Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Sektor Nol
"Simpan tenagamu untuk menggodaku nanti, Arthur Low," bisik Kayra saat pintu lift Villa de Nebbia terbuka. Ia sengaja menggunakan nama samaran Harry untuk memecah ketegangan yang nyaris mencekik oksigen di antara mereka.
Harry terkekeh pelan, meski napasnya masih terasa berat dan wajahnya sedikit kaku menahan nyeri. "Arthur Low lebih suka istrinya yang galak daripada yang melankolis, Alana. Itu membuatku merasa lebih hidup."
Begitu keluar dari lift, udara dingin pegunungan Alpen kembali menusuk kulit, membawa sisa-sisa aroma mesiu dari pertempuran di perimeter luar.
Di tengah landasan beton yang mulai memutih oleh salju, helikopter stealth hitam pekat telah menunggu dengan baling-baling yang menderu, menciptakan pusaran badai kecil di sekelilingnya. Enzo berdiri di sana, memberikan instruksi terakhir kepada unit pertahanan agar menghancurkan seluruh jejak mereka dari pengejaran Luca.
"Tuan Harry, Dokter, naik sekarang! Dua helikopter tempur musuh terdeteksi mendekat!" teriak Enzo di tengah kebisingan mesin.
Begitu pintu kabin tertutup kedap, suara menderu berubah menjadi dengung rendah yang stabil. Harry langsung merebahkan diri di kursi medis modifikasi.
Tanpa ragu, Kayra bergerak otomatis, ia merobek kemeja hitam Harry yang bersimbah darah, mengabaikan tatapan anak buah Harry di sekelilingnya. Fokusnya hanya satu, menutup kembali luka pria itu sebelum mereka mencapai Sektor Nol.
"Berikan aku larutan salin, klem vaskular, dan perban hemostatik sekarang!" perintah Kayra pada perawat Marcello yang bertugas.
Tangannya bekerja dengan kecepatan dan presisi luar biasa, sebuah kontras yang indah dengan guncangan helikopter saat ia mulai lepas landas. Ia melihat noda merah itu memang meluas karena aktivitas fisik Harry yang berlebihan tadi, namun untungnya, jahitan dalamnya tidak robek sepenuhnya.
Harry hanya menatap langit-langit kabin, membiarkan Kayra "menguasai" tubuhnya. Rasa sakit yang berdenyut seolah teredam oleh sentuhan tangan Kayra yang dingin namun sangat mantap.
"Kau tahu, Kayra," suara Harry terdengar serak di tengah kabit yang membelah badai. "Melihatmu begini, aku paham kenapa Aris sangat menginginkanmu. Kau bukan hanya pintar; kau adalah pengendali badai yang sebenarnya. Kau membuat segalanya tampak terkendali di tengah kekacauan."
Tanpa mendongak, Kayra fokus menjepit pembuluh darah yang merembes. "Aku bukan pengendali badai, Harry. Aku hanya tidak ingin rumahku hancur karena pendarahan bodoh ini. Diamlah sebelum aku menyumpal mulutmu dengan kain kasa."
Harry tersenyum puas. Ia meraih tangan bebas Kayra, mengaitkan jemari mereka di sela kesibukannya. "Setelah Sektor Nol, semuanya berakhir. Aku akan membawamu ke tempat di mana kau tak perlu lagi memakai sweter turtleneck untuk menutupi lebam di lehermu itu."
Wajah Kayra memerah teringat intensitas semalam, namun ia tidak menarik tangannya. Ia meremas jemari Harry sejenak sebelum kembali bekerja. "Fokus pada napasmu, Harry. Kita hampir sampai di koordinat ibumu."
Dua jam kemudian, helikopter mendarat di Sektor Nol, sebuah pabrik limbah terbengkalai di pinggiran kota industri kelabu. Wilayah ini telah dihapus dari peta publik karena polusi kimia mematikan, namun bagi keluarga Marcello dan Ardeane, inilah titik awal penderitaan mereka.
Aroma logam berkarat dan zat kimia menyengat saat pintu terbuka. Harry turun menggunakan tongkat taktis, mengabaikan tatapan tajam Kayra yang melarangnya berjalan.
"Pintu masuknya di bawah tangki nomor empat," ujar Kayra sambil mencocokkan peta digital dari jurnal Sofia.
Mereka menyusuri lorong beton retak yang dikelilingi pipa-pipa raksasa. Di balik tumpukan tong berkarat, mereka menemukan lift barang tua. Begitu Kayra memasukkan kode akses Lumen in Tenebris, pintu berderit terbuka, membawa mereka turun jauh melampaui denah resmi mana pun.
Saat pintu lift kembali terbuka di lantai dasar, pemandangan kontras menyambut mereka: sebuah fasilitas medis mutakhir dengan lampu neon putih kebiruan yang membentang luas. Dingin, steril, dan sangat mengerikan.
Langkah kaki mereka menggema di lantai marmer putih yang bersih tanpa noda. Di sepanjang lorong panjang itu, terdapat tabung-tabung kaca besar berisi cairan biru bercahaya, prototipe serum Genesis yang jauh lebih pekat dan murni daripada yang pernah dicuri Kayra di kota.
