"Cahaya di Tengah Hujan"
Rini, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain, berjuang sendirian menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Dengan cinta yang besar dan tekad yang kuat, ia menghadapi kerasnya hidup di tengah pengkhianatan dan kesulitan ekonomi.
Di balik luka dan air mata, Rini menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga. Apakah ia mampu bangkit dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?
Sebuah kisah tentang cinta seorang ibu, perjuangan, dan harapan di tengah badai kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1337Creation's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjalanan menuju rumah kakek kristian
Bab 27: Perjalanan Menuju Rumah Kakek Kristian
Kristian menatap Aditya dengan penuh semangat. “Ayo, Dit! Kita ke rumah kakekku sekarang. Siapa tahu dia bisa cerita lebih banyak soal keluargamu!”
Aditya sebenarnya sedikit ragu. Perjalanan menuju rumah kakek Kristian terdengar tidak mudah, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar.
“Oke, ayo!” jawabnya mantap.
Mereka pun mulai berjalan. Awalnya, mereka melewati jalan setapak kecil yang dipenuhi ilalang. Udara siang itu cukup panas, tapi angin yang bertiup membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Namun, setelah sekitar 15 menit berjalan, medan mulai berubah.
Di depan mereka, terbentang rawa-rawa berlumpur. Airnya hitam dan berlendir, dengan beberapa batang pohon tumbang yang mengapung di permukaannya.
“Kita harus melewati ini?” tanya Aditya ragu.
Kristian mengangguk. “Iya, tenang aja, ada jalan setapak di pinggirnya. Tapi hati-hati, licin.”
Mereka mulai melangkah di jalur sempit di tepi rawa. Beberapa kali kaki Aditya hampir terpeleset ke dalam lumpur, tapi ia berhasil menyeimbangkan dirinya. Kristian tampak lebih terbiasa, melangkah dengan mantap.
“Kalau jatuh ke rawa ini, kita bisa tenggelam, nggak?” tanya Aditya dengan nada cemas.
Kristian terkekeh. “Enggak sih, tapi bajumu bakal kotor banget dan bau.”
Setelah melewati rawa-rawa, mereka sampai di area dengan lumpur tebal. Setiap kali mereka melangkah, sepatu mereka tenggelam hampir setengahnya ke dalam lumpur. Aditya berusaha menarik kakinya, tapi setiap langkah terasa berat.
“Kristian, kok makin susah jalannya sih?” keluh Aditya.
“Sabar, Dit. Kalau jalannya gampang, rumah kakekku udah ditemukan banyak orang.”
Setelah berjalan selama 10 menit di lumpur, mereka akhirnya sampai di jalanan yang sedikit lebih kering, tapi kini mereka harus menghadapi jalur yang sangat licin.
Kristian berhenti dan menunjuk ke depan. “Lihat, di sana ada tiga jalan. Kiri, kanan, dan lurus. Kita harus ambil yang lurus.”
Aditya menghela napas. “Kok bisa hafal?”
Kristian tersenyum. “Aku sering ke sini, Dit. Percaya aja sama aku.”
Mereka pun mengambil jalan lurus. Jalanan ini semakin sulit dilewati. Ranting-ranting pohon menjulur ke segala arah, dedaunan liar hampir menutupi jalur. Terkadang, mereka harus menunduk atau memanjat akar pohon besar yang menghalangi jalan.
Aditya mulai berkeringat. “Berapa jauh lagi, Kris?”
“Masih sekitar 10 menit, Dit. Tahan sedikit lagi.”
Setelah melewati jalan yang penuh tumbuhan liar, mereka akhirnya sampai di depan rumah tua yang hampir roboh.
“Ini rumah siapa?” tanya Aditya.
Kristian menggeleng. “Gak tahu. Dari dulu rumah ini udah ada, tapi nggak ada yang tinggal di sini.”
Angin bertiup pelan, membuat rumah tua itu tampak semakin menyeramkan. Daun-daun kering berguguran dari atapnya yang bolong. Pintu kayunya sudah lapuk, dan beberapa bagian dindingnya tampak berjamur.
“Kita harus lewatin rumah ini?” tanya Aditya.
Kristian mengangguk. “Iya, kita harus jalan lurus sekitar 10 meter lagi.”
Mereka pun berjalan melewati rumah tua itu. Suasana semakin sunyi. Burung-burung tak terdengar, dan hanya ada suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin.
Setelah berjalan sekitar 10 meter lagi, akhirnya mereka sampai di tujuan mereka—sebuah rumah gubuk kecil yang tampak reyot di tengah hutan. Atapnya dari daun rumbia, dan dindingnya terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk.
Kristian tersenyum. “Nah, ini dia rumah kakekku.”
Aditya menatap rumah itu dengan takjub. Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka sampai. Tapi pertanyaan besar masih ada di benaknya—apa yang akan mereka temukan di sini?