Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cintanya elena
tok..tok..tok..
Sekitar 20 menit, pintu balkon di ketuk tapi Elena masih menangis karena matanya perih sampai tidak bisa di buka. Elena hanya bisa berteriak lirih, Theor yang mendengar itu panik dan langsung mendobrak pintu balkon.
BRAAKKKK
"Elena, kau baik-baik saja!!." Theor berlari menghampiri Elena.
Wangi parfum yang Elena rindukan, membuat Elena tersenyum karena melepas rindu. Meskipun matanya masih sulit terbuka, tapi dia bisa merasakan sentuhan tangan dingin Theor.
"Theor..." Lirih Elena.
"Aku sudah datang, ada apa?." Ucap Theor berpikir akan serangan.
"Kau tau___
Belum sempat Elena bicara, Theor sudah mendekap wajah Elena dengan tajam. Melihat bekas tamparan lebam di pipi Elena, hingga sudut bibir yang pecah membuat Theor mengeram.
"Siapa." Ucap Theor dingin.
"Hmm?." Elena bingung.
"Siapa yang melakukan nya? siapa yang berani menamparmu?." Ucap Theor, marah besar.
"Hari ini, terjadi hal besar yang membuatku sangat terkejut. Tamparan ini juga salah satunya, aku benar-benar ketakutan Theor." Elena mulai bicara dengan menyedihkan.
"Ada apa? ceritakan padaku. Aku akan menghajar bajingan itu untukmu." Ucap Theor, sangat tidak terima.
"Sejak minggu lalu, Kakekku datang memaksaku untuk menikah. Aku menolak dan Ayahku juga menolak keras perjodohan yang di bicarakan Kakekku. Tapi, Kakekku tidak menyerah dia justru mengirim wanita untuk menggoda Ayahku. Dengan memaksa Ayahku untuk menikah lagi, tapi rencana itu juga gagal karena aku yang juga menolak keras. Sampai hari ini lah puncaknya, Kakek datang memaki dan membentakku karena mengganggu rencananya. Aku melawan dan tamparan ini yang aku dapatkan, Ayahku berdebat panas dengan Kakek hingga aku....." Elena sengaja tersendat dengan dramatis.
"Apa yang terjadi?." Theor mendekap Elena.
"Hingga aku tau bahwa hilangnya aku dulu karena perbuatan Kakek." Elena menangis keras, terlihat sangat sakit hati.
"Apa..." Theor bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.
"Pernikahan Ayah dan Ibuku tidak di restui Kakek. Kebencian mereka pada Ibumu semakin menjadi saat aku lahir sebagai perempuan, intinya karena itu lah Kakek membawaku pergi tanpa izin dari Ayah dan Ibuku lalu aku hilang. Bekas pedang di punggung ku ini pasti juga ulahnya." Ucap Elena, terlihat kacau dan penuh kesedihan.
Mata Elena sudah memerah dan bengkak, semakin membuat Theor merasa marah. Dia marah karena gadis yang dirinya sukai dalam keadaan seperti ini, padahal terakhir mereka bertemu masih ceria.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu, Elena." Theor menawarkan bantuan dengan gentle.
"Bantu aku terlepas dari jeratan Kakekku yang aneh dan mencurigakan itu. Aku takut Ayahku akan dalam bahaya, di dunia ini hanya Ayah lah satu-satunya keluarga ku. Aku sangat ketakutan, aku bingung, aku tidak tau harus bagaimana." Elena menangis lagi.
"Ini pertama kalinya aku melihatmu seperti ini, aku pikir kau wanita tenang yang bahkan tidak bisa menangis. Ternyata kau memiliki sisi rapuh layaknya wanita, aku pasti akan membantumu Elena." Ucap Theor, mendekap Elena erat.
"Hanya nama mu yang terpikir di kepalaku, aku hanya bisa berpikir jika kau pasti bisa membantuku dan datang menyelamatkan ku." Elena membalas pelukan Theor, Theor merasa salting dengan ucapan Elena barusan.
"Elena... apa kau." Theor tidak melanjutkan ucapannya, karena menurutnya situasi tidak mendukung.
"Bukankah sudah sepantasnya aku meminta bantuan Kekasihku saat dalam bahaya?." Ceplos Elena, memancing.
Deg.
Theor menegang, matanya melotot. Dia benar-benar mematung terkejut, Elena baru saja mengakui dirinya sebagai Kekasih. Theor merasa sangat bahagia sekali, dia ingin berteriak rasanya.
"E...Elena." Theor seperti orang bodoh.
