Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 1: PAGI YANG MEMALUKAN
*"
***
Gelap.
Masih gelap banget. Tapi alarm kayu yang kupasang dari kaleng bekas dan batu kerikil udah berbunyi. Bunyi yang bikin jantung berdetak aneh tiap kali dengar. Bunyi yang ngingetin aku, hari ini aku masih hidup. Masih harus hidup.
Aku buka mata. Langit-langit kamar yang bocor itu masih basah. Tetesan air jatuh ke ember plastik di pojok. Tok. Tok. Tok. Suara yang udah jadi lagu pengantar tidurku bertahun-tahun. Kamar kontrakan ini sempit. Sekat triplek yang udah lapuk memisahkan ruangan ini jadi tiga bagian. Aku tidur di kasur tipis yang busa dalamnya udah gumpal-gumpal keras. Ayah di sebelah, terbaring di kasur yang lebih tipis lagi. Ibu... ibu udah gak ada. Pasti udah pergi ambil cucian.
Jam tiga lewat tiga puluh menit pagi.
Aku bangkit. Kaki bersentuhan sama lantai semen yang dingin dan retak-retak. Gak pake sendal dulu, langsung jalan pelan ke arah ayah.
"Yah..."
Suaraku serak. Tenggorokan kering.
Ayah menatapku. Matanya berkaca-kaca. Lagi. Selalu berkaca-kaca tiap aku bangunin dia. Aku tahu dia malu. Aku tahu dia sakit hati tiap anaknya harus bantu dia buat hal-hal yang... yang harusnya dia bisa lakuin sendiri kalau kakinya masih bisa gerak.
"Sat... maafin ayah, Nak..."
Lagi. Kalimat yang sama. Tiap pagi. Tiap bangun. Tiap aku harus angkat tubuhnya yang kurus kering ini ke kursi roda butut yang rodanya udah gak bundar lagi.
"Gak papa, Yah. Ayo, kebelet kan?"
Aku angkat tubuhnya. Enteng. Terlalu enteng. Dulu ayah itu besar, berotot. Buruh pabrik yang kuat. Sekarang tulang dan kulit doang. Lima tahun terbaring bikin ototnya hilang semua. Kulitnya keriput. Badannya bau obat-obatan murahan yang aku beli pake uang receh hasil nyuci piring.
Aku dorong kursi roda ke kamar mandi yang gak layak disebut kamar mandi. Cuma lubang got yang ditutup papan, ember, sama gayung. Gak ada kloset. Gak ada shower. Air pun harus nampung dari kran umum di ujung gang.
"Bentar ya, Yah..."
Aku bantu ayah. Aku gak akan ceritain detailnya. Cukup aku bilang, tiap pagi aku harus lakuin hal yang bikin hati aku hancur. Ayahku nangis. Diam-diam. Aku denger isakannya. Aku pura-pura gak denger.
Aku mandiin dia pake air dingin. Gak ada pemanas. Ayah menggigil. Gigi-giginya gemeretak. Tapi dia diem aja. Gak ngeluh.
Selesai, aku kembaliin dia ke kasur. Aku pakaiin baju yang udah tipis. Aku selimuti pake selimut yang bolong-bolong di mana-mana.
"Makasih, Nak..."
Suaranya gemetar.
Aku cuma bisa senyum. Senyum yang dipaksain. Padahal dalem hati aku udah nangis dari tadi.
Aku mandi. Cepet. Air dingin bikin badan aku kaku semua. Gak ada sabun. Udah habis tiga hari yang lalu. Belum ada uang buat beli lagi. Cuma pake air doang. Udah cukup, pikir aku. Asal gak bau.
Aku keringkan badan pake handuk yang udah keras kayak papan. Trus aku ambil seragam. Satu-satunya seragam SMA yang aku punya. Warnanya udah pudar. Putihnya udah kuning kecokelatan. Abu-abunya udah belang-belang. Ada tambalan di bagian saku. Ibu yang nambal pake kain bekas. Tambalan itu keliatan banget.
Sepatu... sepatu aku yang talinya udah putus berkali-kali. Aku sambung lagi pake tali rafia yang aku minta ke tukang sayur. Hasilnya? Norak. Jelek. Tapi gak papa. Yang penting bisa dipake jalan.
Tas sekolah udah compang-camping. Resleting rusak. Aku iket pake tali karet gelang.
"Nak, ini..."
Ayah nyodorin sesuatu dari balik bantalnya. Uang receh. Lima ratus perak.
"Jajan, Nak... biar kamu gak laper di sekolah..."
Aku mau nangis.
