"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Pernikahan Paling Tidak Romantis Sedunia
"Mami, ini beneran nikahannya? Kok sepi banget kayak ruang dokter gigi?"
Bisikan polos Elia memecahkan keheningan di ruang rapat kantor pengacara itu. Ruangan itu dingin, dindingnya dilapisi panel kayu kaku, dan satu-satunya dekorasi adalah tumpukan berkas perkara di sudut meja.
Tidak ada bunga, tidak ada pita, apalagi alunan musik romantis.
Hara menunduk, menatap putrinya yang cemberut parah. Elia menarik-narik ujung rok kerja Hara—rok pensil hitam yang sama yang ia pakai ke kantor kemarin.
"Mana gaun Princess-nya, Mi?" rengek Elia lagi, kali ini suaranya agak kencang karena kecewa berat. Bibir mungilnya mengerucut maju lima senti. "Kata Mami kalau nikah itu pakai baju putih yang ngembang-ngembang kayak awan. Terus ada kue tart tingkat tujuh. Kok ini cuma ada air mineral gelas?"
"Sstt, Elia, pelankan suaramu," desis Hara, wajahnya memanas. Dia melirik takut-takut ke arah penghulu dan dua saksi yang duduk di hadapan mereka dengan wajah canggung.
"Kuenya menyusul," bujuk Hara asal. "Sekarang Mami harus tanda tangan kontrak... eh, maksudnya buku nikah dulu."
"Ck. Payah," komentar Elio dari kursi sebelah. Bocah laki-laki itu duduk bersedekap, kakinya menggantung tidak sampai ke lantai. Matanya menatap sekeliling dengan tatapan mengkritik. "Ini sih bukan nikah, Mi. Ini kayak transaksi jual beli tanah. Nggak asik."
Cayvion, yang duduk di samping Hara, mendengus kasar. Dia melirik jam tangan Rolex-nya untuk ketiga kalinya dalam satu menit.
"Pak Penghulu," suara Cayvion memotong rengekan Elia. Nadanya datar, tegas, dan sama sekali tidak terdengar seperti calon pengantin yang berbahagia. "Bisa kita mulai sekarang? Saya ada conference call dengan cabang Singapura tiga puluh menit lagi. Jangan buang waktu dengan ceramah pembuka yang panjang."
Pak Penghulu, seorang pria tua bijak yang biasanya menikahkan pasangan dengan penuh wejangan haru, tampak tersedak ludahnya sendiri. Dia membetulkan pecinya dengan gugup. "Ta-tapi Pak Cayvion, pernikahan itu ibadah sakral. Harus ada khidmatnya sedikit..."
"Khidmat tidak akan menaikkan harga saham saya yang sedang merah, Pak," potong Cayvion dingin.
Dia mengulurkan tangan kanannya ke arah wali nikah—paman Hara yang didatangkan mendadak dengan pesawat pribadi pagi ini dan masih terlihat bingung (dan sedikit takut) melihat calon suami keponakannya. "Ayo jabat tangan saya. Kita selesaikan ini."
Hara menghela napas pasrah. Ya ampun, nasibku benar-benar tamat.
Prosesi ijab kabul itu berlangsung lebih cepat daripada durasi iklan mi instan di TV. Tidak ada getaran emosional, tidak ada air mata haru.
Cayvion mengucapkan kalimat sakral itu dengan intonasi yang sama persis seperti saat dia memecat manajer keuangan yang korupsi minggu lalu. Cepat, lugas, dan tanpa perasaan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hara binti Herman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Satu tarikan napas. Tegas. Tanpa keraguan, tapi juga tanpa kehangatan.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu dengan nada ragu, seolah dia sendiri tidak yakin ini pernikahan atau rapat pemegang saham.
"Sah," jawab saksi serempak, buru-buru. Mereka adalah staf legal kantor ini yang sepertinya juga ingin cepat-cepat keluar dari ruangan bertekanan tinggi ini.
"Alhamdulillah..."
"Oke, selesai," Cayvion langsung melepaskan jabat tangan pamannya Hara. Dia tidak menunggu doa penutup. Dia mengambil kotak beludru merah dari saku jasnya, membukanya, dan menarik keluar sebuah cincin.
Itu bukan cincin biasa. Itu cincin berlian dengan mata yang begitu besar sampai-sampai Hara takut jarinya akan patah karena keberatan beban.
Cayvion meraih tangan kiri Hara. Tidak ada tatapan mata romantis. Dia menyematkan cincin itu ke jari manis Hara dengan gerakan praktis, seolah sedang memasang borgol.