"Terimakasih sudah datang, cintanya aku." Goda Elena tersenyum hangat.
brukk
Theor langsung jatuh terduduk, kakinya langsung lemas dan wajahnya panas sekali. Bahkan tangan Theor sampai gemetaran, Elena yang melihat itu tersenyum geli tapi juga bahagia.
"Cinta.... Elena.. kau." Theor menatap Elena seperti orang linglung.
"Bukankah Theor itu cintanya Elena." Elena semakin menjadi, bahkan menyentuh pipi Theor.
"Ya.. tentu saja hanya milikmu." Theor menggenggam tangan Elena yang berada di pipinya, dia tersenyum cerah dengan wajah memerah.
"Pfttt kau tampan sekali Theor. Terimakasih sudah memilihku, aku merasa sangat beruntung." Ucap Elena.
"Apa yang kau katakan. Justru aku yang sangat beruntung karena mendapatkan mu Elena. Kau pasti tau takdir hidupmu, bersamaku mungkin akan menyakiti hidupmu." Ucap Theor, mulai insecure.
"Kau tidak akan membuatku menderita. Selama ini, kau melawan dunia ini sendirian tapi diam-diam aku selalu menatapmu dan mendukungmu. Aku tidak akan membiarkan mu sendirian, aku yakin kau bisa terbebas dari jeratan itu dan hidup bahagia bersamaku." Elena bermulut manis.
"Hentikan Elena....kau.. membuatku gila." Theor meletakan dagunya di pundak Elena, salting berat.
"Pfttt bahkan aku sudah bermimpi jika kita memiliki anak laki-laki. Aku harap anak itu mirip denganmu, karena bagiku keindahan mu itu seperti permata." Ucap Elena, menggombal.
brukkk
ukhhh
Theor langsung ambruk karena tidak kuat menahan tubuhnya sendiri. Salting membuat otot dan tulangnya mencair, dia benar-benar tidak berdaya di hadapan mulut manis Elena.
Elena yang di tindir Theor merasa berdebar, tubuh besar yang ada diatasnya ini sangat kekar. Elena nyaris mati kecintaan, siapa sangka sosok yang dulunya hanya bisa duitnya bayangkan kini berada di pelukan nya.
"Aku pasti... akan memberikan anak laki-laki itu, Elena." Bisik Theor, dengan suara serak menggoda.
Deg.
Kini giliran Elena yang salting, wajahnya memerah dan merasa malu. Ternyata gombalannya tadi sangat vulgar sekali, Elena merasa ingin menghilang saja rasanya.
"Aku takut kau diambil wanita lain, aku takut kau jatuh cinta pada wanita lain. Saking takutnya aku bahkan berusaha agar tidak jatuh hati padamu, tapi ternyata aku kalah." Ucap Elena sendu.
Theor akhirnya bangun dari tubuh Elena, dia menatap Elena dari dekat dengan tatapan yang sangat menggoda iman. Terlihat sangat tampan, wangi, manly dan perfect abis.
"Itu tidak akan pernah terjadi Elena, aku hanya akan menatapmu seumur hidupku." Ucap Theor, mengelus pipi Elena.
Tok...tok..tok...
"Nona, waktunya makan malam. Apa anda sudah bangun? saya akan membantu anda bersiap." Suara Merida mengejutkan keduanya.
Elena buru-buru mendorong Theor ke balkon, dia tidak mau ketahuan menyelundupkan pria. Ini soal martabatnya, dia harus tetap menjaga image meskipun bisa menggatal.
Tok..tok..tok..
"Nona??." Panggil Merida lagi.
"Yaa!! masuklah Merida, aku baru bangun." Teriak Elena, saat Theor sudah pergi.
Elena bersiap di bantu Merida untuk makan malam, dia sudah berhasil menggoda Theor tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bicara pada Ayahnya. Karena berdebar Elena jadi lupa mengatakan pada Theor jika Ayahnya sudah memberikan restu.
Elena datang ke ruang makan setelah siap, dia tersenyum bahagia meksipun matanya masih memerah dan pipinya bengkak. Ternyata kekuatan cinta memang bisa membuat gila.
Begitu sampai ruang makan, Elena melotot terkejut saat Theor sudah duduk dengan tampan di meja makan. Bahkan Duke terlihat santai juga, Elena langsung salting karena tidak tau jika Theor ada di sana.
kami tunggu karya selanjutnya💪💪💪💪
terbaik thor 😍
tetap semangat, semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
utamakan kesehatan 🥰
biar bisa berkarya lagi😍