Uang ini pasti sisa uang yang ibu kasih buat jaga-jaga kalau ayah haus atau butuh apa-apa. Tapi ayah... ayah malah kasih ke aku.
"Gak usah, Yah. Aku udah bawa bekal kok."
Bohong. Aku gak bawa apa-apa. Gak ada nasi. Gak ada lauk. Ibu masak apa adanya tadi malem. Cuma sayur kol rebus sama kerupuk. Ayah makan dua sendok. Aku makan sisanya. Gak ada yang tersisa buat bekal.
"Nak, ayah tau kamu bohong. Ambil aja, ayah gak butuh ini..."
Aku geleng. Aku cium tangan ayah yang keriput. Tangan yang dulu kuat sekarang cuma bisa gemetar.
"Aku gak laper, Yah. Serius. Di sekolah ada temen yang suka bagi-bagi makanan kok."
Bohong lagi.
Gak ada yang mau bagi makanan ke aku. Gak ada yang mau deket-deket aku. Aku dijauhin. Kayak penyakit.
Tapi aku senyum. Aku keluar dari rumah kontrakan yang pintunya gak bisa dikunci karena kuncinya udah patah.
Pagi ini masih gelap. Jalanan sepi. Lampu jalan banyak yang mati. Gang-gang sempit. Bau got menyengat. Aku jalan kaki.
Lima kilometer.
Dari kontrakan kumuh di pinggiran kota, sampe ke SMA Negeri 3 Jakarta yang megah di tengah kota.
Kakiku udah kebiasaan. Jalan kaki tiap hari. Gak pernah naik angkot. Gak ada uang. Uang buat ongkos mending buat beli beras.
Aku jalan sambil ngeliat langit. Masih ada bintang. Aku inget dulu waktu kecil, ayah suka gendong aku di pundaknya. Kita liat bintang bareng. Ayah bilang, "Sat, kamu itu bintang ayah. Kamu harus bersinar, Nak. Biar terang. Biar orang-orang liat kamu dan kagum."
Sekarang ayah gak bisa gendong aku lagi.
Aku yang harus gendong ayah.
Tapi janjinya masih aku pegang. Aku harus bersinar.
***
Satu jam setengah kemudian, aku sampe di gerbang sekolah.
Megah.
Gerbang besi besar dengan tulisan emas "SMA NEGERI 3 JAKARTA - SEKOLAH UNGGUL BERPRESTASI". Di belakangnya gedung berlantai empat dengan cat putih bersih. Lapangan luas. Taman yang rapi. Fasilitas lengkap.
Aku... aku kayak gak pantas ada di sini.
Tapi aku masuk lewat beasiswa prestasi. Nilai ujian masukku sempurna. Seratus semua. Makanya aku diterima meskipun... meskipun aku miskin.
Di depan gerbang, mobil-mobil mewah berhenti. Honda, Toyota, bahkan ada yang naik BMW. Anak-anak turun dengan seragam yang rapi, wangi, bersih. Tas branded. Sepatu mengkilap.
Aku jalan masuk sambil nunduk. Kepala tertunduk. Mata natap tanah.
Tapi tetep aja...
"Eh, liat tuh! Si anak miskin dateng!"
Suara itu. Suara Bagas Pradipta. Ketua geng anak-anak orang kaya. Anak konglomerat. Bapaknya punya mall di mana-mana.
Aku berhenti.
Jantungku berdetak kenceng. Tangan gemetar. Tapi aku terus jalan.
"Hei, Satria Bumi Aksara!"
Bagas manggil namaku dengan nada nyinyir. Aku berhenti lagi. Gak berani noleh.
"Lu gak denger gue manggil?"
Aku noleh pelan. Bagas berdiri dengan empat temennya. Semua gede-gede. Semua kaya. Semua tatap aku dengan pandangan jijik.
Bagas pegang bungkusan plastik bekas. Di dalamnya sampah. Sampah dari mobil dia kayaknya.
Dia lempar.
Tepat ke muka aku.
PLAK!
Plastik itu nempel di dahi aku. Isinya tumpah. Sisa minuman kopi, tisu kotor, bungkus permen. Semuanya basah dan lengket di wajah aku.
"HAHAHAHA! COCOK TUH! ANAK MISKIN EMANG TEMPATNYA DI SAMPAH!"
Temen-temennya ketawa. Ketawa yang keras. Ketawa yang ngejek.
Aku diem aja.
Aku bersihin wajah aku pake tangan. Tangan aku lengket. Bau.
Aku terus jalan.
"DASAR MISKIN! JOROK! BAJU LU BAU KERINGET!"
Aku masuk ke gedung sekolah. Tangan masih gemetar. Mata udah berkaca-kaca. Tapi aku tahan. Gak boleh nangis. Gak boleh.
