[Dibuat 17-03-2022] (Karya Pertama)
Satu tahun lalu Zif melamar Shara, mereka bertunangan secara diam-diam dan baru melangsungkan pernikahan tanpa adanya dukungan sang ayah.
Alasan kasta yang berbeda membuat Ayah Zif tidak mau merestui hubungan mereka, Shara hanyalah gadis yang lahir dari keluarga biasa saja sehingga Zif terpaksa menggelar acara pernikahan mandirinya di hotel elit daerah Bali dan kejadian naas pun terjadi.
Tepatnya di malam pertama pernikahan mereka Shara harus merasakan nyeri yang sangat hebat di sebelah wajahnya.
Di detik-detik terjadinya akad nikah.
Seseorang dengan masker hitam telah menyiramkan cairan yang langsung meleburkan kulit mulusnya.
Shara bergeming saat Zif mengatakan bahwa "Aku tidak mengenamu!" setelah wajahnya hancur.
Di tengah frustasi nya Shara berteriak mengumpat suaminya nyaring kemudian menaiki besi pembatas geladak kapal yang entah milik siapa? Di tengah lautan lepas dia mencoba terjun. Lantas dalam sekejap Shara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tato yang sama
Pagi ini, Shara sudah lengkap dengan pakaian kasual nya, celana jeans panjang dan kaos putih berlengan pendek juga tas punggung kecil berwarna coklat.
Seperti biasa, Shara harus datang ke rumah Garry untuk membantu mengurus rumah juga memeriksa hal yang perlu di periksa.
Shara keluar dari kamar miliknya, rupanya Jho masih menatap layar laptop, sementara Gerald baru saja terbangun setelah mendengar suara pintu geser milik kamar Shara terbuka.
"Pagi, kalian belum tidur?" Sapa Shara.
Gerald terkesiap memandang nanar sosok Shara yang telah siap dengan pakaian kasual nya, dia tilik jam yang melingkar di tangannya, masih menujukan pukul 05:00.
"Aku ketiduran." Kata Gerald sambil menguap.
Jho menggerakkan kepalanya, sedikit melemaskan otot-otot setelah terpaku menatap layar laptop.
"Aku sengaja lembur, tapi tidak sia-sia usahaku, aku berhasil mendapat alamat rumah pemuda yang mengaku tunangan SR itu, hari ini juga, orang-orang kita menjemputnya. Tapi kemungkinan, akan sedikit sulit karena dia sedang dalam persembunyian." Jelasnya.
"Oya?" Gerald menyapu mata lalu menatap sipit layar laptop Jho yang masih terlihat temaram "Gimana cara kau mengetahui semua itu? Atau jangan-jangan kau pelakunya Bang!" Tukasnya.
"Hayyyss! Tentu saja tahu, sekarang gadget yang orang-orang pakai, memudahkan kita melacak keberadaan orang itu sendiri. Sadar tidak sadar, pergerakan kita di awasi." Jho menyeringai, seraya menjatuhkan tubuhnya, terbaring di atas sofa.
"Ngeri juga kalo keahlian mu digunakan otak messum!" Sambung Gerald.
"Sudah. Aku tidur sebentar." Timpal Jho kemudian memejamkan mata.
"Ya sudah, Cantik pergi duluan. Kalian kalo lapar, keluar saja, di sini tidak yang bisa di makan. Aku belum nyetok apapun." Pamit Shara.
Gerald berkerut kening "Kamu mau kemana hmm?"
Shara berjalan melewati kedua laki-laki tampan itu sembari membetulkan sepatu sneaker nya "Ke rumah Daddy, hari ini banyak laporan yang perlu Cantik periksa, kasihan Daddy kerja sendiri." Jawabnya.
"Tapi ini masih terlalu pagi."
"Gak papa, Cantik sekalian mau olahraga." Tanpa banyak berkata-kata lagi, perempuan itu keluar dari apartemen, berjalan menuju lift.
Dia menekan tombol ke atas, menunggu transportasi vertikal itu terbuka dan siap membawanya turun.
Keadaan sekitar masih sepi, sebab penghuni apartemen masih bergumul dengan kamar mandi, bahkan ada yang masih bergulung dengan selimut.
Pintu lift terbuka dan kosong, Shara melangkah masuk, tak berapa lama lift itu sampai di lantai parkiran basemen, lift masih sepi maka secepat kilat dia beralih dari lantai 8 ke lantai dasar.
Shara keluar dari bangunan, memasuki parkiran basemen, tempat di mana dia menyimpan mobilnya. Di tengah perjalanan menuju mobil. Sesekali, bulu kuduk Shara meremang.
Ternyata ini lebih sepi dari perkiraan nya, Shara baru pertama kalinya keluar apartemen di jam lima pagi, bahkan satpam yang biasanya berbolak-balik pun tak ada nampak.
Karena hening, maka indera pendengaran pun menjadi lebih tajam, Shara menghentikan langkahnya ketika derap kaki dari pemilik sepatu besar terdengar mengikuti langkahnya.
Shara mematung, melirik tajam dengan ekor matanya. Telinga masih siap menangkap pergerakan seseorang.
Shara menoleh secara cepat, dan tak ada siapapun di belakangnya, di edarkan nya pandangan menyisir seluruh sudut tempat yang di penuhi mobil-mobil mewah, rupanya tak ada segelintir pun orang.
