NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluar Sangkar Bareng Pawang

Setelah malam panjang yang penuh drama air mata lewat telepon, hari ini Viona merasa kembali menjadi dirinya yang tangguh. Urusan di hotelnya berjalan mulus tanpa hambatan berarti, yang artinya, jiwa sosialitanya mulai meronta. Ia butuh hiburan untuk menghapus bayangan "memalukan" saat ia merengek pada Noah semalam.

Kebetulan sekali, grup obrolan teman-teman masa SMA-nya di Seoul sedang ramai. Mereka merencanakan pertemuan di sebuah club eksklusif di kawasan Cheongdam, tempat yang hanya bisa diakses oleh kalangan VVIP dengan pelayanan private room yang sangat tertutup.

"Gue butuh napas. Noah juga lagi di Singapura, dia nggak bakal tahu," gumam Viona sambil memoles lipstick merah menyala di depan cermin besar kamarnya.

Malam itu, Viona tampil memukau dengan dress satin pendek yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Ia meluncur membelah jalanan Seoul yang masih basah sisa hujan semalam, menuju lokasi yang dijanjikan.

Begitu sampai, dentuman musik yang diredam oleh dinding kedap suara menyambutnya. Di dalam ruangan private itu, teman-teman lamanya sudah berkumpul dengan botol-botol champagne mahal di atas meja.

"Viona Skylar! Akhirnya sang pengantin baru keluar dari sangkarnya!" seru salah satu temannya, disambut sorakan yang lain.

"Gue cuma butuh sedikit hiburan, Guys," sahut Viona sambil tertawa, menerima gelas pertama yang disodorkan padanya.

Viona menikmati suasananya. Ia menari, tertawa, dan bercerita tanpa beban. Di tempat ini, tidak ada "Pak Dosen Noah" yang memantaunya dengan tatapan mengintimidasi. Tidak ada aturan "jangan ke club". Ia merasa benar-benar bebas.

Namun, Viona lupa satu hal penting.

Seoul itu sempit untuk kalangan mereka. Dan Noah Sebastian Willey bukan tipe pria yang akan melepaskan pengawasannya begitu saja, bahkan saat ia berada ribuan kilometer jauhnya di Singapura.

Di tengah tawa Viona, ponselnya yang tergeletak di atas meja terus bergetar. Satu notifikasi masuk dari aplikasi CCTV rumahnya, menunjukkan bahwa seseorang baru saja membuka pintu depan rumah mereka di Seoul dengan kode akses yang sangat ia kenal.

Viona yang sedang asyik menenggak gelas ketiganya sama sekali tidak menyadari bahwa "kebebasannya" mungkin hanya akan bertahan beberapa menit lagi.

Viona yang sedang berada di puncak energinya merasa dunianya seolah berputar. Efek alkohol dan dentuman musik membuatnya tak sadar bahwa bahaya sudah berdiri tepat di belakangnya. Saat tangannya ditarik dengan kuat, ia hampir saja memaki kalau saja aroma parfum sandalwood yang sangat ia kenal tidak menusuk indra penciumannya.

Viona membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat Noah berdiri di hadapannya. Pria itu masih mengenakan setelan jas lengkap, mungkin langsung dari bandara Incheon, tapi dasinya sudah dilonggarkan dan matanya menatap Viona dengan kemarahan yang tertahan.

Noah menarik Viona mendekat hingga dada mereka bersentuhan. Ia menatap pakaian yang dikenakan Viona, sebuah slip dress satin hitam yang memang terlihat sangat menggoda dan minim.

“Lo dateng ke tempat begini pakai baju tidur sexy?" bisik Noah tepat di telinga Viona. Suaranya rendah, serak, dan penuh ancaman yang membuat bulu kuduk Viona meremang.

Viona mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang mulai berhamburan. "Lo... lo ngapain di sini? Bukannya lo di Singapura?" tanya Viona gagap.

“Jemput lo yang keras kepala," jawab Noah singkat.

Teman-teman Viona hanya bisa melongo. Mereka tahu siapa Noah Sebastian Willey, dan melihat ekspresi sang "Dosen Dingin" itu sekarang, mereka tahu lebih baik tidak ikut campur.

Noah tidak membuang waktu. Ia melepas jas hitamnya, lalu menyampirkannya ke bahu Viona untuk menutupi kulit istrinya yang terekspos. Tangannya melingkar posesif di pinggang Viona, seolah menegaskan pada semua pria di ruangan itu bahwa wanita ini adalah miliknya.

“Acara selesai. Istri gue butuh istirahat," ucap Noah pada teman-teman Viona dengan nada dingin yang tak terbantahkan.

Noah menyeret, atau lebih tepatnya memapah, Viona keluar dari club menuju mobilnya yang terparkir di depan. Udara dingin Seoul malam itu langsung menusuk kulit, sedikit membantu mengembalikan kesadaran Viona.

“Noah, lepasin! Sakit tahu!" protes Viona saat mereka sampai di depan mobil.

Noah berhenti, lalu berbalik dan menghimpit Viona di pintu mobil. Ia menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Viona, mengunci pergerakan istrinya.

“Gue udah bilang, jangan berani-berani masuk ke club tanpa gue, Viona," ucap Noah, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Viona. "Gue terbang berjam-jam karena lo bilang lo takut sendirian di rumah, tapi ternyata lo malah asik gila-gilaan di sini dengan baju kayak gini?"

Viona menelan ludah. Amarah Noah kali ini berbeda. Bukan cuma soal aturan, tapi ada rasa cemas dan cemburu yang terbaca jelas di matanya.

“Gue cuma pengen hiburan..." cicit Viona.

“Hiburan lo hampir bikin gue gila di Singapura, Vio," sahut Noah, suaranya melemah tapi tatapannya semakin intens. "Sekarang masuk. Kita bahas hukuman lo di rumah."

Begitu pintu rumah tertutup rapat, suasana mendadak hening, hanya menyisakan deru napas keduanya yang tidak beraturan. Noah melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer dengan kasar, menciptakan denting yang memekakkan telinga.

Noah melangkah maju, memangkas jarak hingga Viona terpaksa mundur dan punggungnya membentur dinding dingin di lorong rumah mereka. Noah menumpukan satu tangannya di samping kepala Viona, mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang jauh lebih besar.

“Kan udah gue bilang, ke club itu sama gue! Gue itu bawa nama baik keluarga lo, Vio!" omel Noah. Suaranya rendah tapi penuh penekanan, menggema di langit-langit rumah mereka yang tinggi.

Viona mencicit, kepalanya yang masih sedikit pening karena alkohol membuatnya tidak berani menatap mata Noah yang seolah menyala. "Iya... maaf. Habisnya gue takut kalau di rumah sendiri," bela Viona dengan suara kecil.

“Kalau takut, kenapa nggak ke rumah Mama atau Bunda? Kenapa nggak ke sana aja?" Noah memajukan wajahnya, menatap tajam ke dalam manik mata Viona yang sayu. "Jelas! Itu karena lo cuma mau bebas terus, kan? Lo cuma mau gila-gilaan tanpa ada yang ngawasin!"

Viona menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Noah benar, tapi rasa malu dan kesalnya campur aduk. "Gue cuma mau napas sebentar, Noah! Semalam gue ketakutan setengah mati sendirian di sini, dan hari ini gue cuma mau ngilangin stres itu sama temen-temen gue!"

“Ngilangin stres dengan cara pakai baju yang bahkan nggak nutupin punggung lo dengan bener?" potong Noah sinis. Ia menarik sedikit kerah jasnya yang masih tersampir di bahu Viona. "Lo sadar nggak, kalau ada orang yang ambil foto lo di sana dan kirim ke keluarga Willey atau Skylar, apa jadinya? Lo mau karir hotel lo hancur karena skandal pengantin baru yang mabuk-mabukan?"

Viona terdiam. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik. Noah menghela napas panjang, mencoba meredam amarahnya yang meluap-luap. Ia menunduk, dahi mereka hampir bersentuhan.

“Gue bela-belain batalin meeting penting di Singapura dan ambil penerbangan paling malam cuma karena kepikiran istri gue ketakutan sendirian," bisik Noah, kali ini suaranya terdengar sangat lelah. "Tapi pas gue sampai sini, gue malah harus jemput lo di tempat kayak gitu."

Viona merasa hatinya mencelos. Rasa bersalah mulai menggerogoti egonya. Ia memberanikan diri menyentuh lengan Noah yang masih menempel di dinding.

“Noah... maaf. Gue... gue nggak mikir sejauh itu."

Noah memejamkan mata sejenak, merasakan sentuhan tangan Viona yang dingin. "Mulai besok, lo dilarang keluar rumah setelah jam tujuh malam tanpa gue. Dan ponsel lo... gue bakal pantau lokasinya setiap jam."

“Noah! Itu berlebihan!" protes Viona.

“Pilihan lo cuma dua, Viona," Noah menatapnya lagi, kali ini dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ikuti aturan gue, atau gue bakal laporin semua kelakuan lo semalam ke bokap lo sekarang juga. Pilih mana?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!