Aku masuk ke toilet. Cuci muka. Bersihin sisa-sisa sampah yang nempel. Air keran dingin. Aku liat cermin. Wajah aku pucat. Kurus. Mata cekung. Aku keliatan kayak orang sakit.
Aku pukul wastafel sekali. Pelan. Biar gak ada yang denger.
"Sabar, Satria... sabar..."
Aku keluar. Aku ke kelas. Kelas 12 IPA 1.
Semua udah pada duduk. Rame ngobrol. Mereka liat aku masuk. Beberapa nutupin hidung. Beberapa bisik-bisik.
"Ih, dia dateng..."
"Baunya asem banget deh..."
"Jangan deket-deket..."
Aku jalan ke bangku paling belakang. Bangku pojok. Bangku yang gak ada temennya. Gak ada yang mau duduk sebelah aku.
Aku duduk sendirian.
Aku keluarin buku pelajaran. Buku pinjeman dari perpustakaan. Udah lusuh. Udah coretan mana-mana.
Pelajaran pertama, Matematika. Bu Sari masuk.
"Selamat pagi, anak-anak."
"SELAMAT PAGI, IBU!"
Semua jawab kompak. Aku juga jawab, tapi suara aku tenggelam.
Bu Sari nulis soal di papan tulis. Soal integral yang rumit banget. Anak-anak pada bengong. Gak ada yang ngerti.
"Siapa yang bisa kerjain?"
Hening.
Aku ngangkat tangan pelan.
Bu Sari liat aku. Dia senyum. "Satria, maju."
Aku maju. Aku dengar bisikan.
"Pasti nyontek..."
"Nilainya bagus karena kasian dikasih nilai..."
Aku ambil spidol. Aku kerjain soal itu. Langkah demi langkah. Jelas. Cepet. Bener.
Bu Sari manggut-manggut. "Sempurna, Satria. Bagus sekali."
Aku balik ke tempat duduk. Tapi bukannya dapet pujian, yang aku dapet malah tatapan benci dari Bagas.
Dia lirikan mata ke aku. Matanya nyala. Penuh kebencian.
Aku tahu. Aku makin dibenci karena aku pinter.
***
Jam istirahat.
Semua anak keluar ke kantin. Rame. Pada beli makanan. Mie ayam, nasi goreng, es teh manis, roti bakar. Banyak. Enak-enak semua.
Aku gak ke kantin.
Aku ke perpustakaan. Sepi. Dingin. Cuma ada penjaga perpustakaan yang udah tua.
Aku duduk di pojok. Aku keluarin sesuatu dari saku celana. Roti tawar. Satu lembar. Sisa dari tadi malem. Udah keras. Udah kering.
Aku makan pelan-pelan. Ngunyahnya lama biar berasa kenyang.
Aku ambil HP. HP jadul yang layarnya retak. Aku buka galeri. Ada satu foto.
Foto ayah.
Foto waktu ayah masih sehat. Masih bisa berdiri. Masih bisa senyum. Di sebelahnya ada ibu. Cantik. Senyumnya lebar. Dan ada aku, kecil, digendong ayah.
Aku senyum liat foto itu.
Tapi senyumnya cuma sebentar.
Karena aku inget, sekarang ayah udah gak bisa berdiri lagi. Gak bisa gendong aku lagi. Gak bisa senyum lebar lagi.
Aku tutup HP.
Aku liat langit-langit perpustakaan.
"Aku janji akan sukses, Yah. Apapun yang terjadi."
Bisikku pelan. Sendiri. Gak ada yang denger.
Air mata turun. Satu. Dua.
Aku lap cepet.
Tiba-tiba, speaker sekolah bunyi.
KRINGG.
"Perhatian untuk seluruh siswa kelas 12. Pendaftaran beasiswa prestasi penuh untuk kuliah kedokteran dari Kementerian Pendidikan akan segera dibuka minggu depan. Syarat dan ketentuan bisa diambil di ruang BK. Terima kasih."
Aku berdiri.
Jantung berdetak kenceng.
Beasiswa... beasiswa kuliah kedokteran...
Ini dia. Ini satu-satunya harapan aku.
Kalau aku dapet itu, aku bisa kuliah gratis. Aku bisa jadi dokter. Aku bisa obatin ayah. Aku bisa bikin ibu gak usah cuci baju lagi.
Aku bisa balikin senyum mereka.
Aku keluar dari perpustakaan. Aku lari ke ruang BK. Aku ambil formulirnya.
Tanganku gemetar pegang kertas itu.
Ini bukan cuma kertas.
Ini harapan.
Harapan terakhir aku.
***
*"