Shara kembali melanjutkan langkah, dia memberantas ketakutan dan kecurigaan dengan berdoa pada Tuhan yang maha esa, tapi kemudian wangi parfum yang sempat ia kenal menusuk indera penciuman secara tiba-tiba.
Ini wangi yang sama, seperti saat dirinya akan melakukan ritual sakral bersama Zif di hotel Bali. Bulu kuduk Shara meremang, mengingat kembali kejadian naas itu.
"Bau ini. Aku mengenalnya." Gumamnya lirih.
Semakin meneruskan langkah, semakin Shara menghirup tajam aroma parfum unik itu.
"Siapa kamu!" Secara cepat Shara membalikkan badannya dan seseorang bermasker hitam mendorongnya hingga tersudut pada dinding pilar penyangga bangunan.
Tempat sepi yang buta CCTV, Shara mengedarkan pandangan, tak ada satupun kamera di tempat tersebut "Siapa kamu hah?" Tanya Shara panik hingga napas bergemuruh takut.
"Akun anonim, kau tidak perlu tahu siapa diriku." Jawab suara laki-laki yang pernah dia kenali.
"Suara mu." Shara mengingat kembali, warna suara berat yang pernah dia dengar tapi lupa kapan.
Shara menatap ke arah botol kaca yang lelaki itu keluarkan dari kantong jaket kulitnya, sekilas Shara mengingat kembali kejadian di malam pengantin nya.
Di ruangan make up yang sepi, kala Shara duduk di kursi meja rias, seseorang melakukan hal yang sama seperti yang saat ini lelaki itu lakukan, yaitu membuka tutup botol kaca kecil.
Bedanya, dulu Shara tak paham apa yang akan lelaki itu lakukan, tapi kali ini Shara yakin botol itu adalah "Air keras!!" Pekiknya melotot.
Lelaki itu mendongak terkesiap menatap wajah Shara, mungkin bingung, dari mana wanita itu tahu bahwa air yang dia bawa adalah air keras? Secepat kilat ia melanjutkan membuka penutupnya.
Bugh!
Belum sempat terbuka Shara memutar tubuhnya mengayunkan kaki pada botol kaca milik lelaki itu "Kau! Kau orangnya!" Shara berteriak hingga menakuti lelaki itu.
"Sial!" Lelaki itu berlari setelah menyadari bahwa wanita di hadapannya bukan wanita lugu.
Shara mengejar, mengikuti kemana langkah cepat pria misterius itu berayun, entah kemana hilangnya rasa takut Shara, mungkin pengalaman hidup yang pahit membuat Shara semakin berani mengarunginya.
Tanpa disadari, selama tujuh bulan ini, ada sokongan batin dari Gerald dan Garry yang membuat pribadi gadis ini berangsur kuat "Berhenti!" Teriaknya.
Shara yakin lelaki itu adalah orang yang sama dengan lelaki bermasker si perusak wajah lamanya tujuh bulan lalu "Berhenti bajingan!"
Bugh!
Satu tendangan bebas dari arah lain menghentikan lari pria berpakaian serba hitam itu, Shara menoleh, di lihatnya Gerald meringis setelah melayangkan tendangan.
"AW! Sialan, kaki ku!" Rengeknya sambil mengibas-ngibas kan kakinya. Gerald tahu, di jam begini parkiran sepi dan rawan penjahat.
Melihat lelaki misterius itu tersungkur, Shara meraih kerah bagian belakang jaketnya, terlihat jelas tato bergambar kepala rubah terukir di tengkuknya.
"Kamu, kamu pelakunya, kamu yang merusak wajah ku di malam pernikahan ku!" Shara meracau saking geramnya pada laki-laki misterius ini, hingga tanpa sadar dia menyeletuk kan identitasnya.
Bugh!
Shara terpelanting saat lelaki itu menghempas tubuh mungilnya hingga jatuh terlentang "Aaaww!" Keluhnya meringis.
"Bajingan!" Pekik Gerald.
Mulanya Gerald ingin mengejar penjahat itu, tapi melihat Shara meringis kesakitan, dia berbalik arah, memilih menolong Shara terlebih dahulu, lagi pun pria misterius itu sudah memasuki mobil Van yang sepertinya sudah bersiap membawanya lari.
"Kamu gak papa kan?" Cemas Gerald.
Shara menggeleng "Nggak apa-apa. Abang, kenapa penjahat nya di biarkan pergi? Dia itu orang yang sama dengan orang yang merusak wajah ku." Protesnya.
Gerald menaikan sebelah alisnya "Kamu yakin dia orangnya hmm?" Tanyanya.
"Iya, Cantik yakin, Cantik sempat melihat tato kepala rubah, di tengkuk penjahat itu, dan barusan, tato yang sama, wangi aneh yang sama, gerakan dan tatapan yang sama, seperti saat sebelum malam pertama ku! Cantik yakin dia orangnya, dan yang pasti, ada dalang yang sama di balik orang-orang bayaran itu." Cetus Shara berapi-api.
"Orang yang sama? Orang yang menginginkan kehancuran mu, sudah jelas ini perbuatan orang yang tidak menyukai kedekatan mu dengan Zif." Timpal Gerald, dia menatap lekat adik angkatnya "Tato kepala rubah, sepertinya itu tidak asing." Lirihnya.
...🖋️••••••••••••🖋️...
Bersambung..... Jangan lupa Like yah kakak.....
.
.