhak tahu ke mana kamu pergi!” bentak Gilang tanpa sadar.
Almira menghentikan langkahnya dan menatap datar ke arah Gilang. "Ah, maaf. Aku lupa kalau aku punya suami. Ya… maklum lah. Suamiku ini biasanya tak pernah bertanya, tak pernah perhatian."
“Almira!"
“Apa?!"
Jika Gilang berani berteriak, jangan harap Almira akan mengkeret seperti sebelumnya. Almira yang sekarang bukan lagi istri yang hanya diam dan patuh.
Gilang memejamkan mata dan mengambil napas mencoba bersabar. “Aku cuma mau tahu, kamu dari mana?” tanyanya melembutkan suaranya.
“Serius kamu mau tahu?" tanya Almira dengan tatapan mengejek, dan Gilang mengangguk. “Aku dari luar, cari hiburan. Aku tidak betah berada di rumah yang semakin menambah lukaku.”
Gilang terdiam. Ia tahu apa yang sedang dimaksud oleh Almira. Tadi ibunya sempat menelpon mengatakan tentang pernikahan dengan Rini. Dia merasa menang. Dia merasa hebat. Dia merasa menjadi lelaki sejati yang begitu digandrungi.
"Lalu, kenapa kamu pulang naik taksi? Di mana mobilmu?" lanjut Gilang, pura-pura perhatian mencoba mengalihkan pembicaraan.
Almira menarik napas lelah. Wajah dipasang sesedih mungkin, bahkan tiba-tiba air mata bisa diajak bekerja sama. "Mobilku ditarik leasing karena sudah tiga bulan aku tidak bayar angsuran," jawab Almira suaranya terdengar begitu lirih menyesakkan siapapun yang mendengar.
Setelah berkata demikian, wanita itu langsung saja berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa mempedulikan raut kaget dan bingung di wajah suaminya yang sebentar lagi akan berstatus MANTAN..
Pernyataan yang tentu saja dusta besar. Mobil itu baik-baik saja, terparkir dengan aman di garasi tokonya. Ia sengaja bicara seperti itu karena sebentar lagi mereka akan bercerai. Ia tidak mau Gilang meminta mobil itu dihitung sebagai harta gono gini, karena mobil itu dibeli setelah mereka menikah.
Bisa saja dia mengandalkan Pengacara Damar untuk menyelesaikan masalah ini, tapi dia tak mau ribet. Biar saja, toh tidak ada uang Gilang dalam mobil itu. Semua hasil kerja kerasnya sendiri, keuntungan dari tokonya.
Gilang mengejar langkah Almira setelah bisa menguasai keterkejutannya dan menarik tangan wanita itu, hingga Almira terpaksa menghentikan langkahnya.
"Apa maksudmu, Almira? Ditarik leasing? Bukankah mobil itu sudah lunas? Lalu kenapa kamu tidak pernah cerita soal masalah keuanganmu?" tanya Gilang, nadanya meninggi, rasa cemas dan marah bercampur jadi satu.
Almira menepis tangan Gilang dengan kasar lalu menatap suaminya dengan tatapan dingin dan sinis. "Lunas dari mana? Kamu lupa atau pura-pura tidak tahu. Mobil itu di kredit setahun setelah kita menikah. Temponya empat tahun, sekarang baru jalan dua tahun."
Gilang tertegun, ia benar-benar tidak tahu soal itu. Semua yang dilakukan Almira dia tidak tahu.
“Dan sekarang kamu tanya kenapa aku tidak cerita padamu? Memangnya kamu pernah peduli padaku?" tanya Almira. "Bulan ini saja kamu gak ngasih aku uang belanja. Apa yang bisa aku harapkan? Daripada ribet, ya sudah aku lepas saja.”
Gilang terdiam, wajahnya memerah karena malu sekaligus khawatir. Mobil Almira belum lunas, sedangkan mobil yang selama ini dia gunakan juga di kredit dalam waktu yang hampir bersamaan dengan mobil Almira. Apakah artinya mobilnya juga belum lunas? Dia buta, dia sama sekali tidak tahu. Selama ini dia hanya memberikan uang dua juta kepada Almira dan semuanya beres. Apakah uang itu kurang ataukah cukup Almira sama sekali tidak pernah bersuara.
"Almira, aku..." Gilang tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudahlah, Gilang, aku tidak mau mendengar apa pun lagi," potong Almira tegas. "Tidak ada juga yang harus kamu jelaskan. Semua sudah begitu gamblang," lanjutnya. Ia sudah lelah, ingin segera masuk kamar dan istirahat. Tak ingin mendengar omong kosong dari Gilang.
Di ruang tengah, ia melihat Bu Rosidah dan Riana duduk bersama. Mata ibu mertua memicing tajam ke arahnya, tapi ia tak peduli. Ia lebih memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar.
“Dasar menantu tidak tahu soal santun," cibir Bu Rosidah.
“Bu…" tegur Gilang.
“Kenapa?" sahut Bu Rosidah. “Semakin hari kelakuannya semakin menjadi-jadi. Keluyuran dari pagi sampai sore. Ibu curiga dia itu jual diri di luar sana!"
Mata Gilang membulat lebar. Apa mungkin Almira berbuat seperti itu? Sudah sejak kedatangan Lila di rumah mereka, dia dan Almira memang tak pernah lagi tidur bersama. Bukan Gilang tak mau, ia juga merasakan rindu pada istri pertamanya itu. Apalagi sekarang wajah Almira jadi semakin cantik. Tapi Almira yang selalu mengunci pintu.
Tak mau mendengar suara ibunya yang hanya akan menambahkan pikirannya, Gilang bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat pria itu keluar dari kamar dan ingin naik ke lantai atas mencari Almira. Pria itu berniat membuka pintu kamar Almira, tetapi seperti biasa, kamar itu selalu terkunci dari dalam.
Ada rasa ragu, tetapi ia mengetuk juga pintu kamar Almira.
"Mira…boleh kita bicara?" serunya setelah tiga kali mengetuk pintu dan tak ada sahutan dari dalam. “Mira…izinkan aku bicara sebentar saja,” serunya lagi karena masih juga tak ada jawaban.
Gilang menempelkan telinga pada daun pintu, dan akhirnya pria itu bernafas lega karena mendengar langkah mendekat.
Ceklek!
Pintu terbuka dan tampaklah armira yang menatapnya dengan wajah dingin.
“Ada apa lagi?” tanya Almira.
“Boleh aku masuk?” tanya Gilang. “Sebentar saja, sudah lama kita tidak bicara dari hati ke hati."
Almira mencekik tetapi membuka juga pintu kamarnya. “Waktumu hanya sepuluh menit," ucapnya.
"Kamu tambah cantik,” ucap Gilang ketika mereka sampai di dalam. Gilang duduk di tepi ranjang tetapi Almira memilih menjauh dengan duduk di sofa dengan kedua tangan yang bersilang di depan dada. Kedua pahanya saling bertumpu, membuat kesan angkuh muncul pada dirinya.
"Aku tidak suka basa-basi. Jika tidak ada yang penting silakan keluar!” jawab Almira datar.
“Tidak bisakah kita perbaiki hubungan kita?" Gilang menatap sendu.
“Diperbaiki seperti apa?" Tak ada perubahan dalam sorot mata Almira. "Semua sudah terlanjur rusak.”
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