NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

teman lama

Di Kampus...

Galen mengantar Rea ke kampus barunya. Sesampainya di depan gedung fakultas, Galen memarkir mobilnya.

"Sudah sampai, Rea. Siap untuk hari pertama?" tanya Galen sambil tersenyum.

Rea mengangguk semangat. "Siap, Mas! Terima kasih sudah mengantar."

Galen menemani Rea masuk dan membantu mencarikan ruang administrasi. Saat mereka bertanya kepada seorang staf, seorang pria muda berjas rapi menghampiri.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu ramah.

Galen menoleh. "Vian? Wah, kamu di sini rupanya. Kebetulan sekali."

Pria itu adalah Vian, dosen muda di fakultas tersebut dan kenalan lama Galen. Vian tersenyum. "Galen! Lama tidak bertemu. Siapa ini?" Matanya tertuju pada Rea.

"Ini Rea, dia akan jadi mahasiswa baru di sini," jawab Galen. "Rea, kenalkan, ini Pak Vian, salah satu dosen di sini."

Rea sedikit gugup, tapi ia tersenyum. "Halo, Pak Vian. Saya Rea."

"Halo Rea. Selamat datang di kampus ini," kata Vian sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Kalau ada kesulitan adaptasi atau pelajaran, jangan ragu bertanya pada saya atau dosen lainnya."

"Terima kasih banyak, Pak," balas Rea.

Galen menambahkan, "Saya titip Rea ya, Vian. Dia masih baru di sini."

Vian mengangguk. "Pasti. Kami akan membimbing semua mahasiswa baru dengan baik."

Setelah berbincang sebentar, Galen pamit undur diri karena ada urusan lain. Ia memastikan Rea sudah tahu ke mana harus pergi sebelum meninggalkannya. Rea pun memulai hari pertamanya di kampus baru dengan semangat.

Vian dengan ramah mengantar Rea menuju lab praktik Tata Boga. Hari ini adalah kelas perdana: Teknik Dasar Pembuatan Pastry.

"Masuklah, Rea. Jangan sungkan, mahasiswa di sini semuanya belajar dari nol," ucap Vian sambil tersenyum manis sebelum pamit menuju ruang dosen.

Rea masuk ke laboratorium yang bersih dan mewah. Ia mengenakan apron putih bersih dengan nama "Rea Alonso" di dadanya—nama yang Galen paksakan untuk dipakai. Rea segera bergabung dengan sekelompok mahasiswa lainnya. Ia tampak sangat mahir saat mulai memegang adonan, mengingat pengalamannya membuat donat untuk Galen di rumah.

Namun, di tengah kesibukannya, Rea merasa ada yang memperhatikan. Di balik jendela kaca koridor, ia melihat seorang pria berjas hitam dengan kacamata gelap berdiri diam. Itu adalah anak buah Leon.

“Wih, Mas Galen beneran protektif ya, sampai asisten kebun dikirim ke kampus,” batin Rea polos.

Saat jam istirahat, Vian kembali menghampiri meja praktik Rea. "Bagaimana, Rea? Ada kesulitan?" tanya Vian sambil mencoba menyentuh adonan yang dibuat Rea untuk memeriksa teksturnya. Jarak mereka cukup dekat.

Tiba-tiba, ponsel Rea bergetar hebat. Sebuah pesan dari Galen masuk:

"Jangan terlalu dekat dengan dosenmu, Bunny. Mas melihat segalanya."

Rea tersentak dan hampir menjatuhkan tepungnya. Ia celingukan mencari keberadaan Galen. Di parkiran kampus, Galen duduk di dalam mobil SUV hitamnya sambil menatap layar tablet yang terhubung ke CCTV laboratorium kampus yang sudah ia retas secara ilegal.

"Vian, Vian... berani sekali kau tersenyum seperti itu pada milikku," desis Galen sambil meremas setir mobilnya.

Selesai kelas, Rea berjalan menuju gerbang kampus. Ia melihat Kaela yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Kaela menatap Rea dengan benci, apalagi setelah melihat Rea begitu akrab dengan dosen idola kampus, Pak Vian.

"Heh, simpanan!" bisik Kaela tajam saat Rea lewat.

Rea berhenti, ia menarik napas panjang. Ingat ucapan Galen semalam agar ia menjadi kuat, Rea menoleh dan menjawab, "Maaf Kaela, aku ke sini untuk belajar, bukan untuk mengurus fitnahmu."

Kaela hendak menampar Rea, namun tangannya tertahan di udara. Leon sudah berdiri di belakang Rea dengan wajah tanpa ekspresi. "Ada masalah, Nona?" tanya Leon dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Kaela meremang.

Rea segera menarik tangan Leon. "Tidak ada, Pak Leon. Ayo pulang, Mas Galen pasti sudah menunggu."

Di dalam mobil, Galen sudah menunggu dengan aura yang sangat "mendung". Begitu Rea masuk, Galen langsung menarik Rea ke dalam pelukannya tanpa sepatah kata pun.

"Mas... Mas kenapa?" tanya Rea canggung.

"Saya tidak suka melihat dosen itu menyentuh meja praktikmu, Rea," ucap Galen dengan suara serak yang penuh kecemburuan.

"Tapi... tapi kan Pak Vian itu teman Mas Galen sendiri," cicit Rea dengan wajah memerah, mencoba melepaskan diri dari dekapan posesif suaminya.

Galen tidak melepaskannya. Ia justru semakin mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rea yang harum aroma vanila dan tepung. "Teman tetaplah teman, Rea. Tapi kamu... kamu adalah milikku sepenuhnya. Saya tidak suka berbagi perhatianmu, bahkan dengan teman lama saya sekalipun," desis Galen dengan suara bariton yang rendah dan sangat dalam.

Rea tertegun. Jantungnya berdegup kencang mendengar pengakuan terang-terangan Galen. Di satu sisi ia merasa sangat canggung karena Mas Galen-nya begitu pencemburu, tapi di sisi lain, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya karena merasa begitu diinginkan.

"Mas Galen posesif sekali," gumam Rea polos sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Galen.

"Memang," jawab Galen singkat tanpa membantah sedikit pun. "Di dunia ini, Rea, apa yang sudah menjadi milik Galen Alonso, tidak akan pernah boleh disentuh oleh siapa pun."

Mobil SUV hitam itu terus melaju membelah jalanan kota di tahun yang dingin. Galen terus memeluk Rea sepanjang perjalanan, memastikan istrinya tahu bahwa pelukan pria lain—meskipun itu seorang dosen yang ramah—tidak akan pernah seaman dan senyaman dekapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!