Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sujud Syukur dan Pintu Maaf yang Terbuka
Tiga hari telah berlalu sejak peristiwa mukjizat di ruang UGD. Amara kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang jauh lebih tenang. Meski tubuhnya masih sangat lemah dan wajahnya masih sepucat kapas, matanya sudah menampakkan binar kehidupan. Di samping tempat tidurnya, sebuah inkubator portabel diletakkan agar Amara bisa terus memantau putri kecilnya, Zahra.
Pintu kamar terbuka perlahan. Hannan masuk dengan membawa baki berisi air hangat dan waslap. Ia tersenyum sangat manis, senyum yang selama dua bulan ini menghilang dari wajahnya.
"Gimana perasaannya hari ini, Sayang? Sudah lebih enak?" tanya Hannan sambil duduk di tepi ranjang, mengusap dahi Amara dengan lembut.
"Sudah lebih baik, Mas. Hanya sedikit nyeri di bekas operasi," jawab Amara lirih. Matanya melirik ke arah inkubator. "Zahra... dia sudah minum susu?"
"Sudah, tadi suster bantu berikan ASI perasmu. Dia bayi yang kuat, sama seperti bundanya," Hannan mengecup tangan Amara.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu yang agak ragu. Hannan menoleh dan melihat Abahnya, Kiai Abdullah, berdiri di ambang pintu bersama Ummi Salamah. Suasana seketika menjadi canggung. Amara sedikit menegang, ingatannya kembali pada kata-kata pedas sang Kiai di pemakaman.
Hannan berdiri, memberi ruang. Kiai Abdullah melangkah masuk dengan bahu yang tidak lagi tampak angkuh. Beliau berjalan mendekati ranjang Amara, lalu sesuatu yang tak terbayangkan terjadi. Sang Kiai besar itu menunduk, dan dengan suara bergetar, beliau memegang pinggiran ranjang Amara.
"Amara... menantuku," suara Kiai Abdullah pecah.
"Abah datang bukan untuk memerintah lagi. Abah datang untuk memohon maaf kepadamu."
Amara tertegun. Ia mencoba duduk, namun Hannan menahannya agar tetap berbaring.
"Abah sudah buta karena kesombongan. Abah hampir saja melenyapkan kebahagiaan putra Abah dan membunuh malaikat kecil yang menyelamatkanmu,"
Kiai Abdullah menyentuh tangan Amara dengan sangat takzim, sebuah isyarat permohonan maaf yang luar biasa dari seorang guru besar kepada muridnya. "Terima kasih sudah menyelamatkan Aisyah. Terima kasih sudah mau kembali demi Hannan. Tolong... maafkan Abah yang tua dan bodoh ini."
Air mata Amara jatuh bercucuran. Ia tidak pernah mendendam. "Abah... jangan bicara begitu. Amara yang minta maaf karena sudah tidak sopan waktu itu. Amara hanya ingin Mas Hannan bahagia."
"Kebahagiaan Hannan adalah kamu, Nak. Dan sekarang, kebahagiaan itu bertambah dengan hadirnya cucu Abah," Kiai Abdullah beralih menatap inkubator Zahra dengan tatapan penuh kasih. "Setelah kamu pulih, kita pulang ke Pesantren. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi persembunyian. Kamu adalah menantu resmi di keluarga Al-Ikhlas."
Ummi Salamah maju memeluk Amara, mereka menangis bersama. Hannan yang melihat pemandangan itu merasa hatinya sangat penuh. Inilah yang ia impikan selama ini: keluarganya utuh dan rida.
Malam itu, saat para orang tua sudah pulang ke penginapan, Hannan merebahkan kepalanya di samping bantal Amara. Ia memeluk istrinya dengan sangat hati-hati.
"Terima kasih sudah berjuang hidup lagi untukku, Amara," bisik Hannan.
Amara mengelus rambut suaminya. "Zahra yang memanggilku, Mas. Dia bilang... Abi tidak bisa sendirian di dunia ini karena Abi terlalu manja."
Hannan tertawa kecil, mencium pipi Amara. "Iya, aku memang manja. Dan mulai sekarang, aku akan lebih manja lagi padamu dan Zahra. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku walau satu detik pun."
Di bawah cahaya lampu kamar rumah sakit yang temaram, romansa yang sempat terkubur duka itu kembali bersemi. Namun, mereka belum tahu bahwa di luar sana, sisa-sisa masa lalu Amara masih mengintai, mencoba mencari celah untuk menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mereka raih.