"Ukurannya pas. Bagus, aku tidak perlu repot menyuruh asistenku menukarnya," gumam Cayvion. Dia bahkan tidak mencium kening Hara layaknya pengantin baru.
"Sekarang giliranmu. Pasangkan punyaku," perintah Cayvion sambil menyodorkan cincin polos platinum dan jari manisnya.
Hara mengambil cincin itu dengan tangan gemetar. Dia memasukkannya ke jari Cayvion. Dingin. Kulit pria itu dingin, seolah tidak dialiri darah hangat.
"Selamat, kita resmi terikat hukum dan agama," kata Cayvion sambil berdiri, merapikan jas mahalnya yang tidak kusut sedikitpun. Dia menoleh ke arah pengacara pribadinya yang berdiri di pojok. "Urus berkas apapun itu ke catatan sipil hari ini juga. Rilis beritanya nanti sore setelah pasar saham tutup."
Hara masih duduk terpaku menatap cincin berlian di jarinya. Kilauannya menyakitkan mata.
"Mami," Elia menarik-narik lengan baju Hara lagi. "Udah selesai? Mana kuenya? Om Papa pelit banget sih masa nggak ada makanan?"
Cayvion menoleh ke arah bocah-bocah itu. Tatapannya berubah menjadi tatapan 'Bos Besar'.
"Tidak ada pesta. Tidak ada kue," kata Cayvion tegas pada Elia. "Dan mulai sekarang, kalian berdua adalah tanggung jawab saya secara hukum. Jadi dengarkan perintah pertama saya."
Cayvion melihat jam tangannya lagi.
"Kalian punya waktu dua jam untuk kembali ke apartemen sempit itu, kemasi semua barang kalian—hanya yang penting, jangan bawa sampah—dan pindah ke rumah saya. Mobil jemputan sudah stand by di lobi bawah."
Hara mendongak kaget, akhirnya bersuara. "Hah? Hari ini juga, Pak? Tapi sewa apartemen saya belum habis bulan ini, dan barang-barang anak-anak banyak sekali. Mainan mereka, buku-buku..."
"Saya tidak menerima penolakan, Istriku," Cayvion menekankan kata 'Istriku' dengan nada sarkas yang membuat bulu kuduk Hara meremang. "Rumah itu punya standar keamanan tertinggi. Apartemenmu itu gemboknya bahkan bisa dibobol pakai jepit rambut. Pewaris Alger Corp tidak akan tinggal di tempat kumuh."
"Kumuh?" protes Elio tidak terima. "Itu home sweet home tahu! Wi-Fi nya kencang!"
"Di rumah saya, internetnya pakai dedicated server korporat. Kecepatannya seratus kali lipat dari Wi-Fi gratisanmu," balas Cayvion santai, tahu persis cara membungkam Elio.
Mata Elio langsung membulat sempurna. "Seratus kali lipat? Deal. Mami, ayo kemas barang sekarang. Tinggalin aja panci-panci Mami, kita pindah!"
Elio langsung melompat turun dari kursi dan berlari ke arah pintu, semangat 45.
Elia yang bingung akhirnya ikut berlari mengejar kakaknya. "Elio, tunggu! Boneka beruangku jangan ketinggalan!"
Ruangan itu mendadak sepi, menyisakan Hara dan Cayvion.
Cayvion menunduk, menatap Hara yang masih duduk lemas.
"Tunggu apa lagi? Kau mau aku gendong?" sindir Cayvion.
Hara perlahan berdiri. Dia menatap pria tinggi menjulang di hadapannya ini. Pria yang baru saja sah menjadi suaminya lima menit yang lalu. Pria yang wajahnya tampan bak dewa Yunani tapi kelakuannya minus akhlak.
Dia menatap cincin berlian raksasa di jarinya sekali lagi. Benda ini indah, mahal, dan berkilau. Tapi rasanya berat. Sangat berat.
Hara sadar, saat cincin ini melingkar di jarinya, dia tidak hanya mendapatkan status istri CEO. Dia baru saja menjual kebebasannya pada Iblis Tampan ini.
"Saya bisa jalan sendiri, Pak," jawab Hara pelan tapi tajam. "Dan tolong ingat, Bapak barusan menikahi asisten Bapak, bukan membeli robot baru."
Cayvion menyeringai tipis, sangat tipis. "Kita lihat saja nanti, Nyonya Alger. Mobil di bawah. Jangan telat."
Pria itu berbalik dan melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan istri barunya yang menatap punggung lebar itu dengan perasaan campur aduk antara ingin mencekik atau menangis.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri