NovelToon NovelToon
Ambang Batas

Ambang Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Pelakor / Selingkuh / Saudara palsu / Cintapertama
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moena Elsa

Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.

Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyekapan

"Tuan-tuan, kita ini sebenarnya mau dibawa kemana? Apa kalian mau menculik kami?" Intan mencoba mengeluarkan rayuan maut yang biasa dia keluarkan saat situasi terjepit.

Tak ada jawaban.

"Bahasa halus tak bisa, kita pakai bahasa kebun binatang saja," sahut nyonya Adrian.

Sudah hampir satu jam, nyonya Adrian dan Intan berada dalam mobil minivan itu.

"Berhenti...! Aku mau buang air kecil," seru nyonya Adrian beralibi.

"Kami tahu modus anda nyonya, diam lah!" gertak pria yang paling dekat dengan mereka berdua.

"Sialan!" umpat nyonya Adrian.

"Kalian ini kasar sekali dengan wanita hamil. Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa dengan janin yang aku kandung," ancam Intan.

"Kami jamin," sela pria yang lain.

"Cih," tukas Intan kesal.

Mobil berhenti mendadak, membuat dahi nyonya Adrian dan Intan membentur jok mobil di depannya.

"Awh, awas saja kalian. Kalau sampai suami ku tahu, habis kalian," omel nyonya Adrian Kusuma.

"Silahkan nyonya," dengan perkataan halus menyilahkan, tapi pergerakan tangan kasar mereka memaksa nyonya Adrian dan Intan untuk mengikuti ritme langkah lebar para pria itu.

"Kita mau dibawa kemana?" nyonya Adrian berontak.

"Jangan paksa kami berbuat kasar nyonya," ujar pria yang memegang lengan nyonya Adrian.

Nyonya Adrian dan Intan dimasukkan ke sebuah ruangan kosong. Cukup lebar sih, tapi tak ada pendingin sama sekali jadi berasa lembab dan pengap.

"Mah, apa yang terjadi? Kok kita malah diculik begini? Mama itu berbuat salah sama penguasa? Atau sama siapa?" oceh Intan.

"Mama juga nggak tahu Intan," balas nyonya Adrian.

"Katanya ada proyek besar?" tanggap Intan.

"Harusnya begitu,"

"Mama nyembunyiin sesuatu?" tanya Intan penuh selidik.

"Akan mama kasih tahu jika saatnya tiba," bilang nyonya Adrian.

"Apa ada kaitan dengan proyek yang mama bilang?" dijawab anggukan oleh nyonya Adrian.

Meski disekap keduanya tak diikat atau disumpal mulut. Tak ada tindak kekerasan, seperti drama-drama yang sedang trend saat ini.

.

Tuan Adrian mulai bergerak dari pingsan nya.

"Hhhmmm di mana ini?" gumam nya perlahan.

Tangan yang diikat membuat pergerakan tuan Adrian terbatas.

Tuan Adrian mengamati sekeliling, "Awh," kepala nya terpentok saat berusaha bangun.

Emosi menguasai saat kesadaran nya telah kembali sempurna.

"Siapa kalian?" bentak tuan Adrian dengan mode siaga.

"Sudah sadar ternyata," sahut pria yang duduk di belakang kemudi.

"Jawab!" kata tuan Adrian dengan nada tinggi.

"Sabar tuan Adrian, sebentar lagi anda akan bertemu dengan tuan kami," jawab yang lain dengan tawa sinis.

"Siapa tuan mu?" tanya tuan Adrian.

"Yang pasti tuan kami lebih berkuasa daripada anda," jelas mereka.

Tuan Adrian diam, berpikir siapa kira-kira yang menyuruh mereka.

Tuan Adrian merasa tak punya musuh.

Mobil berhenti mendadak.

"Sialan, bisa bawa mobil nggak sih?" umpat tuan Adrian karena kepala nya kepentok kap mobil.

Pintu mobil terbuka, tuan Adrian ditarik dengan kasar.

Tuan Adrian menatap tajam ke semuanya.

"Silahkan masuk, tuan kami akan datang sebentar lagi," bilang mereka.

Tuan Adrian didorong masuk ke sebuah ruangan, dan pintu langsung ditutup.