"Tempat ini masih aktif. Seseorang terus merawat tempat ini selama dua puluh tahun," bisik Harry, tangannya kini mencengkeram pistol semi-otomatisnya dengan erat, sementara Enzo dan tim kecilnya menyebar untuk mengamankan perimeter lorong.
Mereka sampai di sebuah ruangan pusat yang dibatasi oleh dinding kaca transparan antipeluru. Di dalamnya, terdapat sebuah ranjang medis tunggal yang dikelilingi oleh berbagai mesin penopang hidup dan selang-selang yang terhubung ke tubuh seseorang yang tampak sangat kurus, hampir menyerupai kerangka.
Jantung Kayra seolah berhenti berdetak saat melihat monitor tanda vital di samping ranjang tersebut. Nama yang tertera di sana bukan lagi kode angka atau subjek anonim.
Subjek: T. Ardeane (Fase Stabil).
"Ayah ...?" suara Kayra tercekat di tenggorokan, pecah menjadi bisikan yang menyayat hati. Ia berlari menuju pintu kaca itu, memukul permukaannya dengan tangan gemetar. "Ayah! Ini tidak mungkin! Harry, dia ada di sana!"
Harry berdiri di belakangnya, matanya membelalak melihat kenyataan mengerikan di depan mereka.
Thomas Ardeane, ayah Kayra yang seharusnya sudah meninggal dalam kecelakaan sabotase dua puluh tahun lalu, ada di sana. Hidup, namun tampak seperti cangkang manusia yang digunakan sebagai pabrik biologis hidup untuk memproduksi serum Genesis dari dalam sumsum tulang belakangnya sendiri.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan yang lambat bergema dari pengeras suara di sudut ruangan, memecah kesunyian laboratorium yang steril tersebut.
"Sangat mengesankan, bukan? Dia adalah mahakarya yang sesungguhnya. Satu-satunya subjek yang berhasil beradaptasi dengan serum murni selama dua dekade tanpa menjadi monster yang kehilangan akal," suara Direktur Aris terdengar dingin dan jernih melalui interkom.
Kayra berbalik, matanya berkilat penuh kebencian ke arah salah satu kamera pengawas yang bergerak mengikuti gerakannya. "Kau monster paling biadab yang pernah ada, Aris! Kau menculik ayahku, memalsukan kematiannya, dan menjadikannya kelinci percobaan selama dua puluh tahun?!"
"Aku menyelamatkan risetnya, Kayra! Thomas adalah rekan yang brilian, tapi dia terlalu pengecut untuk melihat potensi perang dari temuannya sendiri," sahut Aris dengan nada sombong.
"Dan sekarang, kau telah membawakan kepingan terakhir, formula penstabil dari Sofia Marcello, langsung ke tanganku. Harry Marcello, aku sarankan kau melepaskan senjatamu sekarang jika tidak ingin melihat mertuamu ini berhenti bernapas dalam hitungan detik.”
Aris seolah tahu hubungan mereka yang baru saja terucap malam tadi. “Aku memegang kendali penuh atas suplai oksigennya."
Harry tidak bergerak sedikit pun, pistolnya masih terarah tepat pada lensa kamera. Namun, tangannya yang lain merangkul bahu Kayra, mencoba memberikan tumpuan di tengah hancurnya dunia wanita itu. Ia bisa merasakan tubuh Kayra bergetar hebat antara kemarahan dan rasa duka yang amat dalam.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu menang setelah kau menghancurkan keluargaku dan keluarga Kayra, Aris?" tantang Harry dengan nada rendah yang menjanjikan kematian.
Kayra menatap ayahnya yang terbaring lemah di balik kaca, lalu menatap Harry dengan mata yang penuh air mata. Ia menyadari satu hal yang mengerikan, laboratorium ini telah diatur untuk menghancurkan dirinya sendiri jika sistem mendeteksi kegagalan.
"Harry, jika kita mencoba mendobrak pintu ini secara paksa, Aris akan menghentikan jantung ayah ...." Kayra menggantung kalimatnya, isak tangisnya mulai tak terbendung.
Harry menatap Kayra dengan tatapan yang sangat dalam, lalu ia beralih ke layar monitor pusat yang kini menunjukkan hitungan mundur sistem keamanan yang diaktifkan Aris dari jarak jauh.
Pilihan di depan mereka sangatlah kejam, memberikan data penawar serum agar ayah Kayra tetap hidup namun Aris mendapatkan senjata pemusnah massal, atau menghancurkan tempat ini dan kehilangan Thomas Ardeane selamanya.
Kayra mencengkeram lengan Harry, matanya mencari jawaban di balik ketenangan pria itu yang mematikan. "Harry, bisakah kita menyelamatkannya? Katakan padaku kita bisa membawanya pulang bersama kita."
Harry terdiam sejenak, menatap Thomas, lalu kembali ke Kayra. "Kayra, apakah kau mempercayai janjiku?"