Seorang gadis cantik bernama Freya Oktavia. gadis cantik yang memiliki sifat tidak bisa diam, usil, Kepo. Tiba-tiba jiwanya bertransmigrasi menjadi pemeran figuran, seorang istri pertama mafia dingin, kejam dan berkuasa bernama kay leroy. Sang figuran dinikahi kay leroy, karena kesalahan informasi. Kay leroy yang mencinta kekasihnya bernama ivana pemeran utama wanita, akhirnya menikahinya dan menjadikannya istri kedua. pernikahan keduanya membuat kay seakan-akan tidak perduli kepada istri pertamanya, yang tak lain seorang figuran bernama freya.
Bagaimana kah kisah freya, menggantikan jiwa figuran istri pertama yang memiliki nama sama, wajah yang sama dengannya, memiliki sifat pendiam dan suka berpakaian norak. Penasaran kan teman-teman ayo baca novel ku😁😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Kay Tidak Di Sambut Para Istrinya
Alex membawa freya ke kamarnya, dia menurunkan freya di atas kasurnya tanpa melepaskan ciumannya. Dia terus melumat bibir freya dengan dalam. Tangannya membuka seluruh kancing piyama freya dan menarik benda seperti kacamata melemparnya sembarang arah. Alex terus mencium bibir freya, sedangkan tangannya bermain di benda kenyal milik freya.
Di sebuah bar terkenal, bar yang hanya bisa di masuki oleh orang yang memiliki nama dan kuasa, dua wanita dengan wajah identik, namun dengan aura yang berbeda duduk berhadapan. Lampu neon bernuansa deep purple dan aroma mahal dari cerutu serta minuman berkelas memenuhi udara bar tersebut.
Alexa dan Alexandra nama gadis itu, mereka adalah pemilik bar tersebut. Wanita kembar yang dikenal kecantikan dan kecerdikannya dalam memanipulasi, mereka berdua bukan hanya pemilik bar, tetapi mereka memiliki keahlian lainnya, Alexa seorang artis terkenal dan alexandra seorang pelukis terkenal.
Alexa menyesap martini-nya perlahan, matanya yang tajam menatap ponselnya, terdapat seorang pria di ponsel miliknya. "Aku sudah tidak sabar ingin mendaki hati alex, alexandra." Ucapnya dengan nada dingin.
Alexandra tersenyum tipis. "Aku juga kak lexa, seharusnya kita adalah jodoh alex, karena nama kita bertiga hampir identik." Jawabnya sambil terkekeh. Dia mengambil tablet yang berada di meja. Alexandra mengusap layar tabletnya yang menampilkan wajah dingin alex. Matanya berkilat, bukan untuk kekaguman biasa, melainkan obsesi yang mendarah daging.
"Mendaki pria seperti alex, bukan seperti mendaki gunung biasa kak, satu kesalahan langkah, kita akan jatuh ke jurang terdalam. "Jawabnya dengan nada dingin.
"Hmmm, karena itu, kita sekarang berkumpul untuk rencana yang kita tahan selama ini." Lanjut alexa dengan tatapan dingin.
Dia atas meja bukan hanya sekedar makanan dan minuman, melainkan berkas-berkas digital mengenai rute perjalanan, kebiasaan dan kelemahan alex. Tetapi mereka tidak mendapatkannya. Karena informasi alex sangat sulit di dapatnya.
"Benar kak, kita sudah lama sekali hanya bisa merencanakan nya, sekarang kita bisa melaksanakannya, Karena kita sekarang wanita tercantik dan terkenal, aku yakin. Alex akan akan jatuh cinta kepada kita, jika kita goda dan pepet terus." Lanjut alexa mengocok shakes perak, menuangkan cairan merah darah ke gelas baru. Dia tertawa kecil, namun terdengar mematikan.
"Benar, aku yakin alex tidak akan menolak dua wanita yang sama dengan pesona yang berbeda, jika satu gagal memikatnya dengan kelembutan, maka yang lainnya menjeratnya dengan kecerdasan dan kelicikan."
Sedangkan di kamar freya, alex bagaikan bayi raksasa yang menyusu tanpa henti. "Kak, sudah." lirih freya menahan desahannya, dia menggigit bibir bawahnya menahan desahannya.
Alex mendongak menatap wajah freya yang sangat seksi, dan melihat freya menggigit bibirnya dengan memejamkan matanya. Alex langsung mencium bibir freya membuat freya membuka matanya.
Alex mencium bibir nya, melumat nya dengan penuh gairah. Mencium tanpa henti, hingga freya kehabisan napas alex masih menciumnya. Freya memukul dada bidang alex, hingga alex tersadar dan melepaskan ciumannya. "Maaf sayang, rasanya aku hampir gila karena tubuh mu." Bisik-nya langsung beranjak berdiri. "Aku pergi ke kamar mandi dulu." Ucapnya langsung melangkah menuju kamar mandi.
"Buset, alex hasratnya besar bangat, untung aku enggak dilahap nya habis." Gumamnya sambil menguap karena mengantuk. Freya membetulkan pakaiannya, setelah itu dia tertidur pulas.
Setelah tiga puluh menit alex keluar dari kamar mandinya. Uap air yang tipis masih mengikuti langkahnya, saat dia keluar dari kamar mandi, menyisah kan aroma maskulin yang segar di udara. Alex berhenti sejenak, tatapannya langsung tertuju pada sosok calon istrinya yang tertidur pulas di balik selimut tebalnya.
Freya terlihat tampak begitu tenang, kontras dengan hirup pikuk dunia kekuasaan yang dia kendalikan di luar sana.
Alex melangkah ke ruang walk-in closet. Dia mengguna kan pakaian tidurnya dengan gerakan tenang namun efisien. setiap kancing yang dia pasang menegaskan otoritas yang dia memiliki. Setelah selesai dia keluar dari ruangan itu, dan dia menaiki sisi ranjang yang kosong. Dia terbaring miring menatap wajah cantik freya yang menjadi pusat semesta-nya.
Jarinya yang kokoh terulur, mengelus pipi halus sang kekasih dengan gerakan yang posesif. "Sayang, kamu begitu cantik. Kau tidak akan pernah bisa pergi." Bisik-nya pelan bagaikan desingan angin. Matanya berkilat tajam dalam kegelapan, penuh janji yang mutlak. "Aku tidak akan melepaskan kamu apapun. Taruhannya."
Sebuah mobil mewah berhenti di sebuah mansion besar. Turun seorang pria tampan dengan rambut putihnya. Langkah kaki kay bergema di aula mansion yang kosong. Awalnya kay ingin pulang pagi. tetapi rasa rindu kepada freya terus membuncah, hingga dia memutuskan untuk segera pulang. Keheningan mencekik. Kedua istrinya tidak menyambutnya, yang ada hanya para pelayan dan pengawal yang tidak berani menatap mata-nya.
Tidak ada ivana yang ber-manja dengannya, dan tidak ada freya yang bisanya berdiri jauh di sudut ruangan, hanya untuk memastikan dia pulang dengan selamat.
"Dimana mereka?" Tanya kay singkat dengan para pelayan yang menunduk dalam.
"Nyonya freya pergi dengan bella, membawa barang-barang penting dan nyonya ivana juga kami tidak tahu kabarnya tuan muda, tetapi nyonya freya memberikannya ini." Ucap seorang pelayan, memberikan sebuah map biru yang tampak sangat formal.
Oscar hanya terdiam melihat semuanya.
Kay membuka map tersebut. Akta Cerai yang Sudah Sah.
Kay terbelalak, di sana tertera namanya dan nama freya. Di kolam tanda tangan suami, terdapat goresan pena yang sangat dia kenali, itu adalah tanda tangannya, sangat identik.
Kay berpikir apa ini ulah ivana yang licik? atau justru freya yang sudah terlalu lelah hingga menipunya agar bisa bebas.
Kay meremas pinggiran surat cerai itu, hingga kertas premium lecek tak berbentuk. Matanya berkilat obsesi yang menyala-nyala. Baginya, tanda tangan di kertas itu bukanlah akhir, melainkan genderang baru saja di tabuh.
Kay tidak perduli lagi bagaimana tanda tangan itu bisa berada di sana. Dia tidak perduli jika dunia menganggap nya gila, yang dia tahu hatinya sangat mencintai freya, rasa cinta yang tidak pernah dia rasakan sebesar ini ketika bersama ivana.
"Freya, aku tidak akan pernah melepaskan mu, kau pikir selembar kertas ini bisa melepas kamu dari ku?" Desisnya dengan suara rendah yang mengerikan. Senyuman tipis terukir di bibirnya. "Kau milik ku freya, dari awal, sekarang dan selamanya. Jika kau lari ke ujung dunia pun, aku akan meratakan dunia itu, hanya untuk menemukan mu."
"Carlos, kamu cari istriku freya." Perintahnya dengan rendah namun bergetar oleh emosi yang tertahan. "Lacak setiap manifes penerbangan, setiap rekaman Cctv di planet ini, bawa dia kembali kepada ku, dalam keadaan hidup atau mati dia harus menjadi istriku kembali." Perintahnya dengan sorot mata penuh obsesi.