"Hei... Apa yang kalian lakukan? Keluarkan aku dari sini!" teriak tuan Adrian dengan menggedor daun pintu yang tak bersalah itu.

Tuan Adrian terus berusaha meski akhirnya lelah sendiri.

"Papah...," suara panggilan membuat tuan Adrian tertegun.

Tuan Adrian membalik badan, dan terkejut saat mendapati istri dan anaknya juga berada di sana.

"Ngapain kalian di sini?" tanya tuan Adrian.

"Papa juga ngapain nyusul ke sini?" sahut Intan menimpali.

"Bukannya mama ada arisan sosialita?" telisik tuan Adrian.

"Mana bisa pergi kalau uangnya tak papa kasih?" nyonya Adrian sewot.

"Kirain papa pergi menemui kak Berlian?" kata Intan menyela.

Mengingat Berlian, tuan Adrian tersenyum.

"Kita tunggu waktu yang tepat. Papa yakin kita akan segera dapat uangnya," kata tuan Adrian.

"Maksud papa?" tanya Intan menegaskan. Di sini Intan sendiri yang belum tahu cerita sebenarnya.

"Kakak kamu pasti akan segera mentransfer sejumlah uang yang papa inginkan," ucap tuan Adrian percaya diri.

"Apa papa sudah mengatakan kepada Berlian?" sela nyonya Adrian dan dijawab anggukan tuan Adrian.

"Terus kenapa kita berada di sini sekarang? Disekap berjamaah?" tanya Intan.

"Papa juga nggak tahu. Kalian duluan yang di sini harusnya lebih tahu," bahas tuan Adrian.

Nyonya Adrian menceritakan kronologis kejadian sampai dia dan Intan disekap di sini.

Otak tuan Adrian dengan sifat licik nya mulai memikirkan sesuatu.

"Apa ini kebetulan atau kah disengaja?" gumam tuan Adrian.

"Maksudnya?" seru nyonya Adrian dan Intan bersamaan.

Tuan Adrian mencoba menelusuri dengan otaknya, siapa kira-kira tuan besar di balik kejadian ini.

Samar-samar terdengar obrolan di luar ruangan.

"Tuan besar akan datang satu jam lagi. Kita harus bersiap," kalimat itu ditangkap jelas oleh pendengaran tuan Adrian.

"Tuan besar... Tuan besar ...," Gumam tuan Adrian sambil berpikir keras.

"Oh .. Tak mungkin dia," tuan Adrian menebak tentang siapa yang disebut tuan besar oleh mereka. Tapi otak tuan Adrian menyangkal.

"Papa tahu siapa dalangnya?" tanya Intan.

"It's impossible," tuan Adrian menggelengkan kepala.

Tut...tut...tut... Terdengar kode akses pintu ditekan.

Pintu pun terbuka.

Ketiganya menoleh ke arah yang sama.

.

.

Minggu pagi mendung menyelimuti, daun-daun kena air hujan ### up baru author kasi, jangan lupa tuk kasih dukungan.

Sarapan dengan bubur ayam, makan nya di pinggir jalan ### author berasa tentram, karena kalian terus kasih dukungan

Lope .. Lope... smua.

1
Sunaryati
Lanjut agar tahu rasa orang - orang tiday tahu diri itu
Tania Luvia
lanjut thor😍
Dew666
☀️🪻
Tania Luvia
apa mereka ayah dan anak 🤭
Tania Luvia
bener-bener licik
Tania Luvia
keluarga ediaaann
Tania Luvia
semangat berlian💪
Tania Luvia
apakah tanda2 es balok meleleh 🤣
Dew666
☀️☀️🪻👍
Tania Luvia
like it
Tania Luvia
makin seru😄
Tania Luvia
jangan kalah sama Intan
Tania Luvia
Hawa bucin 😄
Yuningsih Nining
mau surprize'in apa si dom sama berlian?
Susie
kita tunggu kelanjutannya kakak
moenaelsa: ketemu maneh kakak 😍🤣
total 1 replies
Dew666
👄👄👄👄👄
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
partini
ayo selangkah di depan dong ber
Dew666
💐🔮
partini
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!